Punya Stasiun TV, Ical-Anas Kesemsem

Nasional

Ketika Hary Tanoe Mundur dari Nasdem

Sehari setelah mundur dari Partai Nasdem, Hary Tanoesoedibjo mulai mendekati parpol lain. Bos MNC Group itu kemarin (22/1) dikabarkan mulai didekati Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) dan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.


LAMBAI TANGAN: Mantan Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Hary Tanoesoedibjo melambaikan tangan meninggalkan gedung Nasdem, Senin (21/1).
LAMBAI TANGAN: Mantan Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Hary Tanoesoedibjo melambaikan tangan meninggalkan gedung Nasdem, Senin (21/1).

“Sudah BBM (BlackBerry Messenger)-an dengan Pak Ketua Umum (Ical),” begitu kata Wasekjen DPP Partai Golkar Nurul Arifin.
Namun, mantan artis papan atas itu tidak mau menjelaskan detail perbincangan isi tersebut. Termasuk ketika ditanya soal peluang ketertarikan Hary ke Golkar atau soal bisnis, Nurul tidak bisa menjelaskan. Yang pasti, dia mengingatkan, jika ingin bergabung dengan Golkar, Hary tidak boleh meminta lebih. Sebagai kader baru, kader sekelas Hary Tanoe pun tetap harus lebih dulu membuktikan komitmen membesarkan partai.

“Silakan, asal mau ke titik nol dan tidak meminta jabatan tertentu. Kita sama-sama membesarkan Golkar dan harus ada kesamaan visi,” tegasnya.
Hary dan Ical belakangan memang dekat. Hanya, hubungan mereka sebatas urusan bisnis. Awal Desember 2012, Hary menyepakati pembelian dua aset PT Bakrieland Development Tbk. Yakni, lima konsesi jalan tol di Pulau Jawa serta 50 persen kepemilikan properti dan lapangan golf di Lido Resort. Yang terbaru, Surya Paloh pada Senin (21/1) menyebut Hary ingin membeli aset televisi milik Grup Bakrie, meski informasi itu dibantah pria kelahiran Surabaya tersebut.

Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso juga mengisyaratkan kesiapan parpolnya menampung Hary. “Apakah Hary Tanoe akan kepincut ( Golkar), saya tidak mau komentar. Tapi, hubungan kami dengan Hary Tanoe terjalin baik. Apakah setelah ini akan menyetrum kembali, saya tidak mau menjawab,” ungkapnya.

Menurut wakil ketua DPR itu, biarkan saja semua berproses secara alamiah. “Tidak enak bicara saat temen (Partai Nasdem) tengah berduka. Apa kata orang kalau belum apa-apa kami sudah memberikan karpet merah,” sambungnya lantas tersenyum.

Priyo menegaskan, Golkar menghormati kapasitas Hary sebagai anak muda yang potensial di bidang bisnis. Tapi, “kaliber” pria kelahiran Surabaya, 26 September 1965, tersebut di dunia politik, menurut Priyo, masih harus diuji. “Lihat saja, masih seumur jagung, yang bersangkutan sudah mundur,” katanya.

Pada bagian lain, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengaku juga telah menjalin komunikasi awal dengan Hary. “Saya sudah komunikasi, tapi belum tahu persisnya. Nanti ada kesempatan saya komunikasikan lagi dengan HT. Kami komunikasi dulu,” ujar Anas di sela mengunjungi korban banjir kemarin.

Meski demikian, dia menambahkan, keputusan mundur Hary dari Nasdem tidak akan banyak berpengaruh terhadap strategi pemenangan partainya. Demokrat, kata dia, akan tetap berusaha makin intensif berkomunikasi dengan rakyat. Yaitu, untuk meyakinkan bahwa partainya memang bermanfaat bagi semua.

“Apalagi, kami tidak berharap mengambil keuntungan dari konflik partai. PD justru mendoakan semua partai sehat, kompak, dan bekerja yang terbaik,” tegasnya.

Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Marzuki Alie menyatakan, Hary Tanoe dulu sempat sangat dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, Hary pernah menawarkan berbagai fasilitas dalam rangka sosialisasi partai melalui media.

“Saya juga sangat dekat. Karena itu, waktu (Hary Tanoe) mau bergabung ke Partai Nasdem, saya kaget juga,” kata Marzuki di gedung DPR kemarin (22/1).
Sebagai sahabat, ungkap dia, dirinya sempat mengingatkan Hary agar sebaiknya tetap berposisi independen atau tidak bergabung dengan parpol. “Sebab, parpol saat ini bukan tempat bagi orang-orang profesional seperti Pak Hary. Saya juga pernah mengalami perang batin untuk terus (di parpol) atau tidak,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Marzuki, banyak praktik pengambilan keputusan dalam parpol yang masih menggunakan logika kekuasaan seperti suatu perusahaan. Padahal, parpol merupakan pilar utama demokrasi dan “milik” publik. Karena itu, keputusan di internal parpol seharusnya diambil secara demokratis.
“Waktu itu, saya mengingatkan, kita jangan mudah masuk saat parpol belum siap menampung orang-orang seperti Pak Harry Tanoe atau orang-orang yang kompeten, punya pengalaman, serta punya niat yang baik, visi, dan idealisme. Apa yang terjadi setelah 15 bulan” Pak Hary Tanoe akhirnya mundur,” ungkap ketua DPR itu.

Bagaimana kalau Hary memilih untuk merapat ke Partai Demokrat” “Lho, partai kami kan terbuka,” tegas Marzuki. (pri/dyn/c5/agm/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *