Atlet Selam Syabilla Meninggal Dunia saat Tanding, Menpora: Prosedur Keselamatan Atlet Jadi Prioritas

JAKARTA-Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan prosedur keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan, menyusul meninggalnya atlet selam Syabilla Rizkia Putri Raharja saat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.

Dia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Syabilla dan mengimbau pemangku kepentingan (stakeholder) olahraga menjadikan perlindungan atlet sebagai bagian utama penyelenggaraan kompetisi.

“Tidak ada kemenangan yang lebih berharga daripada nyawa seorang atlet, karena itu setiap stakeholder memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan atlet bertanding dalam lingkungan yang aman,” kata Erick di Jakarta, Selasa.

Syabilla yang berumur 22 tahun asal Kabupaten Jepara sekaligus mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, meninggal setelah mengalami insiden saat mengikuti nomor open water finswimming 3.000 meter di perairan Awann Costa, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (25/10).

Pada Porprov XVII Jawa Tengah 2026, Syabilla telah menyumbangkan dua medali emas untuk Jepara dari nomor 100 meter bifins putri dan 200 meter bifins putri.

Menpora mengapresiasi pembentukan tim investigasi oleh Pengurus Besar Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (PB POSSI). Tim tersebut diharapkan mengungkap kronologi dan mengevaluasi penerapan prosedur keselamatan secara objektif serta menyeluruh.

Kepolisian juga mendalami peristiwa itu dengan memeriksa sejumlah saksi. Erick menekankan semua pihak harus menghormati proses penyelidikan dan tidak mendahului kesimpulan sebelum fakta terungkap.

Menurut dia, evaluasi harus mencakup kesiapan tenaga medis dan tim penyelamat, pengawasan selama pertandingan, serta kecepatan respons ketika atlet mengalami kesulitan. Petugas perlu memiliki kewenangan bertindak segera saat keselamatan peserta terancam.

Dia menegaskan sistem perlindungan tidak boleh hanya mengandalkan kemampuan atlet mengambil keputusan saat berada dalam tekanan kompetisi. Federasi dan penyelenggara harus memastikan prosedur keselamatan diterapkan secara nyata, termasuk dalam olahraga perairan terbuka.

Oleh sebab itu, dia berharap hasil investigasi ditindaklanjuti dengan perbaikan konkret agar kejadian serupa tidak terulang. Keberhasilan kompetisi tidak hanya diukur dari medali dan prestasi, tetapi juga dari jaminan keselamatan seluruh atlet pada setiap cabang dan tingkat kompetisi olahraga nasional, ujar dia.

JAKARTA-Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan prosedur keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan, menyusul meninggalnya atlet selam Syabilla Rizkia Putri Raharja saat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.

Dia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Syabilla dan mengimbau pemangku kepentingan (stakeholder) olahraga menjadikan perlindungan atlet sebagai bagian utama penyelenggaraan kompetisi.

“Tidak ada kemenangan yang lebih berharga daripada nyawa seorang atlet, karena itu setiap stakeholder memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan atlet bertanding dalam lingkungan yang aman,” kata Erick di Jakarta, Selasa.

Syabilla yang berumur 22 tahun asal Kabupaten Jepara sekaligus mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, meninggal setelah mengalami insiden saat mengikuti nomor open water finswimming 3.000 meter di perairan Awann Costa, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (25/10).

Pada Porprov XVII Jawa Tengah 2026, Syabilla telah menyumbangkan dua medali emas untuk Jepara dari nomor 100 meter bifins putri dan 200 meter bifins putri.

Menpora mengapresiasi pembentukan tim investigasi oleh Pengurus Besar Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (PB POSSI). Tim tersebut diharapkan mengungkap kronologi dan mengevaluasi penerapan prosedur keselamatan secara objektif serta menyeluruh.

Kepolisian juga mendalami peristiwa itu dengan memeriksa sejumlah saksi. Erick menekankan semua pihak harus menghormati proses penyelidikan dan tidak mendahului kesimpulan sebelum fakta terungkap.

Menurut dia, evaluasi harus mencakup kesiapan tenaga medis dan tim penyelamat, pengawasan selama pertandingan, serta kecepatan respons ketika atlet mengalami kesulitan. Petugas perlu memiliki kewenangan bertindak segera saat keselamatan peserta terancam.

Dia menegaskan sistem perlindungan tidak boleh hanya mengandalkan kemampuan atlet mengambil keputusan saat berada dalam tekanan kompetisi. Federasi dan penyelenggara harus memastikan prosedur keselamatan diterapkan secara nyata, termasuk dalam olahraga perairan terbuka.

Oleh sebab itu, dia berharap hasil investigasi ditindaklanjuti dengan perbaikan konkret agar kejadian serupa tidak terulang. Keberhasilan kompetisi tidak hanya diukur dari medali dan prestasi, tetapi juga dari jaminan keselamatan seluruh atlet pada setiap cabang dan tingkat kompetisi olahraga nasional, ujar dia.

Artikel Terkait


Terpopuler

Artikel Terbaru