Tes Urine Sopir Angkutan Lebaran 2013

Metropolis

MEDAN-Dinas Perhubungan Kota Medan dibantu Dinas Perhubungan Sumut sudah melakukan pemeriksaan kendaraan dan sopir di Terminal Amplas, Kamis (1/8). Bus yang sudah lulus, kemudian ditempeli ‘Ang-kutan Lebaran 2013’. Sedangkan, BNN dan Dinkes berugas memeriksa urine dan kesehatan supir.

Dalam pemeriksaan itu, sebuah bus jurusan Tanjung Balai sempat tidak diperbolehkan berangkat, karena sopirnya terindikasi memakai narkoba. Larangan tersebut direkomendasikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumatera Utara yang dilibatkan dalam pemeriksaan urin para sopir angkutan di Terminal Terpadu Amplas, Medan.


“Sang sopir kita rekomendasikan untuk diganti agar tidak merugikan penumpang. Surat rekomendasi kita serahkan kepada dinas perhubungan,” ujar Kabid Pemberdayaan Masyarakat BNN Sumut Jarnawi Hadi Saputra Tanjung, Kamis (1/8) di Terminal Terpadu Amplas.
Dikatakannya, karena terindikasi menggunakan ganja, maka sopir bus tersebut tidak diperbolehkan berangkat, meskipun busnya lolos pemeriksaan. Namun, setelah sopirnya diganti, maka bus itu diberi izin berangkat. “Karena dia terindikasi, maka kita suruh perusahaan busnya untuk mengganti sopir. Setelah itu, kita izinkan berangkat,” paparnya.

Terkait jumlah pemudik yang berangkat dari Terminal Terpadu Amplas, Kepala Terminal Tipa A Amplas Richard Medi Simatupang mengatakan, para pemudik dari Terminal Amplas diperkirakan mulai meningkat sepekan sebelum Lebaran (H-7). Dan diperkirakan juga, ada sekitar 216.563 pemudik dan arus balik sebanyak 215.674 orang. Puncak arus mudik Lebaran di Terminal Amplas diprediksi terjadi pada Minggu (4/8) ini.

“Para pemudik ini mengggunakan angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan MPU AKDP. Untuk arus berangkat kita juga harus tetap menghitung hingga dari H-7 hingga sepekan setelah Lebaran (H+7), karena banyak juga yang merayakan Lebaran di Kota Medan,” ujar Kepala Terminal Tipa A Amplas, Richard Medi Simatupang kepada Sumut Pos, Kamis (1/8).

Dari jumlah tersebut, Richard merinci, untuk arus mudik menggunakan bus AKAP diperkirakan mencapai 72.838 orang dengan 1.836 bus. Begitu juga dengan bus AKDP diperkirakan mencapai 91.845 orang dengan 6.123 bus, serta 51.880 orang menggunakan MPU AKDP dengan 6.485 unit bus.

Sedangkan untuk arus balik menggunakan bus AKAP diperkirakan berjumlah 91.609 orang penumpang dengan 6.107 bus. Menggunakan bus AKDP 91.609 orang penumpang dengan 6.107 bus dan 51.736 orang penumpang mengunakan 6.467 bus. “Data ini merupakan perkiraan kita, berdasarkan jumlah penumpang tahun lalu,” tambahnya.

Untuk membantu kelancaran arus mudik ini, sebanyak 30 orang petugas Dinas Perhubungan Kota Medan akan diturunkan ke lapangan setiap hari, dibantu 2 orang petugas kepolisian. Dan, demi kenyamanan penumpang, posko kesehatan pun didirikan di Terminal Amplas. “Selain itu, kita juga mempersiapkan posko BNNP Sumatera Utara. Tugas BNN ini adalah memeriksa sopir apakah menggunakan narkoba atau tidak. Sedangkan, posko kesehatan, selain untuk mengantisipasi penumpang pingsan karena berdesakan, mereka juga bertugas untuk memeriksa kesehatan supir,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mengimbau kepada seluruh kabupaten/kota melakukan antisipasi persiapan kesehatan atau pengendalian faktor resiko di bidang kesehatan pada mudik lebaran tahun 2013.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Bimbingan Pengendalian Wabah dan Bencana Dinkes Sumut, Suhadi, Kamis (1/8). Dijelaskannya, melalui isi surat tembusan dari Kemenkes RI, yakni untuk pengendalian faktor resiko di bidang kesehatan dan Instruksi Presiden No 3 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Angkutan Lebaran Terpadu, pihaknya akan melakukan peningkatan pelayanan kesehatan.
“Kementrian Kesehatan beserta jajarannya khususnya di Sumut ini diminta untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan yang ada pada tempat-tempat yang diperlukan pada jalur mudik lebaran,” katanya.

Upaya yang pihaknya lakukan, kata Suhadi di antaranya adalah dengan membentuk panitia bidang kesehatan sebagai wadah peningkatan jejaring kerja. “Kita memang diminta untuk membentuk panitia bidang kesehatan kemudian membentuk pos kesehatan terpadu baik dengan Polri maupun dengan Kementrian Perhubungan di daerah rawan kesehatan, terutama disepanjang jalur mudik, terminal, stasiun, tempat-tempat transit, dan lokasi wisata,” katanya.

Mereka juga meminta agar daerah bisa mengintensifkan pelayanan kesehatan selama 24 jam di puskesmas dan rumah sakit khususnya disepanjang jalur mudik lebaran dan lokasi wisata. “Kita juga mengharapkan agar bisa meningkatkan kesiagaan di unit gawat darurat rumah sakit pemerintah dan swasta untuk antisipasi rujukan kasus kecelakaan dan gangguan kesehatan lainnya,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau daerah untuk menyiapkan tim mobile gawat darurat dan evakuasi medik untuk antisipasi terjadinya kecelakaan maupun kondisi darurat lainnya, membuat kerjasama dengan PT Jasa Raharja bagi rumah sakit yang belum melaksanakan terkait dengan pembiayaan bagi korban kecelakaan akibat mudik.

“Kita juga mengimbau agar daerah melakukan pemeriksaan kesehatan dan faktor resiko kecelakaan pada pengemudi bus AKAP di terminal-terminal dan melakukan pemeriksaan kesehatan di tempat umum khususnya di rumah makan serta tempat-tempat wisata sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit,” ujarnya. (dek/put)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *