Home Blog Page 13599

Pembantu Lompat dari Lantai Tiga, Majikan Ogah Tanggung Pengobatan

MEDAN-Keadaan Deni Septiani pascalompat dari lantai 3 restoran Miramar yang berada di Jalan Pemuda Kecamatan Medan Kota, Sabtu (21/4) masih memprihatinkan. Kondisi kedua kakinya yang patah masih belum juga dioperasi.
Korban mengatakan kalau majikannya tidak mau bertanggungjawab untuk pengobatannya, dan sekarang ini tinggal menunggu abang kandungnya yang berada di Jawa Tengah untuk datang menjemput.

“Tadi pagi majikan ku datang, terus katanya gak usah dioperasi, dibiarin aja, kalau operasi mahal. Jadi sekarang ini tinggal nunggu abang kandung yang dari kampung, gimana lanjutannya” ujarnya.
Suster yang merawat korban mengatakan kalau kakinya tidak dioperasi maka akan bisa terjadi infeksi dan jika terus dibiarkan kemungkinan akan dilakukan amputasi.

“Kakinya harus dioperasi, kalau gak bisa infeksi, terus kalau udah gitu dibiarin lama kelamaan amputasi lah jalan keluarnya” ujar perawat yang namanya tidak mau dikorankan.

Lena, wanita etnis Tionghoa pemilik yayasan penyalur tenaga kerja yang berada di Jakarta terlihat menemani korban. Ia mengatakan kalau dirinya baru saja datang dari Jakarta setelah mendapat laporan dari majikan korban kalau anak buahnya telah melakukan pencurian dan melompat dari lantai 3.

“Saya baru saja datang dari Jakarta, nyampek tadi pagi dan langsung ke rumah majikannya, kantor polisi dan kemari. Saya sebagai penyalurnya akan berusaha membela dan mengusahakan keringanan hukumannya walaupun ia bersalah, saya berharap agar majikan mau menarik tuntutan verbalnya” ujar wanita yang memakai kaca mata ini.

Saat mendatangi rumah majikannya di Jalan Pemuda, terlihat aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Para pekerja restoran tidak mau berbicara terkait masalah ini, sementara majikannya tidak berada di tempat. (bay/smg)

Berita sebelumnya: PRT Lompat dari Lantai Tiga

Guru Daerah Dapat Tambahan Rp 250 Ribu per Bulan

JAKARTA – Kabar gembira bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). Tahun ini, pemerintah mulai memberikan Tunjangan Profesi (TP) dan Dana Tambahan Penghasilan (DTP) untuk para guru.
Kepala Biro Humas Kementerian Keuangan Yudi Pramadi mengatakan, besaran TP adalah satu kali gaji pokok Guru PNSD yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan terhitung mulai tanggal 1 Januari 2012. “Adapun untuk DTP akan diberikan sebesar Rp250 ribu per orang per bulan terhitung mulai 1 Januari 2012,” ujarnya melalui siaran pers kemarin (21/4).

Pemberian TP dan DTP tersebut diatur dalam dua Peraturan Menteri Keuangan (PMK), yaituPMK Nomor 34/PMK.07/2012 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Tunjangan Profesi
Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah Kepada Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota Tahun Anggaran 2012, serta PMK Nomor 35/PMK.07/2012 tentang Pedoman Umum dan Alokasi
Dana Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah Kepada Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota Tahun Anggaran 2012.

Menurut Yudi, TP diberikan kepada Guru PNSD yang telah memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan kuota Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2011. “Adapun DTP diberikan sebagai tambahan penghasilan bagi Guru PNSD yang belum mendapatkan TP Guru PNSD,” jelasnya.

Yudi menyebut, Kementerian Keuangan sudah mengalokasikan dana untuk TP Guru PNSD sebesar Rp30,55 triliun, sedangkan untuk DPT Guru PNSD dialokasikan dana sebesar Rp2,89 triliun. “Untuk pembayaran TP dan DTP akan dilakukan secara triwulanan (tiga bulan sekali, Red),” katanya.

Periode triwulan I, pembayaran dilakukan pada pekan terakhir Maret 2012, triwulan II pada pecan terakhir Juni 2012, triwulan III pada pecan terakhir September 2012, dan triwulan IV pada pecan terakhir November 2012. “Baik TP maupun DTP Guru PNSD pembayaran dilaksanakan sebanyak 12 bulan dalam setahun dan tidak termasuk untuk bulan ke 13,” ucapnya.

Menurut Yudi, pembayaran TP dan DTP akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah setelah menerima TP dan DTP Guru PNSD di Rekening Kas Umum Daerah secara triwulanan, yaitu triwulan I paling lambat April 2012, triwulan II paling lambat Juli 2012, triwulan III paling lambat Oktober 2012, dan triwulan IV paling lambat Desember 2012.

Yudi mengingatkan, untuk menghindari sanksi penundaan penyaluran TP dan DTP Guru PNSD tahun anggaran berikutnya, Pemda diwajibkan untuk menyerahkan Laporan Realisasi
Pembayaran TP dan DTP Guru PNSD kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan secara semesteran. “Yakni, Semester I paling lambat diserahkan minggu pertama bulan Aqustus 2012 dan untuk Semester II paling lambat minggu terakhir bulan April 2013,” ujarnya. (owi/jpnn)

Ratusan Buruh PT BMP Mogok Kerja

MEDAN DELI- Seratusan buruh pabrik PT Bintang Makmur Plasindo (BMP) mogok kerja, Sabtu (21/4) kemarin. Mereka menuntut upah bulan Maret yang belum dibayar perusahaan segera dicairkan.

Dalam aksi mogok kerja yang digelar di depan pintu gerbang pabrik di Kawasan Industri Medan (KIM) III tersebut, para buruh berstatus borongan ini juga menuntut agar pihak manejemen perusahaan mengembalikan mereka sebagai buruh harian lepas (BHL) dengan upah Rp41 ribu per harinya.

Mirna (23), salah seorang pekerja mengutarakan bahwa perusahaan tak pernah menjelaskan tentang terjadinya keterlambatan pembayaran gaji buruh. Tanggal pembayaran upah pun tak menentu, dan sering kali telat. “Pembayaran upah dipabrik ini sering kali tersendat, untuk upah bulan Maret saja sampai hari ini belum juga dibayar,” beber, Mirna.

Selain menuntut pembayaran upah kerja, para buruh yang sebagian besar perempuan itu juga meminta kepada manejemen perusahaan untuk mengembalikan status mereka sebagai BHL. Hal ini dikarenakan upah sebagai pekerja borongan yang dibayar perusahaan dinilai terlalu kecil.

“Dulu kami buruh di sini sebagai pekerja harian lepas dengan upah Rp41 ribu per hari, tapi sejak beberapa bulan ini perusahaan membayar kami dengan sistem borongan, setiap produksi goni yang kami kemas ke dalam satu goni pelastik hanya dibayar Rp23 per goninya,” ungkapnya.

Sejak diterapkannya sistem borong oleh perusahaan, para buruh yang tadinya memperoleh upah lumayan dalam setiap harinya, namun kini per harinya hanya mendapat bayaran Rp10 hinga 15 ribu per harinya.

“Kalau dalam sehari kami dapat membungkus 500 goni saja, baru berapalah bayaran yang kami dapat jika dikalikan per goninya Rp23. Jadi sudah seperti sapi perahan kami dibuat perusahaan, itupun upah sering terlambat dibayar,” beber dia.
Dalam aksi mogok kerja di hari kartini itu, para buruh perempuan ini juga mengancam akan terus melakukan aksinya sampai menejemen perusahaan produsen goni dimaksud mengambulkan semua tuntutan mereka.
“Kami akan tetap mogok kerja apabila perusahaan tak mengabulkan tuntutan kami, Karena pembayaran dengan sistem borongan jelas tak sesuai,” ucapnya.(mag-17)

Sudah 69 Imigran Afghanistan Ditangkap

Polisi Kejar Awak Kapal yang Diduga WNI

MALANG – Jajaran Polres Malang terus memburu imigran gelap dari Afghanistan yang terdampar di Pantai Wonogoro, Gedangan, Kabupaten Malang, Jatim, Jumat lalu (20/4). Setelah berhasil menangkap 43 orang, kemarin polisi kembali mengamankan 26 imigran.

Dengan demikian, total imigran yang sudah diamankan 69 orang. Setelah diperiksa di Mapolres Malang, puluhan imigran itu dilimpahkan ke Kantor Imigrasi Kelas I Malang.

Radar Malang (Sumut Pos Group) melaporkan, penangkapan 26 imigran itu tak lepas dari bantuan warga. Saat itu para imigran berusaha melintasi perkampungan warga dengan berjalan kaki. Nah, ada warga yang memergoki dan langsung mengamankan mereka. “Saat kami amankan, imigran itu sudah di rumah warga,” kata Kapolsek Bantur AKP Azwandi.

Sedangkan penangkapan sebelumnya “yang berhasil mengamankan 43 imigran” dilakukan di lokasi berbeda. Diduga lantaran mesin kapal mengalami gangguan, para imigran itu menepikan kapal di Pantai Wonogoro. Mereka lantas melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sesampai di Desa Bantur, para imigran itu ditangkap polisi. Mereka didata di Mapolres Malang, lalu dilimpahkan ke Kantor Imigrasi Kelas I Malang. “Sempat diidentifikasi. Diambil sidik jari,” tutur Azwandi.

Kapolres Malang AKBP Rinto Djatmono mengatakan bahwa pihaknya masih mengejar sisa imigran yang belum tertangkap. Rinto belum berani memastikan jumlah imigran yang menumpang kapal. “Masih belum tahu. Informasinya, ada 83 penumpang,” katanya. “Kami masih melakukan pencarian, termasuk awak kapal,” tambah Rinto. Anak buah kapal (ABK) yang sudah ditangkap adalah Titus Boach, 32, warga Namosain, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sementara itu, Kasatpolair Polres Malang Iptu Slamet Prayitno mengatakan bahwa pihaknya melakukan penyisiran di kawasan Pantai Sendangbiru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Penyisiran itu dilakukan untuk mengantisipasi sisa imigran yang kabur ke arah timur.

Selain Sumbermanjing Wetan, kawasan yang diwaspadai adalah Kecamatan Gedangan dan Bantur. Dia menduga, para imigran tersebut masih berada di kawasan Bantur. Karena itu, Prayitno mengimbau warga yang mengetahui imigran tersebut segera melapor kepada polisi.

Di antara para imigran yang ditangkap, ada yang berasal dari satu keluarga. Yakni, pasangan Khaliqdad dan Sharifah berserta empat anak mereka. Yakni; Nasrin, 9; Reza, 7; Asraf, 6; dan Sujad, 3. Khaliqdad membawa keluarganya keluar dari Afghanistan sejak tujuh bulan lalu.

Keluarga itu meninggalkan negerinya karena menghindari konflik bersenjata yang tak kunjung berakhir. “Saya keluar Afghanistan karena anak-anak tidak bisa bersekolah. Setiap hari kami tidak tenang dan merasa menunggu mati saja,” kata Khaliqdad.

Berbekal uang USD 20 ribu (sekitar Rp 180 juta), Khaliqdad berangkat dari Afghanistan menuju Pakistan. Selanjutnya, perjalanan mereka diteruskan dengan menggunakan pesawat ke Thailand. Dari situlah Khaliqdad yang membawa dokumen resmi itu melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Untuk menerobos Indonesia, mereka menggunakan kapal cepat yang menuju Batam. “Saya lalu ditempatkan di Cisarua, Bogor. Di situlah saya belajar bahasa Indonesia,” ungkapnya.
Dengan membayar USD 5.000 (sekitar Rp 45 juta), Khaliqdad membawa keluarganya ikut rombongan menuju Australia. Dari Cisarua mereka diangkut minibus menuju kawasan pantai di Jakarta. Lantas, dari sana mereka diangkut perahu kecil ke kapal yang lebih besar dengan tujuan Australia.

Selama dua hari perjalanan, mereka aman dan tidak ada masalah. Hingga suatu hari, mesin kapal mulai rusak dan tidak bisa dinyalakan lagi. “Kami di kapal selama empat hari. Dua hari pertama mesin nyala dan dua hari berikutnya mesin kapal mati,” kata Khaliqdad. (dan/bb/jpnn)

Dahlan Iskan Tergoda Rumah Murah Kemenpera

Menteri BUMN Dahlan Iskan memuji program rumah murah yang dijalankan Kementerian Perumahan Rakyat. Dahlan Iskan menyatakan siap melakukan sinkronisasi dengan program yang ada di BUMN untuk membantu pengadaan perumahan di Indonesia.

“Kita punya beberapa program untuk perumahan seperti yang ada di PLN. Kami juga siap memberikan bantuan melalui kerja sama PKBL untuk pengentasan kemiskinan khususnya berkaitan dengan rumah murah untuk masyarakat,” kata Dahlan Iskan didampingi Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz kepada sejumlah wartawan saat melakukan kunjungan ke contoh rumah murah di Kantor Kemenpera, Kamis (19/4).

Mantan CEO Jawa Pos Grup ini mengaku kedatangannya ini merupakan kali pertama ke Kemenpera. Dirinya sengaja datang berkunjung ke Kemenpera karena tergoda oleh promosi Menpera atas program rumah murah tersebut. Apalagi rumah murah tipe 46 dan 36 yang dibangun harganya cukup terjangkau yakni hanya Rp25 juta saja.

“Saya ke sini karena tergoda oleh promosinya Bapak Djan Faridz karena ada rumah tipe 45 yang dibangun di halaman parkir kantornya. Selain itu juga ingin tahu rumah tipe 36 yang dibangun dengan dana Rp 25 juta per rumah,” terangnya.
Saat melihat-lihat rumah contoh tersebut, Dahlan Iskan juga sempat menanyakan konstruksi bangunan serta kekuatan dinding rumah murah tersebut.

Dia bahkan sempat memukul-mukul bagian dinding luar rumah serta melihat isi rumah contoh. Apalagi di dalam rumah contoh tersebut juga telah terpasang lampu penerangan hemat energi serta solar cell di bagian atap rumah.
“Rumah murah ini sangat sederhana dan baik sekali untuk rumah masyarakat Indonesia yang berpenghasilan rendah. Bangunannya juga kokoh kok, dindingnya juga keras,” tambahnya.

Dia juga menyentil tentang program pembangunan rumah susun di bantaran Kali Ciliwung. “Kami akan bicara banyak lagi untuk mengkombinasikan kemampuan BUMN dan Kemenpera,” tandasnya. (esy/jpnn)

Beli Rumah, Buruh Disubsidi Rp2 Juta

JAKARTA- Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) tahun ini mulai memberikan subsidi perumahan bagi para pekerja/ buruh yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bentuk subsidi tersebut akan diberikan dalam bentuk subsidi uang muka perumahan, subsidi koperasi buruh dan subsidi iuran jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) di luar hubungan kerja.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengatakan, subsidi tersebut segera disalurkan kepada pekerja dan telah disetujui alokasi anggaran pemberian subsidi itu oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
“Pada tahun ini, pemerintah menyiapkan anggaran pemberian subsidi bagi pekerja/buruh tersebut dan sudah disetujui DPR,” ungkap Muhaimin di Gedung Kemenakertrans, Jakarta, Kamis (19/4).

Muhaimin menjelaskan, program subsidi uang muka perumahan bagi buruh sebetulnya sudah dimulai sejak 2008, sekaligus mempercepat pembangunan rumah-rumah pekerja di sekitar kawasan industri.
Tahun ini, katanya, Kemnakertrans mulai mengintensifkan lagi program subsidi uang muka perumahan itu. “Saat ini pemerintah terus melakukan verifikasi data pekerja penerima subsidi tersebut,” imbuhnya.
Disebutkan, subsidi uang muka perumahan akan diberikan kepada 1.500 pekerja, masing-masing sebesar Rp 2 juta. Uang muka tersebut hanya diberikan kepada pekerja yang ingin memiliki rumah. Sedangkan untuk subsidi koperasi, pemerintah menyediakan anggaran bagi 250 koperasi khusus pekerja sebesar Rp 20 juta per koperasi.

Adapun subsidi iuran Jamsostek di luar hubungan kerja, untuk mengajak pekerja informal agar menjadi peserta Jamsostek. Nantinya, akan disiapkan anggaran bagi 8.000 orang yang akan mendapatkan bantuan iuran Rp 80.000 selama delapan bulan.

Pemberian subsidi ini akan dikombinasikan dengan subsidi program yang telah diberikan selama ini.

“Pemberian subsidi kepada buruh diharapkan dapat membantu kehidupan para pekeja dan buruh dan dapat langsung dirasakan manfaatnya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin tersebut.
Ketua Umum DPP PKB ini menambahkan, pemerintah juga akan mengajak perusahaan-perusahaan swasta untuk turut membantu pembangunan perumahan pekerja/buruh di sekitar kawasan industri.
Pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) maupun rumah susun sederhana milik (rusunami) akan diperbanyak di basis-basis indutri seperti di Batam, Jakarta, Surabaya, Medan, Bekasi dan Tangerang.
“Untuk jangka panjang pemerintah telah menyusun langkah-langkah strategis untuk menjamin standar kehidupan yang layak bagi pekerja dan buruh di sekitar kawasan industri,” katanya. (cha/jpnn)

Tak Ada Bunga Melati di Pajak Melati

Ramadhan Batubara

Kali ini soal nama. Ada banyak nama tempat di Indonesia ini yang tidak sesuai dengan namanya. Di Medan, nama Pajak Melati menggugah penasaran saya. Maka, kemarin saya datangi tempat itu.

Pukul setengah tiga sore. Saya pacu Lena membelah jalanan kota. Saya sangat percaya diri dengan kondisi si Lena. Pasalnya, sepeda motor keluaran tahun 2004 itu sehari sebelumnya telah saya servis.

Dari Jalan Panglima Denai (tempat tinggal saya) hingga Jalan Brigjen Katamso perjalanan sangat lancar. Begitu juga ketika berbelok ke Jalan Avrost. Bahkan, saya sempat membeli lima potong tahu yang ramai dijual di seputaran jembatan yang ada di Jalan itu.

Tapi, begitu melewati pos penjagaan dan berbelok ke kiri menuju Jalan SMA 2, si Lena tiba-tiba merajuk. Dia mogok. Sial. Saya cek bensin masih penuh. Saya lihat busi, tak bermasalah. Ampun, mendorong pun jadi langkah terakhir.

Sekira 500 meter dari SMA 2, ada bengkel. Saya mampir di sana dan berharap Lena dapat disembuhkan. Pajak Melati tujuan saya masih jauh. Ah…tukang bengkelnya kurang menjanjikan. Dia tak mendengar keluhan saya, dia malah sibuk membongkar Lena hingga bugil. Mau jam berapa lagi tiba di Pajak Melati!

Dua puluh ribu ongkos obati si Lena. Fiuh. Kata sang tukang bengkel, tenggorokan Lena agak sakit, jadi kurang lancar dia minum bensin. Sudahlah.

Berangkat. Tiba di Pajak Melati pukul lima. Sudah mulai sedikit pengunjungnya. Namun, para penjaja barang-barang bekas dari luar negeri itu tetap saja semangat. Saya masuk gang yang penuh dengan baju. Terus masuk ke dalam dan saya dapati berbagai barang yang menggoda. Bayangkan saja, di atas baju yang ditumpuk, terpampang harganya: sepuluh ribu tiga.

Saya masuk ke subgang; ada banyak gang di gang yang saya masuki tadi. Dan, saya memilih duduk di sebuah lapak yang telah tutup. Di sinilah saya menulis lantun ini. Menarik. Ada suasana yang menyenangkan; di samping saya ada dua bapak main catur. Hahahah… Mereka kurang fokus, langkah mereka beberapa kali terhenti karena ada pembeli.

Begitulah, duduk di jantung Pajak Melati, saya kembali berpikir soal nama tempat ini. Pasalnya, sejak tadi saya tak melihat ada yang menjual bunga melati. Pajak ini — bahasa Indonesianya, pasar — hanya menjual barang bekas impor. Berbagai barang terpampang, semuanya dijual dengan harga miring. Suasananya mirip Pasar Ular di Jakarta, bedanya di sana cenderung menjual barang elektronika dan parfum impor. Di sini, ya itu tadi, baju dan sepatu.

Persis dengan Pasar Ular, beberapa kali ke sana, saya memang tak menemukan pedagang yang menjual ular. Jadi, saya pun paham kalau di sini tak ada yang jual melati.

Soal nama yang berbeda dengan apa yang dijual memang tidak asing lagi. Selain Pajak Melati, di Medan juga ada Pajak Ikan yang sama sekali tidak menjual ikan: suatu saat saya akan ke sana.

Nah, ada juga nama tempat — yang menggunakan nama ‘pasar’ — yang cenderung sesuai dengan barang yang dijual. Contohnya, di Solo. Di sana ada Pasar Kembang dan yang dijual memang kembang. Tidak aneh bukan? Tapi, selang beberapa puluh kilometer ke arah barat, ada juga Pasar Kembang tepatnya di Jogja. Di kota itu, Pasar Kembang juga menjual kembang, tapi kembang yang dimaksud adalah ‘kembang’. Hehehehe, perempuan maksudnya. Ya, Pasar Kembang di Jogja memang dikenal dengan wisata seksnya.

Tapi, itulah nama pasar atau pajak yang menggoda pikiran saya. Pajak Melati adalah ruang yang menarik di kota ini. Kemunculannya sebagai tempat barang bekas impor memang terhitung baru. Sebelumnya, Jalan Mongonsidi adalah raja barang-barang itu. Bahkan, ruang jual di sana begitu indentik dengan barang bekas. Hingga, barang bekas impor pun dinamakan dengan Monza yang merupakan akronim dari Mongonsidi Plaza.

Nah, kehadiran Pajak Melati, secara langsung atau tidak telah menggeser keberadaan ‘plaza’ di Jalan Mongonsidi. Di jalan itu, kini hanya tinggal beberapa kios. Dan barang yang dijual pun semakin terbatas, hanya tas dan ambal.

Tapi sudahlah, kunjungan saya ke Pajak Melati memang harus berakhir. Ada batasan waktu. Kalau saja Lena tak mengulah, mungkin saya bisa lebih lama ‘mengobrak-abrik’ pajak itu. Saya pulang. Ada nasi goreng dengan andaliman yang menunggu saya di Kafe Tradisi di Jalan Setia Budi. Ada yang mau ikut? (*)

Curang, SSB PTP Wil-I Batal Juara DNC

MEDAN- SSB PTP Wil-I gagal berlaga di Jakarta dalam ajang kualifikasi Danone Nation Cup (DNC) 2012 tingkat nasional. Pasalnya, panitia DNC 2012 mendiskualifikasi SSB PTP Wil-I setelah menerima pengakuan dari pengurus SSB tersebut terkait pemalsuan dokumen yang dilakukan orangtua siswa pada rapat mediasi antara pengurus SSB PTP Wil-I dengan pengurus SSB Mabar Putra di Sekretariat PSSI Sumut, Sabtu (21/4).

“Kami tetap menghargai niat baik pengurus SSB PTP Wil-I yang mengakui kesalahan itu, tapi kami tetap mendiskualidfikasinya,” kata Suryadi, ketua panitia pelaksana kepada wartawan usai rapat. Adapun dokumen siswa SSB PTP Wil-I yang dipalsukan adalah milik Benny Wahyudi, Waizul Fahri Purba dan M Prayoga Tarigan.

Suryadi juga menambahkan, untuk kelanjutannya panitia akan menyerahkannya ke Pengurus PSSI Sumut. “Kita akan menyerahkan berita acara ini kepada PSSI Sumut, dan Panitia Pusat DNC terkait siapa yang akan menggantikan SSB PTP Wil-I mewakili Sumut ke Jakarta,” katanya.

Ruslan Manajer SSB Mabar Putra mengatakan, jerih payah mereka dalam mengumpulkan bukti-bukti pemalsuan dokumen itu adalah untuk mewujudkan kebenaran. “Hal ini kami lakukan bukan semata-mata ambisi kami untuk ikut ke tingkat nasional, tapi untuk membuktikan adanya kecurangan ini,” katanya.

Ahmad Harris Siregar Manajer SSB PTP Wil-I meminta maaf kepada semua pihak yang dirugikan. “Tapi kami mohon kepada PSSI Sumut, jangan gara-gara tiga orang anak yang berbuat, SSB yang kena imbasnya. Karena, tidak mudah untuk mendirikan sebuah SSB,” katanya.(mag-10)

RSU Pirngadi Siap Digugat

Terkait Meninggalnya Bayi 7 Bulan

MEDAN- Terkait dengan meninggalnya Anastasya F Situmeang, bayi perempuan berusai tujuh bulan, anak pasangan Mualtua Situmeang (33) dan Rini Oktaviani Sinaga (25), warga Jalan Pelajar Ujung Gang Sederhana, Medan, pihak keluarga rencananya kembali mendatangi RSU Pirngadi Medan.

“Lusa atau Selasa (24/4) kami akan mendatangi RSU Pirngadi Medan untuk mempertanyakan kasus yang menimpa anak kami, Anastasya alias Tasya ini,” kata Mualtua Situmeang didampingi Rizal Sihombing SH, pengacara keluarga korban dari Kantor Hukum Hombing Rizal & Rekan serta Pengurus Marga Situmeang se-Sumut, Sugianto Situmeang dan Pengurus Marga Situmeang se-Kota Medan, Israel Situmeang, Sabtu (21/4).
Rizal Sihombing menambahkan, pihaknya tak terima dengan sikap dari manajemen rumah sakit yang meninggalkan ruangan rapat begitu saja.

“Ini jelas-jelas penghinaan karena mereka meninggalkan ruang rapat begitu saja. Kalau tak ketemu jalan keluar, seharusnya rumah sakit jangan meninggalkan ruangan,” sebutnya.
Dia berpendapat, sepertinya ada unsur sengaja dan kelalaian yang memang terjadi. Sehingga, kasus ini akan tetap dibawa ke ranah hukum.

Hal senada diucapkan Sugianto Situmeang. Sugianto mengaku, itikad baik dari rumah sakit tak ada sama sekali.

“Rumah sakit dinilai sesuka hatinya dan sudah jelas pihak Marga Situmeang dan Sinaga datang ke rumah sakit, malah mereka meninggalkan ruangan begitu saja. Kalau pun tak ada ketemu jalan penyelesaian, setidaknya mereka jangan pergi begitu saja,” sebutnya.

Ditambahkannya, mereka akan datang Selasa lusa dengan jumlah yang lebih banyak lagi. “Kami akan datang kembali Selasa lusa mempertanyakan ini kepada pihak rumah sakit. Jika tetap mereka tak ada itikad baik dan permintaan maaf, kita akan tetap membawa kasus ini ke ranah hukum,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak RSU Pirngadi Medan menyerahkan sepenuhnya apa yang dilakukan pengacaranya keluarga Situmeang, Jumat (20/4) semalam. Demikian diutarakan Kasubbag Hukum & Humas RSU Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin, Sabtu (21/4).

Dia menerangkan, untuk lebih pastinya, silahkan tanyakan langsung kepada pengacara keluarga bayi tersebut. “Untuk lebih pastinya, silahkan tanya langsung saja kepada pengacaranya karena semua sudah saya jelaskan kepada pengacaranya,” ujarnya.

Sementara itu, Rizal Sihombing SH, pengacara dari pihak keluarga dari Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PERADI, saat dihubungi via telepon selulernya mengatakan, pihak RSU Dr Pirngadi Medan memang sudah ada menyampaikan kepada dirinya bahwa mereka tak mau bertemu kembali dengan keluarga Tasya. “Pihak rumah sakit yang diwakili oleh Kasubbag Hukum dan Humas mengatakan, mereka tak mau ketemu lagi. Tak hanya itu, mereka juga siap jika ini dibawa ke ranah hukum,” jelasnya.(jon)

Berlusconi Gelar Pesta Seks Lagi

MILAN – Kebanyakan para politisi mulai kehilangan pamor gara-gara skandal seks. Namun, tidak bagi mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Bos AC Milan ini mengatakan, dirinya akan menggelar lagi “Pesta Bunga-Bunga” yang sering disebut media sebagai pesta seks.

Pria berusia 75 tahun itu melontarkan komentar yang cukup mengejutkan di pengadilannya yang digelar di Kota Milan, Italia.
Berlusconi sebelumnya menepis tuduhan dari seorang saksi mata yang mengatakan, “Pesta Bunga-Bunga” yang digelar di villa Berlusconi adalah pesta seks. Mantan Perdana Menteri itu mengatakan dengan lantang, dirinya akan menggelar lagi “Pesta Bunga-Bunga”.

“Saya akan menggelar pesta itu untuk yang kesekian kalinya,” ujar Berlusconi, seperti dikutip Daily Mail, Sabtu (21/4).

Seorang model bernama Imane Fadil menceritakan kesaksiannya saat dirinya datang ke pesta yang digelar oleh Berlusconi. Fadil mengklaim, banyak penari telanjang di pesta yang digelar di ruang bawah wanah vila milik Berlusconi itu.
Fadil menjelaskan secara detil, aksi perempuan yang mengenakan seragam tim sepak bola AC Milan melucuti seluruh pakaiannya, hingga mereka hanya mengenakan pakaian dalamnya.
Dalam prosesi pengadilan, Berlusconi juga diserang dengan pertanyaan mengenai uang yang ditransfer olehnya kepada para perempuan yang hadir di pestanya.

“Ya, saya mengurus perempuan-perempuan yang hidupnya sudah dirusak karena dakwaan. Satu-satunya kesalahan mereka adalah menerima undangan dan datang ke rumah saya. Beberapa di antara mereka kehilangan kekasihnya,” imbuh Berlusconi.

Berlusconi mengaku, perempuan-perempuan itu menari-nari di ruang bawah tanah rumahnya karena tempat itu merupakan diskotik milik Berlusconi. (net)