26 C
Medan
Friday, February 20, 2026

Tugu Juang Perbaungan jadi Ruang Hidup Masyarakat

SERGAI, SUMUTPOS.CO – Langit Perbaungan siang itu membentang cerah. Di persimpangan strategis Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, berdiri megah Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area. Monumen tinggi menjulang dengan bintang di puncaknya itu tampak kokoh menantang waktu. Seolah menjadi penanda bahwa di tanah ini pernah terjadi pertempuran besar demi mempertahankan kemerdekaan.

Namun hari ini, suasana di sekelilingnya jauh dari kesan sunyi dan sakral semata. Tugu Juang Perbaungan kini hidup. Ia berdenyut bersama langkah warga, tawa anak-anak, aroma kuliner UMKM, dan percakapan santai yang mengalun hingga senja.

Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area didirikan sebagai penghormatan atas pertempuran sengit tahun 1947. Kala itu, pasukan Belanda melakukan invasi melalui wilayah pesisir Pantai Cermin dan menyusuri Sungai Ular-jalur strategis menuju Perbaungan dan Lubukpakam.

Sungai Ular menjadi saksi bisu bagaimana para pejuang dari berbagai daerah berkumpul, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan tanah air. Banyak yang gugur di medan laga. Nama mereka mungkin tak seluruhnya tercatat, tetapi semangat juangnya abadi dalam monumen yang berdiri tegak ini.

Tugu yang dibangun pada 1995 tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumut ke-13 Raja Inal Siregar bersama Pangdam saat itu Letjen Arie Jeffry Kumaat serta Ketua Legiun Veteran RI Jenderal Achmad Tahir. Sejak saat itu, ia menjadi simbol heroisme rakyat yang pernah bertempur di wilayah yang kini masuk Kabupaten Sergai.

Di bagian bawah tugu, terpampang informasi sejarah yang mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dan membaca-merenungkan betapa mahalnya harga kemerdekaan.

Waktu berjalan. Kawasan ini sempat kehilangan daya tariknya sebagai ruang publik. Namun revitalisasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) di bawah kepemimpinan Bupati Darma Wijaya dan Wakil Bupati Adlin Tambunan mengubah semuanya.

Area sekitar tugu kini tertata lebih rapi. Lantai berpaving, penerangan yang memadai, fasilitas umum seperti toilet terpisah dan ruang salat, hingga sentra UMKM dengan konsep food court terbuka menghadirkan suasana yang lebih nyaman dan inklusif.

Stan-stan UMKM yang sebelumnya tersebar kini terpusat di kawasan ini. Meja dan kursi warna-warni tersusun rapi. Sore hari menjadi waktu favorit warga datang bersama keluarga-menikmati jajanan, bercengkerama, dan mengabadikan momen.

Tak hanya itu, hadir pula area bermain anak-anak. Ayunan, wahana kecil, hingga mini lintasan bermain membuat kawasan ini semakin ramah keluarga. Anak-anak berlarian riang, sementara orang tua duduk santai mengawasi. Tugu Juang kini bukan lagi sekadar monumen sejarah, tetapi ruang tumbuh kebersamaan.

Senin sore (16/2/2026), rombongan Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Sergai turut merasakan atmosfer baru tersebut. Mereka berdiri di depan tugu, berfoto bersama, lalu duduk berdiskusi di salah satu sudut kawasan.

Bagi mereka, kunjungan ini bukan hanya agenda santai. Ini adalah momen merefleksikan peran sejarah dalam kehidupan modern. Di tengah geliat UMKM dan riuh pengunjung, mereka membaca kembali kisah perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya monumen tersebut.

Seorang anggota Forwakum menyebut, sejarah tidak boleh hanya menjadi arsip. Ia harus terus diceritakan, ditulis, dan disampaikan kepada generasi berikutnya. Wartawan, katanya, memiliki peran penting sebagai jembatan informasi-menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Simbol yang Tak Pernah Padam

Menjelang malam, lampu-lampu di sekitar kawasan mulai menyala. Cahaya menerangi tubuh tugu yang menjulang tinggi. Bintang di puncaknya tampak bersinar di antara langit yang mulai menggelap.

Di bawahnya, aktivitas tetap berlangsung. Remaja bercengkerama, keluarga menikmati hidangan, pedagang melayani pembeli, anak-anak tertawa tanpa beban. Ekonomi kecil bergerak. Interaksi sosial tumbuh. Ingatan sejarah tetap terjaga.

Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area hari ini bukan hanya simbol perlawanan masa lampau. Ia telah menjadi ruang hidup masyarakat-tempat sejarah, ekonomi rakyat, rekreasi keluarga, dan identitas daerah berpadu dalam satu lanskap.

