Tol Khusus Motor & Tol Lingkar Bakal Dibangun di Medan

Metropolis
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kemacetan selalu menghantui pengendara di tiap kota-kota besar di Indonesia, termasuk Kota Medan. Bahkan, ibu kota Sumatera Utara ini tercatat sebagai kota ke-6 termacet di Indonesia, setalah Jakarta, Bandung, Malang, Jokjakarta, dan Padang.

Karenanya, untuk mengatasi kemacetan tersebut, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) berencana membangun jalan tol khusus sepeda motor di Medan. Namun, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengaku belum mengetahui rencana itu. Malah dia merencanakan akan membangun jalan tol lingkar Kota Medan.


RENCANA pembangunan jalan tol khusus bagi pengendara sepeda motor ini mencuat setelah CEO PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) Tito Sulistio menemui Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) di Gedung DPR, Kamis 7 Februari 2019 lalu. Dalam pertemuan dengan Bamsoet itu, pihak CMNP yang merupakan konsorsium terdiri dari beberapa BUMN dan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang infrastruktur, khususnya pengusahaan jalan tol dan bidang terkait lainnya memaparkan, rencana jalan tol itu

akan mulai dibangun Juni 2019 ini. Jalan tol dalam kota sepanjang 11 Km di Kota Medan ini menyusuri Talud Sungai Deli dari Maimoon sampai ke Binjai.

Rencana tol sepeda motor ini ternyata sudah sampai ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut. Namun Kepala Bappeda Sumut, H Irman saat dikonfirmasi Sumut Pos mengaku, pihaknya belum memelajari lebih jauh tentang kemungkinan infrastruktur tersebut di Ibukota Provinsi Sumut.

“Untuk di Medan memang ada rencana pembangunan jalan tol yang dilakukan PT CMNP, namun masih dalam proses awal kita masih mendalaminya. Karena Medan sendiri sudah ada rencana pembangunan LRT dan BRT dalam waktu dekat,” ujar Irman menjawab Sumut Pos, Minggu (17/2).

Bappeda Sumut sendiri, diakui dia, hingga kini belum ada membuat kajian atau menerima kajian dari Pemko Medan sekaitan wacana pembangunan jalur tol khusus sepeda motor ini. Begitupun, jika nantinya rencana tersebut akan dibangun di Kota Medan, pihaknya lebih mendorong agar Pemko Medan yang bergerak cepat menindaklanjutinya.

“Kalau pembangunan hanya di Kota Medan, sebaiknya Pemko Medan yang mendorong percepatan pelaksanaannya. Kalau kita lebih mendorong jalan tol yang dibangun terkoneksi di kawasan Mebidangro. Perlu juga ditanya ke Dishub Sumut soal ini, barangkali mereka tahu detil program tersebut,” ujar Irman.

Dinas Perhubungan Sumut sendiri membenarkan adanya wacana pembangunan tersebut. “Memang perusahaan (CMNP) itu pernah datang dan survey rencana tol dalam kota, dan sudah pernah dibahas kebetulan yang hadir Pak Darwin. Mungkin bisa dikonfirmasi ke beliau,” ujar Kepala Bidang Pengembangan dan Perkeretaapian Dishub Sumut, Agustinus Panjaitan.

Transportasi Masal

Wacana pembangunan tol khusus sepeda motor di Kota Medan ini dianggap menyesatkan oleh praktisi Jalan dan Transportasi Burhan Batubara. Menurutnya, untuk mengurai kemacetan, harusnya transportasi massal yang harus digenjot. Tol khusus sepeda motor menurutnya, tidak dibutuhkan di Kota Medan.

Karena, menurut Undang-Undang nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, pemerintah yang harusnya wajib menyediakan angkutan umum yang layak. “Posisinya sekarang, pemerintah belum mampu menyediakan itu secara menyeluruh. Tapi memang sudah dimulai. Misalnya, Light Rail Transit (LRT) dan Bus Rapid Transit (BRT), yang sedang digarap Pemko Medan,” kata Burhan, Minggu (17/2).

Jika dibandingkan dengan Malaysia, lanjutnya, sepeda motor jumlahnya sedikit di sana. Karena angkutan umumnya menjamin. Bahkan Jepang sebagai produsen sepeda motor, di negaranya juga sangat sedikit yang menggunakan. Masyarakatnya memilih menggunakan angkutan umum untuk beraktivitas.

Sepeda motor, kata Burhan, adalah kendaraan yang paling tidak aman untuk manusia. Sehingga, jika tol itu dibuat, berpotensi menimbulkan masalah baru. Biasa jadi angka kecelakaan sepeda motor juga meningkat. “Jalan tol itu didesain dengan kecepatan tinggi. Kalau sepeda motor itu di sana, sama dengan memasukkan ke arena pembantaian. Karena itu alat transportasi yang sangat tidak aman. Sehingga tidak perlu,” tukasnya.

Dia pun berharap, pemerintah bisa memaksimalkan angkutan massal. Namun tetap harus memperhatikan kualitasnya. Untuk menarik minat masyarakat naik angkutan umum, pemerintah juga tidak boleh setengah-setengah. Misalnya dengan promosi besar-besaran. “Misalnya ada hadiah jika naik Trans Mebidang. Sehingga masyarakat tertarik. Promosinya harus lebih baik lagi,” ungkapnya.

Tol Lingkar Luar Medan

Pemko Medan sendiri belum mendapat informasi tentang bakal dibangunnya jalan tol khusus sepeda motor ini. Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin mengaku belum mendengar rencana tersebut. “Saya belum dengar wacana itu,” ujar Eldin saat diwawancarai di Lapangan Benteng Medan baru-baru ini.

Dia juga mengaku akan memastikan wacana itu. Akan tetapi, menurutnya tol sepeda motor belum menjadi kebutuhan yang urgensi atau mendesak. “Kita masih belum memastikannya (wacana pembangunan tol sepeda motor), karena harus meminimalisir jalan di Kota Medan ini lantaran sangat kecil. Cuma, saya memang masih berencana kalau untuk mengurangi kemacetan akan membangun tol lingkar luar Medan,” ujarnya.

Menurutnya, apabila ada masyarakat atau pengendara yang dari kawasan utara Medan mau ke selatan, maka tinggal mutar lewat tol lingkar luar. Tak perlu lagi melintasi inti kota. “Masyarakat yang dari Binjai, Langkat bahkan Aceh jika ingin ke kawasan selatan atau bandara hingga daerah Deliserdang, Tebingtinggi dan lainnya, maka tinggal lewat tol lingkar luar saja dan tidak usah melintasi jalan inti kota. Jadi, nantinya inti kota ini dikhususkan bagi mereka yang aktivitasnya sangat intens,” ujar Eldin.

Untuk mewujudkan rencana pembangunan tol lingkar luar tersebut, Eldin mengaku, nantinya akan berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Nasional (Bappenas). Koordinasikan dilakukan untuk mendorong para investor mau bekerja sama. “Mudah-mudahan bisa terwujud, harapan kita begitu,” tukasnya tanpa menjelaskan secara detail.

Sementara, Wakil Ketua Komisi D DPRD Medan, Salman Alfarisi menyambut baik wacana pembangunan tol lingkar luar Medan. Namun demikian, wacana tersebut jangan sekedar angan-angan dan harus benar-benar direalisasikan. “Jangan sekedar wacana tapi realisasikan yang penting, seperti proyek LRT dan BRT sampai sekarang belum terwujud,” ujarnya.

Diutarakan dia, kehadiran jalan tol lingkar luar Medan memang dibutuhkan untuk mengurai kemacetan. Sebab, kepadatan jumlah kendaraan yang lalu-lalang di inti kota sudah sangat tinggi mobilitasnya. “Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, memang sudah selayaknya dibangun itu. Lihat saja di inti kota, macetnya sudah tak terhindarkan lagi,” tukasnya.

Tak jauh beda disampaikan dengan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatera Utara (Sumut), Parlindungan Purba. Kehadiran tol lingkar luar, menurut dia, akan membawa dampak positif terhadap pelaku usaha karena konektivitas semakin dipermudah aksesnya. “Sekalipun ada jalan tol, jalan yang akan dibangun ini nantinya dibutuhkan juga. Jadi, potensinya besar sekali dan nanti akan tumbuh perumahan-perumahan baru, pusat industri hingga UKM. Artinya, mendorong pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.

Parlindungan menyebutkan, rencana itu untuk pengembangan wilayah antara Medan dengan kabupaten/kota. “Kita sambut baik karena tentunya mempermudah akses dari arah Belawan ke Medan maupun Deli Serdang atau Bandara Kualanamu. Mudah-mudahan rencana ini dapat terwujud dan akan kita kawal tentunya,” ucapnya. (prn/ris)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *