Perbanyak Kosa Kata, Siswa SMPN 3 Kisaran Bikin Komik Berbahasa Inggris

Pendidikan Sumatera Utara
Kelompok Karin dkk dari kelas IX-6 SMP Negeri 3 Kisaran, memamerkan hasil komik berbahasa Inggris yang telah mereka selesaikan, sesuai arahan guru Bahasa Inggris mereka, Irmayanti Swastika Nasution SPd.

KISARAN, SUMUTPOS.CO – Ada empat skill yang dituntut dalam pembelajaran bahasa Inggris. Yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Di antara keempat skill ini, yang dirasa sulit oleh sebagian besar peserta didik adalah berbicara dan menulis. Terutama selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19. Mengapa hal ini terjadi?

“Ini disebabkan peserta didik kurang menguasai kosa kata Bahasa Inggris. Mereka paling malas jika diminta menghapalkannya. Padahal, jika kosa kata mereka banyak, akan lebih mudah berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Cukup menyusun kata-kata yang mereka miliki tanpa harus malu. Masalah tata bahasa bisa diperdalam kemudian,” kata Irmayanti Swastika Nasution SPd, guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Kisaran, kepada Sumut Pos, Kamis (3/12).


Lantas, cara apakah yang dinilai Irmayanti efektif untuk membuat peserta didik meningkatkan kosa kata Bahasa Inggris mereka? Karena sekolah masih PJJ dan dilarang berkerumun sebagai bagian protokol kesehatan 3M, fasilitator daerah komunikasi Asahan Program Pintar Tanoto Foundation ini meminta siswa kelas IX-5, IX-6, IX-7 dan IX-8 untuk membaca cerita tentang apa saja dari google, buku cerita, surat kabar ataupun majalah.

 “Ketika proses membaca, otomatis peserta didik akan mencari arti kata dan mencoba memahami makna dari cerita tersebut. Tanpa mereka sadari, perbendaharaan kata mereka semakin bertambah. Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan menghapal arti kata satu per satu yang membuat mereka bosan,” jelasnya.

Selanjutnya, ia meminta para siswa menceritakan kembali cerita yang mereka baca dengan bahasa  mereka sendiri, dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk komik Bahasa Inggris. “Saya memilih komik, karena peserta didik umumnya menyukai komik. Dalam metode ini, saya meminta para siswa mengerjakan tugasnya secara berkelompok, agar karakter bekerjasama dan bebas mengutarakan pendapat terbentuk,” cetus guru yang juga peserta pelatihan Pengembangan Budaya Baca Tanoto Foundation ini.

Penugasan dimulai sejak 7 November – 14 November 2020, lebih kurang selama satu minggu. Jika ada yang kurang dipahami, siswa dipersilakan bertanya langsung via WA. “Miss, bolehkah kami membuat komik digital?” tanya Karin, peserta didik dari kelas IX-6.

 “Tentu saja boleh. Silahan gunakan kreativitas kalian,” kata Irma merespon muridnya.

Dua hari setelah penugasan, orangtua seorang peserta didik dari kelas IX-5, Zulfa, menelepon dirinya. “Bu, kelompok anak saya tidak pandai membuat komik digital. Bolehkah mereka menggambar, walaupun gambarnya tidak bagus?”

“Tentu saja boleh ibu, yang penting gambarnya bermakna dan bisa dipahami orang. Terima kasih sudah peduli ya ibu,” kata Irmayanti bersemangat, karena senang dengan antusias siswa dan orangtua.

Selama penugasan secara daring tersebut, peserta didik bolak-balik mengirim komik yang mereka buat lewat WA pribadi maupun WA grup untuk dikoreksi, sebelum komik diprint di lembar tugas.

Salahseorang siswa SMP Negeri 3 Kisaran, Siti Zulfa, memamerkan komik berbahasa Inggris karyanya, yang digambar manual.

Ternyata belum genap seminggu, kelompok Karin dari kelas IX-6 yang sangat gencar berdiskusi dengan Guru Irmayanti, sudah menyelesaikan tugasnya. Hanya saja, mereka terbentur pencetakan komik karena mesin printer rusak.

“Lalu saya meminta Karin mengirimkan file tugas mereka untuk saya print. Keesokan harinya, print komik dijemput oleh Karin ke sekolah untuk dijadikan komik utuh. Tentu, kami tetap menegakka protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak,” ungkapnya seraya tersenyum manis.

Selanjutnya, kelompok Karin menyusun komik bahasa Inggris yang mereka buat, dan dikirimkan via WA. “Hasilnya lumayan bagus untuk peserta didik seumuran mereka,” katanya.

Komik berikutnya dikirimkan oleh kelompok Zulfa dari kelas IX-5. Dan akhirnya seluruh kelompok menyelesaikan tugas sebelum waktu yang ditentukan, meskipun ada juga kelompok yang terlambat.

“Melihat dari hasil karya mereka, saya menyadari bahwa dengan keterbatasan yang ada  selama PJJ, siswa tetap bersemangat menyelesaikan tantangan yang saya berikan. Tujuan pembelajaran tercapai, yaitu peserta didik dapat menangkap makna dari teks berbentuk lisan dan tulisan, serta kosa kata bahasa Inggris mereka bertambah, padahal saya membimbing mereka hanya lewat Whatsapp dan telepon,” katanya.

Peserta didik juga merasa senang diberi kesempatan untuk kerja kelompok, sehingga dapat berinteraksi kembali dengan teman-temannya, dengan tetap disiplin menerapkan prokes.

“Dengan metode ini, saya kira tujuan pembelajaran meningkatkan kosa kata bahasa Inggris, cukup berhasil meskipun ada banyak tata bahasa yang harus diperbaiki. Tetapi salah adalah proses dari belajar untuk mencapai kesempurnaan. Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba,” pungkasnya. (mea)

loading...