Sinabung Semburkan Abu Vulkanik, 3 Kecamatan Gelap

Sumatera Utara

KARO, SUMUTPOS.CO – Gunung Sinabung kembali ‘mengamuk’, Selasa (2/3) pagi. Erupsi dibarengi dengan luncuran awan panas guguran (APG). Puluhan desa di tiga kecamatan, dihujani abu vulkanik dan sempat gelap karena tebalnya abu tak tertembus sinar matahari.

ERUPSI: Gunung Sinabung kembali bererupsi dibarengi luncuran awan panas guguran, Selasa (2/3) pagi. Akibatnya, tiga kecamatan di Karo gelap tertutup abu vulkanik.

Info yang dihimpun dari Pemantau Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung Badan Geologi, Desa Dokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, guguran awan panas terjadi karena kubah lava membeku dengan jarak luncuran hingga 4.500 meter ke arah tenggara dan terpantau tinggi kolom abu mencapai 5.000 meter.


Guguran awan panas peristiwa terjadi sebanyak 3 kali masing-masing pada pukul 07.07 WIB dengan jarak luncur 2.000 meter, kemudian pukul 07.11 WIB dengan jarak luncur 3.000 meter dan pada pukul 07.15 WIB dengan jarak luncuran 4.500 meter.

Sementara itu, sebanyak 17 desa di Kecamatan Tiganderket, 8 desa di Kecamatan Kutabuluh dan 15 desa di Kecamatan Tigabinaga terdampak abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Sinabung.

Guguran juga berdampak permukiman dan lahan pertanian.

Hingga kini, belum ada laporan terkait korban jiwa. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo masih terus melakukan patroli. Satgas Tanggap Darurat Bencana Gunung Sinabung juga telah melaksanakan apel kesiapan dilanjutkan patroli dan pembersihan wilayah yang terkena dampak abu.

Tim gabungan baik dari BPBD Kabupaten Karo, unsur TNI dan Polri, instansi dan lembaga terkait serta Satgas TD Bencana Gunung Sinabung telah mengimbau dan membagikan masker kepada masyarakat. Untuk mengurangi dampak risiko yang bisa ditimbulkan dari aktivitas erupsi Gunung Sinabung, masyarakat diimbau keluar dari zona merah Kawasan Rawan Bencana (KRB). Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas di daerah zona merah dengan alasan keselamatan.

Kegiatan pembersihan abu vulkanik masih terus dilakukan oleh personel dari TNI, Polri, BPBD dan Damkar Kabupaten Karo sebanyak 100 personel di 3 Kecamatan terdampak. Sementara itu, Plt Kepala BPBD Karo, Natanail Paranginangin menjelaskan, potensi ancaman yang masih dapat terjadi dalam kaitan erupsi Gunung Sinabung meliputi awan panas guguran akibat kubah lava yang tidak stabil, potensi terjadinya erupsi kembali, terjadinya hujan abu di sekitar gunung Sinabung sesuai dengan arah dan kecepatan angin dan potensi terjadinya lahar tergantung curah hujan di sekitaran Gunung Sinabung.

Adapun data visual gunung jelas hingga kabut 0-I. Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100-400 m di atas puncak kawah. Dan teramati guguran dengan jarak luncur 500-1500 m mengarah ke timur, tenggara, dan selatan.

Kegempaan juga terus terjadi dengan jumlah 19 amplitudo 10-110 mm, durasi 74-162 detik low frekuensi 280, Amplitudo 3-16 mm, durasi 8-26 detik. Dengan keterangan lain terjadi peningkatan jumlah gempa. Saat ini Gunung Sinabung berada diLevel III (Siaga). Masyarakat, pengunjung dan wisatawan dihimbau tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi.

Dilarang juga masuk zona merah dalam radius 3 km dari puncak Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

Abu Vulkanik Tidak Mengarah ke Medan

Terpisah, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG), Nia Haerani ketika dikonfirmasi juga mengatakan, Gunung Sinabung kembali menyemburkan abu vulkanik sejauh 4.500 meter ke arah Timur Tenggara, dengan tinggi kolom abu vulkanik mencapai 5.000 meter, Selasa (2/3) pagi. “Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 07.15 WIB, namun peningkatan aktivitas Gunung Sinabung tersebut dilaporkan sudah berhenti. Awan panas guguran terakhir terpantau sekitar pukul 08.36 WIB,” ujarnya.

Aktivitas guguran awan panas ini, jelasnya, sudah mulai muncul pada pukul 06.42 WIB. Hingga pukul 08.20 WIB, telah terjadi 13 kali kejadian awan panas guguran. “Jarak luncur awan panas guguran sejauh 2.000-5.000 meter ke arah Tenggara Timur dan kolom asap setinggi 4.000-5.000 meter,” jelasnya.

Sementara itu, BMKG memprediksi, arah angin bertiup dari utara hingga Timur Laut. Sehingga, semburan abu vulkanik Gunung Sinabung tidak mempengaruhi Kota Medan. “Untuk saat ini arah angin bertiup dari arah Utara hingga Timur Laut, sehingga potensi penyebaran abu vulkanik tidak mengarah ke Kota Medan,” ungkap Prakirawan BBMKG Wilayah 1 Medan, Christin Afrin Matondang.

Sedangkan cuaca di Kota Medan untuk tiga hari ke depan, lanjut dia, umumnya cerah berawan dengan suhu maksimum berkisar antara 33-34 derajat celcius. “Meski demikian, potensi hujan ringan hingga sedang pada siang dan sore hari masih ada,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau, agar masyarakat di Kota Medan mempedulikan kesehatannya, sebab potensi suhu yang panas dapat mengakibatkan kulit kering, dehidrasi dan tubuh rentan terhadap penyakit. “Kita mengimbau agar masyarakat tetap lebih berhati-hati untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, mengingat potensi suhu yang masih panas, dan tetap perbanyak konsumsi air untuk menghindari dehidrasi,” tandasnya. (deo/mag-1)

loading...