Tak Ada Lagi Ongkosku ke Jakarta…

Metropolis

Cerita Penumpang yang tak Boleh Masuk Pesawat di Polonia

Ketika tiket jurusan Medan-Jakarta habis, beberapa warga terlihat panik di Bandara Polonia Medan. Mereka pun nekat membeli tiket atas nama orang lain. Tak pelak, mereka terhadang, mereka tak boleh terbang.


Laila Azizah, Medan

Misran, warga Labuhan Batu terdiam. Di hadapannya berdiri petugas Security Angkasa Pura II (AP II) bersama POM AU tersenyum sambil memegang tiket. Namun, bagi Misran, senyum manis petugas terasa begitu pahit. Misran berbalik, matanya liar mencari seseorang.
Misran pun melangkah, menelusuri beberapa tempat di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Polonia. Melihat kejadian itu, Sumut Pos langsung tanggap. “Aku tak boleh berangkat sama POM AU dan petugas Security karena tiketku tak sesuai nama di KTP. Sial kali rasanya aku, Mbak. Tak ada lagi ongkosku pulang ke Jakarta,” aku Misran di depan pintu gate Lion Air, Kamis (5/1).

“Aku cari-cari calonya udah tak ada,” tambah pria yang berumur sekitar empat puluh tahunan itu.

Tapi, nasi telah menjadi bubur. Misran hanya bisa menyesali keputusannya percaya dengan calo. Ya, niat ingin pulang ke Jakarta terpaksa harus tertunda karena tiket yang mereka beli dari calo tersebut tidak bisa digunakan. “Aku beli tiket Lion Medan Jakarta harganya Rp1,7 juta dari calo. Awalnya aku tak yakin bisa berangkat pakai tiket nama orang lain yang dijual calo. Tapi, karena aku sudah buru-buru masuk kerja dan tiket di konter sudah habis, aku nekat. Apalagi calo meyakinkan aku kalau tiketnya tak akan bermasalah. Tapi, begitu aku mau masuk pintu gate pesawat, ada pemeriksaan tiket harus sesuai KTP,” jelas Misran.

Begitulah, sulitnya mendapatkan tiket pesawat Medan-Jakarta memang jadi lahan bisnis yang menguntungkan bagi para calo di Bandara Polonia. Aksi seperti ini dilakukan sejak 2 Januari hingga kemarin. Selain Misran, nasib yang sama juga dirasakan Sumiati. Warga Tapanuli Tengah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jalan Jati Jakarta Selatan ini pun tidak bisa meninggalkan Kota Medan.

Parahnya, tiket yang dibeli Sumiati cukup mahal yakni Rp1,9 juta. Sumiati pun hanya bisa pasrah ketika tak diperbolehkan naik ke pesawat. “Mau bagaimana lagi, ini memang salahku, mau saja tertipu. Awalnya aku ragu, tapi karena si calo bilang tak masalah dengan tiketnya, aku mau saja,” ujar Sumiati dengan mata berkaca.
Kenyataan ini semakin membuat Sumiati sedih karena dia sudah tidak memiliki uang lagi. “Nasiblah, aku tak jadi pulang ke Jakarta karena uangku habis. Terpaksa aku tidur di rumah saudara di Tembung,” ujar Sumiati sambil menangis.

Setelah Sumut Pos telusuri, ternyata masih banyak ‘Misran dan Sumiati’ lain. Setidaknya hal ini diungkapkan Juli Aspita, Area Manager 4 Lion Air Medan. “Sejak tanggal 2 Januari lalu, tiap hari kami mencegah 5 sampai 8 orang penumpang yang memiliki tiket tak sesuai dengan nama di KTP. Mereka beli tiket dari calo dengan harga yang sama bahkan lebih mahal. Kami malah minta bantuan GM AP II Polonia untuk menghadirkan POM AU melakukan pemeriksaan tiket penumpang Lion. Makanya ada beberapa petugas POM AU yang bantu cek tiket penumpang,” ujar Juli di ruang kerjanya.

Dikatakan Juli, aksi para calo tiket di Bandara Polonia terbilang rapi sehingga pihak Lion Air sulit untuk mencegahnya saat membeli tiket. Sebab, mereka menyaru sebagai penumpang dengan membeli tiket Lion. “Kadang-kadang pembelian dilakukan melalui online tiket Lion. Jadi manalah bisa saya tahu pembeli saya itu calo apa bukan karena belinya pakai online seperti calon penumpang lainnya. Kadang-kadang juga belinya jauh-jauh hari dengan booking secara online sehingga dapat tiket dengan harga murah,” ujar Juli Aspita.

Menurut Juli, aksi mengambil kesempatan di dalam kesempitan yang dilakukan calo tersebut tak terlepas dari mahalnya harga tiket penerbangan di arus balik libur Tahun Baru. Tak hanya mahal, lanjut Juli, tiket juga susah didapat karena full seat (kursi penuh terisi). “Di Lion sendiri, untuk keberangkatan hari ini (kemarin,Red) hingga 8 Januari,  rute Medan-Jakarta sudah terisi penuh penumpang. Sedangkan harganya 1,7 juta lebih untuk harga ekonomi batas tertinggi. Kalau harga normal paling-paling harganya di bawah Rp1 juta. Makanya penumpang panik tidak dapat tiket pulang ke Jakarta. Seharusnya penumpang sudah mempersiapkan diri untuk tiket pulang-pergi dan jangan beli tiket sama calo,” kata Juli.

Mahalnya harga tiket dan sulitnya mendapatkan tiket juga terjadi di beberapa maskapai besar lainnya. Misalnya saja, di Sriwijaya Air, tiket Medan-Jakarta pada Kamis kemarin dijual dengan harga Rp1,8 jutaan. Meski mahal, namun calon penumpang tidak dapat membeli karena sudah close. “Harga kita hari ini Rp1,8 jutaan untuk Medan-Jakarta. Tapi kursi sudah penuh, tak ada lagi tiket ke Medan-Jakarta,” ujar petugas tiket di counter Sriwijaya Air.

Begitu juga di Garuda Indonesia. Tiket untuk penerbangan Medan-Jakarta untuk class economi sudah full sejak hari ini, Jumat (6/1) hingga besok (7/1). “Harga tiket ekonomi kita Rp1.935.000. Tapi kursi sudah penuh untuk Medan-Jakarta,” kata General Manager Garuda Indononesia-Medan, Moh Wendy.

Menyikapi kasus Misran dan Sumiati, Humas AP II Bandara Polonia, Firdaus mengatakan, banyaknya penumpang tertipu karena sulitnya mendapatkan tiket rute Medan-Jakarta. “Nah, di sinilah calo mengambil kesempatan. Makanya, kami mengimbau kepada calon penumpang agar tidak membeli tiket sama calo, apalagi tiketnya atas nama orang lain,” imbau Firdaus.

Firdaus mengaku, pihak AP II Polonia kesulitan untuk mengamankan  para calo di Bandara Polonia. Sebab, para calo itu memiliki ID Card travel. “Jadi sangat susah ditertibkan. Kita tidak bisa membedakan yang mana calo yang mana agen travel,” kata Firdaus.

Meski demikian, lanjut Firdaus, pihaknya tetap akan memberikan kenyaman dan keamanan kepada calon penumpang di Bandara Polonia. “Karena itu kita meminta bantuan POM AU untuk mengecek tiket calon penumpang yang harus sesuai dengan KTP,” pungkasnya. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *