Suara Beduk Masjid Pertanda Bagi Masyarakat Sekitar

Sumatera Utara

TEBINGTINGGI- Masjid Taqwa yang terletak persis dipinggir jalan Tebingtinggi Kisaran, tepatnya di Simpang Kampung Keling Jalan Prof HM Yamin Kelurahan Sri Padang Kecamatan Rambutan Kota Tebingtinggi mempunyai nilai sejarah tersendiri. Sekitar tahun 1940-an, Masjid Taqwa dipergunakan untuk berbagai kegiatan umat muslim di Kecamatan Rambutan.

Selain itu, ada ciri khas tersendiri masjid tersebut. Bunyi beduk yang biasanya hanya digunakan untuk menandakan waktu masuknya sholat, namun di Masjid Taqwa setiap suara pukulan beduk bisa menandakan adanya kegiatan acara ataupun orang meninggal. Bisa dikatakan beduk di Masjid Taqwa adalah sarana media komunikasi untuk memberi kabar kepada warga sekitar.


“Bunyi beduk setiap masuk waktu sholat fardu dengan kegiatan masyarakat dan orang meninggal selalu lain bunyinya, pukulan bunyi beduk dahulu di kordinir orang yang mengetahui dengan jelas. Memang sebelum beduk dipergunakan sebagai sarana media komunikasi, awalnya dipakai kentongan dari kayu hutan yang nyaring bunyinya,” bilang keturunan generasi ke empat pewaris Masjid Taqwa, Bahrul Sitorus kepada Sumut Pos, Kamis sore (25/4).

Lanjut Bahrul, memang bunyi beduk pada saat ada orang meninggal tidak sama dengan bunyi beduk menandakan waktu sholat fardhu seperti shalat lima waktu. Bahkan, untuk kegiatan gotong royong, pukulan beduk untuk mengumpulkan warga agar datang juga memiliki pukulan dan bunyi yang berbeda.
Memang bilang Bahrul, sebelum zaman canggih seperti sekarang ini, dahulu  setiap bulan Ramadan jelang waktu berbuka dan masuknya Imsyakiah, beduk juga dipukul sebagai pertanda, bahkan pada waktu malam takbiran malam Lebaran, bunyi pukulan beduk di masjid ini tidak putus hingga menjelang subuh.
“Itulah semua ketika masa dahulu, tetapi sayang peninggalan beduk tersebut kini sudah hancur karena dimakan waktu,”jelasnya.

Masjid Taqwa yang dibangun diatas tanah rawa-rawa bermula wakaf dari keluarga Almarhum Syahjim Sitorus yang di turunkan kepada anaknya, Inga Sitorus kembali diturunkan kepada generasi ketiga, Hamzah Sitorus kemudian di lanjutkan oleh anaknya generasi ke empat, Bahrul Sitorus (58) hingga sekarang.

Dahulunya masjid tersebut bangunannya terbuat dari bahan papan dengan model bangunan panggung diatas tanah rawa-rawa, kemudian dipugar kembali oleh generasi ketiga menjadi bangunan mesjid semi permanen, pada tahun 2011 akhir, Masjid Taqwa kembali dipugar tahun 2011 akhir dan pengerjaan selama dua tahun selesai atas bantuan donatur dari warga masyarat dan pihak perkebunan.

“Bangunan sekarang luasnya lebih kurag 10×20 meter, dengan motif bangunan memakai kubah bercatkan hijau tua, sementara bangunan didalam berelif miniatur islamik seperti masjid-masjid di Kota Mekkah,”bilangnya.

Ketua BKM Masjid Taqwa, Hazairin Sitorus mengaku bahwa masjid ini selalu terbuka 24 jam bagi seluruh musafir yang ingin melaksanakan sholat lima waktu. Karena letaknya persis dipinggir jalan raya, lalulintas menuju Kisaran, Masjid Taqwa tidak pernah sepi dari jamaah.

“Banyak para pejalan jauh (musafir) yang mampir untuk melaksanakan sholat, selain itu, Masjid Taqwa ini dipergunakan warga sekitar untuk membuat berbagai kegiatan islami, seperti peringatan hari-hari besar keagamaan islam, musyawarah warga kampung dan juga tempat menyelesaikan berbagai masalah warga,”ujar Hazairin.  (ian)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *