Waspadai Hujan Lebat Sepekan Akibat La Nina, Gubsu Edy: Bangun Posko Darurat

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memperkirakan, akan terjadi peningkatan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, di 29 provinsi Indonesia. Hujan lebat terjadi mulai Minggu (18/10) hingga sepekan ke depan. Penyebabnya, aktivitas La Nina dari timur dan Madden Julian Oscillation (MJO) dari barat secara bersamaan.

PERINGATAN INI disampaikan BMKG lewat siaran pers, kemarin. Masyarakat diimbau untuk waspada dampak yang dapat ditimbulkan dari kondisi cuaca ekstrem seperti banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin.


BMKG sebelumnya telah merilis informasi yang menyatakan, saat ini tengah terjadi fenomena La Nina di Samudera Pasifik dengan intensitas sedang. Bagi Indonesia, La Nina yang terjadi pada periode awal musim hujan ini berpotensi meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah.

“Selain pengaruh sirkulasi angin monsun dan anomali iklim di Samudera Pasifik, penguatan curah hujan di Indonesia juga turut dipengaruhi penjalaran gelombang atmosfer ekuatorn

dari barat ke timur berupa gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) dan Kelvin, atau dari timur ke barat berupa gelombang Rossby,” kata Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, dalam keterangan tertulis, Minggu (18/9).

Ia menerangkan, hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan aktivitas MJO di atas wilayah Indonesia, yang merupakan klaster/kumpulan awan berpotensi hujan.

“Aktivitas La Nina dan MJO pada saat yang bersamaan ini dapat berkontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan akan terjadi peningkatan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

“Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan kondisi cuaca ekstrem, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin,” tuturnya.

Dampak La Nina terhadap curah hujan di Indonesia tidak seragam, baik secara spasial maupun temporal. “Bergantung pada musim atau bulan, wilayah, dan kekuatan La Nina sendiri,” kata Guswanto.

Pemantauan BMKG terhadap indikator laut dan atmosfer menunjukkan suhu permukaan laut mendingin minus 0,5 hingga minus 2,5 derajat Celcius selama tujuh dasarian terakhir (70 hari), diikuti oleh dominasi aliran zonal angin timuran yang merepresentasikan penguatan angin pasat.

Berdasarkan data BMKG, pada periode 18 Hingga 24 Oktober 2020 dampak MJO berpotensi terjadi beberapa wilayah, yakni di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat. Kondisi yang sama juga berpotensi terjadi di Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Ke-29 wilayah itu terdampak yang sama sepekan ke depan: hujan tambah lebat disertai petir dan angin kencang.

Berdasarkan data BKMG, prakiraan dampak La Nina terjadi pada akhir 2020 hingga awal 2021. Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini sudah memasuki musim hujan sejak Oktober hingga November 2020.

Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam, di antaranya melalui situs resmi dan akun di media sosial. “Atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.”

Edy: Segera Bangun Posko Darurat

Terpisah, Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, menekankan kepada seluruh kepala daerah, agar waspada terhadap bencana setiap akhir tahun. Ia minta terhadap daerah yang rawan longsor dan banjir, segera membangun posko darurat sebagai upaya antisipasi dini.

“Membangun posko, bila terjadi bencana akan menjadi penanggulangan bencana,” katanya menjawab wartawan, akhir pekan kemarin.

Edy tidak ingin, pandemi Covid-19 yang sudah banyak menyulitkan perekonomian rakyat, menjadi lebih terpuruk lagi nantinya ketika bencana alam datang tanpa diantisipasi sejak dini.

Melalui posko-posko, menurut Edy, petugas dapat memantau daerah-daerah rawan terjadi bencana seperti tanah longsor, banjir, lahar dingin hingga jalan wilayah pegunungan yang amblas.

“Kalau di Madina (Kabupaten Mandailing Natal) cuma banjir. Kita minta bupati dan wali kota lainnya dapat mengantisipasi bencana akhir tahun,” imbuh Edy.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya sudah meminta kepada seluruh daerah untuk dapat meningkatkan antisipasi bencana alam jelang akhir tahun. Dirinya berharap, antisipasi bencana ini juga sebagai langkah pemulihan ekonomi. Dia tidak menginginkan bencana alam yang terjadi sampai menimbulkan dampak lebih terhadap mewabahnya Covid-19.

“Ini harus kita antisipasi dengan strategi yang benar. Siapkan pengungsian dan lainnya. Apalagi saat ini kita juga masih dalam kondisi pandemi. Jangan sampai kalau ada bencana nanti menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Untuk itu perlu strategi dan perencanaan,” ujarnya.

Kepala Satgas Nasional Penanganan Covid-19 yang juga Kepala BNPB, Doni Monardo, menambahkan, masyarakat yang bermukim di bawah wilayah dengan kemiringan lebih 30 derajat untuk segera dievakuasi. Sehingga saat ada longsor pada musim hujan tidak tertimbun.

“Setiap provinsi kami harapkan mengadakan apel kesiapsiagaan untuk melihat kesiapan alat perlengkapan, perahu, tenda, dapur, obat-obatan, makanan, perlengkapan bayi dan lainnya. Susur sungai, perbaiki drainase dan pemukiman padat dialihkan,” pesan dia. (tc/kps/prn)

loading...