Sering Dapat Bisikan Gaib agar Jenazah Segera Dimandikan

Metropolis
 Hj Salbiah Siregar

Hj Salbiah Siregar

Menjadi bilal mayit bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi jenazah yang diurus tanpa identitas, tanpa keluarga dengan kondisi fisik tidak wajar. Perlu keberanian serta ketulusuan hati melakukan itu.
Inilah yang dilakukan oleh Hj Salbiah Siregar (61), bilal mayit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan. Bertahun-tahun RSUD dr Pirngadi menggunakan jasa bilal mayit wanita dari luar. Namun, itu pun tidak semua mayat dapat difardhukifayahkan. Alasannya, tidak berani atau takut.
Wajar, mengingat mayat yang diantar di instalasi jenazah RSUD dr Pirngadi, kematiannya bermacam-macam. Ada korban kebakaran, korban kecelakaan dengan tangan patah, kepala pecah, usus terburai, bola mata keluar dan kondisi tidak wajar lainnya.
Melihat hal ini, RS dr Pirngadi berinisiatif mencari tenaga bilal mayit wanita, karena bilal mayit laki-laki sebelumnya sudah lama ada, yakni Abdu Samad yang juga suami dari Salbiah Siregarn
Melihat kondisi RSUD dr Pirngadi tanpa bilal mayit wanita, muncullah niat Abdu mengajak istrinya menekuni profesi yang ditanganinya sekarang.
Terjunnya Hj Salbiah Siregar sebagai bilal mayit di RS dr Pirngadi bukan tanpa keahlian. Sebelumnya, istri Abdu itu sebagai bilal mayit di Batangkuis, Deliserdang. Saat ini, sudah lebih 3 tahun Salbiah bekerja di instalasi jenazah RS dr Pirngadi Medan.
“Dari situlah saya kerja di sini, kebetulan sudah sejak usia 30 tahun, saya sudah sering dipanggil oleh warga untuk melakukan fardhu kifayah memandikan jenazah karena dulu saya sekolah di sekolah islam, jadi masyarakat di sekitar tempat tinggal kami, mempercayakan saya untuk memandikan jenazah. Setelah itu saya diajak suami saya untuk jadi bilal mayit di Rumah Sakit Pirngadi Medan untuk wanita, dan sekarang sudah berlangsung 3 tahun,” ujar warga Desa Bintangmeriah, Dusun II, Batangkuis ini kepada Sumut Pos, kemarin.

Awal bekerja, perasaan takut sempat menyelimuti Salbiah. Karena suami yang terus memberikan support, pelan-pelan Salbiah pun terbiasa. “Awalnya saya takut, tapi karena suami saya ikut menemani dan perkataan-perkataan dia, saya kini jadi lebih berani. Suami bilang, kita sudah tua apa yang bisa kita lakukan kecuali beramal, melakukan fardhu kifayah untuk jenazah apalagi jenazah tanpa identitas, tanpa keluarga dan kondisi parah pasti mendapat balasan pahala dari Allah, begitu kata suami saya,” ujarnya ibu dari 3 orang anak ini.


Salbiah menjadi terbiasa, ia bahkan tidak takut bila harus melakukan pekerjaannya sendiri di dalam kamar mayat. Tidak hanya memandikan saja, mengkafani, menyalatkan hingga mendandani jenazah dilakukannya.
“Kalau ada permintaan keluarga jenazah non muslim untuk didandani itu kita lakukan, ya itu saya lakukan hanya sekadar beramal,” tuturnya.
Gaji yang diterima Salbiah tidak besar, hanya Rp150 ribu untuk satu jenazah tanpa identitas. Penghasilan Rp150 per-jenazah yang diterima Salbiah tidak hanya untuk dirinya sendiri, dia harus membayar tenaga orang yang membantunya mengangkat jenazah dari lemari es. Sebulan bahkan terkadang hanya ada 5 mayat yang masuk.

“Gaji saya Rp 150 ribu per jenazah, itu sudah dibebankan pada belanja rutin RS. Tapi itu juga tidak semua bisa saya ambil, karena saya juga harus memberi uang kepada orang yang membantu saya untuk mengangkat mayat dari lemari es, tidak bisa sendiri melakukannya, mereka kadang minta bayaran 20 sampai 30 ribu,” ujarnya sembari menunjukkan SK penganggkatannya sebagai bilal jenazah wanita di Pirngadi yang kebetulan ia bawa.

Namun, sesekali ia mendapatkan tambahan dari jenazah pasien yang sempat dirawat. “Yah, tambahanlah sikit kalau ada keluarga pasien yang meninggal minta agar jenazahnya dimandikan atau di-makeup-in. Itu juga gak saya patokkan, seikhlas hati aja, kadang ada yang ngasi 150 ribu ada juga yang ngasi 50 ribu, lagian kita tahu mereka juga pasti lagi dalam keadaan susah dan dalam keadaan duka,” katanya.

Selain itu, Salbiah juga bercerita bahwa, ia sangat sering dimimpikan oleh jenazah-jenazah yang disimpan di lemari es. “Saya suka mimpi, mayat-mayat yang ada di lemari es itu minta-minta tolong agar cepat difardhukifayahkan. Tapi kitakan gak bisa langsung lakukan itu, karena nunggu mana tahu ada keluarganya datang dan biasanya paling lama itu dua minggu. Yah saya suka sedih sendiri,” ujarnya.

Tidak hanya itu, saat ia memandikan mayat yang sudah ada keluarganya, ia merasa bila ada bayangan yang juga meminta-mintanya untuk melakukan hal yang sama ke mayat-mayat tersebut. “Kalau saya lagi mandikan jenazah itukan posisinya belakangi lemari es tempat penyimpanan mayat, itu kayaknya baju saya ditarik-tarik, kayak ada yang berbisik-bisik minta dimandikan dan cepat dikuburkan juga,” katanya.

Tanpa segan, Salbiah juga menceritakan kisah yang tak dapat ia lupakan selama bekerja di Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi milik Pemko Medan tersebut. Ia menangis saat memandikan jenazah Lia Rahmadani, siswi SMK Panca Budi yang mencadi korban pembunuhan. Tak pernah dia rasakan kesedihan seperti itu, memandikan remaja wanita yang berusia 16 tahun itu menjadi kenangan tersendiri baginya.

“Kasihan saya lihat anak itu, wajahnya cantik saat itu keluarganya juga ikut dampingi pas mandikannya. Saya menangis, saya teringat cucu saya yang masih gadis juga. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tega sekali yang membunuhnya, sampai di rumah yang saya bayangkan dia-dia aja, saya doa meskipun gak kenal saya tetap ngerasa sedih dan terbayang terus,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga teringat saat seorang jenazah wanita hamil yang hanyut di sungai dan jenazah dengan usus berada di luar. “Ada mayat wanita hamil, usus yang di luar, tangan yang sudah patah itu kerjaan saya merapikannya. Tapi entah kenapa selama saya kerja selalu saja itu mayatnya gampang diatur. Allah memudahkan pekerjaan saya, meskipun sudah tegang kalau sudah didoakan tangannya nanti ngikut,” ujar wanita yang juga menjual pulsa keliling di RS Pirngadi ini.

Apa yang dilakukan oleh Salbiah memang sangat luar biasa meskipun dengan gaji yang pas-pasan tanpa ada gaji pokok tiap bulan. Tidak ada kata libur oleh Salbiah, pukul 09.00 WIB dia bersama suaminya tiba di RS dr Pirngadi. Karena bisa saja tiba-tiba ada jenazah yang diambil oleh keluarganya, atau jenazah pasien RS yang butuh jasanya.

“Mana ada kata libur, kan gak tahu kita mana tahu di situ ada keluarga jenazah yang datang atau jenazah pasien yang keluarganya minta agar dilakukan saja fardhu kifayahnya di rumah sakit karena keluarga memikirkan kemudaratannya. Lebih berdosa nanti,”  katanya.(*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *