“Tak Butuh Tinjauan, Kami Butuh Makanan dan Pakaian”

Metropolis

“Pak Bupati, kami tidak butuh hanya peninjauan. Kami butuh makanan dan pakaian. Lihat rumah kami pak Bupati, tidak bisa ditempati lagi. Saat kejadian tinggi air sampai leher. Coba bapak bayangkan perjuangan hidup kami, sekarang semuanya sudah hancur,” curhat Zain, korban banjir kepada Bupati Madina HM Hidayat Batubara.

“Kepada siapa lagi kami minta tolong Pak? Kami sangat membutuhkan bantuan. Anak-anak sudah banyak yang sakit. Rumah warga tidak bisa ditempati lagi karena sudah rusak dan ditimbun lumpur, air bersih juga tidak ada,” beber Zain lagi.


Kemarin, Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Hidayat Batubara mengunjungi lokasi banjir di beberapa desa di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina. Hidayat Batubara tiba di lokasi banjir sekira pukul 11.00 WIB bersama sejumlah kepala SKPD.

Zain (58) adalah warga Kelurahan Kayujati, Kecamatan Panyabungan, yang rumahnya sudah rusak berat dan tidak bisa ditempati, yang pertama sekali didatangi Bupati bersama rombongan. Zain bersama warga lainnya mengeluhkan kondisi yang mereka alami.
Zain juga tidak sungkan-sungkan menyampaikan kepada Bupati Hidayat Batubara bahwa mereka tidak butuh peninjauan saja, yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan nyata dari pemerintah dan bantuan.

Menanggapi keluhan warga korban banjir, bupati mengaku, pihaknya sudah menurunkan bahan makanan secukupnya, dan sedang mengupayakan bantuan sarana air bersih. Pemkab Madina akan berjuang untuk memberikan bantuan kepada warga korban banjir berupa perbaikan rumah dan sebagainya yang dibutuhkan masyarakat korban.

“Yang pertama kita akan membantu masyarakat dengan bergotong royong dan akan menurunkan semua truk pemadam kebakaran untuk membersihkan semua timbunan lumpur dan sisa banjir. Kita upayakan secara maksimal. Dan, untuk air bersih kita akan upayakan hari ini masyarakat bisa memeroleh air bersih khusus jalur utama yang bisa dimasuki lalu lintas, karena lokasi banjir memang tergolong padat penduduk. Dan saya juga sudah perintahkan Dinas PU agar melakukan pengerukan sungai agar warga tidak khawatir air sungai akan naik lagi,” sebut Hidayat kepada wartawan di lokasi banjir.

Menurut Hidayat, penyebab banjir ini adalah maraknya pembalakan liar dan penebangan hutan oleh masyarakat di gunung. “Kami sudah melakukan identifikasi penyebab banjir. Hasilnya penyebab utama adalah penebangan hutan yang dilakukan oleh warga kita sendiri. Untuk itu saya mengimbau kepada warga yang ingin membuka lahan perkebunan agar berkoordinasi dengan pemerintahan kecamatan dan desa setempat, karena akibat tindakan penebangan liar yang korban adalah masyarakat kita sendiri, dan ini sudah kesekian kalinya terjadi,” tambahnya.
Hal serupa soal bantuan juga disampaikan korban banjir yang lain. Coki (37), misalnya. Menurutnya, saat ini ratusan warga di Kelurahan Kayujati tidak memiliki pakaian lagi karena sudah tertimbun lumpur dan sebagian dibawa arus air banjir.

Data yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Madina, desa yang terkena banjir bandang dan longsor ini ada sebanyak 15 desa.(wan/smg)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *