Rencana Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah, Disdik Medan Data Guru untuk Divaksin

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyebut, Juli 2021 nanti pembelajaran tatap muka (PTM) sudah bisa dimulai. Meki begitu, Pemko Medan belum dapat memastikan, apakah PTM bisa terealisasi sesuai rencana Mendikbud tersebut.

CUCI TANGAN: Siswa SD mencuci tangan dengan sabun di sekolahnya. Mulai Januari 2021, pemerintah mengizinkan belajar tatap muka di sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Ilustrasi.

“Ya masih dalam pembahasan lah, belum bisa dipastikan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Medan, Adlan SPd MM kepada Sumut Pos, Selasa (2/3).


Dikatakan Adlan, berdasarkan pembahasan yang dilakukan, kalaupun rencana dibukanya kembali sistem belajar tatap muka pada Juli nanti, setidaknya proses vaksinasi sudah harus dilakukan kepada para guru di Kota Medan. “Kalau guru-guru belum divaksin, kita juga tak bisa buka kembali sistem belajar tatap muka di sekolah. Harus divaksin dululah, supaya proses belajar mengajarnya bisa lebih tenang,” ujarnya.

Untuk itu, mantan Kabag Agama Setdako Medan tersebut menjelaskan, saat ini pihaknya tengah mendata jumlah guru di Kota Medan yang berhak untuk mendapatkan vaksinasi. Hal itu dilakukan, agar proses vaksinasi dapat melingkupi seluruh guru yang ada di Kota Medan.

Nantinya, data tersebut akan disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kita Medan yang bertugas dalam melakukan proses vaksinasi. “Ini lagi kita data, nanti akan sampaikan datanya ke Dinkes. Karena kan memang mereka yang nantinya melakukan vaksinasi,” katanya.

Pun begitu, saat ini Dinas Pendidikan Kota Medan terus melakukan bimbingan kepada para guru agar dapat melakukan sistem pembelajaran secara daring dengan lebih baik. “Sistem daring saat ini masih berlanjut, mau tidak mau memang harus kita lanjutkan, karena kondisi saat ini memang belum memungkinkan untuk kita belajar tatap muka. Tapi begitu pun, kita intenskan agar proses belajar daring bisa berjalan lebih baik,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi II DPRD Medan, Sudari ST meminta kepada Disdik Kota Medan untuk segera menyelesaikan proses pendataan guru yang ada di Kota Medan untuk segera bisa di vaksinasi. “Supaya proses belajar tatap muka di sekolah bisa cepat terealisasi, ya setidaknya di bulan Juli seperti yang direncanakan,” katanya.

Selain itu, Sudari juga meminta kepada Pemko Medan, dalam hal ini Dinas Kesehatan agar segera mengatur teknis proses vaksinasi untuk para guru di Kota Medan. “Sebab infonya, vaksinasi hanya berlaku untuk masyarakat Kota Medan. Tetapi yang kita tahu, cukup banyak warga Deliserdang yang jadi guru di Kota Medan. Apakah mereka bisa divaksinasi atau tidak? Sebab kalau tidak, artinya kita berharap agar pemerintah Kabupaten/Kota tempat guru tersebut berdomisili yang segera memvaksinnya. Kita harapkan ini cepat dikoordinasikan, supaya nanti jangan ada guru di Kota Medan yang belum divaksinasi,” pungkasnya.

Terpisah, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi kembali menegaskan, dirinya belum mengizinkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sumut untuk seluruh jenjang pendidikan. Edy mengaku, Pemprov Sumut masih akan mengkaji dan membahas lagi kebijakan itu dalam waktu dekat.

“Nanti saya akan kumpulkan lagi di sini ahli kesehatan anak, pakar epidemiologi, dan pakar terkait lain di bidangnya untuk membahas hal tersebut. Jangan ditanya orang ekonomi, pasti jawabannya sekolah harus dibuka lagi,” kata Edy dalam silaturahmi bersama insan pers, Selasa (2/3).

Edy mengamini, pandemi Covid-19 yang berlangsung sekitar setahun ini, memukul hampir seluruh sektor perekonomian masyarakat termasuk sektor transportasi di wilayah Sumut. Bahwa dominan pendapatan para sopir angkutan kota atau angkutan umum, berasal dari anak sekolah dan mahasiswa. Namun ia menegaskan, persoalan terpenting adalah kesehatan para peserta didik.

“Anak-anak kita ini mesti kita pikirkan kesehatannya. Saya sebagai umara (pemimpin), sebagai pemutus (pengambil kebijakan), mesti mendengarkan ahli-ahli di bidang kesehatan anak ini. Mereka yang menganalisis ini dengan melihat perkembangan terbaru Covid-19 di Sumut. Jika mereka bilang belum boleh, ya saya akan ikut,” tegasnya.

Ihwal waktu pembahasan pembukaan PTM di Sumut, Edy mengaku akan dilakukan dalam waktu dekat ini juga. Terlebih sebelumnya, ia pernah mengungkapkan, pada Maret 2021 akan kembali mengundang para ahli dan pakar di bidang kesehatan anak untuk membahas perkembangan terbaru mengenai PTM tersebut. “Pada tanggal 1 Januari 2021, (para ahli) itu duduk di sini dan mereka satu pun belum mengizinkan anak anak masuk sekolah. Kalau ditanya tokoh-tokoh ekonomi, pasti ya maunya sekolah,” ungkapnya.

Dari sisi pembinaan, diakui dia, belajar tatap muka di sekolah lebih baik daripada belajar jarak jauh. “Tetapi persoalannya sekarang Covid-19, ini WHO, ini inpres, dan ini pergub, dan bahkan ada perda. Tolong ini semua dipahami,” ujarnya.

Semptember, USU Rencana Tatap Muka

Di sisi lain, sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) sudah menyampaikan kesiapannya untuk membuka perkuliahan tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Diantara kampus negeri yang sudah bersiap membuka kuliah tatap muka kembali adalah Universitas Sumatera Utara (USU). “Tatap muka direncanakan bulan 9 (September 2021). Kebijakan ini, masih kita pertimbangan secara matang-matang,” kata Rektor USU, Dr Muryanto Amin kepada wartawan di Kampus USU, Selasa (2/3).

Muryanto menjelaskan, sebelum dilaksanakan kembali kuliah tatap muka, direncanakan 1.600 dosen dan tenaga pendidikan di USU sudah dilakukan vaksin Covid-19 dari total 2000-an dosen dan tenaga pendidik. “Jadi, maksimal 1 ruang dibolehkan 20 orang. Kemudian, membentuk petugas Covid-19. Kita siapkan fasilitas protokol kesehatan. Yang penting semua dosen harus divaksin,” jelasnya.

Muryanto mengaku sudah berkordinasi dengan Satgas Covid-19 Sumut tentang rencana vaksinasi terhadap dosen dan tenaga pendidikan di USU.”Bulan 3 atau bulan 4. Itu saya dapat kabar dari Satgas Covid-19,” ungkapnya.

Muryanto mengatakan, untuk perkuliahan tatap muka ini harus mengambil kebijakan secara matang dan hati-hati. Jangan sampai, kuliah tatap muka menjadi klaster baru dan menjadi pemberitaan media sehingga menimbulkan dampak negatif. “Kebijakan ini, masih kita pertimbangan secara matang-matang. Memang tidak bisa menggantikan belajar tatap muka. Tapi, daring banyak memberikan proses belajar baru kepada mahasiswa. Meski kelemahannya secara emisional antara dosen dan mahasiswa tidak terjalin,” jelasnya.

Muryanto juga menceritakan keluhan orang tua mahasiswa, yang anaknya menjalani perkuliahan secara daring. Namun, mahasiswa tersebut tidak tahu kampus dan kelas kuliahnya dimana hingga saat ini. “Ada mahasiswa yang belum tahu kampusnya. Ada orang tua berbicara sama saya. Anak saya masuk di USU, tapi tidak tahu kampusnya. Secara psikologis ya terganggu secara emosional,” tandasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, PTM akan dibuka secara bertahap pada Juli 2021. “Secara bertahap diusahakan di semester ini sudah buka,” kata Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Jumeri, Kamis, 25 Februari 2021.

Namun, Jumeri tak menjelaskan tahap pembukaan sekolah tersebut. Ia mengatakan, PTM ini sekaligus menjadi kampanye protokol kesehatan di sekolah bagi guru maupun siswa. Menurutnya, Kemendikbud mewajibkan pihak sekolah menyiapkan standar operasional maupun fasilitas untuk menjaga kesehatan lingkungan. “Masa pembelajaran tatap muka digunakan untuk kampanye menjaga kesehatan bagi guru dan siswa, galakan penyuluhan kepada siswa agar meningkat kesadarannya akan protokol kesehatan,” ujarnya.

Ia pun meminta kepada pihak sekolah yang membuka proses pembelajaran tatap muka menjalin kerja sama dengan fasilitas kesehatan terdekat. Termasuk komunikasi antara pihak sekolah dan wali murid secara intensif. (map/gus/prn)

loading...