Tools Selesai Akhir Oktober

Metropolis
SOPIAN/SUMUT POS UNJUK RASA: Ratusan pegawai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik (HAM) Medan berunjukrasa, Senin (13/10) di halaman rumah sakit usai melaksanakan apel pagi.
SOPIAN/SUMUT POS
UNJUK RASA: Ratusan pegawai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik (HAM) Medan berunjukrasa.

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Pasca aksi demo menuntut remunerasi (bonus) yang dilakukan oleh ratusan pegawai usai apel pagi, Senin (13/10) di halaman Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Medan, managemen rumah sakit milik pemerintah pusat itu berjanji menyelesaikan tools atau rekapan yang dapat selesai akhir Oktober, dan pada November nanti bisa disosialisasikan dan langsung diterapkan kepada seluruh karyawan sesuai tugasnya.

Seperti diketahui, sistem remunerasi yang tak kunjung dijalankan di RSUP H Adam Malik Medan membuat pegawai dan dokter PNS yang bertugas di rumah sakit tipe A ini berdemo. Sedangkan Direktur Utama RSUP H Adam Malik Medan, Lukmanul Hakim beralasan kalau remunerasi dinilai berdasarkan kinerja masing-masing pegawai sehingga harus dibuat tools atau rekapan kinerja pegawai.


Kasubag Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sairi Mulianti Saragih menuturkan, aksi dilakukan lantaran pegawai belum mengerti tentang remunerasi. Namun, dalam pelaksanaan remunerasi nanti, setiap pegawai akan diberikan tambahan gaji sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.”Melalui penerapan sistem ini, setiap pegawai yang melakukan pekerjaan dengan optimal, akan mendapatkan insentif yang lebih besar. Setelah tools selesai, nanti akan disosialisasikan  sistemnya kepada pegawai,” sebutnya.

Terkait remunerasi ini, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menuturkan remunerasi atau penggajian berbasis kinerja seharusnya diberlakukan di negara ini sejak lama. “Saya setuju bila kinerja nantinya yang menjadi tolak ukur gaji seorang pegawai. Namun kinerja tersebut harus dapat diukur. Ada tolak ukur bagaimana kinerja itu nantinya di buat, dan tentunya dibutuhkan dukungan infrastruktur seperti IT yang bisa mengukur kinerja karyawan tersebut. seperti model absen yang mengunakan finger scan dan lainnya,” terang dia.

Kelemahannya, adalah bila kinerja yang ditentukan bersifat subjektivitas dari atasan, bukan berdasarkan objektivitas karyawan. Penilaian tersebut, nantinya bisa berujung pada masalah lain, sehingga penting sekali untuk menentukan benchmark atau tolak ukur terhadap kinerja itu sendiri. (nit/ila)
Model gaji dengan remunerasi bisa diterapkan di semua instansi. Namun tolak ukurnya pasti berbeda, karena instansi tersebut tentunya memiliki karakteristik penilaian kerja yang tidak sama. Dan model penggajian seperti itu akan menumbuhkan semangat kerja yang baik di tengah masyarakat.”Bukan hanya kinerjanya saja, namun prestasinya serta keterampilan khusus harus dimiliki pekerja tersebut. Seorang pekerja di bidang jasa seharusnya memiliki keterampilan dalam penguasaan bahasa asing (inggris) di tengah persaingan yang ketat nantinya,” terang Benjamin. (nit/ila)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *