25 C
Medan
Wednesday, April 1, 2026

Diplomasi Budaya dari Pematanggenting, Songket Batubara Menuju Dunia Internasional

BATUBARA – Upaya memperkuat identitas budaya lokal agar mampu bersaing di panggung global terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Batubara. Di antaranya melalui pengembangan tenun songket sebagai warisan budaya unggulan daerah.

Komitmen itu ditunjukkan langsung oleh Bupati Batubara, H Baharuddin Siagian saat meninjau Kampung Tenun ‘Tonun’ di Desa Pematanggenting, Kecamatan Talawi, Senin (30/3).

Kunjungan tersebut turut dihadiri Bendahara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Utara (Sumut), Meriyawaty Amelia Prasetio (Ibu Ain), bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, di antaranya Asisten II, Kepala Kesbangpol, Kepala Bapenda, Kepala Pelaksana tugas (Plt) Dinas Perkim LH, serta jajaran Bagian Perekonomian dan Pembangunan.

Di hadapan para pengrajin, bupati yang akrab dipanggil Bahar itu menegaskan bahwa tenun songket bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol jati diri masyarakat Batubara yang harus dijaga, dilestarikan, sekaligus didorong menembus pasar internasional.

“Kita ingin songket Batubara tidak hanya dikenal sebagai warisan lokal, tetapi menjadi identitas budaya yang punya daya saing global,” tegasnya.

Kampung Tenun ‘Tonun’ selama ini dikenal sebagai sentra produksi songket khas Batubara yang mempertahankan teknik tradisional. Seluruh proses pengerjaan masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), yang menuntut ketelitian tinggi serta kesabaran para pengrajin.

Untuk menghasilkan satu lembar kain songket, dibutuhkan waktu antara lima hingga enam hari, tergantung tingkat kerumitan motif yang dikerjakan.

Eksistensi songket Batubara sendiri kini mulai mendapat pengakuan lebih luas. Bahkan, kain khas daerah ini telah tampil di ajang bergengsi Paris Fashion Week, melalui karya desainer Didit Hediprasetyo sebagai bagian dari promosi budaya Indonesia di kancah internasional.

Momentum tersebut, kata Bahar, harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajin lokal.

Dalam kesempatan itu, Ibu Ain juga berkesempatan mencoba langsung proses menenun bersama para pengrajin. Ia mengaku takjub dengan tingkat kesulitan yang dihadapi dalam setiap proses pembuatan.

“Ternyata tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelitian yang luar biasa,” ujarnya.

Pemkab Batubara berharap, melalui penguatan Kampung Tenun ‘Tonun’ industri kreatif berbasis budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru yang berakar pada kearifan lokal.

Dengan demikian, songket Batubara tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga tampil sebagai wajah budaya Indonesia di mata dunia. (aci/azw)

BATUBARA – Upaya memperkuat identitas budaya lokal agar mampu bersaing di panggung global terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Batubara. Di antaranya melalui pengembangan tenun songket sebagai warisan budaya unggulan daerah.

Komitmen itu ditunjukkan langsung oleh Bupati Batubara, H Baharuddin Siagian saat meninjau Kampung Tenun ‘Tonun’ di Desa Pematanggenting, Kecamatan Talawi, Senin (30/3).

Kunjungan tersebut turut dihadiri Bendahara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Utara (Sumut), Meriyawaty Amelia Prasetio (Ibu Ain), bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, di antaranya Asisten II, Kepala Kesbangpol, Kepala Bapenda, Kepala Pelaksana tugas (Plt) Dinas Perkim LH, serta jajaran Bagian Perekonomian dan Pembangunan.

Di hadapan para pengrajin, bupati yang akrab dipanggil Bahar itu menegaskan bahwa tenun songket bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol jati diri masyarakat Batubara yang harus dijaga, dilestarikan, sekaligus didorong menembus pasar internasional.

“Kita ingin songket Batubara tidak hanya dikenal sebagai warisan lokal, tetapi menjadi identitas budaya yang punya daya saing global,” tegasnya.

Kampung Tenun ‘Tonun’ selama ini dikenal sebagai sentra produksi songket khas Batubara yang mempertahankan teknik tradisional. Seluruh proses pengerjaan masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), yang menuntut ketelitian tinggi serta kesabaran para pengrajin.

Untuk menghasilkan satu lembar kain songket, dibutuhkan waktu antara lima hingga enam hari, tergantung tingkat kerumitan motif yang dikerjakan.

Eksistensi songket Batubara sendiri kini mulai mendapat pengakuan lebih luas. Bahkan, kain khas daerah ini telah tampil di ajang bergengsi Paris Fashion Week, melalui karya desainer Didit Hediprasetyo sebagai bagian dari promosi budaya Indonesia di kancah internasional.

Momentum tersebut, kata Bahar, harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajin lokal.

Dalam kesempatan itu, Ibu Ain juga berkesempatan mencoba langsung proses menenun bersama para pengrajin. Ia mengaku takjub dengan tingkat kesulitan yang dihadapi dalam setiap proses pembuatan.

“Ternyata tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelitian yang luar biasa,” ujarnya.

Pemkab Batubara berharap, melalui penguatan Kampung Tenun ‘Tonun’ industri kreatif berbasis budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru yang berakar pada kearifan lokal.

Dengan demikian, songket Batubara tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga tampil sebagai wajah budaya Indonesia di mata dunia. (aci/azw)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru