25 C
Medan
Monday, July 15, 2024

Jokowi Isyaratkan Luhut Panjaitan

Bakal calon presiden Joko Widodo atau Jokowi memberi sinyal kuat Luhut Panjaitan menjadi ketua tim pemenangan pasangan dia dengan Mohammad Jusuf Kalla. Menurut Jokowi, Luhut mendukungnya sejak awal dan kerap terlibat dalam pengorganisiran massa pendukungnya.

Joko Widodo
Joko Widodo

JAKARTA- “Pak Luhut banyak bantu mengorganisir para relawan, tim, dari awal sebelum deklarasi,” ujar Jokowi Rapat Koordinasi Nasional V Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2014 di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Rabu (21/5).

Jokowi menyebut bahwa peluang pria yang bernama lengkap Luhut Binsar Panjaitan itu menjadi salah seorang kandidat ketua tim pemenangan capres-cawapres Jokowi dan JK cukup besar. “Secara hitung-hitungan kansnya besar,” kata dia.

Soal kapan ketua tim pemenangan tersebut bakal dideklarasikan, Jokowi belum mengetahui pasti. Menurutnya, bisa hari ini, bisa juga besok atau waktu yang akan datang. Yang jelas, kata dia, pengumuman ketua tim pemenangan bakal dilakukan secepatnya.

Arus perlawanan terhadap keputusan Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie mendukung Prabowo-Hatta kian meluas. Tadi malam, sejumlah senior Golkarberkumpul dengan agenda membahas evaluasi arah koalisi Golkar ke Prabowo-Hatta.

“Malam ini 32 petinggi, senior, dan sesepuh Golkar kumpul di JW Marriott pukul 19.00 WIB. Mereka mau evaluasi arah koalisi Golkar ke Gerindra, karena mereka merasa Golkar harusnya mendukung Jokowi,” kata sumber wartawan koran ini, Rabu (21/5) pukul 18.30 WIB.

Sejumlah elite dan senior Golkar hadir di acara itu. Disebutkan antara lain, Ginandjar Kartasasmita, Fahmi Idris, Waketum MS Hidayat, Ketua DPP Priyo Budi Santoso, Ketua DPP Yorrys Raweyai, dan lainnya.

Kabarnya perpecahan di internal Golkar memang kian meluas. Setelah sejumlah kader muda  menyatakan dukungan ke Jokowi-JK, kabar terakhir Rabu (21/5) menyebutkan, Luhut Panjaitan resmi mundur dari jabatannya selaku Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar.

Seperti diduga sebelumnya, sikap tegas mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan era pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid itu diambil, karena dia merasa tak bisa sejalan dengan kebijakan Golkar yang mengusung pasangan capres/cawapres Prabowo-Hatta.

Dalam surat elektronik (e-mail) yang diterima JPNN, disebutkan Luhut mundur terhitung sejak 21 Mei 2014. Surat pengunduran yang ditujukan pada Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjung itu, secara tegas menyebut pengunduran dirinya sudah didiskusikan terlebih dahulu dengan Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie pada Senin (19/5).

“Dengan jelas saya sampaikan bahwa saya akan mendukung Capres Jokowi  karena menurut hemat saya dialah calon presiden terbaik saat ini,” sebut purnawirawan TNI berpangkat terakhir jenderal bintang empat tersebut. Kendati terpaksa berseberangan, pria kelahiran Sumut ini meminta pertemanan di antara mereka berdua tetap terjalin.

Di bagian akhir surat, Luhut menulis, perbedaan bukanlah untuk dipertentangkan melainkan untuk dikelola sebab itu merupakan corak khas wawasan kebangsaan RI.

Mundurnya Luhut yang tergolong politisi senior partai berlambang pohon beringin bisa ditebak sebelumnya, manakala Ical, panggilan Aburizal Bakrie, di detik-detik akhir memutuskan berkoalisi dengan Partai Gerindra yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta.

Sementara sejak lama Luhut telah menyatakan pada Ical akan mendukung Jokowi-JK. Alasan lain sebagai mantan pimpinan Kopassus, Luhut tahu benar watak Prabowo sehingga berkesimpulan Jokowi lebih baik dibanding bekas anak buahnya itu. Pertimbangan lain adalah JK merupakan mantan pucuk pimpinan Partai Golkar sehingga tak mungkin bagi dia untuk mendukung partai lain.

