Sakit & Tak Punya Rumah, Berlin Silalahi Minta Disuntik Mati

Metropolis
Euthanasia-Ilustrasi.

Safaruddin menceritakan, selama ini untuk hidup sehari-hari, Berlin Silalahi dan keluarga hanya mengandalkan bantuan sesama korban tsunami yang tinggal di Barak Bakoy. Namun, barak tersebut sudah dibongkar dan penghuninya digusur oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. “Pemohon atau klien kami sudah berupaya mengobati penyakitnya. Namun hingga kini, pemohon tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan biaya pengobatannya,” ceritanya.

Humas PN Banda Aceh, Eddy SH mengatakan, di Indonesia tidak dikenal dengan euthanasia. Pihaknya hanya dapat menerima permohonan, sementara keputusannya ada di hakim. “Silakan ajukan, atas dasar hukum kami tidak boleh tolak. Nanti kita proses kalau sudah ada dasarnya. Tapi yang pasti euthanasia tidak ada dalam hukum positif Indonesia, itu yang ada di Belanda,” sebutnya.


Eddy menerangkan, permohonan diteruskan ke ketua pengadilan. Selanjutnya, ketua pengadilan akan menentukan majelis hakim atau hakim tunggal dan jadwal persidangan. “Nantinya, majelis hakim yang akan memutuskan apakah permohonan euthanasia diterima atau tidak. Pengadilan tidak boleh menolak permohonan diajukan oleh siapa pun,” kata Eddy. (ibi/mai/jpg/adz)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *