Positif Covid-19 di Sumut Meroket

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penambahan kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 di Sumatera Utara (Sumut) meroket atau meningkat drastis. Tak tanggung-tanggung, penambahan kasus baru positif mencapai angka 811 orang. Penambahan kasus baru positif yang melonjak siginifikan, berdasarkan laporan media harian tanggal 13 Juli 2021 milik Kemenkes RI yang disampaikan oleh BNPB.

Atas penambahan itu, total kasus konfirmasi di Sumut pun kini melejit dari 38.946 menjadi 39.757 orang. Jumlah ini mencatatkan Sumut menjadi Provinsi terbanyak kesembilan yang melaporkan penambahan kasus baru Covid-19 di tanah air.


Untuk angka kesembuhan, Sumut memperoleh penambahan 203 kasus. Dengan penambahan tersebut, akumulasi kesembuhan menjadi 34.441 orang, Sedangkan untuk kasus baru kematian bertambah 10 orang, sehingga akumulasinya menjadi 1.257 kasus dari 1.247 kasus.

Dari data tersebut, maka saat ini kasus aktif Covid-19 di Sumut mengalami peningkatan tajam menjadi 4.059 orang. Terkait peningkatan kasus baru Covid-19 yang meroket tersebut, Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Aris Yudhariansyah enggan berkomentar. Namun mengamini angka penambahan tersebut dari Kemenkes RI yang disampaikan oleh BNPB.

Namun hal berbeda justru terjadi di Kota Medan. Pemko Medan mengklaim, bahwa dalam dua minggu terakhir, telah terjadi penurunan positivity rate Covid-19 di Kota Medan. Sebelumnya, angka positivity rate Covid-19 berada di angka 30,01 persen, namun kini angka telah menurun menjadi 27 persen dengan jumlah testing sebanyak 800 per hari.

“Penurunan positivity rate ini memang belum terlalu siginifikan, namun menunjukkan bahwa beberapa kasus di Kota Medan sudah bisa dikatakan terkendali,” ungkap Wali Kota Medan, Bobby Nasution saat menjadi narasumber dalam talk show ‘Ruang Publik’ KBR yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI serta Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (13/7) secara daring dari rumah dinasnya.

Positivity rate, kata Bobby, merupakan rasio jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 berbanding dengan total tes atau pemeriksaan suatu wilayah. Dalam talk show yang juga menghadirkan narasumber Staf Khusus III Menteri BUMN dan Koordinator Komunikasi Publik KPCPEN, Arya Sinulingga itu, Bobby Nasution juga menyampaikan perkembangan vaksinasi di Medan.

Dari 2,5 juta lebih penduduk Medan, kata Bobby, yang menjadi target vaksinasi sebanyak 1,9 juta. Hingga kini, target tersebut sudah tercapai sebesar 50,01 persen.”Sebelumnya target kita 1,4 juta penduduk, namun dengan bertambahnya segmen yang bisa divaksin, maka target pun bertambah menjadi 1,9 juta,” ucap Bobby Nasution.

Bobby juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian BUMN yang telah memilih Kota Medan dalam menyelenggarakan vaksinasi massal, yakni di eks Bandara Polonia.

Sebelumnya hingga sampai sekarang, lanjut Bobby Nasution, Pemko Medan juga melaksanakan vaksinasi di eks Bandara Polonia, baik secara langsung di tempat maupun dengan cara drive thru. “Sebelumnya kita targetkan maksimal 2.000 dosis per hari, namun saat Kementerian BUMN turun ke lapangan target bisa sampai ke 5.000 per hari,” ungkap Bobby.

Tembus 47 Ribu Sehari

Secara nasional, situasi Covid-19 di Indonesia memecahkan rekor lagi. Selasa (13/7) kembali menyentuh rekor tertinggi yakni 47.899 sehari. Angka itu lebih tinggi dari kemarin, Senin (12/7) dengan 40.427 kasus. Dari angka tersebut, kasus terbanyak terjadi di DKI Jakarta. Kini total sudah 2.615.529 orang terinfeksi Covid-19.

Kasus Covid-19 di DKI Jakarta menyumbang rekor tertinggi yakni 12.182 kasus. Angka kematian dalam sehari ada 864 jiwa. Angka itu masih lebih rendah dari Minggu (11/7) yakni 1.004 jiwa, Rabu (7/7) yakni 1.040 jiwa. Namun lebih tinggi dari Selasa (6/7) 728 jiwa. Senin (5/7) yakni 558 jiwa. Lebih tinggi dari Minggu (4/7) yakni 555 jiwa dalam sehari. Jumat (2) 539 jiwa meninggal dunia. Lalu Kamis (1/7) sebanyak 504 jiwa.

Ada 4 provinsi mencatat kematian tertinggi. Jawa Timur 179 jiwa. Jawa Tengah 169 jiwa. Jawa Barat 144 jiwa. DKI Jakarta 80 jiwa. Kasus aktif juga naik drastis dalam sehari 26.912 kasus. Ini adalah rekor tertinggi. Jumlah pasien aktif kini sebanyak 407.709 orang.

Ada 227.083 spesimen yang diperiksa. Dan ada total 159.354 orang yang diperiksa dengan metode TCM, PCR, dan antigen. Angka positivity rate mencapai 30,06 persen.Sebaran positif harian tertinggi terjadi di DKI Jakarta 12.182 kasus. Jawa Barat 7.192 kasus. Jawa Timur 6.269 kasus. Banten 4.016 kasus. Jawa Tengah 3.270 kasus.

Pasien sembuh harian bertambah 20.123 orang. Paling banyak kasus sembuh terjadi di DKI Jakarta sebanyak 4.571 orang. Dan total angka kesembuhan saat ini sebanyak 2.139.601 orang. Sudah 510 kabupaten kota terdampak Covid-19. Tak ada satu pun provinsi di bawah 10 kasus. Dan tak ada satu pun provinsi dengan nol kasus.

Menkes: Jangan Panik

Angka penularan Covid-19 di tanah air terus mengalami lonjakan tajam. Bahkan per Selasa (13/7) ini Indonesia mencapai rekor tertinggi dengan angka penularan sebanyak 47.899 kasus. Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan tingginya angka penularan yang terkonfirmasi tersebut lantaran pemerintah menaikan jumlah testing. “Bapak, ibu lihat hari ini. Pasti ada lonjakan testing, mungkin juga akan ada lonjakan kasus konfirmasi (Covid-19),” ujar Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Selasa (13/7).

Budi menjelaskan, di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat ini pemerintah mengencarkan testing sebanyak 400 ribu. “Jadi target 400 ribu waktu PPKM Darurat itu sudah dipasang dan kita udah bagi ke semua kota atau kabupaten harus naik ke arah sini,” katanya.

Oleh sebab itu, Budi meminta masyarakat dan anggota dewan tidak perlu panik dengan kenaikan angka penularan Covid-19 tersebut. Itu lantaran angka testing yang pemerintah naikkan.”Jadi saya bisa jelaskan belum semua data (Covid-19-Red) masuk. Saya terbuka bila masih banyak data yang belum masuk. Nah sekarang kita dorong supaya angkanya masuk. Jadi bapak ibu akan lihat lonjakannya. Tidak perlu panik terutama teman-teman media,” ungkapnya.

Budi memaparkan, pemerintah tidak menutup-nutupi angka penularan kasus Covid-19 ini. Sehingga semuanya dilakukan secara transparan mungkin.”Kita bisa respon lebih baik identifikasi orangnya mana, kita lacak dan kita masukan. Dari pada kita nutup-nutupin supaya kelihatan baik tapi nanti meledak,” tuturnya.

“Ini yang akan kita bereskan, nah mungkin bapak ibu mungkin beberapa hari ini akan ada lonjakan tapi itu bukan baru, tapi karena memang sebelumnya enggak terlaporkan saja, tapi sekarang jadi terlaporkan,” pungkasnya.

Gejala Psikologis Meningkat

Sementara itu, pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama hampir dua tahun telah memberikan banyak dampak yang besar bagi masyarakat. Bahkan di bidang kesehatan sendiri, selain berpengaruh kepada kondisi fisik seseorang, pandemi Covid-19 juga sedikit banyak telah berpengaruh kepada aspek psikologis.

Dokter spesialis kejiwaan FK USU, Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) menyatakan, meski peningkatan gangguan kejiwaan belum dapat dipastikan akibat pandemi, namun gejala atau simtomatik psikologis yang dikeluhkan oleh kebanyakan orang memang bertambah. “Hal itu seperti kecemasan, depresi, rasa panik, rasa tidak nyaman, tidak ingin melakukan apapun, apatis hingga kecenderungan melukai diri,” ungkapnya.

Menurut Elmeida, peningkatan simtomatik psikologis ini bahkan mencapai sekitar 10-30 persen. Biasanya, ujar dia, karena orang mulai merasa bosan dan uring-uringan dengan kecemasan yang terus bertambah di saat pandemi ini.

Di tengah masyarakat, rasa bosan, cemas dan apatis ini memang sangat begitu nyata terlihat. Misalkan saja, ada sekelompok orang yang begitu paranoidnya dengan Covid-19, sehingga sangat betul-betul menjaga kontak dengan orang lain dan selalu melakukan disinfkesi diri setelah terlibat kontak dengan lawan bicara. Namun ada juga yang sama sekali tidak peduli dengan pandemi yang sedang terjadi. Terlebih, untuk menggunakan masker saja, sekelompok orang ini juga enggan melakukannya.

Selain itu, ada juga sekelompok orang yang hanya menjalankan protokol kesehatan dengan seadanya saja. Misalkan, dia rutin menggunakan masker dan melaksanakan protokol kesehatan. Akan tetapi, saat berkumpul bersama teman atau kerabat, masker itu malah dibuka.

Diungkapkan Elmeida, untuk menghindari terjadinya simtomatik psikologis saat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, dapat dimulai dengan rasa syukur masih diberikan nikmat kesehatan. Kemudian berupaya meningkatkan kegiatan dan hubungan keluarga dalam rumah, hingga membuat aktivitas menarik yang bisa dilakukan di dalam rumah. “Selain itu manfaatkan juga teknologi untuk berkomunikasi agar kecemasan, depresi, rasa panik, rasa tidak nyaman, tidak ingin melakukan apapun, apatis hingga kecenderungan melukai diri ini dapat dihindari,” pungkasnya. (ris/map/jpg)

loading...