Pemko Janji Sekolahkan Hamida dan Kedua Adiknya

Metropolis
Foto: Gatha Ginting Hamida (21) bersama kedua adiknya di rumah mereka di Jalan Ileng Lingkungan 1, Kel.Rengas Pulau, Kec.Medan-Marelan, Kota Medan.
Foto: Gatha Ginting
Hamida (21) bersama kedua adiknya di rumah mereka di Jalan Ileng Lingkungan 1, Kel.Rengas Pulau, Kec.Medan-Marelan, Kota Medan.

BELAWAN, SUMUTPOS.CO –  Kisah pilu tiga anak yatim piatu yang bertahun-tahun hidup serba kekurangan di Jl. Ileng Lingkungan I, Gang Mushola, Kel. Rengas Pulau, Kec. Medan Marelan, akhirnya menuai secerca harapan. Pasca diberitakan, beberapa masyarakat yang merasa terpanggil mulai datang menyalurkan bantuan. Bahkan, Pemko Medan juga berjanji akan menyekolahkan ketiga remaja yang kurang beruntung itu hingga lulus SMA.

“Sudah saya instruksikan kepada anggota untuk melihat langsung ke lokasi, bagaimana keadaan dan kondisi mereka saat ini,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin di Balai Kota, Selasa (7/4). Eldin juga berjanji akan menyekolahkan ketiga anak tersebut hingga lulus SMA, apalagi program pemerintah wajib belajar 9 tahun. Namun dirinya masih harus berpikir bagaimana teknis untuk kelanjutan sekolah Hamida (19) serta kedua adiknya, Sundari (13) dan Sarmila (12). Apalagi, ketiganya sudah terlalu lama putus sekolah.


“Nanti kita pikirkan bagaimana kelanjutannya, mungkin bisa dibantu dengan mengikuti paket C atau yang lain,” katanya. Eldin juga menyayangkan sikap tidak peka Kepling dan Lurah yang bertugas di lokasi tempat tinggal Hamida.

“Harusnya sebagai pamong, mereka menunjukkan kerja dan baktinya untuk negeri ini dengan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat, bukan berdiam diri seperti itu,” sesalnya.

Saat kembali dikunjungi awak koran ini, kehidupan Hamida dan kedua adiknya memang benar-benar miris. Gubuk yang ditempati sepertinya lebih pantas dijadikan kandang hewan. Bagaimana tidak, di lantai yang semennya sudah hancur itu berserakan barang-barang yang tak terpakai, seperti sandal, sepatu, kelapa tua yang sudah bertunas, aqua galon, dan sampah plastik. Ruang tamu pun tidak ada kursi dan meja. Hanya ambal merah yang sudah lusuh. Lemari TV pun hanya berisi plastik, sepatu, sandal dan alat main tradisional seperti congkak. Tidak ada juga ruangan khusus dapur. Sebuah kompor minyak tanah terletak di atas meja di sekitar ruang tamu.

Kamar pun tak berpintu dan hanya ada tempat tidur bertilam tipis. Bahkan baju-baju pun dibiarkan berserakan di sekitar papan panjang di samping tempat tidur. Kamar mandi pun tidak ada di dalam. Agak ke belakang, dindingnya terbuat bata. Sedang di bagian depan berdinding kayu dan beratap seng. Lucunya, ada satu ekor ayam warna putih terikat tali yang dikaitkan ke salah satu kayu penopang rumah. Ayam tersebut didapat Sarmila dari tetangganya. “Ini ayam dari tetangga. Kami sengaja tarok di rumah karena takut hilang kalau di luar,” kata Hamida.

Siang itu Hamida tampak sibuk meracik lauk pauk untuk mereka makan. Ada tahu, tempe, bayam, bawang dan cabe. Saat bercerita, Hamida sempat menghentikan kegiatannya. Menurut Hamida, lauk pauk tersebut didapatnya setelah meminjam uang pada temannya sebesar Rp40 ribu. Dari itu semua hanya bersisa Rp4 ribu saja. “Inilah sisanya. Habis beli minyak lampu, cabe, tomat, sama sayur-sayur itu,” ungkapnya. Untuk mengembalikan uang pinjaman tersebut, nanti akan dibayarnya setelah mendapat upah menyetrika pakaian tetangganya. Dirinya mendapat upah sekitar Rp20-30 ribu. Besarnya upah tergantung banyaknya pakaian yang disetrika di hari itu.

Pekerjaan ini pun tidak dilakukannya setiap hari. Melainkan 3 hari sekali atau seminggu sekali di satu rumah saja. “Kalau dipanggil, saya baru datang gosok,” ujarnya.

Sebelumnya dia juga pernah menjadi buruh cuci tetangganya. Namun berhenti karena si tetangga sudah membeli mesin cuci. Dirinya bercerita setiap membuka mata di pagi hari, tak banyak hal yang bisa mereka kerjakan. Bangun jam 8 pagi, setelah membersihkan diri, Hamida bergegas untuk menyiapkan sarapan sekaligus makan siang dan malam mereka. Jika tak dapat membeli lauk pauk, maka mereka hanya makan nasi putih saja. “Kami ga pernah ga makan sehari. Paling ga nasi putih ada kami makan,” lirihnya.

Terkadang mereka beli dua bungkus nasi untuk dimakan bertiga dari pagi sampai malam. “Kadang beli dua bungkus nasi makan bertiga dalam satu hari,” kenangnya. Tapi keadaan ini tak membuatnya berlarut dalam kesedihan. Pernah dirinya bekerja di sebuah toko grosir makanan di daerah Marelan. Namun hanya bertahan 2 bulan karena mahalnya ongkos transportasi dari rumahnya menuju tempat kerja.

Ongkos Rp4 ribu/hari tak sebanding dengan gaji yang diterima serta waktu kerja di sana. Betapa tidak, tiap hari ia harus berangkat jam 5 pagi dari rumahnya dan pulang kerja pukul 20.00 WIB. Apalagi untuk makannya sehari-hari dirogoh dari kantong sendiri.

“Kadang saya makan roti saja di sana. Ga sanggup beli nasi terus. Taulah sekarang apa-apa mahal,” kenangnya. Dirinya juga pernah melamar kerja di pabrik udang di kawasan Marelan. Namun tidak diterima karena tak punya ijazah apapun. Apalagi, Hamida mengaku tidak tamat SD. Namun, syukurlah belakangan ini, ada banyak dermawan yang membantunya. Terlihat sepapan telur, sekotak mi instan dan sekarung beras masih tersisa di rumahnya.

“Itu kami dapat dari anggota partai gitu. Ga tau partai apa. Baru-baru ini mereka kasih ke kami. Jadi saat ini kami ga terlalu takut kali gak makan,” ujar gadis berkulit hitam ini. Kedua adiknya sebelumnya duduk di bangku kelas 2 di SD kawasan Marelan. Namun sudah 5 bulan ini keduanya tak sekolah. Awalnya karena si bungsu, Sarmila sakit demam dan tidak sekolah selama seminggu dan tidak bisa membayar buku pelajaran.

Karena alasan itulah kedua adiknya tak mau sekolah. Namun rencananya, tahun ajaran baru ini, Hamida berniat menyekolahkan kedua adiknya lagi. Memang umur kedua adiknya tersebut sudah tidak pantas duduk di bangku SD. Sundari seharusnya sudah duduk di kelas SMP. Sedangkan Sarmila harusnya sudah duduk di kelas 6 SD. Namun ternyata, Sundari baru mau sekolah setelah si adik juga sekolah. Awalnya mereka berdua sekolah di SD dekat rumahnya. Namun sejak 2013 lalu pindah sekolah karena yang lama, mereka berdua kerap diganggu oleh teman sekolahnya.

“Kadang sepatu sama tasnya diumpeti sama kawannya. Akhirnya merengek-rengek dia minta pindah. Meskipun jauh di daerah simpang kantor, dia bilang gak apa. Padahal jalan kaki mereka. Ya udah pindahlah ya kan orang ini dua. Makanya masih kelas 2 aja mereka,”ujar Hamida.

Untuk mandi dan mencuci pun mereka harus menumpang di kediaman uwaknya yang berada di belakang rumah mereka. Memang ada beberapa kerabat Hamida yang tinggal di sekitar rumah. Namun Hamida menolak tinggal bersama mereka karena merasa memiliki rumah. Baginya biarpun rumahnya jelek, mereka lebih nyaman tinggal di sana dibanding numpang tinggal bersama saudara.

“Buat apa tinggal sama saudara kalo punya rumah sendiri. Pokoknya saya gak mau pindah dari sini,”ujarnya. Tanah rumahnya itu adalah tanah wakaf keluarga yang dipersiapkan oleh kakeknya, ayah dari sang ayah. Tanah itu diperuntukkan untuk menguburkan sanak saudara yang sudah meninggal. Hal itu terlihat beberapa batu nisan terpancang di halaman depan rumahnya.

Dulu saat ayahnya masih hidup, kebutuhan mereka dapat tercukupi dari hasil mengojek di sekitar Marelan. Namun, sakit paru-paru yang diderita sang ayah harus membuat Hamida menjadi kepala rumah tangga. Namun biar begitu, Hamida tidak sendiri. Banyak tetangga sekitar yang membantunya. Mulai dari makanan, uang jajan sang adik, pakaian, hingga lampu rumah mereka.

Hingga Senin (7/4) siang, ada seorang laki-laki yang datang ke rumahnya mengantar uang Rp1 juta untuk meringankan beban ketiganya. Uang tersebut rencananya akan dibelikan Hamida sebuah TV. “Ga tau siapa yang antar tadi. Dia bilang buat bikin sumur. Tapi adik saya minta dibeliin TV, jadi nanti saya beli TV aja,” ujarnya. Rencananya, dalam waktu dekat dirinya akan mencari lagi pekerjaan lain yang dapat mencukupi kebutuhan mereka. (Cr-2/smg/deo)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *