Pertumbuhan Ekonomi tak Berkualitas

Metropolis

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara hingga triwulan III berkisar 6,75 persen atau berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,5 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III ini lebih banyak disumbangkan oleh komponen komsumsi yang mencapai 3,85 persen. Sedangkan faktor modal tetapn hanya menyumbang sekitar 1,30 persen, sedangkan untuk konsumsi pemerintah 0,01 persen. Tingginya faktor konsumsi dibandingkan faktor modal tetap, membuat pertumbuhan ekonomi ini tidak berkualitas atau tidak menambah pendapatan masyarakat itu sendiri.

Hal ini diungkapkan Dosen Unimed M Ishak kepada wartawan Sumut Pos Juli Ramadhani Rambe, Senin (7/11). Berikut petikan wawancaranya.


Apa pendapat Anda menyikapi pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan III ini?
Kalau penyumbang utamanya komponen konsumsi, hal ini logis. Mengingat pada triwulan III ini (Juli, Agustus dan September), merupakan bulan yang banyak pengeluaran. Mulai dari libur dan masuk tahun ajaran baru, Ramadan dan Lebaran. Jadi, sangat logis bila pertumbuhan ekonomi Sumut sangat besar dari komponen konsumsi. Tapi, walau pertumbuhan tinggi, bukan berarti pertumbuhan tersebut berkualitas, karena bukan pemasukkan untuk masyarakat melainkan pengeluaran.

Apa yang Anda maksudkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas?
Begini, pertumbuhan ekonomi akan lebih bagus bila barang modal bergerak. Masalahnya, untuk saat ini, kondisi pengusaha kita sedang menunggu pergerakkan ekonomi yang dituntun melalui pemerintah. Sepengetahuan saya, hingga saat ini, APBD Medan yang biasanya menjadi acuan untuk APBD Sumut, baru direalisasikan sekitar 70 persen. Padahal, kalau melalui perhitungan saya, untuk bulan-bulan sebelumnya, dana tersebut seharusnya sudah dicairkan sekitar 85 hingga 90 persen.

Dari dana APBD Medan yang 70 persen ini, ke mana saja dicairkan?
Yang pasti ke internal, bukan ke eksternal. Dana APBD tersebut masih lebih fokus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan belanja pemerintah saja. Nah, menurut kebiasaan yang saya lihat, biasanya dana APBD ini akan dikeluarkan saat bulan November-Desember. Nah, pada bulan-bulan ini tidak terlalu penting, karena sudah penghujung tahun dan tutup buku, karena itu banyak stakeholder yang berlebih anggarannya.

Apa dampaknya jika anggaran tersebut belum dicairkan seutuhnya?
Ya ini, perekonomian yang stagnan. Karena tidak ada yang merangsang perekonomian. Karena dana tidak ada, tidak bisa dipungkiri bahwa APBD sangat penting untuk kegiatan ekonomi terutama skala global.

Menurut Anda, apa penyebab belum dicairkannya dana APBD itu seutuhnya?
Banyak faktor, tetapi pada umumnya, karena kebijakan pemerintah yang terlalu berhati-hati untuk mengeluarkan pembiayaan, selektif dalam pemilihan pihak ketiga, dan tentu saja kosentrasi pemerintah untuk ekonomi masih kurang. Politik masih menjadi nomor satu di sini.

Jadi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Begini, diprediksi tahun depan ekonomi sulit atau dampak krisis global akan terasa, sekarang bagaimana pemerintah untuk memperhatikan laju pergerakkan ekonomi, atau seberapa besar kontribusi pemerintah terkait pengeluaran ekonomi daerah, dan jangan terlalu lama bertindak dalam pengeluaran dana APBD, agar pergerakkan ekonomi terus berjalan.(*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *