Semboyan

Catatan

Iwan Junaidi
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

BIAYA sebesar 496 miliar yang diusulkan KPU Sumut untuk Pilgubsu 2013 nanti, hingga kini belum menunjukkan titik terang. Dari Rp121 miliar yang diusulkan pada Oktober 2011, ternyata hanya Rp60 miliar yang tercantum di APBD. Kekurangannya, kabarnya akan kembali dicantunkan pada PAPBD nantin


Tak ayal kondisi ini melahirkan keraguan akan terlaksananya Pilgubsu 2013, sebab selain harus mengakomodasikan kekurangan tadi di PAPBD, sesungguhnya KPU Sumut juga masih berencana  menganggarkan Rp375 miliar untuk pengadaan logistik gelaran Pilgubsu.
Hmmm… sebegitu besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan seorang pemimpin di provinsi ini.

Sayangnya, kerap terjadi uang dalam jumlah besar yang dipergunakan untuk gelaran Pilkada sebuah daerah, tak menghasilkan seorang pemimpin yang benar-benar dicintai oleh rakyatnya, meski katanya… mereka dipilih oleh para rakyat. Bah.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan ketidak mampuan sang pemimpin menjadi pemimpin yang adil dan bijak bagi rakyatnya. Parahnya, sudah tak mampu bersikap adil dan bijak, masyarakat pun masih harus menanggung malu dari tingkah sang pemimpin yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.

Dinginnya lantai serta lembabnya udara yang ada di balik jeruji besi seakan tak pernah membuat para pemimpin jera untuk tidak melakukan kecurangan terhadap apa yang dipimpinnya.

Kalau sudah begini jadi teringat kisah pewayangan Mahabarata tatkala Resi Abiyasa mengajarkan empat amalan yang harus dimiliki seorang pemimpin kepada Arjuna.

Menurut Abiyasa, seorang pemimpin yang baik harus mampu bersikap Heneng (tenang), Hening (cipta, kreatif), Heling (sadar), dan Hawas (waspada).
Diuraikannya bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat tenang dalam menghadapi segala persoalan, sebab dengan ketenangan segala persoalan akan lebih mudah dihadapai.

Selanjutnya seorang pemimpin harus kreatif dan memiliki banyak ide untuk memakmurkan rakyatnya, dan jangan pernah lupa kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Pada bagian terakhir disebutkan jika seorang pemimpin yang baik harus tetap waspada terhadap semua hal yang dapat menyengsarakan rakyatnya.
Pertanyaannya, adakah di antara para tokoh yang secara terang-terangan telah memproklamirkan bakal maju sebagai calon pemimpin di Sumatera Utara ini memiliki keempat persyaratan tadi?

Tak perlu buru-buru memberi jawaban, sebab Pilgubsu itu sendiri baru akan berlangsung setahun lagi. Artinya, masyarakat Sumatera Utara masih memiliki waktu yang sangat panjang untuk menilai dan mempelajari segala tingkah para calon pemimpin itu tadi.

Yang pasti, mulai saat ini orang-orang yang punya ambisi untuk menjadi pemimpin di provinsi ini harus pintar-pintar menghitung seberapa besar peluangnya, sebab masyarakat pun kini sudah tak lagi bodoh ketika berada di bilik suara pencoblosan.

Pemberi nominal terbesar tetap menjadi prioritas utama untuk dipilih,  meski mereka menyadari bahwa terkadang pilihan mereka bukanlah yang terbaik. Namun rasio untuk menemukan sosok pemimpin yang benar-benar ideal sudah tak ada lagi di dalam angan. Rasa kecewa karena sering dikibuli oleh janji-janji politik para calon pemimpin akhirnya membuat masyarakat bersikap apatis.

Bagi mereka, semua orang yang telah mencalonkan diri untuk maju menjadi pemimpin di provinsi ini berarti memiliki uang berlimpah yang siap dibagi-bagikan kepada masyarakat yang rela memberikan hak suaranya. Ujung-ujunganya semboyan ‘wani piro’ menjadi semboyan paling populer yang hinggap di telinga kita pada saat pelaksanaan Pilgubsu nanti. Namun begitu, masih ditunggu semboyan lainnya, yang diharapkan mampu membawa daerah ini kearah yang lebih baik. Semoga. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *