Stiker Jaga Jarak Sudah Dicabut, Masjidil Haram Bakal Kembali Penuh

Internasional

SUMUTPOS.CO – Pemerintah Arab Saudi mulai kemarin, melonggarkan pembatasan yang selama ini berlaku demi mencegah virus Covid-19. Termasuk aturan jaga jarak di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kepresidenan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sudah mulai melepas stiker physical distancing di dalam Masjidil Haram.

COPOT STIKER: Petugas sudah mulai melepas stiker physical distancing di dalam Masjidil Haram, kemarin. Dengan pencopotan stiker ini, pemerintah Arab Saudi telah memberikan kelonggaran aturan jaga jarak di Masjidil Haram.istimewa/sumutpos.

Wakil Sekretaris Jenderal Manajemen Jamaah di Kepresidenan, Insinyur Osama bin Mansour Al-Hujaili menegaskan, sejak awal pandemi Kepresidenan telah bekerja untuk menerapkan sejumlah tindakan pencegahan dan langkah-langkah mengupayakan keselamatan pengunjung Masjidil Haram. Salah satunya poster physical distancing yang disebar di seluruh Masjidil Haram.


Awalnya stiker-stiker itu diterapkan untuk menjaga jarak per dua meter, kemudian dengan pertengahan tahap ketiga mereka dikurangi menjadi satu setengah meter.

Al-Hujaili mengatakan, stiker-stiker tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap operasi pengelompokan dan pengelolaan jemaah di dalam Masjidil Haram, melalui koridor, jalur jalan ibadah, pengejaran, kapel dan hal-hal lain yang ditata untuk menjaga keamanan bagi mereka yang pergi ke Rumah Suci.

“Kami sebagai presiden melipat stiker-stiker di halaman yang menemani kami selama masa pandemi, memohon kepada Tuhan- Yang Maha kuasa -untuk menjadikan negara yang diberkati ini berkat keamanan dan keselamatan dan untuk melestarikannya dan rakyatnya sampai Hari Penghakiman,” kata Al-Hujaili dikutip, Minggu (17/10).

Seperti diketahui, Arab Saudi mencabut aturan pembatasan yang selama ini diterapkan dalam upaya mencegah Covid-19. Salah satunya mengizinkan warga untuk bergerak di luar ruangan tanpa mengenakan masker atau menjaga jarak sosial.

Dilansir saudigazette, aturan itu mulai berlaku mulai kemarin. Aturan itu berlaku bagi warga yang telah menyelesaikan vaksinasi Covid-19.

Pembatasan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga dihapus. Dua masjid itu kini boleh berkapasitas penuh atau maksimal, bagi warga yang sudah vaksin.

Aula pernikahan, restoran, dan sarana transportasi juga akan diizinkan beroperasi pada kapasitas penuh untuk orang-orang yang divaksinasi penuh tanpa menjaga jarak fisik.

Keputusan melonggarkan persyaratan jarak sosial dan kapasitas penuh juga akan berlaku di gerai komersial, tetapi orang-orang masih perlu mengenakan masker di dalam ruangan.

Ini adalah salah satu keputusan yang disetujui oleh Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman dan diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri pada hari Jumat sebagai bagian dari pelonggaran pembatasan Covid-19 yang diberlakukan hampir 19 bulan lalu menyusul pecahnya pandemi virus corona pada Maret 2020, Saudi Press Agency melaporkan.

Sumber resmi di Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa persetujuan Raja untuk keputusan baru didasarkan pada rekomendasi yang diajukan oleh otoritas kesehatan. Serta melihat dari kemajuan yang dicapai Kerajaan baik sistem kekebalanwarga hingga penurunan tajam jumlah kasus virus corona.

Optimis Calhaj Berangkat Tahun Ini

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Sekjen Kemenag) Nizar optimistis pemberangkatan jamaah haji Indonesia pada penyelenggaraan tahun 1443 Hijriah/2022 Masehi sudah bisa dilakukan. Untuk itu, ia meminta tim manajemen krisis untuk kembali mempersiapkan skenario pemberangkatan.

“Tahun ketiga pandemi, saya optimistis Indonesia akan memberangkatkan jamaah haji. Skema pemberangkatan dan mitigasi penyelenggaraannya harus kembali disiapkan tim manajemen krisis” ujar dia dikutip, Minggu (17/10).

“Saya malah berharap di tahun ketiga ini, haji bisa diselenggarakan dalam kuota normal, 100 persen,” sambungnya.

Nizar mengatakan, penanganan Covid-19 di Indonesia terus membaik. Tren penyebaran kasus positif Covid-19 juga terus mengalami penurunan. Saudi juga diperkirakan akan segera membuka akses pemberangkatan jemaah umrah Indonesia. “Penyelenggaraan jamaah umrah Indonesia di masa pandemi ini sekaligus akan menjadi tolak ukur skema penyelenggaraan haji 1443 H,” jelasnya.

Nizar menduga penyelenggaraan haji 1443 H digelar masih dalam suasana pandemi. Karenanya, jamaah harus terus diedukasi dalam kedisiplinan penerapan protokol kesehatan.

“Kemenag juga harus memastikan kuota petugas haji mencukupi dan mereka bisa menjalankan tugasnya secara profesional dalam konteks suasana pandemi,” pesannya

Jika perlu, pelatihan petugas dilakukan secara terpisah, sesuai bidang layanan masing-masing, baik katering, transportasi, akomodasi hingga pembimbing ibadah. “Saat ini, baru pembimbing ibadah yang disertifikasi. Ke depan, perlu juga sertifikasi untuk semua layanan,” tandasnya.

300 Jamaah Umrah Diberangkatkan

Asosisasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sumbagut, menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya atas keputusan dibukanya kembali perjalanan umrah oleh Kerajaan Arab Saudi pada 8 Oktober 2021.

“Alhamdulillah semua itu jadi harapan baru penyelenggara haji dan umrah setelah hampir dua tahun tidak beroperasi seperti biasa akibat pandemi Covid-19,” ujar Ketua DPD Amphuri Sumbagut, Hj Mitha Hayati Tanjung kepada wartawan di kantornya, Sabtu (16/10).

Mitha yang juga Direktur PT Almeerah Plaza Tour & Travel ini juga menyampaikan apresiasinya kepada jamaah yang telah mempercayakan rencana keberangkatan umrahnya melalui 40 perusahaan perjalanan haji. Sebab hingga kini, kata dia, belum ada jamaah yang mengajukan permohonan penarikan dananya.

Padahal, sejak penutupan penerbangan internasional dari dan ke Madinah maupun Jeddah pada 27 Februari 2020 lalu, praktis tidak ada lagi layanan perjalanan umrah. “Karena itu Amphuri aktif melakukan mitigasi dan pendataan jumlah serta kondisi terakhir jamaah yang akan berangkat, sehingga akan memudahkan proses akhir pemberangkatan,” kata Mitha.

Mitha menjelaskan, berdasarkan data dari Sistem Komputerisasi Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) Kemenag RI, jumlah jamaah yang akan berangkat umrah terdata lebih kurang 22 ribu jamaah.

Dan jumlah tersebut belum termasuk jamaah yang kemungkinan belum terdata di Siskopatuh. “Kemungkinan besar masih bertambah lagi mengingat ketika penutupan bandara di tanah suci tersebut, jamaah umrah asal Indonesia ada yang masih berada di Mekkah dan Madinah serta dalam proses akhir mengajukan visa,” terangnya.

Lebih lanjut Mitha mengungkapkan, agar proses pemberangkatan calon jamaah umrah dapat berjalan baik, maka Amphuri tengah membuat pemetaan secara khusus kepada jamaah terutama yang berkaitan waktu keberangkatan umrahnya.

Menurut dia, hal ini sangat penting dilakukan, karena berdasarkan komunikasi dengan ratusan jemaah yang masih menanti jadwal, sebagian besar lebih memilih untuk berangkat menunaikan ibadah umrahnya ketika suasana sudah kembali normal seperti waktu sebelumnya.

Disebutkan Mitha, khusus jamaah umrah dari PT Almeerah yang akan diberangkatkan dalam waktu dekat ini mencapai 300 orang jamaah, dan sebagian besarnya telah menyampaikan kesiapannya untuk berangkat umrah ketika suasana telah kondusif seperti masa normal sebelumnya.

Dia juga menyampaikan apresiasi dan rasa syukur karena sampai saat ini belum ada calon jemaah PT Almeerah yang meninggal dunia ataupun yang membatalkan rencana keberangkatannya.”PT Almeerah selalu menyampaikan update informasi terkini di tanah suci kepada seluruh jemaah,” pungkasnya. (dtc/jpc/man)

loading...