Luhut mengaku tidak mendukung Prabowo karena sangat paham betul bagaimana sosok Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut ketika berkarier di militer.

“Karena tahu Prabowo, makanya saya dukung Jokowi. Kita kenal Pak Prabowo, jadi tahu banyak. Dia pernah menjadi wakil saya, lebih kurang lima atau enam tahun. Jadi saya tahu A sampai Z tentang beliau,” katanya.

Luhut tidak mau mengatakan secara rinci, sosok seperti apa yang membuatnya tidak mendukung Prabowo. Hanya, ketika disinggung mengenai ketegasan, Luhut mengatakan setuju dengan pemimpin yang tegas.

“Tegas itu tidak mesti mata melotot dan lempar-lempar HP (Hand Phone, Red),” ujar Luhut.

Ketika ditanya apakah sosok yang dimaksudnya adalah Prabowo, Luhut menjawab, “Anda jangan pura-pura bego.”

Luhut Panjaitan dan Prabowo Subianto pernah bekerja dalam kesatuan yang sama. Prabowo pernah menjadi wakil Luhut di Detasemen 81 Antiteror pada tahun 1983. Ketika itu Luhut berpangkat mayor, sementara Prabowo masih berpangkat kapten.

Politisi senior Golkar dan juga anggota Dewan Pertimbangan Golkar Fahmi Idris yang juga merapat ke barisan pendukung pasangan Jokowi-JK yakin dukungan kepada Jokowi JK semakin meluas.

“Saya memilih pasangan Jokowi JK,” kata Fahmi di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (21/5) malam. Menurut Fahmi, Pilpres adalah soal memilih figur. Fahmi mengatakan, awalnya dirinya mendukung Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) menjadi capres atau cawapres. Ketika Ical memutuskan mendukung, Prabowo-Hatta, Fahmi merasa kewajiban mendukung Ical sudah berakhir.

“Saya beranggapan JK mampu. Saya yakin track record JK mampu sebagai cawapres,” ujar Fahmi.

Menanggapi perpecahan ini, dalam wawancara dengan stasiun televisi, tadi malam, Ketum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie memahami perbedaan pendapat yang sedang terjadi saat ini. Perbedaan pendapat di Golkar menurutnya, sesuatu yang demokratis. “Berbeda pandangan politik itu biasa. Perbedaan itu sesuatu yang demokratis,” katanya.

Selain itu, Ical memastikan tak akan memecat kader yang memiliki pandangan politik yang berbeda dengan partai. Namun begitu, mereka yang akan mendukung calon presiden dan wakil presiden yang bukan pilihan partai diminta untuk menanggalkan jabatannya.

“Di dalam peraturan ogranisasi AD/RT tidak ada pemecatan kader yang berbeda pendapat, yang ada harus menanggalkan jabatan,” katanya. Ical memastikan, bahwa dirinya dan Luhut Panjaitan telah mengerti posisi masing-masing.

“Luhut bebas ke sana, tapi harus menaggalkan jabatannya, begitu juga kawan yang lain, tidak ada pemecatan di Golkar. Golkar demokratis,” katanya lagi.

Menyeberangnya Luhut menambah daftar panjang pengurus partai berlambang pohon beringin yang ‘mbalelo’. Pada Selasa (20/5), sejumlah kader muda menyatakan mendukung pasangan Jokowi-JK. Sikap ini berlawanan dengan langkah resmi Golkar yang sudah menyatakan dukungannya kepada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Lantas apa sikap Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung? Dijumpai di kediamannya, Rabu (21/5) malam, Akbar mengaku sudah menghubungi Aburizal Bakrie untuk menyikapi perpecahan di tubuh partai itu dalam menghadapi pemilihan presiden mendatang. Akbar meminta agar DPP mengumpulkan barisan pendukung Jokowi-JK.

“Oleh karena itu, saya telepon Aburizal  supaya mengundang mereka yang punya pandangan berbeda dengan partai. Dia harus menjelaskan secara rinci alasan dukungan Golkar ke Prabowo-Hatta,” ujar Akbar.

Akbar berharap agar para kader muda yang menjadi barisan pendukung Jokowi-JK memahami alasan partai mendukung Prabowo-Hatta. Selain itu, Akbar menilai semua kader Golkar memang sudah seharusnya mengikuti keputusan partai.

Terlebih lagi, lanjutnya, Rapimnas VI Partai Golkar yang lalu memberikan mandat penuh kepada Aburizal dalam menentukan arah koalisi.

“Seharusnya, sebagai seorang kader memang harus mengikuti putusan organisasi, apalagi putusan ditetapkan dalam forum tinggi. Kalau ada kader punya sikap, tentu kader harus menjelaskan mengapa berbeda. Nanti akan ada kesimpulan,” kata Akbar.

Golkar sudah menyatakan dukungannya secara formal untuk pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun, sejumlah kader muda hingga senior Golkar justru mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Mereka mengaku kecewa lantaran Golkar tidak memberikan dukungan kepada kader asli Golkar, yakni Jusuf Kalla, dan justru mengalihkan dukungannya kepada kader partai lain.

Mereka yang masuk dalam barisan pendukung Jokowi-JK di antaranya ialah Poempida Hidayatulloh, Ketua Badan Penelitian dan Pengambangan Golkar Indra J Pilliang, dan Ketua DPP Golkar Agus Gumiwang. Poempida bahkan didapuk menjadi Juru Bicara Jusuf Kalla.

Ketua Departemen Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar, Andi Harianto Sinulingga mengatakan kader muda partai ‘beringin’ menolak duet Prabowo-Hatta. Golkar seharusnya mendukung pasangan capres yang ada hubungannya dengan Golkar. Apalagi JK pernah menjabat orang nomo satu di partai beringin tersebut.

Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo tak ingin berkomentar banyak soal kisruh yang terjadi di internal Partai Golkar. Meski demikian, Tjahjo senang mendapat tambahan amunisi untuk mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

“Itu masalah internal, saya kira banyak hak masyarakat untuk memilih,” ujar Tjahjo seusai menghadiri Rakor Pemenangan Jokowi-JK di DPP Partai NasDem, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (21/5).

Tak hanya senang, Tjahjo bersyukur pasangan yang diusung PDIP, NasDem, PKB dan Hanura itu didukung penuh tokoh senior Partai Golkar.

“Bagaimana dia bersimpati dan menggunakan hak politik dengan memilih pasangan Jokowi-JK kami merasa bersyukur. Apa yang beliau pilih itu sudah tepat,” tandasnya. (bbs/val)

Bakal calon presiden Joko Widodo atau Jokowi memberi sinyal kuat Luhut Panjaitan menjadi ketua tim pemenangan pasangan dia dengan Mohammad Jusuf Kalla. Menurut Jokowi, Luhut mendukungnya sejak awal dan kerap terlibat dalam pengorganisiran massa pendukungnya.

Joko Widodo
Joko Widodo

JAKARTA- “Pak Luhut banyak bantu mengorganisir para relawan, tim, dari awal sebelum deklarasi,” ujar Jokowi Rapat Koordinasi Nasional V Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2014 di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Rabu (21/5).

Jokowi menyebut bahwa peluang pria yang bernama lengkap Luhut Binsar Panjaitan itu menjadi salah seorang kandidat ketua tim pemenangan capres-cawapres Jokowi dan JK cukup besar. “Secara hitung-hitungan kansnya besar,” kata dia.

Soal kapan ketua tim pemenangan tersebut bakal dideklarasikan, Jokowi belum mengetahui pasti. Menurutnya, bisa hari ini, bisa juga besok atau waktu yang akan datang. Yang jelas, kata dia, pengumuman ketua tim pemenangan bakal dilakukan secepatnya.

Arus perlawanan terhadap keputusan Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie mendukung Prabowo-Hatta kian meluas. Tadi malam, sejumlah senior Golkarberkumpul dengan agenda membahas evaluasi arah koalisi Golkar ke Prabowo-Hatta.

“Malam ini 32 petinggi, senior, dan sesepuh Golkar kumpul di JW Marriott pukul 19.00 WIB. Mereka mau evaluasi arah koalisi Golkar ke Gerindra, karena mereka merasa Golkar harusnya mendukung Jokowi,” kata sumber wartawan koran ini, Rabu (21/5) pukul 18.30 WIB.

Sejumlah elite dan senior Golkar hadir di acara itu. Disebutkan antara lain, Ginandjar Kartasasmita, Fahmi Idris, Waketum MS Hidayat, Ketua DPP Priyo Budi Santoso, Ketua DPP Yorrys Raweyai, dan lainnya.

Kabarnya perpecahan di internal Golkar memang kian meluas. Setelah sejumlah kader muda  menyatakan dukungan ke Jokowi-JK, kabar terakhir Rabu (21/5) menyebutkan, Luhut Panjaitan resmi mundur dari jabatannya selaku Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar.

Seperti diduga sebelumnya, sikap tegas mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan era pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid itu diambil, karena dia merasa tak bisa sejalan dengan kebijakan Golkar yang mengusung pasangan capres/cawapres Prabowo-Hatta.

Dalam surat elektronik (e-mail) yang diterima JPNN, disebutkan Luhut mundur terhitung sejak 21 Mei 2014. Surat pengunduran yang ditujukan pada Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjung itu, secara tegas menyebut pengunduran dirinya sudah didiskusikan terlebih dahulu dengan Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie pada Senin (19/5).

“Dengan jelas saya sampaikan bahwa saya akan mendukung Capres Jokowi  karena menurut hemat saya dialah calon presiden terbaik saat ini,” sebut purnawirawan TNI berpangkat terakhir jenderal bintang empat tersebut. Kendati terpaksa berseberangan, pria kelahiran Sumut ini meminta pertemanan di antara mereka berdua tetap terjalin.

Di bagian akhir surat, Luhut menulis, perbedaan bukanlah untuk dipertentangkan melainkan untuk dikelola sebab itu merupakan corak khas wawasan kebangsaan RI.

Mundurnya Luhut yang tergolong politisi senior partai berlambang pohon beringin bisa ditebak sebelumnya, manakala Ical, panggilan Aburizal Bakrie, di detik-detik akhir memutuskan berkoalisi dengan Partai Gerindra yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta.

Sementara sejak lama Luhut telah menyatakan pada Ical akan mendukung Jokowi-JK. Alasan lain sebagai mantan pimpinan Kopassus, Luhut tahu benar watak Prabowo sehingga berkesimpulan Jokowi lebih baik dibanding bekas anak buahnya itu. Pertimbangan lain adalah JK merupakan mantan pucuk pimpinan Partai Golkar sehingga tak mungkin bagi dia untuk mendukung partai lain.

Luhut mengaku tidak mendukung Prabowo karena sangat paham betul bagaimana sosok Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut ketika berkarier di militer.

“Karena tahu Prabowo, makanya saya dukung Jokowi. Kita kenal Pak Prabowo, jadi tahu banyak. Dia pernah menjadi wakil saya, lebih kurang lima atau enam tahun. Jadi saya tahu A sampai Z tentang beliau,” katanya.

Luhut tidak mau mengatakan secara rinci, sosok seperti apa yang membuatnya tidak mendukung Prabowo. Hanya, ketika disinggung mengenai ketegasan, Luhut mengatakan setuju dengan pemimpin yang tegas.

“Tegas itu tidak mesti mata melotot dan lempar-lempar HP (Hand Phone, Red),” ujar Luhut.

Ketika ditanya apakah sosok yang dimaksudnya adalah Prabowo, Luhut menjawab, “Anda jangan pura-pura bego.”

Luhut Panjaitan dan Prabowo Subianto pernah bekerja dalam kesatuan yang sama. Prabowo pernah menjadi wakil Luhut di Detasemen 81 Antiteror pada tahun 1983. Ketika itu Luhut berpangkat mayor, sementara Prabowo masih berpangkat kapten.

Politisi senior Golkar dan juga anggota Dewan Pertimbangan Golkar Fahmi Idris yang juga merapat ke barisan pendukung pasangan Jokowi-JK yakin dukungan kepada Jokowi JK semakin meluas.

“Saya memilih pasangan Jokowi JK,” kata Fahmi di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (21/5) malam. Menurut Fahmi, Pilpres adalah soal memilih figur. Fahmi mengatakan, awalnya dirinya mendukung Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) menjadi capres atau cawapres. Ketika Ical memutuskan mendukung, Prabowo-Hatta, Fahmi merasa kewajiban mendukung Ical sudah berakhir.

“Saya beranggapan JK mampu. Saya yakin track record JK mampu sebagai cawapres,” ujar Fahmi.

Menanggapi perpecahan ini, dalam wawancara dengan stasiun televisi, tadi malam, Ketum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie memahami perbedaan pendapat yang sedang terjadi saat ini. Perbedaan pendapat di Golkar menurutnya, sesuatu yang demokratis. “Berbeda pandangan politik itu biasa. Perbedaan itu sesuatu yang demokratis,” katanya.

Selain itu, Ical memastikan tak akan memecat kader yang memiliki pandangan politik yang berbeda dengan partai. Namun begitu, mereka yang akan mendukung calon presiden dan wakil presiden yang bukan pilihan partai diminta untuk menanggalkan jabatannya.

“Di dalam peraturan ogranisasi AD/RT tidak ada pemecatan kader yang berbeda pendapat, yang ada harus menanggalkan jabatan,” katanya. Ical memastikan, bahwa dirinya dan Luhut Panjaitan telah mengerti posisi masing-masing.

“Luhut bebas ke sana, tapi harus menaggalkan jabatannya, begitu juga kawan yang lain, tidak ada pemecatan di Golkar. Golkar demokratis,” katanya lagi.

Menyeberangnya Luhut menambah daftar panjang pengurus partai berlambang pohon beringin yang ‘mbalelo’. Pada Selasa (20/5), sejumlah kader muda menyatakan mendukung pasangan Jokowi-JK. Sikap ini berlawanan dengan langkah resmi Golkar yang sudah menyatakan dukungannya kepada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Lantas apa sikap Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung? Dijumpai di kediamannya, Rabu (21/5) malam, Akbar mengaku sudah menghubungi Aburizal Bakrie untuk menyikapi perpecahan di tubuh partai itu dalam menghadapi pemilihan presiden mendatang. Akbar meminta agar DPP mengumpulkan barisan pendukung Jokowi-JK.

“Oleh karena itu, saya telepon Aburizal  supaya mengundang mereka yang punya pandangan berbeda dengan partai. Dia harus menjelaskan secara rinci alasan dukungan Golkar ke Prabowo-Hatta,” ujar Akbar.

Akbar berharap agar para kader muda yang menjadi barisan pendukung Jokowi-JK memahami alasan partai mendukung Prabowo-Hatta. Selain itu, Akbar menilai semua kader Golkar memang sudah seharusnya mengikuti keputusan partai.

Terlebih lagi, lanjutnya, Rapimnas VI Partai Golkar yang lalu memberikan mandat penuh kepada Aburizal dalam menentukan arah koalisi.

“Seharusnya, sebagai seorang kader memang harus mengikuti putusan organisasi, apalagi putusan ditetapkan dalam forum tinggi. Kalau ada kader punya sikap, tentu kader harus menjelaskan mengapa berbeda. Nanti akan ada kesimpulan,” kata Akbar.

Golkar sudah menyatakan dukungannya secara formal untuk pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun, sejumlah kader muda hingga senior Golkar justru mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Mereka mengaku kecewa lantaran Golkar tidak memberikan dukungan kepada kader asli Golkar, yakni Jusuf Kalla, dan justru mengalihkan dukungannya kepada kader partai lain.

Mereka yang masuk dalam barisan pendukung Jokowi-JK di antaranya ialah Poempida Hidayatulloh, Ketua Badan Penelitian dan Pengambangan Golkar Indra J Pilliang, dan Ketua DPP Golkar Agus Gumiwang. Poempida bahkan didapuk menjadi Juru Bicara Jusuf Kalla.

Ketua Departemen Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar, Andi Harianto Sinulingga mengatakan kader muda partai ‘beringin’ menolak duet Prabowo-Hatta. Golkar seharusnya mendukung pasangan capres yang ada hubungannya dengan Golkar. Apalagi JK pernah menjabat orang nomo satu di partai beringin tersebut.

Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo tak ingin berkomentar banyak soal kisruh yang terjadi di internal Partai Golkar. Meski demikian, Tjahjo senang mendapat tambahan amunisi untuk mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

“Itu masalah internal, saya kira banyak hak masyarakat untuk memilih,” ujar Tjahjo seusai menghadiri Rakor Pemenangan Jokowi-JK di DPP Partai NasDem, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (21/5).

Tak hanya senang, Tjahjo bersyukur pasangan yang diusung PDIP, NasDem, PKB dan Hanura itu didukung penuh tokoh senior Partai Golkar.

“Bagaimana dia bersimpati dan menggunakan hak politik dengan memilih pasangan Jokowi-JK kami merasa bersyukur. Apa yang beliau pilih itu sudah tepat,” tandasnya. (bbs/val)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/