25.6 C
Medan
Monday, June 17, 2024

2014, Honor K1 Kamenag Sumut Dihapus

pnsJAKARTA – Nasib pilu dialami sekitar 2.818 honorer kategori satu (K1) yang selama ini bekerja di Kanwil-kanwil Kemenag di seluruh Indonesia, yang  sekitar 900-an di antaranya bekerja di wilayah Sumut.

Betapa tidak, peluang mereka untuk diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) makin tipis. Tak hanya itu, sumber gaji bulanannya pun mulai tahun depan bakal makin tak jelas, sebab Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kemenag sudah tidak lagi mencantumkan honor untuk para tenaga honorern
“Mulai 2014, honor  kami yang selama ini diambilkan dari DIPA, yang besarnya 97 ribu rupiah per bulan, akan dihapuskan. Ini sangat mencemaskan kami,” ujar Ketua Forum Solidaritas Honorer K1 Kemenag Sumut, Ahmad Fauzi Lubis, kepada Sumut Pos di Kantor Kemenag, Jakarta, kemarin (18/12).

Fauzi bersama 15 delegasi honorer K1 dari sejumlah provinsi, termasuk 5 dari wilayah Sumut, dalam beberapa hari belakangan ini terus memperjuangkann
nasibnya di Jakarta. Sudah beberapa kali bertandang ke kantor kemenag, BKN, dan DPR. Selain dari Sumut, ada perwakilan dari Kaltim, Sumsel, dan Banten.

Pada Selasa (17/12), mereka menemui anggota Komisi VIII DPR sebagai mintra kerja kemenag, dan Komisi II DPR yang merupakan mitranya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (kemenpan-RB). Namun, para wakil rakyat itu hanya “kaget” mendengarkan keluhan mereka.

Petinggi kemenag belum juga mau mengeluarkan surat otorisasi yang menjelaskan bahwa mereka benar sebagai tenaga honorer yang diangkat sesuai ketentuan. Padahal, hanya itu yang dibutuhkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebagai syarat proses pengangkatan mereka menjadi CPNS.

“Sekjen Kemenag bilang takut meneken surat otorisasi. Mestinya, kalau takut, ya minta surat keterangan dari kanwil-kanwil bahwa kami ini memang honorer kemenag yang resmi. Selama ini kami dibayar dari DIPA mereka, kok tak diakui,” sesal Fauzi.

Dia mengancam akan mengerahkan ribuan rekannya untuk menggelar aksi unjuk rasa di gedung yang dipimpin Suryadharma Ali itu. “Para ulama akan turun ke jalan. Ulama, karena sebagian besar dari kami adalah guru-guru agama,” ujar Fauzi. (sam)

pnsJAKARTA – Nasib pilu dialami sekitar 2.818 honorer kategori satu (K1) yang selama ini bekerja di Kanwil-kanwil Kemenag di seluruh Indonesia, yang  sekitar 900-an di antaranya bekerja di wilayah Sumut.

Betapa tidak, peluang mereka untuk diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) makin tipis. Tak hanya itu, sumber gaji bulanannya pun mulai tahun depan bakal makin tak jelas, sebab Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kemenag sudah tidak lagi mencantumkan honor untuk para tenaga honorern
“Mulai 2014, honor  kami yang selama ini diambilkan dari DIPA, yang besarnya 97 ribu rupiah per bulan, akan dihapuskan. Ini sangat mencemaskan kami,” ujar Ketua Forum Solidaritas Honorer K1 Kemenag Sumut, Ahmad Fauzi Lubis, kepada Sumut Pos di Kantor Kemenag, Jakarta, kemarin (18/12).

Fauzi bersama 15 delegasi honorer K1 dari sejumlah provinsi, termasuk 5 dari wilayah Sumut, dalam beberapa hari belakangan ini terus memperjuangkann
nasibnya di Jakarta. Sudah beberapa kali bertandang ke kantor kemenag, BKN, dan DPR. Selain dari Sumut, ada perwakilan dari Kaltim, Sumsel, dan Banten.

Pada Selasa (17/12), mereka menemui anggota Komisi VIII DPR sebagai mintra kerja kemenag, dan Komisi II DPR yang merupakan mitranya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (kemenpan-RB). Namun, para wakil rakyat itu hanya “kaget” mendengarkan keluhan mereka.

Petinggi kemenag belum juga mau mengeluarkan surat otorisasi yang menjelaskan bahwa mereka benar sebagai tenaga honorer yang diangkat sesuai ketentuan. Padahal, hanya itu yang dibutuhkan Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebagai syarat proses pengangkatan mereka menjadi CPNS.

“Sekjen Kemenag bilang takut meneken surat otorisasi. Mestinya, kalau takut, ya minta surat keterangan dari kanwil-kanwil bahwa kami ini memang honorer kemenag yang resmi. Selama ini kami dibayar dari DIPA mereka, kok tak diakui,” sesal Fauzi.

Dia mengancam akan mengerahkan ribuan rekannya untuk menggelar aksi unjuk rasa di gedung yang dipimpin Suryadharma Ali itu. “Para ulama akan turun ke jalan. Ulama, karena sebagian besar dari kami adalah guru-guru agama,” ujar Fauzi. (sam)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/