Tak Mau Kalah dari Jepang

Inspirasi

Tengku Armia Daud

Keahlian sebagai tukang pangkas tidak membuat Tengku Armia Daud (63) mentok di urusan menata rambut.
Dari pengalamannya selama 40 tahun, Tengku Armia Daud berhasil menciptakan kursi pangkas yang mampu memberikan kenyamanan.


Dua kursi pangkas besi terpampang di depan kediamannya di Jalan Tanjung Raya No 48E Medan. Dengan arahannya, beberapa pekerja pun siap memoles kursi dengan berbagai corak dan warna yang memikat. Karya suami dari Mariana Yusuf ini sudah mendapat pengakuan hingga ke Pulau Jawa dan tersiar di negeri tetangga, Malaysia.
“Pembeli terbanyak dari Aceh, tapi sudah dipesan juga untuk di Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Ada juga orang Aceh yang tinggal di Malaysia pesan ke kita. Tapi karena ongkosnya terlalu mahal tidak bisa kita penuhi,” ucap Tengku Armia Daud kepada Sumut Pos, Selasa (22/3).

Karya pria kelahiran Bireun 15 Januari 1948 ini memang berbeda dari kursi pangkas kebanyakan. Selain tata letak tiap bagian kursi yang memberi kenyamanan bagi si tukang pangkas, juga pemilihan materi untuk tempat duduk yang sangat selektif. “Kursinya kita posisikan agar tangan si tukang pangkas tidak lebih tinggi atau rendah dari jantung. Karena hal itu akan membuat cepat lelah. Untuk tempat duduk juga kita gunakan busa yang terbaik jadi dia lebih nyaman,” jelasnya.

Dengan semua perhitungan matang tadi, membuat kursi pangkas karya Tengku Armia Daud tetap diminati. Kursi yang sudah dibuat, dipastikan tidak pernah teronggok lama di rumahnya. Seperti kedua kursi yang tengah dipoles tadi pun kabarnya sudah dipesan satu wisma pangkas di Kota Medan. Dari usaha kursi pangkas ini pula dirinya menghantar kedua anaknya mengecap pendidikan tinggi dan membangun sebuah rumah mungil tempatnya dan keluarga kini bernaung.

Tengku Armia Daud yang melakoni pekerjaan sebagai tukang pangkas di Aceh 1956 silam harus mengungsi ke Kota Medan 1968 pasca meledaknya pemberontakan DII/TII. Dirinya kemudian bekerja di Wisma Pangkas seputaran Pasar Petisah yang kala itu cukup terkenal. Namun, pertumbuhan wisma pangkas pada 1973 membawa dampak bagi ayah dua anak itu. Pada 1975, dirinya memutuskan kembali ke kampung halaman.

Usaha rumah makan yang dijalankan selama lima tahun ternyata tidak bisa memenuhi panggilan hatinya. Untuk itu dirinya kembali memboyong keluarga ke Kota Medan dan bekerja di wisma pangkas di Jalan Yos Sudarso. Kenyataan yang tidak sesuai dengan prinsip dan keyakinan membuat dirinya keluar dan mencoba untuk berusaha sendiri di Jalan Tanjung Raya Medan.

Perjalanan selama ini rupanya menghadirkan pertanyaan yang kemudian coba direalisasikan. “Waktu itu, semua kursi pangkas buatan Jepang. Jadi saya bertanya, kalau orang Jepang bisa kenapa kita tidak bisa buat sendiri. Saya pun ukur setiap bahagian kursi, trus coba buat di mal. Waktu itu saya masih numpang motong di Jalan Adam Malik,” kenangnya.

Kursi buatannya tadi pun ternyata langsung dilirik dan terjual seharga Rp800 ribu per unit. Hal itu justru menjadi motivasi untuk membuat kursi-kursi pangkas lainnya. Secara bartahap dirinya pun melengkapi satu per satu peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kursi pangkas tadi. Tak ingin mengecewakan pelanggannya yang mulai ramai, Tengku Armia Daud pun menutup usaha pangkas dan fokus sebagai pembuat kursi pangkas.

Sebagai perintis, dirinya pun melatih beberapa pekerja untuk memenuhi pesanan dari pelanggan. Tidak hanya di Kota Medan, tapi berbagai daerah di Indonesia. 11 unit kursi bahkan pernah dikirim ke Palembang juga 12 unit ke Pantai Labu. Ketiga pekerja yang dilatih tadinya kini sudah membuka usaha sejenis di Kota Medan. Ya, Tengku Armia Daud akhirnya menemukan pencariannya. Lewat kursi pangkas memberi kenyamanan bagi pelaku dan pelanggannya. Keahlian pun diturunkan untuk memberi kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang di sekitarnya.  (jul)

loading...

2 thoughts on “Tak Mau Kalah dari Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *