Vaksinasi Covid-19 Terbukti Efektif Jaga Imunitas, 177 Juta Lebih Dosis Telah Disuntikkan

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah terus menggenjot vaksinasi Covid-19 untuk memenuhi target cakupan vaksinasi nasional pada akhir 2021, yakni 70 persen jumlah penduduk Indonesia atau 208.265.720 jiwa. Hingga Jumat (22/10), lebih dari separuh sasaran vaksinasi telah mendapatkan dosis pertama.

VAKSIN: Seorang warga disuntik vaksin Covid-19 untuk menjaga imunitas terhadap virus Corona.

Berdasarkan update data vaksinasi Covid-19 per Jumat (22/10), penambahan vaksinasi mencapai 2.232.783 dosis, terdiri dari vaksinasi pertama dan vaksinasi kedua. Dengan begitu, total penduduk Indonesia yang telah mendapat vaksinasi dosis satu dan dua sebanyak 177.812.708 jiwa.


Menurut data Satgas Covid-19, angka vaksinasi dosis pertama di Indonesia bertambah 1.089.264. Dengan penambahan itu, total jumlah vaksinasi pertama sudah mencapai 111.496.041.

Sedangkan penambahan data vaksinasi kedua sebanyak 1.143.519. Berarti total jumlah vaksinasi kedua di Indonesia mencapai 66.316.667. Jika dibandingkan dengan total sasaran Covid-19 sebanyak 208.265.720, berarti hingga Jumat (22/10), vaksinasi dosis pertama mencapai 53,54 persen. Sedangkan tingkatn vaksinasi dosis kedua di Indonesia baru mencapai 31,84 persen.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah akan terus mengupayakan percepatan dan pemerataan vaksin di seluruh wilayah dan pada berbagai kelompok, termasuk kelompok lansia dan remaja yang menjadi prioritas. Disebutnya, vaksin terbukti menurunkan risiko gejala sakit berat bahkan kematian akibat Covid-19. Pemerintah juga menjamin, semua vaksin yang digunakan di Indonesia aman sehingga masyarakat terus diimbau agar tidak pilih-pilih vaksin.

Nadia juga mengatakan, dunia menilai Indonesia cukup baik dalam mengejar target vaksinasi, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang bukan produsen vaksin, Indonesia adalah yang terbaik. “Kita berharap, vaksinasi pada 2022 mulai menggunakan Vaksin Merah Putih kita,” ujarnya.

Vaksinasi lansia, menurut Nadia, masih merupakan tantangan. Diketahui, per 21 Oktober 2021, tercatat baru sekitar 36 persen sasaran vaksinasi lansia mendapatkan suntikan dosis pertama. “Padahal untuk kelompok ini sudah kita mulai sejak akhir Maret dan mereka memiliki kerentanan tinggi,” tuturnya. Adanya mispersepsi dan hoaks, kata Nadia, adalah salah satu kendala utama yang terus berusaha diatasi.

Vaksinasi, ujar Nadia, tetap menjadi upaya utama mempertahankan kondisi Covid-19 yang telah membaik di tanah air. Berdampingan dengan disiplin protokol kesehatan (Prokes) yang tetap menjadi kunci walaupun relaksasi telah dibuka, serta upaya deteksi. “Jangan takut untuk ditesting,” imbau Nadia.

Ia menjelaskan, potensi munculnya gelombang ketiga adalah sebuah keniscayaan. Sebuah publikasi ilmiah telah menyebutkan bahwa pola COVID-19 ini akan menimbulkan beberapa gelombang, dengan lebih dari satu puncak gelombang. Saat berhadapan dengan varian Delta, negara-negara dengan cakupan vaksinasi cukup tinggi pun tetap mengalami peningkatan kasus, walaupun kematian dan kesakitannya relatif lebih rendah. Sementara, varian Delta tersebut masih mendominasi di Indonesia.

“Kita ketahui, pada akhir tahun ada potensi kegiatan-kegiatan masyarakat yang menimbulkan kenaikan kasus karena mobilitas masyarakat meningkat,” ujar Nadia.

Kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinolog Dirga Sakti Rambe mengatakan, manusiawi bila masyarakat lelah. Namun pada prinsipnya, pandemi belum selesai, Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga belum mencabut status pandemi. Sehingga upaya perlindungan kesehatan dan keselamatan tetap jadi nomor satu.

“Pemerintah memiliki instrumen Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di setiap daerah. Itu seperti gas dan rem, kapan dilonggarkan dan diperketat. Tugas kita cuma satu : patuh,” tegasnya.

Terkait vaksinasi, Dirga menjelaskan, 48 persen penduduk dunia telah divaksin setidaknya satu kali, lebih dari 6 miliar dosis telah disuntikkan. Dari data tersebut kita dapat pelajari bahwa semua merek vaksin efektif terutama untuk mencegah sakit berat dan kematian. Karena vaksinasi tidak mencegah penularan, maka sekalipun sudah lengkap vaksin, masyarakat harus tetap disiplin Prokes guna mendapatkan proteksi lebih optimal.

Dalam rangka mempertahankan level kesadaran dan kepatuhan warga akan Prokes dan vaksinasi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya Muhamad Fikser menjabarkan bahwa pihak Pemkot Surabaya bekerja sama dengan TNI Polri juga petugas kesehatan melakukan beragam strategi.

Selain melakukan woro-woro untuk mengingatkan masyarakat setiap pagi, terdapat operasi swab hunter yang berpatroli di kerumunan masyarakat. Petugas akan melakukan tes swab, vaksinasi bagi yang belum, dan bila hasil swab adalah positif maka yang bersangkutan akan dibawa ke pusat isolasi.

Upaya tersebut terbukti efektif, karena saat ini Surabaya berada pada level 1 PPKM. “Vaksinasi kami dorong hingga level RT RW, bukan hanya vaksinasi terpusat. Hari, waktu dan lokasi penyelenggaraan vaksinasi juga dibuat beragam,” tutur Fikser.

Petugas juga melakukan upaya jemput bola untuk memastikan vaksinasi kelompok lansia. Ia mengatakan, pengendalian pandemi berbasis aplikasi yang dijalankan di Kota Surabaya dinilai sangat memudahkan petugas di lapangan.

Salah satunya aplikasi lawancovid-19 yang berisi data terkait penanganan COVID-19, juga aplikasi berisikan rekapitulasi vaksinasi yang dapat digunakan petugas untuk menganalisis situasi hingga tingkat kecamatan atau kelurahan. “Termasuk nama-nama warga, agar petugas dapat menyisir di lapangan,” beber Fikser.

“PeduliLindungi juga telah terpasang di semua instansi pemerintahan kota, semua kegiatan dilakukan asesmen untuk melihat apakah berpegang pada Prokes. Ini tanggung jawab semua stake holder untuk terlibat penuh, termasuk sosialiasi Prokes pada masyarakat,” tuturnya.(gus/bbs)

loading...