Posisi Nurdin Makin Terjepit

Nasional

Dubes RI untuk Swiss akan Bertemu Presiden FIFA

JAKARTA- Posisi Nurdin Halid Cs makin terjepit. Berbagai langkah kini ditempuh untuk mengungkap borok yang selama ini disembunyikan mantan narapidana itu dalam memimpin PSSI sejak 2003 silam.
Selasa mendatang (8/3), Djoko Susilo, Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss dijadwalkan bertemu dengan Presiden FIFA Sepp Blatter, di kantor FIFA yang berada di Zurich, Swiss. Pertemuan itu adalah tidak lanjut dari permintaan Menpora Andi Mallarangeng  yang menginstruksikan KBRI untuk aktif memberikan gambaran yang sebenarnya kepada FIFA.


Kepada wartawan grup koran ini tadi malam, Joko Susilo mengatakan sudah memiliki sederet bahan yang akan disampaikan kepada Sepp Blatter. Di antara yang akan dibicarakan adalah adanya beberapa pasal dalam status FIFA yang diplintir oleh PSSI dalam statutanya.

Antara lain pasal 32 ayat 4 FIFA yang berbunyi,  “The members of the Executive Comittee…must not have been previously found guilty of criminal offence.” (Anggota Komite Eksekutif tidak boleh pernah dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal). Oleh PSSI pasal itu dipelintir menjadi Statuta PSSI pasal 35 ayat 4, “Harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan criminal pada saat kongres.”

Djoko Susilo mengungkapkan, pihaknya memahami jika FIFA alergi dengan yang namanya intervensi dari pemerintah. Tapi, FIFA sendiri tidak menjamin independensinya itu bisa dimanipulasi oleh PSSI. “Karena itulah nanti semuanya nanti akan saya beberkan kepada Sepp Blatter. Bagaimana pemerintah mau luruskan yang salah  kok dianggap intervensi,” kata Djoko Susilo tadi malam.

Hal lain yang akan disampaikan adalah fakta-fakta bahwa Nurdin Halid dan kroninya melakukan banyak hal terkait kongres yang menguntungkan kubunya dan mempersulit bakal calon lain. Di antaranya dengan menerjemahkan semuanya sendiri pasal 35 Ayat 4 Statuta PSSI, “Telah aktif sekurang-kurangnya lima tahun dalam kegiatan sepak bola.”

asal itu oleh PSSI diartikan bakal calon harus aktif paling tidak lima tahun dalam kompetisi sepakbolaan (sebagai official dan atau pemain yang mempunyai tanggaungjawab teknis, medis, dan administrative) di bawah PSSI .
Melihat kondisi yang berkembang, Djoko Susilo berpandangan jika selama ini FIFA hanya mendapat infomasi sepihak. “Tugas kami disini adalah memberikan infomasi yang komprehensif. Kita ingin informasi yang masuk ke FIFA berimbang,” beber mantan wartawan Jawa Pos ini. “KBRI posisinya ingin FIFA mendapat masukan seluas luasnya dan melihat Indo secara komprehensif.

FIFA juga sedah semestinya  melihat reaksi masyarakat Indonesia. Kantor PSSI saja sekarang sudah disegel massa yang jengkel. FIFA harus tahu apa penyebabnya. Karena itulah saya ngotot ingin ketemu langsung Sepp Blatter,” lanjutnya.

Untuk menuntaskan perselisihan yang terjadi,  sebagai Duta Besar Djoko Susilo mendorong FIFA untuk menurunkan tim pencari fakta ke Indonesia. Sebagai Dubes Djoko berjanji akan  memberikan  fasilitas seluas-luasnya sehingga tim independent FIFA itu bisa bertugas dengan lancar dan bisa mengambil kesimpulan tanpa dipengaruhi pihak manapun.

“Dan jika pihak-pihak yang saat ini  berselisih faham dengan kubu NUrdin Halid dkk ingin beraudiensi langsung dengan FIFA di Zurich KBRI di Swiss siap menjembatani,” ungkapnya.

Djoko Susilo dengan terus terang juga menyayangkan, selama ini orang-orang PSSI yang kerap keluar masuk kantor FIFA di Zurich sama sekali tidak berkoordinasi dengan KBRI.

Padalah  lembaga olahraga Indonesia lainnya jika punya agenda di Swiss selalu kulo nuwun dengan KBRI.  “Orang-orang PSSI itu sluman slumun slamet jika kesini. Mereka tidak pernah berkoordinasi dengan KBRI. Tapi kita tahu lah siapa saja orang – orang PSSI yang keluar masuk di kantor KBRI. Mungkin kalau mereka kecopetan baru melapor ke KBRI,” paparnya. (ali/aam/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *