Perkuat Layanan Kesehatan Di Hulu dan Hilir, LPPM USU Skim Dosen Wajib Mengabdi pada Petani Food Estate Humbahas

Pendidikan Society

SUMUTPOS.CO – LEMBAGA Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (LPPM USU) melakukan pengabdian pada masyarakat di Food Estate Humbanghasundutan (Humbahas) baru-baru ini.

Tim pengabdian bidang kesehatan dengan koordinator Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD menjelaskan rangkaian acara meliputi pemeriksaan kesehatan petani, edukasi kesehatn petani, penerapan kesehatan dan keselamatan petani, pendampingan pembentukan Pos UKK serta kegiatan mandiri dosen FK USU.

KEGIATAN wajib dosen mengabdi dibidang kesehatan, pertanian dan psikologi tersebut bertujuan meningkatkan kesehatan petani di Humbahas.


Disini, LPPM USU membantu penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pekerja sektor pertanian. Pengabdian bidang ini diketuai Dr Sri Fajar Ayu SP MM (Agribisnis
Fakultas Pertanian USU) bersama Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD (Fakultas Kesehatan Masyarakat USU) dan Meutia Nauli MSi Psikolog (Psikologi USU).

Tim LPPM USU diketuai Ir Kalsum MKes dan Drs Edy Syahrial MS juga melakukan pendampingan membentuk Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) di Food Estate Humbahas.

Pos UKK ini bertujuan meningkatkan kesadaran petani atas pentingnya mengenal dan memahami masalah kesehatan kerja.

LPPM USU melalui tim diketuai Dr dr Dewi Masyithah Darlan DAP&E MPH SpParK dengan anggota Dra Merina Panggabean, MMedSc, dr Sunnah Vyatra Hutagalung MS PhD, dr Irma Siregar MKT, dr Hemma Yulfi, DAP&E MMedEd dan dr Yunilda Andriyani MKT SpParK juga melakukan pengabdian pada masyarakat.

Tim ini mengedukasi petani di Food Estate Humbahas mewaspadai penyakit cacing tanah. Caranya mencegah infeksi disebabkan parasit yang ditularkan melalui tanah dimulai dari pemeriksaan kesehatan masyarakat.

Kemudian mengedukasi pencegahan penyakit cacing pita, penyuluhan kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit tular hewan di masyarakat pada kawasan Food Estate Humbahas.

Sedangkan kegiatan pengabdian mandiri dari dosen FK USU diketuai Dra Merina Panggabean MMedSc dengan anggota dr Sunna V Hutagalung MS PhD, dr Hemma Yulfi MMedEd, dr Yunilda A MKT, dr Irma Siregar MKT dan Dr dr Dewi Masyithah Darlan DAP&E MPH SpParK (staf pengajar Departemen Parasitologi FK USU).

Keselamatan Kerja—
Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD, tim LPPM USU menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan skim dosen wajib mengabdi. Sebab USU dengan Humbahas mempunyai memorandum of understanding (MoU).

Tahun 2021 ini kegiatan dosen mengabdi dibuat di daerah Humbahas, tepatnya di daerah food estate. Mayoritas masyarakat disini bekerja disektor pertanian.

Pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Ria Ria Humbahas. Peserta berjumlah 30 petani dari tujuh kelompok petani di Food Estate Humbahas.

“Latar belakang kegiatan ini bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang berkontribusi besar dalam pembangunan nasional karena pertanian itu tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan nasional. Sektor ini cukup penting karena sektor ini terlibat 40 persen angkatan kerja atau sekitar 35,5 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia yang bekerja,” kata Destanul Aulia di Medan, Senin (22/11).

Ia mengemukakan bahwa saat ini terjadi fenomena yang baru disektor pertanian dimana penggunaan mesin modern meningkat. Untuk itu seharusnya diikuti kemampuan dan keterampilan dalam penggunaan mesin.

Bila tidak mampu
akan menyebabkan cedera dalam bekerja. ”Begitu juga dengan penggunaan pestisida, debu, binatang dan tumbuhan ini merupakan resiko untuk menimbulkan penyakit akibat kerja di sektor pertanian,” paparnya.

Permasalahan pertama yang sering terjadi pada petani di Indonesia adalah kecelakaan kerja. Kemudian penyakit menular atau tidak menular, gangguan kesehatan reproduksi, kejiwaan, masalah gizi, kurangnya latihan fisik dan kebugaran jasmani serta rendahnya hidup bersih dan sehat.

Masalah kesehatan itu, kata
Destanul Aulia, menimbulkan berbagai penyakit. Diantaranya malnutrisi, parasit, asma, alergi kulit, kanker, keracunan bahan kimia, keracunan makanan, gangguan otot dan tulang, gangguan pernafasan serta terjadinya kelenjar getah bening.

Destanul Aulia menegaskan pentingnya petani mengamalkan atau mempraktikkan keselamatan kerja.

Seperti yang dilaporkan International Labour Organization (ILO) bahwa terdapat enam ribu kasus K3 terjadi setiap tahunnya. Setiap 100 ribu tenaga kerja di Indonesia, 20 kasus terkena K3 fatal. Ini menyebabkan kerugian negara sekitar 4 persen.

“Petani itu paling penting dalam sektor pembangunan sehingga kita perlu melakukan pembinaan petani khusus berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan bagi sektor pertanian. Rata-rata 2,2 juta orang meninggal per tahun karena sakit atau kecelakaan,” sebut Destanul Aulia.

Ia pun mengimbau agar petani untuk selalu menggunakan pelindung diri seperti topi, master, sarung tangan, baju lengan panjang dan sarung tangan, sepatu. ”Terpenting juga petani harus bersih, bisa menggunakan kadar pestisida untuk pertanian. Kalau berlebihan akan menyebabkan residu. Ini akan mengganggu kesehatan bukan hanya petani tetapi juga keluarga petani,” ujarnya.

Masalah yang paling dasar adalah rendahnya kesadaran masyarakat petani terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. ”Tim pengabdian berharap kegiatan ini bisa meningkatkan pengetahuan petani,” ucap Destanul Aulia.

Bentuk Pos UKK—-
Sementara itu Ketua Tim LPPM USU Ir Kalsum MKes mengatakan bahwa tingkat kesadaran terhadap kesehatan kerja
adalah masalah yang utama. Untuk itu LPPM USU perlu mendampingi para petani agar membentuk Pos UKK.

Beberapa strategi yang dijalankan pada pendampingan ini yaitu peningkatan pengetahuan, peningkatan kesadaran dan penguatan organisasi dan advokasi serta pemanfaatan potensi dan program.

“Jadi kita ketahui kesadaran yang rendah harus kita dorong menjadi kesadaran yang tinggi. Untuk itu diperlukan konsep pemberdayaan masyarakat. Jadi kesehatan dari kita untuk kita,” ujar Kalsum.

Pada kegiatan tersebut, Ir Kalsum MKes (FKM USU) dan Edy Syahrial MS (FKM USU) juga mendampingi kelompok tani dan
menunjuk kader.

“Pembentukan kader dan pos UKK ini merupakan program pemerintah dibawah Direktorat Kesehatan Jasmani dan Olahraga Kementerian Kesehatan. Artinya pos UKK ini akan terdaftar di kementerian kesehatan sehingga akan menjadi kelompok yang akan ditindaklanjuti,” katanya.

Pada kelompok ini, lanjut dia, diberikan konsep pemberdayaan. Konsep berisi segala potensi bisa dimanfaatkan dan dikembangkan agar masyarakat atau kelompok petani mampu mengenal dan memahami masalah kesehatan kerja dan dapat menanggulangi masalah tersebut.

Selama ini, ia menambahkan bahwa pos UKK yang ada tidak terintegrasi. ”Kita harap ini dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” kata Kalsum.

Semua ini adalah strategi dan pengintegrasian program untuk melakukan pemberdayaan.

Kedepan akan terbentuk pos UKK terintegrasi. Masalah kesehatan yang ada dan akibat akibat kerja, kecelakaan kerja, penyakit menular, penyakit tidak menular, gangguan kesehatan reproduksi, gangguan kesehatan jiwa, masalah gizi, kurangnya aktivitas fisik dan latihan PBS itu akan terintegrasi.

”Jadi kegiatan kesehatan kerja terintegrasi di pos UKK itu akan menyebabkan pekerja sehat dan produktif. Sudah dilakukan pelatihan agar bisa saling menolong sesama anggota kelompok pos UKK,” jelasnya.

Pada kegiatan ini juga diserahkan kotak P3K, spanduk, papan nama pos dan penandatanganan MoU tentang pos UKK yang akan diserahkan kepada Dinkes Kesehatan Humbahas untuk dimasukkan kedalam sistem. ”LPPM USU membentuk tiga pos UKK bagi 30 petani,” katanya.

Edukasi Kesehatan —
Dr dr Dewi Masyithah Darlan DAP&E MPH SpParK menambahkan bahwa dosen wajib mengabdi para tim LPPM USU juga melakukan edukasi dan sosialisasi dalam prilaku hidup sehat petani dalam pencegahan infeksi yang disebabkan parasit yang ditularkan melalui tanah di Food Estate Humbahas.

“Kegiatan pengabdian kita kepada masyarakat ini memang dilakukan secara rutin oleh FK USU di berbagai daerah dan desa-desa binaan FK USU. Dalam kesempatan ini kami memilih Kabupaten Humbahas mengingat lokasi ini merupakan daerah pertanian yang memiliki risiko penularan cacing tular tanah,” kata Dewi Masyithah Darlan.

Demikian pula pola kehidupan masyarakat yang menurut penelitian yang telah dilakukan, memiliki risiko untuk penularan cacing pita. Dengan demikian perlu memberi edukasi kepada masyarakat untuk pencegahan penularan cacing tular tanah, cacing pita dan penyakit zoonosis.

‘”Kami juga melakukan pemeriksaan kesehatan secara umum, mengingat akses terhadap pelayanan kesehatan yang cukup jauh bagi sebagian masyarakat di kabupaten,” kata Dr dr Dewi Masyithah Darlan DAP&E MPH SpParK.

Kegiatan ini diikuti 30 petani, dimana harapan terbesar agar terjadi perubahan prilaku sehingga petani bisa menjaga kesehatan.

Misal, usai bekerja mereka bisa mencuci tangan, menggunakan alas kaki, kalau pemakan daging agar bisa memasaknya secara benar agar tidak tertular penyakit.

Disebutkan dia, dengan diberikan edukasi itu para petani sadar bahwa selama ini mereka belum paham apa yang dilakukan mereka terhadap menjaga kesehatan. Setelah diedukasi, kata dia, pengetahuan dan prilaku petani berubah.

Kegiatan LPPM USU di Food Estate Humbahas meliputi:

  1. Pemeriksaan kesehatan masyarakat di Food Estate Humbanghasundutan.
  2. Edukasi kesehatan pencegahan penyakit kecacingan usus masyarakat peladang di Food Estate Humbanghasundutan.
  3. Edukasi kesehatan pencegahan penyakit cacing pita masyarakat di Food Estate Humbanghasundutan.
  4. Penyuluhan kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit tular hewan masyarakat di Food Estate Humbanghasundutan.
  5. Penerapan kesehatan & keselamatan pekerja sektor pertanian di Food Estate Humbanghasundutan.
  6. Pendampingan pembentukan Pos Upaya Kesehatan Kerja Sektor Pertanian di Food Estate Humbanghasundutan. (rel/dmp)
loading...