Tukang Ayam Tewas Dibacok 4 Perampok

Hukum & Kriminal
Foto: Agus/Posmetro Medan/JPNN Mahyudi Siregar , korban perampokan saat masih dirawat di ruang ICU RS Materna, sebelum akhirnya meninggal.
Foto: Agus/Posmetro Medan/JPNN
Mahyudi Siregar , korban perampokan saat masih dirawat di ruang ICU RS Materna, sebelum akhirnya meninggal.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sepertinya polisi makin tak mampu membendung maraknya aksi perampokan di kota Medan. Selasa (10/12) subuh, Mahyudi Siregar (21) yang jadi korban perampokan ditemukan terkapar di Jl. Cemara dengan luka bacokan di kepala dan hantaman benda tumpul di tubuhnya.

Meski sempat dirawat di RS Materna, tapi nyawa warga Jl. Yos Sudarso, Lorong XIV, Brayan itu tetap tak terselamatkan. Selain tewas, barang-barang berupa dompet, uang sekitar Rp 500 ribu serta satu plastik ayam potong berhasil dibawa para pelaku yang ditaksir berjumlah empat orang.


Aksi perampokan itu berawal saat pria yang akrab disapa Yudi ini hendak mengantarkan dua bungkus plastik berisi ayam potong ke Pajak Cemara, Jl. Cemara Medan mengendarai Yamaha Mio. “Tiap pagi dia ngantar ayam potong dari Pajak Brayan ke Pajak Cemara,” ucap Aduon Siregar, sepupu korban yang ditemui kru media ini.

Dengan membawa 70 kg ayam potong, Yudi pun melaju dari Jl. Yos Sudarso menuju Pajak Cemaraa. Tapi naas, belum sampai ditujuan. Tiba-tiba, empat pelaku mengendarai dua sepeda motor memepet dan membacok korban hingga terjatuh. Kemudian, pelaku mengambil barang-barang berharga milik korban berupa dompet, uang Rp 500 ribu bahkan ayam plastik ayam potongnya.

“Curiga kami, biasanya 15 menit saja dia sudah sampai ke Brayan. Ini sudah satu jam nggak sampai-sampai,” celoteh pria berusia 25 tahun itu. Curiga terjadi apa-apa dengan Yudi,  Doni teman satu kerjanya pun mencoba mencari. Begitulah, saat melintas di Jl. Cemara, Doni menemukan daging ayam berserakan di badan jalan. Melihat itu, Doni bersama tiga temannya mencoba mencari keberadaan Yudi. Tak lama berselang, Yudi akhirnya ditemukan bersimbah darah dalam pisisi telentang tak jauh dari sepeda motornya. “Keretanya nggak diambil, karena stang dan ban sudah baling. Jadi nggak bisa dibawa,” ujarnya.

Melihat itu, Doni bersama teman-temannya pun langsung membawa Yudi ke RS. Martha Friska. Namun, sesampainya di sana karena kondisi Yudi yang parah membuat rumah sakit swasta itu merujuknya ke RS Materna. “Pertama di Rumah Sakit Martha Friska, tapi karena parah mereka sarankan ke Materna,” ucapnya. Kemudian, anak pertama dari lima bersaudara ini pun dibawa ke RS Materna. Setiba di rumah sakit itu, teman-teman korban pun membuat laporan ke Polsek Medan Timur lalu kepolisian mengamankan sepeda motor korban ke pos komando guna proses lebih lanjut.

Sekitar 14 jam dirawat, tepatnya pukul 19.20 WIB. Yudi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Keluarga korban yang mendengar itu mendesak agar pihak kepolisian khususnya Polsek Medan Timur segera mengungkap pelaku. “Kami minta polisi cepat menangkap pelaku, jangan keretanya saja diamankan tapi pelakunya juga,” pinta keluarga korban. Kapolsek Medan Timur, Kompol Juliani saat dikonfirmasi mengatakan sampai saat ini pihaknya masih memeriksa seorang saksi yakni Doni yang pertama kali menemukan korban telentang diatas parit. “Saksi baru satu kita periksa, yang pertama kali menemukan korban. Sampai saat ini masih kita selidiki kasusnya,” tandas mantan Kapolsek Medan Area itu. (eza/deo)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *