Pemilih Cemaskan Karakter Effendi

Metropolis

MEDAN- Para tokoh Batak asal Tapanuli Utara, Serdangbedagai, dan Pematangsiantar ramai-ramai menyerang Effendi Simbolon. Mereka yang juga vote getter untuk daerahnya masing-masing itu mengaku mendapat banyak pertanyaan dari para pemilih yang mencemaskan karakter cagubsu asal PDIP tersebut.

Tokoh adat Taput Berto Pasaribu mengimbau Effendi Simbolon meminta maaf kepada masyarakat Batak. “Kalau secara pribadi, saya tidak akan mengemis maaf dari Bung Effendi. Tapi sebagai tokoh adat saya mengimbau dia minta maaf pada masyarakat Batak. Sebab penolakan atas pemberian ulos, bulang-bulang, dan replika Tunggal Panaluan itu kepada Pak Menteri BUMN Dahlan Iskan itu merupakan pelecehan adat Batak,” tegas Berto Pasaribu, Jumat (18/1) di Siborongborongn
Dia menyatakan kedatangan Effendi sebagai calon pemimpin di Sumut dinilai bukan membawa kesejukan dan kemajuan cara berpikir masyarakat, melainkan justru mengobok-obok dan merusak tatanan sosial dan kearifan lokal yang bertumbuh dengan baik. Dia menyesali pencalonan Effendi Simbolon di Pilgubsu malah membuat situasi politik di Sumut menjadi kisruh.


‘’Effendi itu datang ke Sumut seharusnya memperbaiki yang rusak, bukan merusak yang sudah baik. Kalau begitu, namanya dia si perusak bukan si pemimpin,’’ kata Berto dengan nada keras.
Effendi harus meminta maaf kepada masyarakat Batak karena melecehkan keputusan yang diambil oleh tokoh-tokoh adat Batak yang mangulosi Meneg BUMN Dahlan Iskan.

Berto menyebutkan penjelasan tokoh masyarakat asal Tanah Batak, Letjen (Purn) TB Silalahi soal pemberian ulos kepada Dahlan Iskan sudah benar adanya.

“Setelah saya baca koran apa yang dijelaskan pak TB Silalahi itu benar. Kami (tokoh adat) lebih dulu rapat untuk mempertimbangkan pemberian ulos, bulang-bulang, dan Tunggal Panaluan itu kepada Pak Dahlan Iskan,’’ ungkapnya. Berto mengatakan pertimbangannya karena Dahlan Iskan adalah Menteri BUMN yang peduli sekali atas pembangunan Bandara Silangit.

‘’Nah, sebagai ungkapan terima kasih selayaknya masyarakat di Tapanuli memberikan ulos, bulang-bulang, dan Tunggal Panaluan. Kalau Effendi menggugat kontribusi Dahlan Iskan di Sumut, lho kami di sini jadi ingin bertanya, kontribusi Effendi Simbolon di Sumut ini apa? Berapa lama dia jadi anggota DPR? Katanya dia kan orang Batak? Apa yang sudah dilakukannya untuk tanah leluhurnya ini? Ayo, coba tunjukkan?” cetusnya.

Sementara, tokoh adat Taput lain, Oppu Garuda Purba, kepada Metro Siantar (grup Sumut Pos) saat dihubungi, Jumat (18/1), menegaskan, secara pribadi dirinya tak membutuhkan permintaan maaf dari Effendi Simbolon. “Kita tak butuh dia (Effendi Simbolon) minta maaf. Buat apa menyuruh orang yang tak paham meminta maaf?’’ katanya.

Tokoh Muda Batak Serdang Bedagai, Relifen Siahaan, justru mempertanyakan jati diri Effendi sebagai orang Batak yang tidak menghormati perbedaan, keramah-tamahan, dan berjiwa nasionalis.

“Saya sangat terkejut ada seorang calon gubernur punya mentalitas rendahan. Memberikan ulos bulang-bulang kepada Dahlan Iskan, selain sebagai menteri, juga sosok pejabat yang jujur dan sederhana. Batak itu punya filosofi hidup ‘pardongan jala parholong roha’.

Banyak tokoh Batak yang berhasil karena mampu menggalang hubungan kultural, emosional, dan nasionalisme dengan suku-suku lain di Indonesia,’’ ungkap Relifen yang juga Wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Sergai ini, Jumat (18/1).
Semakin aneh, lanjut Relifen, saat dia mendapat kabar bahwa Effendi Simbolon yang belum diketahui kiprahnya di Sumut ini justru menerima ulos dari pendeta di Siantar. “Jika yang bersangkutan mengatakan Dahlan Iskan tidak layak, lalu apa kelayakan dirinya menerima ulos? Apalagi itu diberikan nstitusi berbasis agama. Apa yang sudah dilakukannya terhadap Batak rupanya?” tanya Relifen.

Dia melihat keberagaman Sumut sama dengan Indonesia yang memiliki banyak suku bangsa, agama, dan ras. “Kita ini hidup di alam yang pluralis. Sejak lama Batak dikenal sebagai suku yang bermartabat dan terbuka terhadap perbedaan,’’ ujarnya.

Menurut Relifen, di Kabupaten Sergai saja, orang Batak sudah mencapai 23 persen dan itu semua berbaur dengan suku-suku lain. “Jika pernyataan itu tidak ditarik Effendi tentunya banyak orang Batak, termasuk saya sendiri yang akan mendapat penilaian bahwa Batak itu alergi terhadap suku lain,’’ katanya dengan nada ekstrim.

‘’Bagaimana Effendi yang mengaku dari partai yang nasionalis justru bertindak dan berpikir sebaliknya. Aneh ini. Berlakulah seperti kata bijak orang Batak ‘marsitijur tu ginjang, madabu tu ampuan’. Nah, sekarang coba tanyakan pada pak Effendi Simbolon, apa tahu dia artinya itu?’’ katanya tergelak kepada wartawan.

Dari Siantar, Pengurus Himpunan Masyarakat Batak Toba (Humatob) Pematangsiantar, Daud Simanjuntak, juga ikut mengecam keras pernyataan anggota DPR asal PDIP tersebut. “Apa-apaan itu? Tak ada larangan bagi siapa pun jika berkeinginan mengulosi seseorang,” ucap Daud berapi-api, Jumat (18/1).

Dia mengatakan Dahlan Iskan adalah tamu yang datang ke Tanah Batak sehingga wajib dihormati. Harus dipahami, katanya, tamu itu raja dan pemberian ulos itu adalah penghargaan dan penghormatan warga Batak terhadap tamunya.
“Paham nggak dia (Effendi, Red) filosofi orang Batak? Tamu itu adalah raja. Jadi pernyatannya itu bikin saya heran. Sebenarnya siapa yang gila?” sindir pria yang juga anggota DPRD Kota Pematangsiantar periode 2004-2009 tersebut.
Effendi diingatkan agar paham terlebih dulu filosofi orang Batak sebelum melontarkan statement. ‘’Sebab apa yang dilontarkannya itu menjadi penilaian masyarakat pemilih atas kualitas intelektualitas dirinya,’’ pungkasnya. (hsl/ara/smg)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *