Waspada! Hindari Transaksi Menggunakan WiFi Publik

Iptek

ASAHAN, SUMUTPOS.CO —Selain tidak berlebihan memunculkan data pribadi saat berselancar di internet dan media sosial, penting untuk menghindari segala transaksi apapun menggunakan WiFi publik. Hal tersebut bagian dari mencegah segala bentuk tindakan yang dapat merugikan masyarakat sebagai pengguna internet.


WEBINAR: Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital yang diinisiasi Kementerian Kominfo RI diselenggarakan di Kabupaten Asahan, Sumut, mengangkat tema besar “Kiat-kiat Melawan Hoaks” pada 23 Agustus 2021. (IST)

Demikian disampaikan Ria Lyzara, selaku Product Manager Telkom Indonesia dan Google Product Expert, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital yang digagas Kementerian Kominfo RI di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara pada 23 Agustus 2021.

“Cara agar aman di internet, antara lain jangan membagikan identitas di media sosial, gunakan password yang kuat dengan huruf, angka dan simbol, jangan asal mengklik link, perhatikan pengaturan aplikasi, atur juga di isi aplikasi, perbarui software dan hindari aplikasi bajakan, pasang antivirus, waspada dengan teman dunia maya, hindari transaksi menggunakan WiFi publik, serta berfikir kritis. Laporkan penipuan digital, melalui patrolisiber.id atau cekrekening.id,” katanya melalui tema bermateri ‘Tips dan Pentingnya Internet Sehat’.

Internet sehat, menurutnya, merupakan konsep penggunaan internet secara bijak dan sesuai dengan etika atau norma yang berlaku, tanpa membahayakan keamanan diri sendiri ataupun orang lain. Jenis data pribadi yang perlu dilindungi, sebut dia meliputi data pribadi bersifat umum dan data pribadi bersifat spesifik. Data pribadi bersifat umum, misalnya, berisi nama lengkap, alamat, kewarganegaraan, agama, serta data pribadi yang dikombinasikan untuk mengidentifikasikan seseorang.

“Data pribadi yang bersifat spesifik, mencakup data dan informasi kesehatan, data biometrik data kesehatan, data keuangan pribadi, dan data lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” pungkasnya.

Salah satu upaya mengantisipasi tindak kejahatan siber, melalui pendekatan wawasan kebangsaan dan kebudayaan.

“Wawasan kebangsaan merupakan cara pandang yang dilandasi kesadaran sebagai warga dari suatu negara akan diri dan lingkungannya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wawasan kebangsaan dapat diperoleh pada pendidikan formal maupun pendidikan nonformal serta melalui literasi digital maupun wadah nonformal untuk memahami wawasan kebangsaan,” kata Khairul Fahmi, akademisi Labuhanbatu kala berbicara di sesi Budaya Digital.

Artinya terang dia, setiap orang dapat mengakses informasi tentang wawasan kebangsaan di media. Untuk meningkatkan wawasan kebangsaan pada literasi digital harus menjadi pekerjaan bersama seluruh elemen masyarakat pengguna media digital untuk mengawasi postingan yang bersifat provokasi dan memecah belah persatuan.

“Cara untuk meningkatkan wawasan kebangsaan melalui literasi digital antara lain mengarahkan pelajar dan mahasiswa untuk mencari artikel tentang wawasan kebangsaan di media digital,” ujarnya.

Adapun Pati Perkasa, seorang konsultan media dan CEO Instereo Group, melalui paparan tema ‘Artificial Intellengence, Teknologi untuk Kemudahan Manusia’, menjelaskan artificial intellengence atau kecerdasan buatan merupakan sistem komputer yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Teknologi ini dapat membantu keputusan dengan cara menganalisis dan menggunakan data yang tersedia di dalam sistem.

“Proses yang terjadi pada artificial intellengence mencakup pembelajaran, penalaran, dan koreksi diri. Proses ini mirip dengan manusia yang melakukan analisis sebelum memberikan keputusan. AI dapat melakukan salah satu dari keempat faktor berikut, sistem yang dapat bertindak layaknya manusia, sistem yang bisa berpikir seperti halnya manusia, sistem yang mampu berpikir rasional, serta sistem yang mampu bertindak secara rasional,” urainya.

Contoh AI dalam sehari-hari, sebut Pati antara lain deepface Facebook, rekomendasi produk pada e-Commerce, asisten virtual, chatbot untuk bisnis, prediksi pencarian google, dan filter media sosial. “Pekerjaan yang akan digantikan AI, meliputi customer service, security, penerjemah, kurir servis, guru, respsionis, dan bookkeeping dan data entri,” pungkasnya.

Sedangkan Indrawaty Sinaga, Ketua LPPA Labuhanbatu melalui tema ‘Bahaya Pornografi Pada Perkembangan Otak Anak’ menjabarkan, pengaruh pornografi pada otak anak ialah penurunan fungsi Prefrontal Cortex yang dapat menyebabkan mudah berbohong, harga diri menurun, depresi, sulit menahan diri, sulit konsebtrasi, dan sulit berpikir kritis.

Menurutnya peran orang tua untuk mencegah kecanduan pornografi bagi anak, antara lain membangun hubungan yang baik dengan anak, memberikan pendidikan seksual sesuai usia, menanamkan pengertian mengenai baik buruknya internet, tetap menjaga informasi pribadi, serta tetap mengawasi anak dalam menggunakan internet.

“Tips bagi anak yang sudah terpapar pornografi, meliputi tidak panik dengan melakukan pendekatan dari hati ke hati, pahami keingintahuan anak, menekankan nilai-nilai agama dan norma masyarakat, menjalin komunikasi serta membuka diri sehingga anak tidak ragu untuk berdiskusi, serta meminta bantuan professional psikolog dan psikiater,” ucapnya.

Webinar diakhiri Ribka Priskila Rompis, seorang penari, entertainer, dan influencer yang menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber.

Sebagai keynote speaker, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi sebelumnya memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing-masing oleh putra putri daerah melalui digital platform.

Diketahui, kegiatan ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo tentang pentingnya SDM yang memiliki talenta digital. Berkenaan dengan itu, Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera pada 77 kabupaten/kota dari Aceh hingga Lampung.

Ditjen Aptika memiliki target hingga 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital, yakni secara spesifik dimulai pada 2021. Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi di bidang digital.

Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta internet yang semakin masif oleh masyarakat, sehingga implementasi program literasi digital di daerah perlu terus digalakkan. (rel/dek)

loading...