Sempat Ditentang Orangtua, Ingin Ikut Pentas Nasional

Metropolis

Meutia Afifah, Pelukis yang Masih Duduk di Bangku SMP

Perpaduan warna yang apik oleh Meutia Afifah (13), membuat lukisan Master Sheng-Yen Lu seolah hidup. Karisma yang terpancar dari senyumannya terasa menyapa semua pengunjung 5th Anniversary Budaya Daden di Atrium Sun Plaza Medan, 21-27 Februari 2011. Seperti apa?


INDRA JULI, Medan

Ditemui, Rabu (23/2) Meutia yang masih berseragam sekolah mengaku senang karyanya masuk nominasi lelang yang akan digelar, Sabtu (26/2) nanti. Kerja keras selama dua hari yang dilakoninya pun dirasa pantas.

“Buatnya butuh dua hari, Bang. Semua goresan kuas,” ucap siswi SMP Negeri 7 Medan ini kepada Sumut Pos.
Meutia mengaku, untuk lukisan ini dirinya memakai cat minyak winter dengan menonjolkan warna kemerahan. Membuat wajah Master Sheng-Yen Lu seolah hidup di atas kanvas. Begitu juga dengan warna keemasan yang mengangkat kharisma sang master. Semua itu pun dilengkapi dengan bingkai keemasan yang memenuhi kebutuhan lukisan putri sulung dari pasangan Dony Inda Valiandra dan Sari Ramadoni Harahap ini.
“Saya pikir dengan wajah Master Sheng-Yen Lu yang kemerahan dominasi merah dan keemasan akan sangat tepat,” jelas gadis berlensa itu.

Meutia mengaku bila ketertarikannya dengan seni lukis sudah ada sejak duduk di Taman Kanak-kanak (TK). Namun insiden yang terjadi saat mengikuti salah satu lomba di Lapangan Merdeka membuatnya harus menghentikan aktivitas melukis.

“Waktu itu ada lomba di Lapangan Merdeka. Meutia ditinggal sendirian oleh rombongan. Untung saja ada saudara yang lihat,” kenang Meutia yang menyukai lukisan realis ini.

Sang ayah yang mengetahui hal itu dengan tegas meminta Meutia berhenti melukis dan fokus pada pelajaran di sekolahnya. Hingga saat sang adik pulang ke rumah membawa tropi dari lomba melukis, sang ayah pun melunak. Putri sulung dari empat bersaudara ini kemudian diminta kembali belajar melukis. Untuk mengejar ketertinggalannya, Meutia mendapat arahan dari pelukis Andi Surya.

Tidak hanya berhasil mengejar ketertinggalannya dan menjadi guru yang baik untuk kedua adiknya, Meutia pun memperlihatkan potensinya. Lebih dari 50 tropi dikoleksi di kediamannya Jalan Prof HM Yamin No 350 A Medan. Penghargaan yang diperoleh dari puluhan perlombaan melukis baik tingkat pelajar, lokal hingga provinsi.
Terakhir, dirinya keluar sebagai Juara I pada Oriental Fun Festival yang dilaksanakan di SMA Wiyata Dharma, Minggu (20/2). Pada kegiatan itu Meutia melukis Barongsai. Sementara itu Even Lions Club yang dilaksanakan di akhir 2010 lalu menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya. Ketika itu Meutia menyabet dua gelar yaitu Juara I di kategori distrik dan keluar sebagai Juara III di kategori umum.

Seperti pelajar lainnya yang dituntut untuk tetap berprestasi di sekolah, Meutia pun mengalaminya. Namun hal itu tidak menghalangi keinginan untuk menyalurkan hobi melukisnya.

“Sulitnya itu kalau mau ujian kan kita harus serius belajar biar nggak dapat nilai jelek. Padahal saya sedang mood-moodnya melukis. Ya curi-curi lah waktu istirahat,” akunya.

Mengacu pada sang idola, Alm Affandi, Meutia pun berkeinginan meramaikan pentas seni nasional. Untuk itu dirinya bercita-cita menghantarkan karyanya di perlombaan nasional. Apalagi menurut Meutia SMP N 7 Medan tempatnya menuntut ilmu saat ini sangat mendukung kegiatan melukisnya. Begitu pun dukungan keluarga dalam menyiapkan semua kebutuhannya.

Meutia Afifah adalah talenta baru yang dimiliki Kota Medan yang siap meramaikan pentas kesenian tanah air. Di saat berkurangnya seniman Kota Medan, kehadirannya patut disambut. Dengan dukungan dan perhatian pemerintah terhadap dunia berkesenian tentunya. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *