Tak Tepat Sasaran, Solar Jadi Langka

Metropolis

BELAWAN-Hingga saat ini nela-yan di Belawan masih kesulitan mendapatkan solar subsidi. Pemicunya adalah akibat sistem penyalurannya tidak tepat sasaran.

TAK MELAUT: Kapal nelayan bersandar di dermaga Gabion Belawan Medan akibat nelayan tak melaut karena  kesulitan mendapat solar.//AMINOER RASYID/SUMUT POS
TAK MELAUT: Kapal nelayan bersandar di dermaga Gabion Belawan Medan akibat nelayan tak melaut karena kesulitan mendapat solar.//AMINOER RASYID/SUMUT POS

Saat ini, ada sekitar 6 SPDN dan SPBN khusus nelayan dibangun pemerintah di kawasan utara Kota Medan. Tapi anehnya, nelayan masih saja kelimpungan mencari solar bersubsidi. “Inikan aneh, kenapa nelayan masih saja kesulitan mendapatkan solar untuk keperluan melaut. Padahal, yang kita tahu pasokan solar nelayan sudah lebih dari cukup. Dan kalau jujur tersalur, nelayan sudah bisa mandi solar,” ungkap Batara Pane, Ketua KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan) Kota Medan, Minggu (1/6) kemarin.


Kesulitan para nelayan di pesisir pantai utara Kota Medan dalam memperoleh pasokan solar bersubsidi, bukan baru kali ini terjadi. Kejadian seperti ini lanjut dia, kerap terjadi. Akibatnya, sebagian nelayan terpaksa libur melaut karena sulit mendapat jatah solar untuk keperluan bahan bakar mesin perahu penangkap ikan.

“Sebenarnya keberadaan SPBN PT AKR dan SPDN Pertamina diperuntukan bagi nelayan. Hanya saja dalam penyalurannya justru lebih banyak dinikmati oleh non-nelayan, dan pihak lain. Ini yang membuat kehidupan nelayan semakin sulit,” katanya.

Dia meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Kelautan (Distanla) Kota Medan, Pertamina, PT AKR Corporindo Tbk dan aparat Kepolisian harus memperketat pengawasan. Sehingga pendistribusian solar nelayan tersebut benar-benar tepat sasaran, dan tidak terjadi penyalahgunaan peruntukan.

“Kalau pengawasannya benar-benar diperketat, penyimpangan distribusi solar nelayan pastinya bisa diantisipasi. Dalam hal ini Dinas Pertanian dan Keluatan yang bertanggungjawab dalam melakukan pengawasan, apabila ditemukan penyimpangan maka aparat berwajib yang mesti mengambil tindakan hukum,” ujarnya.

Batara menyebutkan, jumlah nelayan yang berada dipesisir pantai utara Kota Medan diperkirakan mencapai lebih dari 24 ribu nelayan, dengan keseluruhan perahu bermesin (boat, red) sedikitnya mencapai 500 unit. Jika dirata-rata kan, penggunaan bahan bakar bagi nelayan kecil dengan bobot perahu 5 gross tonase per harinya solar yang dibutuhkan tidak lebih dari 10 liter.

Sedangkan di utara Kota Medan ada terdapat 6 unit SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) milik PT AKR Corporindo Tbk dan SPDN (Solar Paked Dialer Nelayan) PT Pertamina (Persero) dengan kuota solar untuk setiap stasiun pendistribusian mencapai 10 hingga 20 ton per hari. “Kebutuhan 10 liter solar per hari itupun tidak semuanya, ada juga nelayan yang cuma membutuhkan 4-5 liter saja untuk berangkat melaut, seperti nelayan-nelayan yang beraktivitas di sekitar pinggiran pantai. Jadi sebenarnya pasokan solar nelayan sudah lebih dari cukup,” pungkasnya.(rul/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *