Sukses yang Berawal dari Keisengan

Metropolis

Dari Acara Kongkow Inspiratif bersama Gus Irawan

Berbisnis tak melulu harus terencana dengan sistematis. Ada beberapa pengusaha sukses menggeluti bisnisnya berawal dari keisengan. Ini merupakan fakta bahwa keisengan yang dibarengi kerja keras dan kreativitas dapat mengubah sesuatu menjadi bernilai ekonomis.


JADI HOST: Gus Irawan saat menjadi host  acara Kongkow-kongkow Inspiratif  stasiun televisi swasta  Medan, Jumat (8/2). //sumut pos
JADI HOST: Gus Irawan saat menjadi host pada acara Kongkow-kongkow Inspiratif di stasiun televisi swasta di Medan, Jumat (8/2). //sumut pos

“Apa yang dilakukan Refli dan Budi dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadikan sesuatu bernilai ekonomis. Tentunya kerja keras dan kreativitas juga dituntut untuk menciptakan hal tersebut,” simpul Gus Irawan Pasaribu saat menjadi host acara Kongkow-kongkow Inspiratif di sebuah stasiun televisi swasta di Medan, Jumat (8/2). Acara itu menghadirkan 2 pengusaha sukses sebagai narasumber Ahmad Refli (24) pengusaha merchandise dan Budi Irsan yang membentuk komunitas Ikan Cupang (hias).

Menurut Gus, apa yang digeluti Refli dan Budi sejalan dengan konsep Sumut Sejahtera. Untuk menghindarkan penganggur baru dari angkatan kerja baru, Gus akan membuat program kewirausahaan bagi pemuda/mahasiswa 10.000 orang per tahun.

“Orang-orang seperti inilah yang kita butuhkan untuk membuat Sumut bisa keluar dari kemelut kemiskinan. Saya harapkan adik-adik dapat menjadi contoh bagi yang lain,” jelas Cagubsu nomor urut 1 yang berpasangan dengan Soekirman ini.

Refli bertutur, inspirasi menjadikan merchandise sebagai bisnisnya muncul saat masih duduk di semester 4 di salah satu perguruan tinggi di Medan. “Rasanya kosong bila aktivitas sehari-hari hanya diisi dengan belajar saja, sehingga muncul keisengan untuk menggambar-gambar di kertas dan kemudian gambar-gambar itu saya share ke teman-teman. Selanjutnya muncul ide untuk memproduksi gambar-gambar tersebut untuk ditempel di kertas,” sebut Rafli yang menjalankan usahanya di bawah payung Kutak-katik Production.

Selain kertas, Rafli juga menorehkan lukisannya pada barang pecah belah, sarung bantal, jam dinding dan aksesoris lain. Kini, ia memiliki 6 karyawan, masing-masing 2 untuk desain, 2 untuk produksi dan 2 untuk frontliner. “Untuk pemasaran, selain di-drop ke perusahaan-perusahaan tertentu, juga bersifat pesanan dari konsumen,” jelasnya. Dari bisnisnya ini, Rafli mengantongi omsetnya berkisar Rp30 juta per bulan.

Hal hampir sama juga membuat Budi Irsan menjalankan bisnis ikan hias sebagai penopang kebutuhan ekonomi keluarganya. Irsan yang membentuk Komunitas Ikan Cupang pertama di Sumut ini mengatakan, saat ini pecinta Ikan Cupang di Sumut berkisar ratusan orang dan lebih setengahnya menjadikannya sebagai bisnis.

“Saat itu sebenarnya hanya hobi. Tetapi diawali dengan adanya sedikit transaksi sehingga berkembang menjadi bisnis,” kata Budi.
Dia menambahkan, pada 2010 lalu mereka menciptakan varietas baru bernama Ikan Fancy Plakat yang cukup diminati baik di dalam negeri atau luar negeri.  (rel)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *