Rencana Perkuliahan Tatap Muka, Unimed Tunggu SK, USU Rapat Persiapan

Metropolis Pendidikan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sekolah akan kembali melangsungkan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Januari 2021. Begitu juga dengan perguruan tinggi yang akan melangsungkan perkuliahan di waktu yang sama seperti sekolah.

UJIAN: Rektor Unimed Syamsul Gultom saat mengecek pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN 2020 lalu. istimewa/Sumut Pos.
UJIAN: Rektor Unimed Syamsul Gultom saat mengecek pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN 2020 lalu. istimewa/Sumut Pos.

NAMUN sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terdapat sejumlah persiapan yang harus dilakukan sebelum dibuka. Yang terpenting adalah melaksanakan protokol kesehatan 3M, yaitu menjaga jarak, memakai masker dan rajin mencuci tangan dengan air yang mengalir.


Menyikapi hal itu, Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Syamsul Gultom mengatakan, pihaknya siap menyediakan fasilitas penunjang aktivitas perkuliahan tatap muka secara protokol kesehatan. Namun begitu, mereka masih menunggu arahan dari Kemendikbud.

Syamsul mengatakan, nanti akan ada surat Dirjen Dikti yang mengatur teknis perkuliahan tersebut. Direncanakan yang boleh kuliah maksimal 50 persen saja dan akan disesuaikan kondisi daerah masing-masing. “Kita akan buat bergilir atau bergantian, diatur dengan melihat NIM mahasiswa ganjil atau genap, ya dibuat bergilir, sehingga 50 persen saja yang kuliah secara tatap muka,” kata Syamsul kepada wartawan, Kamis (26/11).

Kebijakan tersebut, menurut Syamsul, wajib diterapkan seluruh perguruan tinggi di Indonesia. “Kita menunggu SK Dirjen Dikti. Kalau jadi Januari 2021, kita siap melaksanakannya. Tapi kita tidak mau nanti disebut jadi klaster baru penyebaran Covid-19. Kita utamakan kesehatan, maka akan kita patuhi protokol kesehatan secara ketat,” jelasnya.

Syamsul mengungkapkan, saat ini tercatat mahasiswa di Unimed 24.675 orang, 1.100 dosen dan 300 pegawai. Ia menyebutkan, untuk pegawai dan fungsionaris yang masuk kampus juga dibatasi. “Kalau saat ini, mahasiswa masih kuliah secara daring. Kalaupun jadi kuliah tatap muka, nantinya akan diminta persetujuan dari orangtua juga,” pungkasnya.

Secara terpisah, Rektor USU, Prof Runtung Sitepu mengatakan, mereka akan melakukan rapat dengan Kemendikbud. “Masih mau rapat untuk persiapan itu, jadi tunggu rapat dulu ya,” pungkas Runtung.

Labuhanbatu Siap Gelar Belajar Tatap Muka

Selain kampus, sekolah juga akan kembali dibuka dengan adaptasi protokol kesehatan pada Januari 2021. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Labuhanbatu menyatakan siap mengadakan pembelajaran tatap muka Januari tahun depan. “Regulasi hingga teknis untuk mengadakan pembelajaran tatap muka Januari tahun depan sudah dipersiapkan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Labuhanbatu, Syaiful Azhar melalui Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan, Asrol Aziz Lubis saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (26/11).

Namun begitu, Syaiful mengaku masih menunggu arahan dari Gubernur Sumatera Utara. “Masih menunggu arahan dan instruksi Gubsu,” katanya.

Secara teknis, pembelajaran akan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Dan membagi rombongan belajar. “Adapun secara teknis pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19 tahun 2021, pihak sekolah akan mengurangi jumlah siswa yang masuk sekitar 50 persen. Artinya, satu meja untuk satu murid,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, pihak sekolah juga telah menyediakan fasilitas tempat cuci tangan untuk para siswa sesuai protokoler kesehatan sebelum memasuki kelas di sekolah masing-masing. “Kalau untuk lebih detail, tergantung pihak sekolah bagaimana teknis untuk jam masuk sekolah. Apakah murid masuk secara berkala, dan sebagainya,” tandas Asrol.

Sementara, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Labuhanbatu, Sugiarto mengaku telah menyiapkan segala fasilitas dengan standar protokoler kesehatan untuk menghadapi pembelajaran tatap muka tahun 2021. “Pihak sekolah hanya tinggal menunggu arahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu. Kami telah menyiapkan tempat cuci tangan, serta masker untuk anak murid, sehingga proses belajar nantinya sesuai dengan protokoler kesehatan,” pungkasnya.

Pemda Harus Pastikan Prokes Siap

Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mendesak Pemda untuk melakukan pengecekan kesiapan pelaksanaan protokol kesehatan di daerah. Dalam hal inilah, menurut Satriwan, pemda perlu memastikan kesiapannya dengan teliti, begitu juga dengan sekolah.

Kesiapan ceklis atau daftar periksa yang diminta, antara lain ketersediaan sarana dan prasarana sanitasi dan kebersihan, mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, kesiapan menerapkan wajib masker, memiliki thermogun, lalu memiliki pemetaan warga satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan penularan serta mendapatkan persetujuan orang tua atau wali.

“Jadi kami berharap karena sekarang kunci sekarang ada di pemda, jangan tergesa-gesa karena kesehatan dan keselamatan anak, guru, tenaga kependidikan dan keluarga, mereka itu paling utama kan,’’ terangnya.

Apalagi jika rumah dan sekolahnya berada di zona merah, seperti DKI Jakarta. Selain itu, yang harus diperhatikan adalah operasional menuju sekolah dan pulang ke rumah. ’’Apakah sudah siap, asumsikan DKI siap sarananya, tapi masih zona merah kan, ketika naik kendaraan umum bagaimana siapa yang menjamin,’’ terang dia.

Maka dari itu, sebaiknya sebelum melakukan sekolah tatap muka, biasakan diri terlebih dahulu untuk menerapkan protokol kesehatan seperti 3M, yakni wajib memakai masker, wajib mencuci tangan, wajib menjaga jarak. Dengan membiasakan diri, peserta didik juga dapat memberikan pengetahuan kepada temannya yang lain.

99% Guru Ingin Sekolah Tatap Muka

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyambut baik pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan dilaksanakan pada Januari 2021. “Ini benar-benar suara hati guru, bagaimana baiknya pembelajaran jarak jauh (PJJ) kan sudah 9 bulan. Mau diteruskan demi keselamatan anak-anak, atau mengajar tatap muka? Itu jawabannya 99 persen sebaiknya anak-anak sekolah, jangan dibiarkan di rumah,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Unifah Rosyidi, Kamis (26/11).

Pasalnya, kekhawatiran akan potensi penularan virus Covid-19 lebih besar di lingkungan rumah, apalagi jika tidak ada pengawasan dari orang tua. Maka dari itu, lebih baik sekolah dibuka dan anak-anak mendapat pengawasan dari para guru. “Kami justru khawatir bahaya covid, saat orang tua tidak mengawasi anak di rumah, karena anak-anak bisa main-main di luar, lalu bahaya kedua itu dari sisi tidak membentuk karakter,” terangnya.

Meskipun mendukung pembukaan PTM, Unifah meningatkan agar pemerintah daerah (pemda) selaku pemberi izin harus betul-betul memastikan kesiapan dari para sekolah. Terlebih jika sekolah berada di zona merah, sebaiknya tidak usah dilakukan tatap muka. Dia juga meningatkan agar setiap pemda merancang tolak ukur pembukaan sekolah.

PTM memang sangat ditunggu oleh warga pendidikan. Akan tetapi, sekolah harus siap menyediakan sarana dan prasarana serta menjalankan protokol kesehatan guna menghindari penyebaran virus di sekolah. “Jadi yang penting berhati-hati dan membuat ukuran yang tepat. Kalau ada satu saja indikasi (penyebaran virus), kami harus mengambil sikap tegas untuk menyelamatkan semua,” pungkasnya. (gus/fdh/jpc)

loading...