Di Perbaungan, masa lalu tidak ditinggalkan. Ia berdiri kokoh, menyatu dengan kehidupan hari ini. Dan di bawah bintang perjuangan itu, masyarakat Sergai terus melangkah-mengingat, merawat, dan menghidupkan kembali semangat yang tak pernah padam. (fad)

SERGAI, SUMUTPOS.CO – Langit Perbaungan siang itu membentang cerah. Di persimpangan strategis Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, berdiri megah Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area. Monumen tinggi menjulang dengan bintang di puncaknya itu tampak kokoh menantang waktu. Seolah menjadi penanda bahwa di tanah ini pernah terjadi pertempuran besar demi mempertahankan kemerdekaan.

Namun hari ini, suasana di sekelilingnya jauh dari kesan sunyi dan sakral semata. Tugu Juang Perbaungan kini hidup. Ia berdenyut bersama langkah warga, tawa anak-anak, aroma kuliner UMKM, dan percakapan santai yang mengalun hingga senja.

Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area didirikan sebagai penghormatan atas pertempuran sengit tahun 1947. Kala itu, pasukan Belanda melakukan invasi melalui wilayah pesisir Pantai Cermin dan menyusuri Sungai Ular-jalur strategis menuju Perbaungan dan Lubukpakam.

Sungai Ular menjadi saksi bisu bagaimana para pejuang dari berbagai daerah berkumpul, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan tanah air. Banyak yang gugur di medan laga. Nama mereka mungkin tak seluruhnya tercatat, tetapi semangat juangnya abadi dalam monumen yang berdiri tegak ini.

Tugu yang dibangun pada 1995 tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumut ke-13 Raja Inal Siregar bersama Pangdam saat itu Letjen Arie Jeffry Kumaat serta Ketua Legiun Veteran RI Jenderal Achmad Tahir. Sejak saat itu, ia menjadi simbol heroisme rakyat yang pernah bertempur di wilayah yang kini masuk Kabupaten Sergai.

Di bagian bawah tugu, terpampang informasi sejarah yang mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dan membaca-merenungkan betapa mahalnya harga kemerdekaan.

Waktu berjalan. Kawasan ini sempat kehilangan daya tariknya sebagai ruang publik. Namun revitalisasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) di bawah kepemimpinan Bupati Darma Wijaya dan Wakil Bupati Adlin Tambunan mengubah semuanya.

Area sekitar tugu kini tertata lebih rapi. Lantai berpaving, penerangan yang memadai, fasilitas umum seperti toilet terpisah dan ruang salat, hingga sentra UMKM dengan konsep food court terbuka menghadirkan suasana yang lebih nyaman dan inklusif.

Stan-stan UMKM yang sebelumnya tersebar kini terpusat di kawasan ini. Meja dan kursi warna-warni tersusun rapi. Sore hari menjadi waktu favorit warga datang bersama keluarga-menikmati jajanan, bercengkerama, dan mengabadikan momen.

Tak hanya itu, hadir pula area bermain anak-anak. Ayunan, wahana kecil, hingga mini lintasan bermain membuat kawasan ini semakin ramah keluarga. Anak-anak berlarian riang, sementara orang tua duduk santai mengawasi. Tugu Juang kini bukan lagi sekadar monumen sejarah, tetapi ruang tumbuh kebersamaan.

Senin sore (16/2/2026), rombongan Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Sergai turut merasakan atmosfer baru tersebut. Mereka berdiri di depan tugu, berfoto bersama, lalu duduk berdiskusi di salah satu sudut kawasan.

Bagi mereka, kunjungan ini bukan hanya agenda santai. Ini adalah momen merefleksikan peran sejarah dalam kehidupan modern. Di tengah geliat UMKM dan riuh pengunjung, mereka membaca kembali kisah perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya monumen tersebut.

Seorang anggota Forwakum menyebut, sejarah tidak boleh hanya menjadi arsip. Ia harus terus diceritakan, ditulis, dan disampaikan kepada generasi berikutnya. Wartawan, katanya, memiliki peran penting sebagai jembatan informasi-menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Simbol yang Tak Pernah Padam

Menjelang malam, lampu-lampu di sekitar kawasan mulai menyala. Cahaya menerangi tubuh tugu yang menjulang tinggi. Bintang di puncaknya tampak bersinar di antara langit yang mulai menggelap.

Di bawahnya, aktivitas tetap berlangsung. Remaja bercengkerama, keluarga menikmati hidangan, pedagang melayani pembeli, anak-anak tertawa tanpa beban. Ekonomi kecil bergerak. Interaksi sosial tumbuh. Ingatan sejarah tetap terjaga.

Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area hari ini bukan hanya simbol perlawanan masa lampau. Ia telah menjadi ruang hidup masyarakat-tempat sejarah, ekonomi rakyat, rekreasi keluarga, dan identitas daerah berpadu dalam satu lanskap.

Di Perbaungan, masa lalu tidak ditinggalkan. Ia berdiri kokoh, menyatu dengan kehidupan hari ini. Dan di bawah bintang perjuangan itu, masyarakat Sergai terus melangkah-mengingat, merawat, dan menghidupkan kembali semangat yang tak pernah padam. (fad)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru