MEDAN, SumutPos.co– Kampus diminta konsisten berdiri di barisan terdepan dalam merawat akal sehat dan menjaga tradisi berpikir kritis. Pasalnya, kebebasan berpikir dan nalar kritis civitas akademika berisiko terancam apabila kalah oleh kepentingan material, politik transaksional, hingga pragmatisme kekuasaan.
Pesan tegas tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Algoritma Bernegara yang digelar Universitas Negeri Medan (Unimed) di Gedung Auditorium Unimed, Medan, Jumat (23/10/2026).
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung yang hadir sebagai narasumber utama menekankan, kekuatan perguruan tinggi tidak diukur sekadar dari kemegahan fisik, jumlah fakultas, maupun ribuan mahasiswa yang terdaftar. Kekuatan sejati kampus terletak pada keberanian dan kemampuannya mempertahankan tradisi berpikir rasional.
“Di hadapan sekitar 1.500 mahasiswa Unimed, kekuatan perguruan tinggi bukan semata-mata terletak pada statistik jumlah mahasiswa. Unimed dengan 45 ribu mahasiswanya adalah representasi dari 45 ribu perspektif dan harapan masa depan Indonesia,” ujar Rocky.
Menurut Rocky, potensi besar civitas akademika dapat menjadi daya dorong kemajuan bangsa jika kampus konsisten menjaga kebebasan berpikir. Sebaliknya, potensi tersebut akan berubah menjadi kekecewaan massal jika perguruan tinggi kehilangan daya kritisnya dan membiarkan nilai-nilai akademik tunduk pada kepentingan material.
Dalam paparannya, Rocky membedakan secara tegas antara algoritma bernegara yang berorientasi pada kepentingan bersama dan cita-cita kebangsaan dengan algoritma pasar yang melandaskan seluruh pertimbangan pada keuntungan material semata. Ia juga mengingatkan civitas akademika untuk mengantisipasi dinamika politik menjelang kontestasi elektoral.
Menurutnya, dalam kurun waktu 18 bulan ke depan, panggung publik bakal makin dipadati manuver dan promosi politik. Dalam situasi itu, perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi penonton pasif. “Kampus harus menjadi ruang uji bagi gagasan, rekam jejak, dan orientasi calon pemimpin.
Mahasiswa harus dilatih memiliki critical reasoning—mampu membedakan mana gagasan yang rasional demi publik dan mana yang sekadar manuver mengejar kekuasaan,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Plt Deputi IV Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Hariqo Wibawa Satria yang turut menjadi narasumber menggarisbawahi pentingnya jaminan kebebasan berpendapat dalam ekosistem demokrasi yang sehat. Hariqo menyampaikan, masyarakat maupun mahasiswa tidak boleh dibayangi ketakutan atau intimidasi saat menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Namun, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan kualitas argumentasi dan penawaran solusi yang konstruktif.
“Ada tiga hal kunci dalam membangun algoritma bernegara yang sehat: memperkuat kualitas gagasan, meningkatkan kecepatan merespons persoalan, serta menumbuhkan keberanian mengevaluasi kebijakan publik secara terbuka,” jelas Hariqo.
Ia juga menyinggung pentingnya peran aktif mahasiswa dalam mengawasi berbagai program strategis pemerintah agar tepat sasaran dan bebas dari penyelewengan, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Hariqo, jika ditemukan indikasi penyimpangan atau korupsi pada pelaksanaan program publik, hal tersebut harus dievaluasi secara transparan dan ditindak tegas secara hukum.
Selain itu, Hariqo mengingatkan mahasiswa agar bijak mengelola konsumsi informasi di era digital dan tidak terjebak dalam kebiasaan scrolling media sosial tanpa arah. “Mahasiswa jangan hanya berhenti sebagai konsumen informasi, tetapi harus mampu mengolah data menjadi pengetahuan dan pemikiran kritis,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Unimed Prof Dr Baharuddin ST MPd saat membuka gelaran tersebut menegaskan komitmen Unimed untuk terus menjadi benteng pemikiran kritis yang solutif bagi persoalan bangsa. “Kampus harus menjadi ruang intelektual yang terbuka. Tempat di mana beragam perspektif dipertemukan, gagasan diuji, dan penelitian dikembangkan secara rasional serta bertanggung jawab,” ungkap Prof Baharuddin.
Ia berharap dialektika yang terbangun dalam seminar nasional ini mampu membuka cakrawala berpikir mahasiswa sekaligus memperkuat sinergi antar-perguruan tinggi di Sumatera Utara dalam mengawal perjalanan demokrasi Indonesia. Kegiatan yang dipandu moderator Dr Tappil Rambe tersebut turut dihadiri Ketua Senat Unimed Prof Dr Martina Restuati MSi, jajaran wakil rektor, para dekan, dosen, Ketua Panitia Seminar Dr Novita MPd, serta perwakilan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi negeri di Sumatera Utara. (adz)

