Tol Seirampah-Tebingtinggi Tinggal 12 Persil

Ekonomi Metropolis Sumatera Utara
TERPASANG: Proyek pengerjaan jalan tol Tebingtinggi-Sei Rampah, Sumut, yang dilaksanakan PT Adhi Karya sudah hampir rampung. Lampu penerangan jalan, median jalan, dan pintu keluar sudah selesai. (Foto: Sopian/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pengerjaan Seksi Tujuh Jalan Tol Seirampah-Tebingtinggi masih menyisakan pembebasan lahan 12 persil lagi. Persisnya di daerah Bakaran Batu mengarah ke Kota Tebingtinggi.
Direktur Teknik PT Jasa Marga Kualanamu Tol, Agus Choliq mengatakan, hingga kini pihaknya terus mengejar pembebasan lahan, supaya pembangunan jalan tol pada ruas tersebut bisa rampung dikerjakan.
“Memang dari yang 12 persil itu dengan izin pemilik tanah sudah bisa kita kerjakan. Tapi tetap saja sisa lahan yang belum bebas itu mengganggu, karena ngeblok di tengah. Lokasinya di daerah Bakaran Batu,” katanya kepada Sumut Pos, Senin (20/8).

Saat ini, kata Agus, progres pembangunan atau konstruksi jalan tol seksi tujuh tersebut sudah mencapai 72 persen. Persentase itu dimulai dari soal tanah sampai jalan tol yang dibangun secara utuh. Pihaknya menargetkan pada awal Desember 2018 pembangunan pada ruas tersebut rampung dilakukan. “Harapan kita pada saat Natal dan Tahun Baru bisa difungsikan,” katanya.


Bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumut, Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sumut dan stakeholder terkait, pihaknya terus berupaya agar persoalan lahan yang belum bebas itu bisa segera selesai melalui konsinyasi. “Sebagian sudah kita konsinyasikan, sisanya masih terus berproses. Sebenarnya kita butuh waktu tiga bulan (pekerjaan) usai tanah itu bebas. Setidaknya di Agustus ini tuntas (soal pembebasan lahan), sehingga awal Desember bisa berfungsi,” ungkap Agus.
Umumnya, sambung dia, lahan yang belum bebas ini dikarenakan masalah tanah ahli waris. Menyebabkan pembayaran kepada pihak ahli waris menjadi lambat dilakukan. Adapun lahan 12 persil yang masih bermasalah milik 4 orang ahli waris.
“Antara kakak dengan adek. Di internal mereka belum beres. Bukan masalah mereka tidak mau diganti rugi, tapi siapa yang lebih berhak menerima. Kalau kami kerjanya bareng-bareng dengan Bina Marga dan BPN dalam hal pembebasan lahan masyarakat ini,” terangnya.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah II Sumut, Paul Ames Halomoan juga mengakui hal senada. Menurutnya, pembangunan seksi 7 masih terus berjalan untuk jalur sepanjang 9,3 km. “Namun ada beberapa bidang tanah yang belum dibebaskan secara penuh. Karenanya proses pengerjaa harus berhenti di lokasi tersebut,” katanya kepada wartawan, Senin (20/8).

Akibat pembebasan lahan yang belum tuntas, panjang tol di lokasi dimaksud terputus, padahal lahan itu merupakan jalur utama (main road) yang akan digunakan untuk ruas tol Medan-Tebing Tinggi.

Staf Ahli Gubsu Bidang Ekbang, Elisa Marbun mengatakan bahwa pengerjaan jalan tol pada ruas Seirampah-Tebingtinggi terus dikerjakan. Hanya saja persoalan kendala yang masih dialami tim di lapangan, dirinya belum mendapat informasi lebih lanjut dan detil. “Saya coba kontak dulu dengan tim ya. Karena info terbaru saya memang belum mengetahui. Setahu saya pekerjaan konstruksi masih terus dilakukan,” katanya.

Sebelumnya, jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT), Seksi 1 Simpang Susun (SS) Tanjung Morawa-Parbarakan telah berfungsi untuk arus mudik dan arus balik Lebaran 2018. Setelah libur Lebaran 2018 usai, pembangunannya pun kembali di teruskan.

Simpang Susun Tanjung Morawa-Parbarakan sendiri memiliki panjang 10,75 kilometer ternyata telah siap dioperasikan. Simpang itu menghubungkan Jalan Tol Eksisting Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera) dengan Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi Seksi 2-6 (Kualanamu-Sei Rampah), yang sebelumnya telah beroperasi sejak 13 Oktober 2017.

Secara keseluruhan, Jalan Tol MKTT terdiri atas tujuh seksi. Khusus untuk seksi 7 Seirampah-Tebingtinggi sepanjang 9,3 kilometer, dibagi menjadi 2 seksi yakni 7A dan 7B.
Jalan Tol MKTT pengusahaannya dilakukan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Kualanamu Tol yang terdiri atas 7 seksi sepanjang 61,7 km dengan nilai investasi mencapai Rp 4,9 triliun. Sebagian konstruksi Tol MKTT dibangun menggunakan APBN sebagai dukungan pemerintah meningkatkan kelayakan finansialnya. Dukungan berupa konstruksi pada Seksi 2 (Kualanamu-Parbarakan) sepanjang 7,05 km dan Seksi 1 (Tanjung Baru-Parbarakan) sepanjang 7,5 km, dengan progres konstruksi keduanya sudah selesai 100 persen.

Hampir Rampung
Petugas keamanan pembangunan tol Kualanamu-Tebingtinggi yang bertugas, Adi, saat ditemui di lapangan mengatakan, PT Adhi Karya terus melakukan pengerjaan tol dengan cepat.
“Pengerjaan proyek tol Kualanamu-Tebingtinggi, tepatnya untuk pengerjaan sambungan seksi pintu tol Tebingtinggi 7B di Desa Paya Bagas Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai, sudah 4,622 kilometer yang hampir selesai. Pengecoran jalan sudah hampir memasuki babak akhir. Tinggal beberapa kilometer yang masih tahap pengerasan, penimbunan kerikil, dan pengecoran dasar. Sedangkan jembatan yang melintasi Sungai Putih sudah rampung dibangun,” katanya.

Pembangunan pintu seksi 7 B sebanyak 5 unit, pembangunan kantor, median jalan dan lampu penerangan jalan menuju pintu tol seksi 7 B, juga sudah terpasang.

“Katanya proyek jalan tol ini harus sudah selesai sebelum akhir tahun ini. Masalah ganti rugi tanah sudah rampung dan tidak ada menemui kendala yang berarti,” katanya. Diakuinya, pengerjaan terus dilakukan walaupun hari Minggu.

Namun tersiar kabar, proyek pembangunan jalan tol sambungan yang tersisa akan dikerjakan pihak PT Pembangunan Perumahan (PP), karena ada penggantian ganti rugi lahan yang belum selesai. (prn/ian/bal)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *