PNS Tukar Baju Setelah Diteriaki Massa

Metropolis

PNS Ganti Seragam Dinas dengan Batik

Aksi unjuk rasa besar-besaran di Medan membuat Pegawai Negeri Sipil (PNS) di jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Medan khawatir menggunakan seragam dinas. Sebagian mereka malah ada yang berbalik pulang untuk mengganti kostum dinas mereka dengan batik setelah diteriaki massa.


Soal ganti kostum langsung dirasakan Asisten Pemerintahan Pemko Medan, Daudta P Sinurat. “Saya ganti seragam untuk menghindari aksi demo, karena tadi sewaktu saya berjalan mengenakan baju dinas saya diteriaki,” katanya, kemarin.

Ya, peristiwa kemarin bisa dikatakan mengubah pola masyarakat Medan. PNS Pemko Medan yang sejatinya mengenakan seragam Linmas berwarna hijau sama sekali tidak terlihat. Padahal, seragam hijau itulah yang lazim dipakai hari Senin.

Pantauan Sumut Pos di lapangan, sejumlah PNS dan kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Medan terlihat sama sekali tak ada yang mengenakan seragam dinas. Seluruh PNS yang hadir terlihat mengenakan baju batik, sebagian juga mengenakan baju kemeja.

Tak hanya itu, kantor Pemko Medan juga sangat sepi. Kehadiran PNS terlihat minim. Sehingga mengakibatkan, beberapa ruangan di Pemko Medan lengang. Bahkan, pimpinan SKPD baik Wali Kota Medan, Wakil Wali Kota Medan, Sekda dan beberapa Kepala Bahagian (Kabag) juga sudah tidak berada di kantor sejak pukul 09.30 WIB.

“Pak Wali memang tidak ada jadwal lagi hari ini, setelah tadi pagi berada di kantor, sekarang Pak Wali ke RS Pirngadi Medan menjenguk keluarganya yang sakit,” kata Kabag Humas Pemko Medan, Budi Hariono, Senin (26/3).

Padahal, sekitar pukul 08.25 WIB, Kabag Humas Pemko Medan, Budi Hariono mengirimkan SMS kepada wartawan di unit Pemko Medan yang menyatakan kalau Wali Kota Medan ada rencana untuk meninjau Pasar Petisah, Pusat Pasar, dan Gudang Gula di Jalan Cemara. Selain itu, meninjau pabrik Musim Mas di Jalan Yos Sudarso. Namun, sekitar pukul 09.10 WIB, Kabag Humas Pemko Medan kembali mengirimkan SMS yang menyatakan kalau peninjauan pasar ditunda menjadi hari ini, Selasa (27/3).

Kasubag Protokoler Pemko Medan, Zul Fakhri Ahmadi yang dikonfirmasi terkait keberadaan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap menyebutkan, setelah dari RS Pirngadi Medan, sekitar pukul 11.00 WIB, Rahudman kembali ke rumah dinas. “Mungkin besok juga belum ada jadwal Pak Wali,” terang Zul ketika dihubungi melalui telepon selulernya.

Kepala BKD Medan, Parluhutan Hasibuan yang dihubungi membantah kalau kehadiran PNS di jajaran Pemko Medan minim. “Biasa saja kehadiran PNS, tadi pagi saat apel pagi, rata-rata ada 80 persen PNS yang masuk kerja,” terang Parluhutan.

Namun, kenyataannya, kantor Pemko Medan sangat lengang, banyak ruangan yang sepi, bahkan parkir mobil dan sepeda motor juga terlihat lengang. Bahkan, di sore hari hanya ada 40 jumlah PNS yang mengikuti apel sore.

Ketika disinggung, PNS yang tak mengenakan seragam dinas hari ini, Parluhutan menyatakan kalau itu merupakan inisiatif sendiri. “ Kita belum ada memberikan instruksi untuk tidak mengenakan pakaian seragam hari ini. Itu hanya inisiatif dari pegawai saja untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan,” terang Parluhutan.

Sejumlah PNS yang tak berseragam dinas ketika ditanya menyatakan sebagai upaya untuk menghindari aksi anarkis yang seketika bisa saja dilakukan para pengunjuk rasa. “Dari pada nanti kita berangkat kerja pulangnya habis dihajar massa, mendingan kita tak pakai seragam dinas,” kata seorang PNS di bagian Humas Pemko Medan.

Dia mengaku sama sekali memang belum ada instruksi dari Wali Kota Medan untuk tidak mengenakan pakaian seragam dinas. “Memang instuksinya belum ada. Tapi, lebih baik tak mengenakan seragam dinas lah dulu,” jelasnya.

Sementara pantauan Sumut Pos di Kantor Gubsu, usai apel pagi Kantor Gubsu, terlihat langsung lengang. Sekira pukul 14.30 WIB, tampak para PNS Pemprovsu satu per satu memasuki Kantor Gubsu, usai aksi massa meninggalkan Kantor Gubsu.

Area parkir kantor Gubsu, juga terlihat sepi. Di area parkir sepeda motor, hanya terlihat puluhan sepeda motor yang terparkir. Padahal biasanya, mencapai ratusan sepeda motor. “Karena mau demo itulah Bang, makanya sepi,” kata salah seorang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di area parkir sepeda motor.

Begitu halnya dengan suasana parkir mobil, baik di halaman depan kantor gubsu maupun di basement kantor gubsu juga tampak lengang. Hanya terlihat beberapa unit mobil saja yang terparkir.

Dampak aksi kemarin juga terasa di beberapa sekolah yang ada di Medan. Atas aksi itu, banyak siswa terpaksa terlambat masuk. “Kalau jumlah siswa yang hadir masih normal, seperti hari biasanya. Namun, banyak siswa yang hadir terlambat,” ungkap pembantu kepala sekolah bidang kesiswaan SMA Negeri 3 Medan Emir Harahap.

Menurutnya, dari sejumlah siswa yang terlambat hadir pada jam pertama mata pelajaran karena terpaksa mencari alternatif kendaraan lain untuk sampai ke sekolah. “Kebanyakan mereka dipaksa turun dari angkutan oleh para pendemo. Karena itu mereka terlambat sampai di sekolah. Ada yang berjalan kaki, ada juga yang meminta teman mengantarkan dengan sepeda motor,” papar Emir.

Namun, keterlambatan siswa ini harus ditolerir pihak sekolah. “Kebijakan dari Disdik Medan juga sudah ada mengenai hal itu. Pihak sekolah diharuskan mentolerir siswa yang hadir terlambat ke sekolah karena adanya aksi demonstrasi tersebut. Jadi tak ada sanksi bagi siswa yang terlambat itu,” tambahnya.

Ada lagi, hal menarik yang terjadi di sekolah tersebut. “Karena termakan informasi bakal ada kekerasan yang dilakukan kepada para PNS, para guru juga tak berani berpakaian seragam saat pergi dan pulang sekolah. Mereka mengenakan pakaian sipil, termasuk saya,” kata Emir sambil tersenyum.
Keadaan serupa juga terjadi di beberapa sekolah favorit di Medan. Seperti SMA Negeri 2, SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 5 Medan. Di ketiga sekolah tersebut jumlah kehadiran siswa tetap normal. Namun, tetap ada sejumlah siswa yang dating terlambat.

“Daerah sekolah kita tak berada dalam jalur atau titik-titik demonstrasi. Jadi tak begitu berpengaruh,” ungkap pembantu kepala sekolah bidang kurikulum SMA Negeri 4 Medan Nurbaina.

Ia juga mengaku, pihak sekolah tak ada memulangkan siswa pada jam pelajaran. “Karena kita anggap aksi demonstrasi itu tak begitu dekat dengan sekolah dan domisili siswa. Jadi sekolah tetap jalankan proses pembelajaran seperti biasa,” pungkasnya.(adl/ari/saz)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *