Home Blog Page 13264

PSAP Sigli Degradasi

SAMARINDA- PSAP Sigli dipastikan degradasi dari Indonesian Super League (ISL) 2011-2012 setelah takluk 3-1 dari tuan rumah Persisam Samarinda, Minggu (8/7) kemarin.

Menyisakan satu laga, PSAP kini berada di dasar klasemen dengan 27 poin. Sedangkan di peringkat 17 yang dihuni Deltras sudah mengumpulkan 32 angka. Jadi, di partai terakhir kontra Mitra Kukar, jika pun menang, PSAP baru mengumpulkan 30 poin. Dengan demikian, petualangan di ISL yang baru pertama kali dirasakan PSAP akan berakhir musim ini. Jika kompetisi berlanjut musim depan, maka PSAP akan main di divisi utama.
Pada laga itu, Persisam Samarinda tampil begitu agresif begitu babak pertama dimulai.

Kebuntuan Persisam akhirnya pecah pada menit 22. Sebuah kemelut di depan gawang PSAP mampu dimaksimalkan oleh Cristian Gonzales untuk membuka keunggulan.

Persisam terus memberikan tekanan usai membuka skor. Namun justru PSAP yang mampu menyamakan kedudukan pada menit 32. Reza Fandi mampu memaksimalkan kelengahan bek Persisam saat mengantisipasi umpan silang Sukman Suaib.

Di babak kedua Persisam menambah dua gol lewat Srdan Lopicic dan Jerry Boima Karpeh. Dengan hasil ini,  Persisam Samarinda merangkak naik ke posisi 11. (bbs/jpnn)

Latihan SAR, Komandan Kapal Selam Tewas

KRI CAKRA : Di kapal selam  inilah dua perwira menengah TNI AL tewas karena dekompresi  pada saat  latihan SAR digelar.  Kolonel Laut (P) Jefry Stanley Sanggel jadi korban tenggelamnya kapal selam KRI Cakra 401 Jumat (6/7) kemarin.//internet
KRI CAKRA : Di kapal selam inilah dua perwira menengah TNI AL tewas karena dekompresi pada saat latihan SAR digelar. Kolonel Laut (P) Jefry Stanley Sanggel jadi korban tenggelamnya kapal selam KRI Cakra 401 Jumat (6/7) kemarin.//internet
SITUBONDO – Latihan SAR (search and rescue) TNI AL di perairan Pasir Putih, Situbondo kemarin berubah menjadi operasi penyelamatan yang sebenarnya. Sebab, dua perwira menengah yang sedianya berperan sebagai korban tenggelamnya kapal selam KRI Cakra meregang nyawa karena dekompresi.

Informasi yang dikumpulkan Jawa Pos (grup Sumut Pos), kejadian itu bermula saat TNI AL melakukan latihan SAR selama dua hari di Pasir Putih. Skenarionya, kapal selam dengan nomor lambung 401 itu karam bersama enam personilnya. Lantas, ada tim yang melakukan penyelamatan dengan menjemput personil melalui conning.

Dalam skenario itu, conning atau tower kapal selam menjadi satu-satunya pintu bagi prajurit untuk keluar. Sebenarnya, dalam latihan dua hari yang rencananya berakhir kemarin itu sudah dipersiapkan dengan matang. Buktinya, sangat banyak armada milik pasukan dengan semboyan Jalesveva Jayamahe itu yang diterjunkan.

Koarmatim melibatkan satu kapal selam, tiga kapal, dua tim dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair), satu Ponton Lumba-Lumba, satu tim Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska), serta dua Tim Kesehatan dari Lakesla dan RSAL Dr Ramelan Surabaya. Begitu juga dengan unsur udara seperti Pesawat Cassa dan 1 Heli BO-105. ‘’Kami tidak menyangka musibah tersebut terjadi,’’ ujar seorang sumber Jawa Pos di lokasi.

Dalam latihan kemarin, pada kesempatan pertama, dua prajurit keluar dari conning dan berhasil sampai di permukaan laut dengan selamat. Proses latihan penyelamatan pada tahap ini bisa dikatakan sangat cepat. Dua orang yang berperan sebagai korban pertama berhasil mencapai permukaan sekitar 15 menit setelah tim penolong turun.

Namun, entah kenapa pada sesi kedua untuk korban ketiga dan keempat tidak seperti itu. Waktu 15 menit pertama berlalu tanpa ada tanda-tanda penyelamatan berhasil dilakukan.
Tim yang mencoba tenang lantas tidak bisa menyembunyikan lagi kepanikannya saat melihat dua prajurit itu muncul ke permukaan dengan kondisi mengenaskan. Darah segar keluar dari hidung dan telinga, sedangkan di mulut kedua perwira menengah itu terlihat berbusa.

Saat muncul ke permukaan, keduanya masih mengenakan seragam seperti pelampung berwarna merah. Udara yang berada di seragam itu membuat kedua korban otomatis mencapai permukaan laut.  Melihat itu, semuanya langsung teriak. “Emergency, emergency. Kena dekompresi,’’ ujar salah seorang anggota SAR.

Tim lantas mengevakuasi korban yang belakangan diketahui sebagai Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Armatim Kolonel Laut (P) Jeffry Stanly Sanggel dan Kepala Kamar Mesin (KKM) Mayor Laut (T) Eko Idang Prabowo tersebut. Berbagai upaya dilakukan dengan keras untuk menyelamatkan keduanya.

Radar Banyuwangi (Jawa Pos Group) melaporkan, setelah diangkat dari air, anggota TNI AL langsung membawa Kolonel Jeffy dan Mayor Eko Idang ke Kapal Ponton Lumba-Lumba yang sudah siap di lokasi. Kondisi keduanya saat itu sudah lemas. Bahkan, salah seorang di antaranya sudah mengeluarkan darah dari mulut dan hidung. Sedangkan seorang lagi juga muntah-muntah.

Wartawan peliput saat itu berada di kapal Ponton Lumba-Lumba. Namun, setelah tubuh Kolonel Jeffy dan Mayor Eko dibawa ke kapal tersebut, para wartawan dibawa menuju pantai dengan kapal cambat Kopaska.

Setelah berusaha ditolong, kondisi keduanya tidak kunjung membaik. Dalam kondisi kritis, tim lantas memutuskan membawa keduanya ke RSAL dr Ramelan Surabaya. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Keduanya meninggal. ‘’Atas nama Pangarmatim, kami mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Kami memohon maaf terhadap keluarga dan semoga diberikan ketabahan,’’ kata Kadispen Armatim Letkol Laut (KH) Yayan Sugiana.

Kejadian tersebut tentu saja membuat latihan SAR harus berakhir lebih cepat. Kapal selam buatan Jerman Barat tahun 1977 yang diparkir di kedalaman 21 meter itu lantas dibawa naik ke permukaan. Latihan pun berakhir dengan duka mendalam bagi keluarga TNI AL.

Lebih lanjut Yayan menjelaskan, musibah tersebut tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam suasana duka, Yayan mengaku angkat topi terhadap kedua koleganya tersebut. Menurutnya, Kolonel Jefry adalah sosok yang sangat baik dan layak menjadi pemimpin. Buktinya, dia mau langsung berperan sebagai korban karamnya KRI Cakra.

‘’Bisa jadi, Kolonel Jefry ingin memberikan contoh yang baik bagi anak buahnya. Kalau mau, sebenarnya dia tidak harus berperan jadi korban,’’ kenangnya. Namun, apa mau dikata, peristiwa nahas itu telah terjadi. Yayan menambahkan, belum tahu pasti apakah jenazah diotopsi dulu atau langsung diserahkan ke keluarga.

Kepala Pusat Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Untung Surapati memastikan kalau kondisi kapal sebenarnya baik. Jadi, kemungkinan besar kejadian nahas itu bukan dikarenakan ada masalah pada kapal. ‘’Tapi, masih akan dikordinasikan,’’ tuturnya.

Itulah kenapa, dia belum bisa menjelaskan dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi pada dua prajurit itu. Begitu juga dengan dugaan keduanya terkena penyakit dekompresi. Untung Surapati memilih hati-hati hingga ada keterangan pasti apa yang membuat mereka harus meregang nyawa saat latihan.
Dekompresi sendiri adalah suatu penyakit yang muncul akibat penurunan tekanan atmosfer secara mendadak. Sering muncul saat penyelam naik ke permukaan terlalu cepat atau sangat lambat. Nah, kalau terburu-buru itulah yang membuat tekanan udara memunculkan gelembung udara di dalam darah.

Saat pemberangkatan dari Surabaya Rabu (4/7) KSAL Laksamana Soeparno mengatakan kalau latihan tersebut sangat diperlukan bagi para prajurit. Melengkapi latihan ‘’kering’’ yang selama ini dilakukan di daratan. Itulah kenapa, dia mengistilahkan aplikasi di perairan Pasir Putih, Situbondo itu sebagai latihan ‘’basah’’.

Semuanya bertujuan untuk menambah pengalaman prajurit. Sedangkan KRI Cakra yang dijadikan latihan adalah salah satu sisa dari kedigdayaan korps kapal selam TNI AL. Saat masih bernama Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), negara ini pernah punya 12 kapal selam. Usia membuat satu per satu kapal tersebut harus pensiun.

Yang terakhir adalah KRI Pasoepati 410. Kini kapal selam yang namanya diambil dari nama anak panah milik arjuna saat menewaskan raksasa jahat bernama Niwatakaca itu menjadi monumen di tepi Kalimas, samping Surabaya Plaza.

Saat ini tinggal dua kapal selam yang masih dipertahankan dan terus dilakukan peremajaan, yakni KRI Cakra dan KRI Nanggala. Dua nama tersebut juga menggambarkan kedigdayaan. Cakra adalah senjata sakti miliki Prabu Kresna, Raja Dwarawati. Sedangkan Nanggala adalah senjata tanpa tanding milik Prabu Baladewa, Raja Madura, yang juga kakak Kresna. (dim/riq/pri/jpnn/nw)

Barito dan Persita ke ISL Musim Depan

SOLO- PS Barito Putra sukses jadi juara Divisi Utama Liga Indonesia 2011-2012 setelah mengalahkan Persita Tangerang di Stadion Mahahan Solo, Minggu (8/7) kemarin. Laskar Antasari unggul atas Pendekar Cisadane dengan skor 2-1.

Keunggulan Barito dibuka di babak pertama oleh gol Sugeng Wahyudi pada menit 31. Dia berhasil melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti ke sudut kanan gawang Persita yang dijaga Tema Mursadat.

Di babak kedua, Persita langsung menekan Barito untuk mengejar ketertinggalan.  Namun, usaha Maman dan kawan-kawan kerap kandas akibat penyelesian akhir yang terburu-buru.Akibat teralu asyik menyerang, Persita malah kebobolan melalui gol Sackie Teah Dou. Pemain asal Liberia ini mencetak gol di menit 55 untuk merubah kedudukan menjadi 0-2 untuk Barito.

Persita baru mampu memperkecil kedudukan pada menit 71. Ade Chandra berhasil memanfaatkan bola muntah hasil tendangan bebas Christian Carrasco. Sampai peluit panjang dibunyikan tidak ada lagi gol tercipta, skor tetap 2-1 untuk Barito. (net/jpnn)

[table caption=”Hasil Divisi Utama Liga Indonesia 2011-2012″ delimiter=”:”]

Juara    :    PS Barito Putera
Runner Up    :    Persita Tangerang
Top Scorer    :    Sackie Teah Dou, 18 gol (PS Barito Putra)
Pemain Terbaik    :    Christian Carrasco
Promosi ke ISL    :    PS Barito Putera, Persita Tangerang, Persepam Pamekasan

[/table]

Kasus Korupsi di BNI 46 Diduga Ngadat di Kejatisu

Belum Sampai Pengadilan

MEDAN- Kasus dugaan korupsi kredit fiktif di Bank Negara Indonesia (BNI) 46 Cabang Jalan Pemuda Medan, senilai Rp129 miliar yang ditangani oleh Kejatisu diduga ngadat. Sebab hingga kini kasus tersebut tak juga naik ke Pengadilan Tipikor Medan untuk disidangkan.

Kasus yang melibatkan petinggi BNI 46 Cabang Jalan Pemuda Medan ini di antaranya Radiyasto, Pimpinan Sentra Kredit Menengah BNI Pemuda Medan, Darul Azli, Pimpinan Kelompok Pemasaran Bisnis BNI Pemuda Medan, Mohammad Samsul Hadi, Pimpinan Rekanan dan Kantor Jasa Penilaian Publik, dan Titin Indriani selaku Relationship BNI SKM Medan masih bebas berkeliaran. Selain itu, pelaku utama kasus ini, yakni Direktur PT Bahari Dwi Kencana Lestari, Boy Hermansyah masih diburon.

Kepala Kejatisu Noor Rochmad yang dikonfirmasi mengenai perkembangan penanganan kasusn tersebut mengatakan, sedang menunggu dokumen pembanding kredit yang telah dijaminkan oleh pengambil kredit, dalam hal ini Boy Hermansyah.

“BNI 46 itu, kami sedang minta presel ke Socfindo, untuk pembandingnilai yang dijaminkan oleh pengambil kredit,” kata Noor Rochmad.
Namun Kajatisu sama sekali tidak menjelaskan lebih jauh soal dokumen pembanding kredit seperti apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, kasus ini kembali mandek di tengah jalan setelah sebelumnya sempat tidak dilanjutkan karena alasan belum ada izin pemeriksaan rekening dari Bank Indonesia (BI).

Ketika disinggung soal pengejaran pelaku utama kasus ini, yakni Boy Hermasnyah, yang identitasnya telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) interpol sejak 17 Oktober 2011 lalu, Kajatisu Noor Rochmad beralasan bila timnya terus melakukan pengejaran terhadap Boy Hermasnyah.
“Sudah, sudah. Kami tidak usah meworo-worokan kepada teman-teman wartawan, kalau ngomong ke wartawan orangnya lari semua,” ucap Noor Rochmad yang terkesan menutupi sesuatu di balik pengejaran tersangka utama Boy Hermansyah.

Menurutnya, belum lama ini, Kejatisu melalui tim penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap pimpinan Bank BNI 46 Cabang Jalan Pemuda Medan, Iriawan. Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Iriawan, tim penyidik Kejatisu kembali menemukan beberapa bukti baru pendukung untuk mengungkap kasus ini.

Adapun bukti baru yang ditemukan pasca pemeriksaan Iriawan kemarin yakni, berupa dokumen yang memperlihatkan adanya penyimpangan kredit, mulai dari proses permohonan, analisa, pemutusan, hingga pencairan kredit terhadap PT Bahari Dwi Kencana Lestari.

Bahkan, tim penyidik juga menemukan adanya dugaan penyimpangan dalam pengucuran kredit investasi pembelian Kebun Sawit milik PT Bahari Dwi Kencana Lestari senilai Rp74,5 miliar. Sementara tidak ada bukti jual beli kebun sawit dari perusahaan PT Atakana ke perusahaan tersebut.

Begitupun, bukti baru itu tampaknya tak banyak membantu penuntasan kasus ini. Malah Kejatisu kembali beralibi dengan menyatakan sedang menunggu hasil dokumen pembanding peminjaman kredit dari PT Socfindo. Sebelumnya, kasus ini sendiri bermula dari permohonan kredit PT BDKL yang dipimpin Boy Hermansyah kepada BNI Medan pada tahun 2009. Saat itu Boy mengajukan pinjaman sebanyak Rp133 miliar untuk pengembangan usaha, dan yang dikabulkan Rp129 miliar.

Namun dalam proses peminjamannya, diduga Boy menggunakan agunan usaha yang telah di agunkannya ke bank lain. Sehingga dalam hal ini, Kejatisu menemukan adanya penyimpangan peminjaman dana kredit yang dilakukan oleh Boy, yang menyebabkan kerugian negara. Setelah di proses, aset milik Boy berupa satu bidang tanah yang di atasnya terdapat pabrik kelapa sawit telah disita oleh negara.

Sementara, keempat pejabat BNI 46 yang telah ditetapkan sebagai tersangka sejak Oktober 2011 lalu itu diketahui sempat ditahan selama sepekan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Tanjung Gusta Medan. Namun karena alasan guna memudahkan penyidikan, tim penyidik malah menetapkan keempatnya sebagai tahanan kota. Bahkan, hingga kini kabarnya keempat tersangka masih bekerja dan menjabat di BNI 46 Medan. (far)

Saya akan Kembali ke Deli …

Pengakuan Sultan Deli XIV, Tuanku Mahmud Lamandjidji Perkasa Alam

Sultan Deli XIV, Tuanku Mahmud 
Lamandjidji Perkasa Alam
Sultan Deli XIV, Tuanku Mahmud
Lamandjidji Perkasa Alam
“Tugas saya sebagai Sultan Deli untuk menjaga kelestarian budaya Melayu,” begitu ucap Sultan Mahmud  Lamandjidji Perkasa Alam saat menginjakkan kaki di Medan; tanah leluhur yang ditinggalkannya sejak beberapa tahun yang lalu.

Sultan Deli XIV itu kini masih berusia 13 tahun. Gelar yang didapatnya sejak masih berusia kanak-kanak. “Saya menjadi sultan sejak usia 7 tahun, dulu saya tidak tahu makna dibalik kata Sultan, saya kira hanya nama saja,” ujarnya dengan logat Makassar.

Gelar yang didapatnya karena sang ayahanda yang merupakan Sultan Deli XIII Tuanku Tito Othman Mahmud Padrap yang juga merupakan anggota militer, meninggal dalam kecelakaan pesawat yang terjadi 2005 yang lalu.

Dan sejak saat itu, gelar yang jatuh secara turun temurun ini disandangnya. “Karena saya anak tertua dari ayah saya karena itu saya saya yang mendapat gelar ini,” papar remaja yang lahir di Makassar 29 Agustus 1998 yang lalu ini.

Sepeninggal sang ayah, sultan yang akrab disapa Jiji ini pun dibawa sang bunda untuk menatap di tanah kelahiran sang bunda. “Saya besar dan sekolah di Makassar dan kemari karena ada festival Melayu selain itu saya juga ingin mengunjungi sanak famili,” tambahnya.
Biasanya, setiap lebaran dirinya akan mengunjungi istana peninggalan leluhurnya, yaitu Istana Maimun. “Kalau ke Medan nginapnya juga di istana. Sekalian bisa main-main dengan keluarga di sini (Medan, Red),” tambahnya.

Saat ini kedatangan Jiji dalam rangka menghadiri Festival Budaya Melayu Agung yang berlangsung di Lapangan Merdeka sejak 6 hingga 10 Juli ini dianggapnya seperti pulang kampung. “Pulang kampung, senang rasanya, apalagi ini festival Melayu ya,” ujar Jiji yang memiliki bulu mata lentik ini. “Saya datang bersama kakek dan mama, tetapi mama lagi di hotel tidak ikut dalam acara ini,” lanjutnya.

Walau memiliki gelar bangsawan dan memiliki tanggung jawab yang berat, tetapi pria yang saat ini menimba ilmu di SMP Mulia Bakti Makassar kelas 3 di tahun ajaran baru ini tetap berkembang selayaknya seorang anak. Bahkan, saat diwawancarai, dengan santai Jiji bermain dengan kamera yang sedang menyorotnya. “Bahhhhh,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, di Makassar tidak semua teman sepermainnya mengetahui statusnya sebagai Sultan Deli, kalau adapun yang tahu tetapi mereka tidak mengerti dan memahami itu. “Ada yang tahu, tetapi sama saja, mereka tidak ada yang memanggil saya Tuanku atau Mulia, mereka tetap memanggil nama saya Jiji,” tambahnya.

Disadarinya, dirinya tidak bisa memantau secara langsung perkembangan Kesultanan Deli, terutama Istana Maimun, berhubung dirinya yang saat ini berada di Makassar. Karena itu, untuk menjalankan tugasnya menjaga Istana salah satu yang dilakukannya adalah memantau melalui pemangku adat kesultanan yang berada di Medan. “Mereka atau saya yang menelepon untuk memberikan kabar di Medan. Tetapi mereka lebih sering telepon, kadang untuk laporan kadang untuk memberikan laporan. Saya juga kurang paham,” tambahnya dengan tersenyum.

Selain memiliki darah ningrat dari Kesultanan Deli, di tubuh Jiji juga mengalir darah ningrat yang dialiri dari sang bunda Ir Hj Siska Marabintang yang merupakan keturunan petinggi di Sulawesi Selatan. Karena itu, selain belajar dan memperdalam budaya Melayu, Jiji beserta sang adik Tuanku Zulkarni Othman Mahmud Mangendar Alam juga belajar kebudayaan Makassar.

“Pada Jiji, ada darah ningrat yang harus dijaganya dan itu tugas kita sebagai orangtua. Sejak dini, kita telah tanamkan bahwa dirinya adalah seorang Sultan Melayu Deli, tetapi di sisi lain dirinya juga memiliki darah ningrat dari Malaka karena itu kedua budaya itu selalu kita ajarkan ke Jiji,” ujar sang Kakek dari sang bunda, H Zainal Basri Palaguna yang juga mantan gubernur di Sulawesi Selatan.

Bukan hanya dalam hal pengetahuan tentang budaya, bahkan untuk sekolah juga Palaguna mengambil peran untuk sang cucu. Tidak heran, bila bertemu dengan Jiji akan selalu didampingi dengan sang kakek. “Saya hanya ingin menjaga Jiji, karena dia seorang Sultan, yang harus menjaga nama baik dirinya dan masyarakatnya,” ungkap sang kakek.

“Saya pilihkan sekolah untuk Jiji, agar dia bisa menimba ilmu dan mengenal budayanya sekaligus. Saat SD dia sekolah katolik, SMP di Mulia Bakti, tapi kalau dia sudah mengerti apa dan siapa dia, kita akan bebaskan sesuai dengan keinginannya,” tambahnya.

Kedekatan sang kakek dengan Sultan Deli ini tidak bisa dipungkiri, saat diwawancarai dan dirinya tidak bisa menjawab, maka dia akan mengandeng sang Kakek, sebagai isyarat dia butuh pertolongan untuk menjawab. Berkat asuhan sang kakek pula, Sultan yang masih belia ini juga mengetahui secara cara menghadapi orang penting di sekitarnya yang usianya jauh lebih tua dibandingkan dirinya.

Saat acara pembukaan Festival Budaya Melayu dan kirab Balai Melayu kemarin, Jiji terlihat gagah berdiri di samping Wali Kota Medan, Ketua DPRD Medan, DPRD Sumut, Sultan Hamengkubowono X dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadininggrat, dan sebagainya. Tidak terlihat sikap bosan yang biasanya keluar untuk anak usia remaja di acara resmi seperti itu. Bahkan, dengan tenang Jiji menghadapi semua petinggi di Sumut tersebut.
Hal yang menarik saat sebagian masyarakat yang bertemu langsung dengan dirinya di Pembukaan Kirab Balai Melayu minggu kemarin, sifat kekanak-kanakan Sultan ini pun keluar, dengan berbisik, Jiji bertanya kepada Sumut Pos. “Kakak, kenapa mereka melihat saya terus?” bisiknya.
“Jiji, mereka ingin salaman, salaman lah, mereka masyarakat Melayu,” balas Sumut Pos.
Dengan tersenyum, Jiji mengulurkan tangannya, yang membuat masyarakat sekitar berebutan untuk menggenggam tangannya.
Tak pelak, sebagian ibu yang membawa anaknya meminta restu dari Jiji. Bahkan, ada seorang ibu yang berlinang airmata dan berujar “Cepat besar ya Nak, cepat kembali kemari,” katanya.
“Saya akan kembali ke sini, setelah tamat SMA, atau kapan pun,” balasnya sambil tersenyum.
Ya, anak remaja yang masih ingusan ini dielukan oleh warganya, anak yang mencoba bersikap dewasa dan memahami gelar yang saat ini sedang disandangnya. “Budaya Melayu yang saat ini saya ketahui adalah tarian, nyanyian, dan sedikit sejarahnya. Tapi saya sudah tahu siapa saya, dan keturunan saya,” pungkasnya. (ram)

Pertanian untuk Masa Depan Kita

Indonesia adalah negara pertanian dengan lahan yang begitu luas sehingga dijuluki negara agraris. Namun siapa sangka, di negara agraris ini banyak mengalami berbagai permasalahan. Salah satu diantaranya bahwa dalam beberapa tahun ini minat calon mahasiswa masuk ke pendidikan pertanian terasa agak menurun.

Mungkin banyak hal yang dapat kita anggap sebagai penyebabnya. Misalnya saat ini pola berpikir generasi muda untuk melihat ke masa depan yang cerah dengan cara yang menurut mereka paling mudah dan praktis sehingga terpaku untuk mencari pekerjaan yang bagi mereka sangat menjanjikan. Dalam meneruskan sekolah atau kuliahpun, mereka akan selalu memprioritaskan masuk ke perguruan tinggi khususnya di fakultas yang benar-benar menjamin masa depan mereka.

Fakultas pertanian kadangkala dianggap segala sesuatu yang berkaitan dengan rakyat kecil, lumpur, kotor, jauh dari teknologi dan gaji yang  rendah.  Cara pandang yang demikian lemahnya karena faktor pengaruh teknologi di era globalisasi ini dan hal ini perlu kita rubah, meskipun tidak semua generasi muda memiliki cara pandang demikian.

Justru dalam tiga tahun terakhir permintaan tenaga kerja terus meningkat tajam ditandai dengan meningkatnya animo calon mahasiswa memasuki Fakultas Pertanian.  Memang cara pandang yang menyatakan paradigma  perguruan tinggi (universitas) harus mampu menghasilkan tenaga siap kerja tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Akan tetapi alumni perguruan tinggi yang dihasilkan adalah personel-personel yang siap untuk dididik kembali sesuai dengan bidang kerja yang ditekuninya. Sebagai contoh dari 700 alumni fakultas pertanian universitas negeri tertentu diketahui bahwa yang bekerja di bidang pertanian hanya 25,9 persen dan sisanya tersebar di bidang lain seperti BUMN dan perbankan 15,3 persen dan swasta non perbankan 12,1 persen (Soekartawi, 2008). Oleh karenanya dunia pertanian sangat prospektif dimana harus mencakup pembangunan dari sektor hulu dan hilir sehingga diperoleh nilai tambah (value added) untuk memenuhi permintaan dunia akan kebutuhan pangan maupun non pangan. Sebagai contoh pada tahun 2005 Indonesia menghasilkan 26,3 juta ton palm oil  dengan kebutuhan tenaga kerja 3,5 juta orang  maka pada tahun 2020 khusus untuk potensi sawit saja di Indonesia diprediksi produksi ini akan menjadi  55 juta ton dengan kebutuhan tenaga kerja sebanyak 7,2 juta orang, dimana sebagian besar tenaga kerja yang diperlukan merupakan lulusan pendidikan pertanian. Sementara itu yang menjadi faktor penentu kesuksesan di dunia kerja khususnya adalah alumni Fakultas Pertanian yang dibekali soft skill seperti mampu mebuat perencanaan, bekerja keras, rasa percaya diri, mampu berfikir analitis serta kemampuan  untuk berorganisasi.

Beberapa Kebijakan Pemerintah yang mendukung:

Kebijakan pemerintah saat ini dirasa sudah cukup baik akan tetapi beberapa strategi penting perlu dilakukan pemerintah misalnya adanya keberpihakan pada bidang pertanian, integrasi hulu-hilir dimana mulai dari sarana produksi pertanian, kegiatan on farm, off farm dan distribusi produk dilakukan secara terpadu serta kebijakan harus diarahkan pada bidang dan komoditi yang tepat (Suhardiyanto, 2009). Pertanian dengan dimensinya yang luas seperti dimensi ketersediaan pangan, tenaga kerja dan lingkungan yang lebih ramah seperti keseimbangan ekologi dan ekowisata, menjadi sangat krusial bagi negara kita. Indonesia kaya akan sumber daya dari  Sabang sampai ke Merauke memerlukan sebuah pencitraan yang masif untuk meningkatkan minat di bidang pertanian.  (*)

Dekan FP UHN Kursus Internasional di Berlin

Bertemu Dekan-Dekan Pertanian se Asia  Tenggara

Dekan Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan, Dr. Ir. Ferisman Tindaon MSc, telah mengikuti The International Dean’s Course (IDC) South East Asia, di Jerman, pada  tanggal 18 – 30 Juni 2012. Kursus  ini diselenggarakan oleh Deutsche Akademischer Austausch Dienst (DAAD) atau German Academic Exchange Service  Berlin, Alexander van Humboldt Foundation yang  bekerjasama dengan Forum Rektor Universitas di Jerman (German Rectors’ Conference = HRK), Pusat Pengembangan Pendidikan Tinggi (Centre for Higher Education =CHE)  Jerman dan University of Applied Sciences Osnabrueck  serta Frei Universitaet Berlin. Demikian ungkap Ferisman Tindaon kepada Sumut Pos, Senin (2/7).

Lebih lanjut Ferisman Tindaon  mengutarakan, kursus ini diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan pencerahan tentang manajemen dan kepemimpinan serta pengelolaan fakultas di tengah perubahan-perubahan yang terjadi. Seperti globalisasi, desentralisasi dan otonomi yang saat ini menjadi tren bukan hanya di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia. Kursus diikuti oleh 32 peserta yang merupakan para dekan, pembantu dekan dan berasal dari perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Myanmar. Selain peserta dari Universitas HKBP Nommensen Medan, perguruan tinggi dari Indonesia yang juga hadir sebagai peserta berasal dari, ITB, UGM, UNDIP, UNSRI, UNSYIAH, UNTAN, UIN Riau dan  Ma Chung University  Malang .

Ke 32 Dekan-dekan  dari Asia Tenggara peserta International Dean Course (IDC)  ini disambut oleh Wakil Presiden Universitas Osnabrueck  Prof  Dr Peter Seifert pada hari Senin 18  Juni 2012 sedangkan pada malamnya disambut oleh Walikota Burkhard Jasper di balai kota Osnabrück . ”Bahwa jumlah mahasiswa akan terus meningkat di seluruh dunia. Adanya kemajuan teknologi dan  internasionalisasi  berperan penting dalam memastikan bahwa universitas harus mencari cara baru untuk pengembangannya. IDC adalah kesempatan kami untuk berbagi strategi-strategi baru untuk mengelola  dan mengembangkan universitas yang berhasil dan mapan,” kata Prof Dr Peter Seifert, Wakil Presiden University of Osnabrueck  pada upacara pembukaan resmi IDC ini. Oleh karena itu, Seifert menambahkan: “Kami ingin membangun jembatan antara universitas Asia dan Jerman melalui program ini.

Jembatan ini akan mengarah pada upaya saling pengertian dan mempromosikan pertukaran informasi secara kontinyu antar universitas.”  Sedangkan Prof Dr Peter Mayer dari  penyelenggara  IDC , mengatakan: “Para dekan dekan fakultas jarang sekali dibekali  tugas dan tanggung jawab yang sistematis sebagai persyaratan sebelumnya. Oleh karenanya disini kita ingin memulai dengan Kursus Dekan Internasional dan menyampaikan kompetensi kunci yang  harus dimiliki dan dibutuhkan saat ini untuk memimpin perguruan tinggi  yang sukses.”  Sejak tahun 2007, IDC adalah forum yang mapan sebagai jaringan antar dekan dari Jerman, Asia dan Afrika. Para  pembuat keputusan dan akademisi akan bertukar ide tentang perubahan lanskap pendidikan internasional dan proses-proses perubahan yang terjadi di negara asal mereka.

Program ini menawarkan beberapa modul pada topik seperti kualitas dan manajemen keuangan, dan memberikan keterampilan kepemimpinan berupa “soft skills” . Selain bagian teoritis  yang diperoleh di kampus Caprivi University of Applied Sciences Osnabrueck dari tanggal 18 Juni hingga tanggal 23 Juni 2012, para peserta IDC juga memperdalam pengetahuannya dalam bentuk lokakarya tanggal 24 juni hingga 30 Juni di Freie Universitaet di Berlin ibukota Jerman.

Materi kursus yang diberikan terdiri dari Higher Education Systems in Germany and South East Asia, Changing Nature in University Governance, Strategic Faculty Management, Financial Management, Soft Skill Workshop, Leadership, Quality Assurance  dan Quality Management. Menurut Ferisman Tindaon, kursus ini dirasakan sangat bermanfaat karena memberikan bekal bagaimana seharusnya pengelolaan suatu fakultas. Kursus semacam ini selayaknya diikuti oleh dekan, pembantu dekan, dan ketua jurusan segera setelah dilantik pada jabatannya. Sebuah hal yang belum menjadi tradisi di Universitas HKBP Nommensen Medan demikian ungkap Tindaon. (*)

Festival Budaya Melayu Agung Pecahkan Dua Rekor

PENUH WARNA: Pendukung acara Festival Budaya Melayu Agung di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (8/7), tampil dengan kostum kebanggaan Melayu yang penuh dengan warna.//sumut pos
PENUH WARNA: Pendukung acara Festival Budaya Melayu Agung di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (8/7), tampil dengan kostum kebanggaan Melayu yang penuh dengan warna.//sumut pos
MEDAN- Museum Rekor Indonesia (MURI) secara resmi menyerahkan dua rekor dalam festival budaya melayu agung di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (8/7). Pemecahan rekor itu diantaranya mozaik kulit telur terbesar dengan ukuran 3×5 meter, terbuat dari 8 ribu kulit telur dengan aneka lukisan wajah dan bentuk serta kirab balai melayu terbanyak yakni 2012 balai.

“Pada prinsipnya ada dua rekor yang dipecahkan. Jadi MURI secara resmi menyerahkan dua rekor di antaranya mozaik kulit telur terbesar yang dibuat oleh para ibu-ibu di Medan dan kirab balai Melayu terbanyak,” ujar Hendry selaku Manajer MURI di Lapangan Merdeka Medan.
Sementara itu, Kabid Binpres (Pembinaan dan Prestasi).

Pemprov PDBI (Persatuan Drum Band Indonesia) Sumut, Apri Sugiarto mengatakan dalam Festival Budaya Melayu Agung itu serangkaian acara yang dilakukan di antaranya festival marching band lagu Melayu yang diikuti sedikitnya 20 grup se-Sumatera Utara.

“Sebenarnya kegiatan ini juga untuk memeriahkan HUT Kota Medan ke 422. Jadi dalam satu grup minimal ada sekitar 50 sampai 70 orang. Dengan begitu, marching band ini kurang lebih diikuti 1500-an orang. Dalam penampilan mereka harus ada unjuk kebolehan bermain lagu dan manuver formasi gerakan serta memadukan berbagai unsur alat tiup atau trompet dan perkusi,” ujarnya.

Menurut Apri Sugiarto marching band dengan tema budaya melayu dilakukan sebagai pelestarian budaya melayu di Sumut. “Dalam marching band ini harus ada salah satu lagu wajib yaitu lagu melayu. Para peserta juga mengenakan atribut baju melayu. Nantinya ada juga apresiasi kostum terbaik bagi grub dram band yang menggunakan kostum melayu lengkap,” terangnya.

Sambungnya, saat ini, budaya melayu di kalangan anak muda sudah mulai berkurang. “Artinya budaya asli kita mulai terkikis seiring masuknya budaya dari luar. Untuk itulah marching band dengan tema melayu ini dilakukan sebagai wadah untuk mningkatkan prestasi dram band di Sumut sekaligus melestarikan budaya melayu,” jelasnya.

PDBI sendiri, katanya setiap 3 bulan sekali mengadakan kegiatan kejuaraan. “Bahkan PDBI juga pernah meraih prestasi marching band di tingkat nasional dengan mendapat 1 medali emas 1 perak dan 1 perunggu dalam PON ke-17 2008 di Kaltim. Selain itu pernah mengikuti kejuaraan Internasional di Malaysia 2009 dan 2010 di Kuala Lumpur meraih juara 3 dalam Malaysia Wold Band Compatition,” bebernya. (far)

Pendaftaran Liga Futsal Amatir Ditutup 12 Juli

MEDAN- Liga Futsal Amatir Indonesia (LFAI) merupakan kompetisi yang diselenggarakan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Badan Futsal Nasional (BFN), antara klub/perkumpulan futsal di Indonesia. Untuk Sumatera Utara, LFAI akan digelar pertengahan Juli dengan batas akhir pendaftaran 12 Juli mendatang.

“Sesuai putusan dari pusat, di bulan Juli sudah didapatkan hasil dari penyelenggaraan LFAI di Sumatera Utara. Untuk itu kita mengimbau bagi seluruh klub futsal yang ingin berpartisipasi untuk segera mendaftarkan diri, karena batas akhir pendaftaran adalah 12 Juli,” terang Koordinator LFAI Sumatera Utara, Ricky Fahreza Syafi’i SH.

Mengenai jadwal pelaksanaan LFAI, Ricky yang juga Ketua SSB/PS Tasbi tersebut menegaskan akan menginformasikannya kembali kepada peserta setelah masa akhir pendaftaran. “Rencananya sebelum puasa, LFAI telah kita gelar,” katanya.

Adapun syarat pendaftaran awal, dikatakan Ricky, klub harus memiliki nama dan logo klub, mengisi surat pernyataan keikutsertaan LFAI yang juga merupakan surat permohonan menjadi anggota badan futsal nasional, memiliki pelatih futsal berlisensi, serta membayar biaya registrasi sebesar Rp3 juta. Persyaratan pemain dari tim peserta, anggota tim dilarang pemain atau eks pemain liga pro. Pelanggaran terhadap persyaratan ini mengakibatkan sanksi dilarangnya pemain tersebut untuk bermain, sampai disfikualifikasi.

Bagi klub-klub yang ingin mengambil formulir bisa langsung datang ke Sekretariat LFAI Sumut di Komplek Taman Setia Budi Indah Blok D nomor 16, atau bisa menghubungi nomor telepon sekretariat 061-8200163 atau Erwan Hanafiah di nomor 0857690117011 dan 08887575473. selain itu bisa juga menghubungi Ketua Panitia Pelaksana, Asrul Batubara di nomor 081396699595.

Ditambahkan Ricky, bagi klub-klub yang pernah melakukan pendaftaran, agar melakukan konfirmasi ulang. “Konfirmasi ke sekretariat agar tak terjadi kesalahpahaman,” tandasnya. (ful)

1.000 Petani Siap Hadang Mendagri

Hari ini, Gedung Paripurna DPRD Sumut Diresmikan

BENTROK: Satpol PP dan massa dari Komite Tani Menggugat terlibat tarik-menarik di depan DPRD Sumut, Minggu (8/7).//Andri Ginting/Sumut Pos
BENTROK: Satpol PP dan massa dari Komite Tani Menggugat terlibat tarik-menarik di depan DPRD Sumut, Minggu (8/7).//Andri Ginting/Sumut Pos
MEDAN-Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi direncanakan akan meresmikan Gedung Paripurna DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol No 5 Medan, hari ini. Rencana ini kabarkannya akan dihadang oleh 1.000 massa petani yang tergabung dalam Komite Tani Menggugat (KTM).

“Besok (hari ini, Red), kami akan menurunkan sebanyak 1.000 massa,” tegas Johan Merdeka Sirait, seusai massa KTM bentrok dengan ratusan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Medan, Minggu (8/7).

Dijelaskannya, rencana menurunkan massa sebanyak itu didasarkan bentrokan yang terjadi antara massa petani dengan Satpol PP Kota Medan. Johan mengutuk keras upaya penertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Medan. Penertiban yang dikomandoi Kepala Satpol PP Kota Medan, Muhammad Sofyan, dan didukung Kasatpol PP Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) Anggiat Hutagalung, dinilai berupaya untuk mengamankan peresmian gedung paripurna DPRD Sumut. Sementara 100 anggota DPRD Sumut tidak sedikit pun memberi respon atas aksi yang mereka lakukan.

Aksi penertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Medan terhadap para petani yang sempat menginap di Kantor Bupati Deliserdang tersebut, berakhir bentrok. Aksi tarik menarik bahkan sempat adu jotos terjadi beberapa lama, hingga akhirnya Satpol PP Kota Medan putar badan dengan mengamankan sejumlah barang milik para demonstran.

“Woi, woi, kau duluan yang mukul ya!” teriak salah seorang petugas Satpol PP saat aksi tarik menarik tenda biru milik demonstran.

Teriakan salah seorang petugas Satpol PP Kota Medan tersebut, menyulut amarah para petugas Satpol PP Kota Medan lainnya.

“Sini kau. Kau pikir aku takut!” teriak seorang demonstran yang mengenakan kemeja berliris hitam-putih lengan panjang dan mengenakan helm warna biru. Dalam aksi tersebut, sempat pula terlihat demonstran perempuan membuka bajunya hingga nyaris telanjang.

Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Randiman Tarigan yang dikonfirmasi persoalan itu, sesaat sebelum bentrok terjadi berdalih, permintaan terhadap para petani  untuk menghentikan aksi tersebut hanya sementara waktu saja.

“Kita minta untuk peresmian gedung ini saja selama dua jam. Tapi para petani tidak mau. Sebelumnya, kami sudah berupaya negosiasi, dan itu ditolak oleh para petani. Kita sudah coba melakukan negosiasi hingga tadi malam (Sabtu malam, Red), tapi tidak mendapat solusi,” akunya.

Di pihak lain, Kasatpol PP Kota Medan, Muhammad Sofyan menyatakan, upaya yang mereka lakukan didasarkan Peraturan Wali (Perwal) Kota Medan No.54 Tahun 2003, yang melarang siapaun menggunakan fasilitas umum hingga mengganggu ketertiban umum.

“Ini sudah diupayakan negosiasi dan ada aturan yang mendasari itu. Kita melaksanakan tugas untuk melakukan penertiban itu,” ungkapnya.

Mendagri Harus Cek dan Ricek Dulu

Di sisi lain, sejumlah pihak menyesalkan Mendagri Gamawan Fauzi yang akan meresmikan gedung baru DPRD Sumut. Alasannya adalah gedung paripurna untuk para wakil rakyat DPRD Sumut tersebut, masih bermasalah. Terutama dengan adanya temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, terkait denda pembangunan gedung paripurna tersebut sebesar Rp1,2 miliar.

“Harusnya gedung itu jangan diresmikan dulu karena masih bermasalah. Mendagri semestinya cek dan ricek terlebih dahulu, kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), apakah gedung tersebut sudah clear dan tidak bermasalah lagi. Kita kecewa sikap Mendagri yang tidak memperhatikan itu, dan kemudian tanpa mempertanyakan terlebih dahulu langsung menyetujui akan meresmikan gedung tersebut,” ungkap pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rafdinal, kemarin.

Dijelaskannya, harus dilakukan investigasi dan penelusuran terhadap temuan BPK tersebut, sebelum gedung wakil rakyat Sumatera Utara (Sumut) itu diresmikan. “Temuan itu harus diinvestigasi dan ditelusuri,” tambahnya.

Sementara itu, Humas BPK RI Wilayah Sumut Mikael Togatorop yang dikonfirmasi Sumut Pos terkait hal itu, menyatakan hal itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Sekretariat Dewan. “Sejauh ini belum ada tindaklanjut dari Sekwan dan ini menjadi tanggungjawab Sekwan,” tuturnya.

Ketika disinggung, kenapa denda yang diberikan hanya hitungan 15 hari dimulai sejak 1 Maret 2012 hingga 15 Maret 2012, sebesar Rp1,2 miliar, sementara pengerjaan gedung paripurna terlihat hingga Jumat (6/7), Mikael Togatorop menjelaskan jika pengerjaan seusai tanggal 15 Maret tersebut dikarenakan adanya addendum atau penambahan.

Namun BPK melarang, ketika pihak pengembang atau yang membangun gedung wakil rakyat Sumut tersebut akan mengklaim dana pembangunan tersebut, sebesar Rp3,5 miliar ke Pemprovsu.

“Rp3,5 miliar addendum, itu ditekankan tidak boleh dibayar. Addendum setelah kontrak berakhir. Tidak boleh diajukan ke Pemprovsu karena pengerjaannya sudah lewat kesepakatan yang ada. Alasannya pengerjaan yang hingga pekan lalu baru kelar adalah ada desain yang tidak pas, sehingga harus tetap dikerjakan,” akunya.

Secara terpisah, Sekwan Randiman Tarigan yang dikonfirmasi, mengakui keterlambatan pengerjaan selama 15 hari. Menurutnya, ada beberapa item pengerjaan proyek pembangunan Gedung Paripurna DPRD Sumut dikerjakan PT Jaya Konstruksi (Jakon) tidak sesuai kesepakatan kontrak.
“Keterlambatan karena ada beberapa item pengerjaan yang tidak sesuai ketentuan kontrak,” ujarnya.

Dijelaskan Randiman, meski terjadi keterlambatan, Senin (9/7) Gedung Paripurna diresmikan Mendagri. “Ini sudah selesai semua dan kita resmikan Senin oleh Mendagri,” kata Randiman.(ari)

Bangga Kuliah di FISIP UHN

Kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas HKBP Nommensen (UHN) memang menyenangkan. Selain mendapat ilmu dari dosen-dosen yang punya kapabilitas. Dibimbing dosen alumni universitas ternama di dalam dan luar negeri, mahasiswa dibekali segudang ilmu melalui sejumlah kegiatan yang difasilitasi fakultas dan universitas. Kemampuan mahasiswa benar-benar diisi dari segi intelektual, organisasi dan bermasyarakat.
Inilah yang diungkapkan tiga mahasiswa FISIP UHN yang ditemui di kampus itu, Sabtu (7/7) lalu. Ketiganya adalah Dedy Putra Pasaribu, Myuki De Vega Simanjuntak dan Agustina Turnip.

“Berbagai kegiatan kami dapat selama kuliah di sini. Selain pendidikan dan pengajaran, seminar, pengalaman organisasi, pengabdian masyarakat dan yang sangat baik, beasiswa,” sebut Dedy Putra Pasaribu.

Ketua BEMF FISP Periode 2011-2012 ini memastikan, mahasiswa yang punya pemikiran maju, mau belajar, peduli, sangat diberi tempat di UHN, khususnya di FISIP. Disebutkannya, FISIP punya berbagai unit kegiatan mahasiswa. Seperti Green Community bagi mahasiswa yang peduli kelestarian lingkungan, Campus Ministry sebagai pelayanan di bidang kerohanian, PS FISIP bagi mahasiswa yang hobi bermain bola dan berbagai unit kegiatan mahasiswa lain.

FISIP dan pihak universitas pun rutin menggelar seminar dan ceramah serta mengirim mahasiswa ke berbagai kegiatan di tingkat provinsi, nasional dan internasional.

“Saya kebagian ikut konfrensi internasional tentang climate change (perubahan iklim) di Salatiga,” sebut mahasiswa semester 8 di Jurusan Administrasi Negara ini.

Hasil pertemuan dibawa dan ditularkan ke rekan-rekannya di FISIP hingga terbentuk komunitas hijau (Green Community) yang terbuka bagi mahasiswa maupun alumni. Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan alam telah dan akan dilakukan komunitas ini. Seperti arung jeram di Namusirasira Juli tahun lalu, kemping di Bumi Perkemahan Sibolangit sebelum mendaki Gunung Sibayak, dan kegiatan lainnya.

Myuki De Vega Simanjuntak, merasa dukungan pihak fakultas dan universitas sangat membantunya mengembangkan kapasitas. Diantaranya memfasilitasi pelaksanaan berbagai kerja sama dengan pihak ketiga. “11 Mei lalu, kami menggelar seminar Election and Democracy dengan pembicara Profesor Burdett Loomis dari University of Kansas. Sebelumnya ada seminar serupa dengan pembicara professor dari Amerika Serikat juga,” ujar gadis yang juga di BEMF FISIP ini.

Kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah di Sumatera Utara, perusahaan besar di Sumut,  menjadi anggota Network of Asia Pasific Schools and Institute of Public Administration and Governance, anggota Badan Kerjasama Lembaga Pengembangan Ilmu Administrasi se Indonesia dan kerjasama tingkat nasional dan internasional lainnya.

Mahasiswa pun diberi kesempatan mengembangkan kewirausahaan melalui program bantuan modal dan bimbingan usaha hasil kerjasama UHN dengan bank milik pemerintah.

Bagusnya, ketiganya yang saat ini duduk di semester 8 tetap punya catatan akademik yang baik dengan IPK di atas 3 serta sedang menggarap tugas akhir. Mereka optimis dapat diwisuda saat dies natalis UHN 7 Oktober nanti, dan mencapai target selesai kuliah 4 tahun.

Banyak Peluang Beasiswa

Bagi mahasiswa UHN yang punya kemampuan akademik dan ingin memperoleh beasiswa pendidikan, peluangnya terbuka lebar. Dedy, Myuki dan Agustina Turnip hanya tiga dari banyak mahasiswa yang sudah mendapatkannya.

“Sangat membantu lah,” ujar Agustina Turnip, peraih beasiswa dari kopertis dengan nilai Rp2,1 juta per semester.

Sumbernya beasiswa sangat banyak. Ada dari universitas, kopertis, perbankan, Toyota Fundation, ELCA dan lembaga pemberi beasiswa di dalam dan luar negeri lainnya.

“Saya dapat beasiswa dari kopertis, Rp3,5 juta per semester,” sebut Myuki De Vega yang memiliki IPK 3,3 ini. Sedangkan Dedy Putra kebagian beasiswa dengan jumlah yang lebih besar lagi. Putra Dairi yang sudah mengemas IPK 3,65 ini mendapat beasiswa Rp5,7 juta per semester.

Bagi mahasiswa yang ingin mengajukan diri memperoleh beasiswa, berlaku beberapa syarat mutlak. Diantaranya, sudah memasuki semester 5 dengan IPK 2,75 atau lebih. Mahasiswa yang aktif di kegiatan kampus, mendapat keuntungan dengan jadi prioritas penerima beasiswa. (*)

FISIP UHN Berbenah Menuju 2015

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas HKBP Nommensen (UHN) memiliki visi menjadi fakultas yang unggul dalam bidang kebijakan dan manajemen pelayanan public pada 2015. Untuk itu, FISIP punya misi memusatkan perhatian pada penyelenggaraan jasa pendidikan bermutu dalam menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai bidang kebijakan dan manajemen pelayanan publik.

Dibuka sejak 1961, FISIP memiliki program Ilmu Administrasi Naga dan Ilmu Administrasi Negara untuk jenjang Strata-1 serta Sekretaris (D-3).
Administrasi Niaga yang terakriditasi B, fokus pada entrepreneurship untuk mengantisipasi program pemerintah menciptakan pengusaha muda hingga mencapai 5 persen dari polupasi penduduk. Saat ini dalam proses mengubah nama program studi menjadi Ilmu Administrasi Bisnis dan bergabung dengan Asosiasi Ilmu Administrasi Bisnis Indonesia (AIABI).

Administrasi Negara fokus pada kebijakan public dan keuangan daerah. Hadir untuk mengantisipasi tuntutan masyarakat atas pelayanan publik yang kian berkualitas.

Di bawah komando Drs Charles M Sianturi MSBA, fakultas ini terus melengkapi diri dengan berbagai fasilitas pendukung pengajaran. Seperti peningkatan kualitas dan kelengkapan laboratorium komputer, lab. bahasa, lab. Kebijakan, administrasi bisnis dan public, lab. Office model, audio fisual, lab. otonomi daerah dan politik, perpustakan dan sarana pendukung lainnya.
Bagi mahasiswa yang mendaftar di FISIP UHN untuk tahun ajaran 2012/2013, akan diberi potongan uang kuliah 50 persen. (*)