Rindu Lebaran Bersama Orangtua

Metropolis

Ratusan siswa CT Foundation di Komplek Rumah Anak Madani (RAM) di Jalan Veteran Pasar VII terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Beberapa terlihat lalu lalang sekadar mencari udara segar di sekitaran sekolah dan mungkin sebagian lainnya sedang sibuk atau istirahat di dalam kamarnya masing-masing. Mereka tampak ceria, tertawa dan bercanda oleh sesamanya. Meskipun jauh dari orangtua dan keluarga, mereka tampak bahagia.

Puput Julianti Damanik, Medan


DITEMUI: Taufik Hidayah saat ditemui  RAM  Jalan Veteran Medan, kemarin.//ist
DITEMUI: Taufik Hidayah saat ditemui di RAM di Jalan Veteran Medan, kemarin.//ist

Yah, jam sekolah memang sudah usai. Seluruh siswa berhak melaksanakan aktivitasnya masing-masing tapi masih dengan peraturan dilarang keluar komplek tanpa izin dan terkadang ada kegiatan agama mengisi bulan Ramadan yang wajib diikuti. Anak-anak yang menjadi korban bencana alam dan dari keluarga kurang mampu di RAM ini sudah terbiasa dengan peraturan. Mereka terlatih menjadi seorang yang disiplin, bahkan terlihat saat bulan Ramadan tiba.

Hidup tanpa dampingan orangtua tidak menjadi alasan untuk mereka hidup tak tentu arah. Ramadan, mereka berpuasa, belajar dan beribadah. Bahkan sampai lebaran tiba, mereka tetap selalu ceria. Meskipun mereka sudah tahu kalau akhirnya di Hari Raya Idul Fitri nantinya mereka harus merayakan tanpa kedua orangtua, bahkan tanpa keluarga. Yah, Ramadan tetap dijalani dengan penuh keikhlasan tanpa memikirkan kesedihan di ujung penghabisan bulan Ramadan.

Satu di antaranya adalah Taufik Hidayah (17), saat dijumpai Sumut Pos, Kamis (18/7), remaja berbadan kurus tinggi ini bercerita sangat lincah. Tidak ada keraguan, sepertinya ia memang sudah terbiasa berjumpa dengan orang baru. Saat ditemui, Hidayat baru saja melaksanakan salat duhur, wajahnya tampak cerah.

Ia mulai menceritakan awal masuk ke TC Foundation dan menjadi warga di komplek RAM. “Saya bisa masuk sini karena lulus tes kak, kebetulan ada 10 orang yang masuk dalam ranking 10 besar di MTS S YMPI Tanjungbalai berkesempatan mengikuti ujian masuk ke TC Foundation dan dari 10 besar tersebut, saya yang lulus,” ujar anak bungsu dari 4 bersaudara ini.

Ia tidak pernah menginginkan dapat masuk ke TC Foundation karena ia sudah ingin meneruskan sekolahnya ke Islamic Center di Medan. namun karena dorongan dari seorang guru Bahasa Arab yang menjadi ayah angkatnya, ia memiliki masuk ke sekolahnya saat ini. “Saya tak menginginkan masuk ke sini, saya lebih ingin ke Islamic Center dan MAN 1 Medan dan saya sudah lulus ke sana. Namun karena buya (ayah angkat) saya milih ke TC Foundation,” katanya.

Berbicara soal ayah angkat, anak yatim piatu ini tak segan menceritahkan kisah hidupnya, tentang ayahnya, Purnomo dan ibundanya, Varida Hanum. “Bicara soal buya, sebelumnya saya mau cerita soal ayah dan mamak. Ayah saya sudah meninggal saat tsunami di Aceh. Kebetulan ayah bekerja sebagai TNI Angkatan Laut yang bertugas di sana, setelah ayah meninggal, kakak, anak kedua yang sekolah di Pesantren Purba meninggal karena kecelakaan bus setelah itu seminggu setelah saya masuk di MTS di Tanjung Balai, mamak meninggal karena sakit gula kering,” ujarnya.

Sepeninggal ayah tercinta Taufik pun pindah dari tempat ia tinggal semula di Jakarta ke Tanjungbalai, tempat keluarga ibunya berasal. Sebelumnya taufik sudah terbiasa hidup berpindah-pindah bersama orangtuanya, mengikuti tugas sang ayah yang seorang Angkatan Laut. “Saya sudah terbiasa hidup berpindah-pindah, saya lahir di Medan tak lama di Medan pindah ke Padang, Lampung, Palembang, Jakarta, Bandung, Jogja dan kembali menetap di Jakarta, tapi ketika saya kelas enam, semester terakhir, ibu mengajak pindah ke Tanjungbalai,” ujarnya. (bersambung)

Bersambung ke: Belum Tahu Dapat Baju Lebaran atau Tidak

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *