Ya Tuhan Haccit Nai, Baru Hutaon Nasongonon

Sumatera Utara

SIBOLGA, SUMUTPOS.CO – Gontina Hutabarat (61), sontak menangis histeris saat jasad anak kelimanya, Nazar Rambe (32) tiba di kediamannya, Jalan Mela dolok, Desa Mela I, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng.

Korban dikabarkan meninggal pada Minggu (4/5) sekira pukul 21.30 WIB, karena keracunan gas saat bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) KM Teguh V. Posisi terakhir kapal saat kejadian berada diantara Pulau Tamang, Kabupaten Mandailing Natal dan Pulo Pini, Sumatera Utara.


Gontina yang histeris atas kepergian anaknya tersebut, tidak menyangka kalau diberi cobaan yang besar oleh Tuhan di hari tuanya. “Ya Tuhan haccit nai, ngamatua au baru hutaon nasongonon. (Ya Tuhan sakit kali, sudah tua aku baru kurasakan seperti ini),” jerit ibu korban menangis di jenazah anaknya, Senin (5/5).

Masih terus menangis, Gontina mengingat saat anaknya berangkat dari rumah dengan wajah yang tidak menandakan bakal terjadi hal menyedihkan. Korban melambaikan tangannya kepada ibunya sambil berlalu berangkat kerja. “Boasa denggan hian ho lao borngin i, mandada dada ho. (Kenapa baik-baik saja kau berangkat malam itu, sambil melambaikan tangan),” ucapnya sedih dalam tagisnya.

Gontina mengungkapkan dalam tangisnya, dia mengingat beberapa hari sebelum kejadian, korban pernah mengatakan kepadanya kalau ia bermimpi. Di rumah tulangnya (saudara ibunya, red) katanya ada pesta yang sangat meriah. “Marnipi au umak, marpesta tulang si Edi nimmu tu au, hape gabe balik do nipi i amang. (Mimpi aku Mak, ada pesta di rumah tulang si Edi, kau bilang. Ternyata, kebalikannya mimpi mu itu anakku),” ucap Gontina.

Sebelum berangkat kerja, kata Gontina, ia sempat bertanya pada korban tentang perasaannya. Namun, saat itu katanya korban tetap saja berangkat kerja dan mengaku kalau kondisinya saat itu baik-baik saja.

Hudokkon do tuho, nahurang sehat do, nimmu dang pola Umak. (Kutanyanya kau malam itu sebelum berangkat kerja, yang kurang sehatnya badanmu? Kau bilang gak apa-apanya itu Mak),” seru Gontina meniru percakapannya dengan korban sebelum berangkat kerja.

Sambil menangis Gontina minta maaf kepada Tuhan atas kesalahan yang pernah dibuat korban selama ini. Sebab, musibah ini juga katanya, terlalu berat untuk ia terima. “Maaf hon ma anak hon Tuhan, sude kesalahan na, benna gabe songonnon. (Maafkan lah ya Tuhan semua kesalahannya, sehingga jadi seperti ini),” tutur Gontina berharap maaf dari Yang Kuasa.

Dari keterangan Pendi (36), salah seorang abang korban, kalau korban yang masih lajang tersebut berangkat dari rumah pada Kamis (1/5) sekira pukul 22.00 WIB. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Senin (5/5) sekira pukul 07.00 WIB pihak keluarga langsung menerima telepon menyampaikan kabar kalau korban sudah tidak bernyawa lagi.

“Dia (korban, red) berangkat dari rumah, katanya mau kerja, Kamis (1/5) sekira pukul 22.00 WIB. Tiba-tiba tadi pagi, sudah datang kabar kalau dia meninggal,” ungkapnya sedih.

Terpisah Kapolres Sibolga AKBP Guntur Agung Supono malalui Kasat Pol Air Iptu Meiyan Priyantoro, membenarkan hal tersebut.

Dia menjelaskan, jenazah tiba di Sibolga Senin (5/5) sekira pukul 07.30 WIB. Dan bersandar di Dermaga Tangkahan Lautan Mas Jalan Mojo Pahit, Kecamatan Sibolga Sambas.

”Jenazah sampai melalui tangkahan Lautan Mas sekira pukul 7.30 WIB,” terangnya.

Jenazah kemudian dibawa ke RSUD FL Tobing, guna dilakukan visum. Dari hasil keterangan rumah sakit, kata Meiyan, tidak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan di tubuh korban. Menurut hasil visum aku Meiyan, korban meninggal akibat keracunan, menghirup gas amoniak.

“Langsung dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Hasilnya, di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dari keterangan dokter, korban meninggal dunia akibat keracunan gas amoniak,” jelas Meiyan.

Dari keterangan pihak kapal, kalau kejadiannya terjadi Minggu (4/5) sekira pukul 21.30 WIB saat posisi kapal berada di antara Pulau Tamang dan pulau Pini. Saat itu, korban disuruh atasannya mengangkut ikan busuk yang sudah diikat ke dalam karung untuk dimasukkan ke dalam palka, tempat khusus penyimpanan ikan yang sudah tidak segar lagi, sebelum nantinya dibuang setibanya di darat.

“Malam itu sekira pukul 21.30 WIB, menurut keterangan sementara pihak kapal, korban saat itu disuruh untuk mengangkat ikan busuk yang sudah diikat ke dalam karung dan memasukkannya ke dalam palka. Beberapa jam kemudian, rekan-rekannya yang lain merasa kehilangan korban. Coba dulu lihat si Nazar, kenapa lama kali, kata tekongnya. Kemudian salah seorang ABK pergi melihat korban, ternyata sudah berada di dalam palaka tidak bernyawa lagi,” ungkap Meiyan.

Menurutnya, karena korban kelamaan berada dalam palka berisi ikan busuk yang sudah mengeluarkan gas amoniak, sehingga korban keracunan. “Mungkin sudah lama dalam plaka, sehingga keracunan gas amoniak dari ikan busuk tersebut,” tukasnya.

Terhadap kasus tersebut, kata Meiyan, masih akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Dan pihaknya akan memanggil kembali saksi-saksi untuk memastuikan motif kematian korban yang sebenarnya. “Ini masih kita dalami lagi, kita akan panggil semua saksi-saksi yang melihat kejadian pertama kali. Akan kita periksa, apa sebenarnya motif di balik kematian korban,” pungkasnya. (ts/smg/bd)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *