Truk Berada di Lintasan Sebelum Tabrakan

Nasional
Kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) 1131 jurusan Serpong-Tanah Abang. Masinisnya, Sukirman meninggal dunia di tempat, Senin (9/12) pukul 11.00.
Kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) 1131 jurusan Serpong-Tanah Abang. Masinisnya, Sukirman meninggal dunia di tempat, Senin (9/12) pukul 11.00.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Polisi telah memeriksa 7 orang saksi di lokasi kejadian pintu perlintasan kereta Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Tujuh saksi ini antara lain penjaga palang pintu, pembantu penjaga palang pintu, dua pemotor yang motornya ikut hangus terbakar, serta warga di sekitar lokasi kejadian.

Pihak kepolisian belum dapat menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut. Namun dipastikan, kecelakaan terjadi karena truk tangki BBM yang disopiri Chosimin melintas di perlintasan pada detik-detik ketika KRL Serpong-Tanah Abang melaju di rel.


“Namun berhentinya (truk tersebut) apakah karena mogok, menerobos perlintasan atau karena macet, ini masih diselidiki,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto.

“Dari keterangan penjaga pintu, truk tangki memaksa masuk walaupun palang pintu sudah ditutup,” ujar Rikwanto. Namun, lanjutnya, ada saksi lain yang menyebut bahwa saat kejadian truk tangki terjebak kemacetan ketika palang pintu ditutup.

“Sehingga, sebelum palang berbunyi truk tersebut sudah ada di tengah rel. Kami masih lakukan analisa keterangan saksi, sekarang semua keterangannya sudah dikumpulkan,” pungkas Rikwanto.

Sampai saat ini polisi belum memeriksa sopir dan kernet truk tangki, Chosimin dan Mujiono, karena kondisi keduanya yang belum pulih. Chosimin, sopir truk Pertamina yang bertabrakan dengan KRL commuter line di Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, masih dirawat di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP). Saat diinterogasi polisi, pria 40 tahun ini mengaku sudah mengawaki truk pengangkut bahan bakar Pertamina sejak 2007.

Pernyataan Chosimin diutarakan kembali oleh penyidik Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Inspektur Satu Mas Waluyo. Kepada Waluyo, Chosimin menuturkan dia menderita luka bakar di seluruh wajah dan tangan kanan.

Berdasarkan pantauan wartawan , Chosimin dan kernetnya Mujiono (44), dirawat  dalam satu kamar di Instalasi Luka Bakar Rumah Sakit Pusat Pertamina lantai 2F Bunyu. “Oh yang parah kernet ya, Pak?” kata Waluyo kepada Chosimin lewat sambungan telepon.

Atas izin rumah sakit, Waluyo menelepon Chosimin lewat sambungan internal rumah sakit, guna meminta keterangan awal yang akan digunakan dalam proses penyelidikan. Waluyo, dalam percakapannya yang berlangsung sekitar tiga menit, melontarkan beberapa pertanyaan dan kembali mengulang jawaban Chosimin.

Chosimin dan Mujiono masih berada dalam ruang perawatan steril yang tidak boleh dimasuki siapa pun, kecuali dokter dan petugas kesehatan. Pintu ruangan perawatan mereka dijaga oleh seorang petugas keamanan rumah sakit.

Wajah sopir dan keret truk BBM yang mobilnya meledak setelah bertabrakan dengan KRL dipenuhi perban, hanya bagian mata dan mulut mereka saja yang terlihat. Keduanya saat ini masih terbaring lemah di instalasi luka bakar Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan.

Wartawan diperbolehkan melihat kondisi keduanya dari luar kamar. Sopir truk tangki BBM bernama Chosimin (40) terbaring di dekat jendela kamar. Seluruh wajah Chosimin dipenuhi perban, selain itu tangan kanannya juga diperban, Selasa (10/12/2013).

Dia terlihat memakai baju pasien warna biru dan selimut biru. Chosimin juga masih terlihat diinfus. Chosimin sempat mengangkat tangannya ke arah wartawan. Di sebelah Chosimin terbaring Mujiono. Wajah kernet truk tangki ini juga dipenuhi perban. Tangan Mujiono juga terlihat dipasangi perban. Namun Mujiono tak bereaksi kepada wartawan. (NET)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *