Home Blog Page 13635

Oknum TNI AL dari Jawa Hajar Warga Tembung

MEDAN- Adi Sofyan (27) terkapar di depan meja piket Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Percut Seituan setelah dihajar seorang oknum TNI AL berinsial RM, Sabtu (14/4) sekitar pukul 15.00 WIB. Warga Pasar VII, Tembung itu terpaksa dirawat di Rumah Sakit Marthondi.

Informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, peristiwa tersebut terjadi pukul 12.00 WIB. Adi yang mengendarai sepeda motor nyaris bersenggolan dengan mobil Avanza BK 1427 KB saat melintas di Jalan Sempurna Pasar VII, Desa tembung, Kecamatan Percut Seituan. Mobil itu dikemudikan seorang oknum TNI AL berinsial R, terus melaju.

Sesampainya di Pasar VII dekat stasiun kereta api, tiba-tiba bagian belakang mobil tersebut dilempar batu. Pengendara mobil berhenti dan oknum TNI AL di dalam mobil keluar dari mobil. Oknum TNI AL dan Sofyan yang diduga melempar mobil terlibat perdebatan sengit dan beberapa temannya. Karena tak ada penyelesaian, Adi Sofyan sempat bergumul dengan oknum TNI AL tersebut. Saat itulah, kakak Adi Sofyan memukul kepala oknum TNI AL tersebut hingga berdarah.

Perkelahian membuat suasana di simpang Jodoh Pasar VII Tembung, sempat ramai dan arus lalulintas jadi macat. Selanjutnya, Adi Sofyan melaporkan kasus tersebut ke Polsek Percut Seituan, ditemani orangtua dan kakaknya.

Keluar dari ruang pengaduan, sekitar 10 oknum TNI lainnya datang ke Polsek Percut Seituan dan menanyai Andi. Tiba-tiba, seorang dari 10 oknum TNI lainya itu meninju wajah Adi hingga terkapar ruang penjagaan SPK Polsek Percut Seituan. Beberapa petugas SPK yang melihat Adi Sofyan terkapar spontan melerai keributan tetapi oknum TNI lainnya tersebut malah menantang petugas.  “Aku tak terima adikku dipukul begitu saja. Jangan mentang-mentang mereka TNI seenaknya saja memukul adikku,” sebut kakak Adi Sofyan.

Situasi akhirnya meredakan. Oknum TNI AL berinisial R juga membuat laporan pengaduan ke Polsek Percut Seituan. Kedatangan oknum TNI AL yang bertugas di satu kapal perang di pelabuhan Belawan ini, seyogiayanya mengunjungi seorang temannya di kawasan Pasar VII Tembung untuk bersilaturahim dan membeli oleh-oleh di Pusat Pasar Medan untuk di bawa ke Pulau Jawa. (gus)

Kecewa, AS Batalkan Bantuan Pangan ke Korut

WASHINGTON-Pemerintah Amerika Serikat pada Jumat (13/4) lalu mengumumkan pembatalan pemberian bantuan pangan untuk Korea Utara (Korut). Keputusan AS diambil setelah  setelah Korut bersikeras meluncurkan roket yang dianggap banyak kalangan sebagai upaya uji-coba senjata terselubung.
Dilaporkan oleh AFP Sabtu (14/4), pemerintahan Barack Obama mengatakan bahwa mereka tidak mungkin membantu Korut mengingat negara tersebut telah melanggar kepercayaan yang diberikan oleh AS. Sebelumnya, AS telah menunda pengiriman bantuan 240,00 ton bahan pangan sesaat setelah berita tentang rencana peluncuran roket Korut mengemuka.

“Upaya mereka meluncurkan rudal jelas-jelas menunjukkan Korut sama sekali tidak dapat memegang komitmen,” ungkap Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Ben Rhodes. “Untuk itu kami tidak akan melaksanakan kewajiban kami untuk memberi bantuan makanan sebagaimana tertera dalam perjanjian dengan Korut,” ucapnya.

Dalam kesepakatan yang dibuat tanggal 29 Februari lalu, AS setuju memberi bantuan pangan ke Korut. Kompensasinya,  negeri komunis itu bersedia menghentikan uji coba nuklir dan peluncuran rudal.(afp/ara/jpnn)

India Kecam Penahanan Shah Rukh Khan

DELHI-Kementerian luar negeri India melayangkan protes kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait penahanan aktor Shah Rukh Khan oleh pihak imigrasi AS. Terlebih kini, penahanan yang berlangsung di White Plains Airport, New York ini memicu reaksi di masyarakat India.
“Kebijakan penahanan dan permohonan maaf  AS tidak boleh berlanjut,” kata Menteri Luar Negeri India SM Krishna seperti dikutip BBC.
Menurut Krishna, permohonan maaf seperti itu merupakan reaksi umum yang selalu diungkapkan Paman Sam, atas peristiwa serupa yang terus menerus dilakukan AS  terhadap masyarakat India. Karena itulah ia meminta duta besar India untuk Amerika Nirupama Rao melayangkan protes resmi kepada Washington.

Seperti diketahui  Khan, yang baru saja tiba dengan pesawat pribadi, menjadi bulan-bulanan pihak imigrasi Kamis (12/3) waktu setempat. Saat itu ia baru saja tiba untuk menghadiri sebuah acara di Yale University. Sekitar 90 menit ditahan, petugas melepaskannya setelah pihak Universitas Yale turun tangan.
Terkait hal ini juru bicara Kedutaan Amerika di New Delhi, Peter Vrooman, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan itu. .(zul/jpnn)

Kunjungi Indonesia, Siap Teken Kerjasama

Selandia Baru Susul Inggris dan Kazakhstan

JAKARTA-Indonesia kedatangan tamu negara dalam waktu yang relatif berdekatan. Setelah kunjungan Perdana Menteri Inggris David Cameron (11/4) dan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev (13/4), selanjutnya bakal datang Perdana Menteri Selandia Baru John Key.

Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah mengungkapkan rencana kunjungan tamu negara ketiga itu dalam rentang waktu satu pekan itu. “Selanjutnya yang datang perdana menteri Selandia Baru,” kata Faizasyah.

PM Key direncanakan melakukan kunjungan ke Indonesia pada 15 hingga 17 April. Salah satu agendanya adalah melakukan kunjungan kenegaraan yang disambung dengan pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka.

Dalam keterangannya, Dubes RI untuk Selandia Baru Agus Sriyono mengatakan, kedua negara akan menjalin serangkaian kerjasama. Misalnya kerjasama bidang perdagangan. Agus menyebut, kerjasama itu akan membawa manfaat, terutama penghapusan bea masuk ekspor produk tekstil dan apparel yang saat ini mencapai 7,75 hingga 19 persen.

Saat ini, hubungan perdagangan Indonesia dan Selandia Baru terus mengalami peningkatan. Selama periode 2007-2011 nilainya mencapai lebih dari 8,5 miliar dollar New Zealand (1 NZD setara dengan Rp7.750). rata-rata peningkatan setiap tahun mencapai 15 persen.

Sementara nilai investasi Selandia Baru di Indonesia mencapai USD 13,8 juta. Angka itu antara lain dalam bidang peternakan, konstruksi, perdagangan, industri tekstil, dan industri alat angkut.

Agus mengatakan, kedua negara akan meningkatka kerjasama di bidang energi terbarukan, khususnya geotermal. Di sisi Indonesia, cadangan panas bumi yang melimpah menjadi modalnya. “Selandia Baru memiliki keunggulan teknologi dan pemanfaatannya,” katanya.

Sebelumnya, Indonesia sudah lebih meneken sejumlah kesepakatan dengan Inggris dan Kazakhstan saat melakukan kunjungan kenegaraan. Dengan Kazakhstan, Indonesia mengimpor gandum dan akan mengekspor karet untuk joint venture dalam membuat pabrik ban. Volume perdagangan juga akan ditingkatkan hingga mencapai Rp910 miliar.

Sementara dengan Inggris, Indonesia juga sepakat untuk meningkatkan kemitraan. Saat PM Cameron datang, juga diteken pembelian sebelas pesawat Airbus oleh Garuda Indonesia. (fal/jpnn)

Pulau Larangan

Adi Zamzam

Langit penuh jingga ketika Mbak Runi melangkah riang ke pantai. Cakrawala malah sudah mulai berjelaga. Langkah Mbak Runi yang terus ke utara menumbuhkan benih kekhawatiran dalam benakku.

“Katakan saja kalau aku ke rumah Rohmah!” jawabnya ketika kutanya hendak ke mana.
“Nanti Bapak marah!” teriakku, yakin bahwa ia membohongiku.

“Aku ke rumah Rohmah!” suaranya hampir tertelan debur ombak.
Entah mengapa aku merasa ombak terlihat tak seperti biasanya. Aku seperti mendengar riuh suara Bapak dan Emak di debur ombak. Bapak tengah mencari utangan ke beberapa juragan ikan. Sedang Emak mungkin juga nanti malam baru pulang. Ikan sulit didapat kala musim angin barat tiba. Hujan selalu membuat Emak dan Bapak sibuk sehingga jarang di rumah.

Kekhawatiranku membesar ketika di ujung mataku Mbak Runi terlihat bercakap riang dengan Dayat—seorang pemuda yang selalu berbau jelek di mulut Bapak.  Seorang pemuda yang baru saja menamatkan pendidikannya di kota namun kini lontang-lantung setelah pulang ke desa. Kulihat mereka naik ke perahu itu.

“Nanti Bapak marah!!” teriakku sekuat tenaga.
Mbak Runi hanya memberi senyum. Sementara itu Dayat telah mengayuh perahu menuju lautan warna emas. Mereka menuju utara, arah kekhawatiranku berasal. Cerita-cerita keangkeran Pulau Larangan kembali terngiang.
***

Pulau Larangan adalah pulau kecil tak berpenghuni tak jauh di muka perkampungan kami. Cuma butuh satu setengah jam berperahu untuk ke sana. Ada mitos-mitos mengerikan bersemayam di pulau itu, yang selama ini amat diyakini oleh semua orang di perkampungan nelayan sepanjang pantai kami.
Sejak aku masih SD, Bapak selalu mengulang cerita bahwa pulau itu amat terlarang bagi muda-mudi untuk menyinggahinya. Pulau itu hanya boleh disinggahi oleh orang-orang yang sudah bersuami ataupun beristri.
“Memangnya kenapa, Pak?” Mbak Runilah yang paling penasaran. Meski  perempuan, ia paling suka bertualang. Perangai bengalnya tak kalah dengan anak lelaki.

“Siapa yang melanggarnya, akan terkena kutukan.”
“Seperti apa kutukannya, Pak?” cecar Mbak Runi.
“Pokoknya jangan sekali-kali ke pulau itu.”

Tak ada yang tahu persis tentang kutukan seperti apa yang bakal didapat. Tapi kurasa Mbak Runi pun pernah mendengar juga dari orang-orang bahwa si pelanggar pantangan itu hidupnya akan dipenuhi kesedihan dan kesulitan. Bencana demi bencana akan menghampirinya.
“Bapak bohong,” ujar Mbak Runi suatu ketika.
“Bohong apa?” keningku berkerut.

“Tentang kutukan itu.”
Aku terpaku. Kulihat ada binar kemenangan di kedua matanya.
“Aku sudah pernah ke sana. Pemandangannya amat menakjubkan. Semuanya masih belum terjamah. Benar-benar mirip surga,” ceritanya, berbisik.
“Mbak sendirian ke sana?”

Menggeleng, “Dengan Dayat.”
Ya, kupikir siapa dia yang berani melanggar larangan turun-temurun itu? Orang-orang sini lebih senang mencari pekerjaan sampingan daripada melakukan hal yang tidak-tidak. Kecuali Dayat, yang terkenal berani dan sering melakukan hal-hal yang tak pernah dilakukan kebanyakan pemuda sini.
“Mau ikut jika aku ke sana lagi?”
Aku buru-buru menggeleng.
“Takut kena kutukan?” bersungut-sungut menahan tawa.
Aku hanya diam.

“Jangan bilang siapa-siapa,” ujarnya kemudian.

Ya, tentu saja aku akan terus diam. Aku menunggu kebenaran cerita itu—kutukan apakah yang akan datang menimpa Mbak Runi?
Sebenarnya ingin kuhilangkan ketakutan tak beralasan itu. Kenapa Mbak Runi justru menceritakan kenyataan berbeda tentang keadaan di sana?
“Kamu masih tak mau ikut?” sepertinya Mbak Runi telah ketagihan. Dua kali dalam seminggu dia selalu diam-diam menyelinap ke sana. Tentu saja saat Bapak Emak tak di rumah.

Aku menggeleng. Aku benar-benar masih menunggu hal buruk apakah yang akan terjadi dengan kakak sulungku. Mengapa semua orang begitu memercayai sebuah pantangan jika hal itu tak terbukti kebenarannya?
“Kamu cuma akan jadi kembang lapuk kalau terus berada dalam rumah.”

Lima bulan silam aku memang pernah marah dengan Bapak lantaran beliau tak mendukung keinginanku melamar bangku SMA. Kini jadilah aku seorang gadis rumahan yang kesehariannya harus mati-matian melawan bosan membelah ikan-ikan untuk diolah menjadi ikan asin, atau kadang juga membuat terasi.
***
“Ke mana?!” amarah Bapak memuncak, karena mulutku yang masih juga merapat. Emak baru saja pulang dari rumah Rohmah, membuktikan kebohonganku.

“Apa aku harus memukulmu agar kau mau bicara?!” tangan kiri Bapak terangkat.
“Pu… Pulau Larangan, Pak,” membuat desisan kecil itu terpaksa keluar.
Kulihat dada Bapak semakin naik turun mengais nafas.
“Dengan pemuda tengik itu?!”
Aku mengangguk kaku.

Langsung saja Bapak membalikkan tubuh, “Kamu harus ikut aku mencari anak keparatmu itu,” menoleh Emak.
Sepertinya malam ini Bapak takkan pergi melaut. Ada api yang akan segera membesar.
***

Hingga pagi mengantar burung-burung keluar sarang, perahu Dayat belum juga nampak menepikan Mbak Runiku. Bapak semakin sibuk menanyakan keberadaan Mbak Runi setelah semalam tak menemukan jejak siapapun di Pulau Larangan.

“Ya, semalam aku melihat perahu itu. Tapi cuma kulihat seorang saja di atasnya. Ke Pulau Larangan,” ujar Pak Rozar
Bapak menolehku dengan binar kemarahan di mata. Ingin kuutarakan bahwa Bapak seharusnya tenang-tenang saja dengan keadaan Mbak Runi. Toh Mbak Runi sebenarnya telah lama diam-diam melanggar larangan itu dan tak terjadi apa-apa.

“Tapi sepertinya orang di atas perahu itu tak berambut panjang. Aku tak yakin itu anakmu.”
“Tapi kau yakin bahwa itu perahu berandal tengik kan?”

“Iya. Aku tak mungkin salah. Bapaknya membeli perahu itu dariku,” Pak Rozar geleng-geleng kepala.
“Oh iya, aku melihat bayangan orang berambut panjang di atas perahu itu,” ujar Pak Rikin, menambahi keterangan.
“Sebaiknya kau nikahkan saja setelah mereka pulang,” tambah Pak Rikin. “Kau tahu pantangan pulau itu kan? Daripada mereka mengajakmu kucing-kucingan seperti ini.”

Dan keterangan-keterangan yang didapat dari orang-orang yang melaut malam itu memang membentuk sebuah kisah yang utuh. Ada perahu yang dikayuh menuju Pulau Larangan. Sesekali terlihat bayang orang berambut pendek di atasnya. Sesekali juga terlihat bayang orang berambut panjang di atasnya. Apa yang dilakukan bayang yang tampak dan yang tak tampak di atas perahu itu langsung menjadi menu utama pergunjingan di kampung ini.
“Hei, Sani! Apa tak pernah kau didik anak lelakimu itu, ha?!” meledaklah amarah Bapak di depan rumah orangtua Dayat.
“Ada apa dengan anakku?” Pak Sani, yang sama-sama seorang nelayan itu, menampakkan ketidaktahuan.

“Bapak apa kau ini, tak mengetahui ulah anaknya, ha?! Anakmu melarikan anakku ke Pulau Larangan! Ayo cari mereka sebelum langit kembali gelap! Atau kuseret kau ke Pengadilan jika cuma diam!”

Ombak kembali terdengar riuh di telingaku,.membisikkan bahwa akan terjadi sesuatu yang besar setelah ini. Bahkan hingga langit berjelaga, Bapak dan Pak Sani sama-sama tak menemukan jejak siapapun di Pulau larangan. Daun-daun cemara yang berjatuhan mengabarkan gelisah tak berkesudahan.
***

Pencarian demi pencarian akhirnya dihentikan ketika memasuki hari keempat. Aku tahu, dalam diamnya Bapak masih menyimpan bara. Karena itulah tak kuceritakan apa-apa yang aku ketahui tentang Pulau Larangan yang pernah diceritakan Mbak Runi.

Yang membuatku tak tega adalah Emak. Sering kulihat perempuan itu terisak jika lamunannya telah penuh dengan Mbak Runi.
“Apa benar pulau itu sangat mengerikan, Mak?” ujarku, sambil sibuk merendam belahan ikan petek, layur, kadalan, dan abangan ke dalam air garam.
Emak menoleh.

“Kata Mbak Runi, pulau itu malah seperti surga.”

“Tidak, mbakyumu bohong. Mungkin itu adalah ulah para penunggu pulau itu. Mereka menjebak mbakyumu dengan memperlihatkan alam khayalan. Kini kau sudah tahu akibatnya kan? Lihatlah, mbakyumu jadi lupa rumah, lupa orangtua.”
***

Pagi itu hari ketujuh setelah kepergian Mbak Runi. Aku tak bermimpi apapun  yang kiranya bisa kusebut sebagai firasat pertanda. Semuanya serba sepi dan hening. Hanya ayam-ayam yang tedengar riuh bersahut-sahutan di halaman rumah. Khas bau tanah sehabis hujan menguar di hidung tatkala sosok itu kulihat berjalan lesu.

“Mbak, dari mana?! Bapak marah besar!”

Gadis itu tersenyum, “Dari pulau itu,” kulihat kebahagiaan di kedua matanya.  Meski tubuhnya kulihat kuyu dan lebih kurus dibanding delapan hari silam.
“Mbak bohong. Bapak bilang Mbak tak ada di pulau itu.”

“Oya? Bapaklah yang telah bohong. Kenapa mesti malu kalau semua orang tahu aku telah pergi ke pulau itu? Toh aku bukan gadis ingusan lagi.”
***

Bapak meledak-ledak sejak saat itu. Berkali-kali beliau membawa amarahnya ke rumah Pak Sani—menuntut pertanggungjawaban segera dilaksanakan. Pak Sani bilang ia tak keberatan menebus kesalahan itu. Beliau meminta waktu untuk mengumpulkan segala persiapan upacara penebusan. Bapak bilang ia tak peduli lagi dengan pemuda tengik yang masih pengangguran itu. Bapakpun tak peduli dengan nasib Mbak Runi kelak. Pokoknya upacara penebusan harus segera ditunaikan sebelum bencana demi bencana beruntunan datang.

Berjalan hari aku mulai menyaksikan sendiri perihal apa yang selama ini dikhawatirkan. Kulihat, perut Mbak Runi membuncit dan semakin membuncit seiring bertambahnya hari. Entah apa itu yang tumbuh di dalamnya. Wajah ayunya yang semakin terlihat pucat dan kuyu dalam pingitan membuat Bapak semakin hilir-mudik menagih janji ke rumah Pak Sani. Bapak bilang, inilah buahnya melanggar pantangan itu.

Namun yang membuatku heran, tak pernah kulihat kesedihan di kedua mata Mbak Runi. Malah sering kudengar nyanyian-nyanyian riang dari dalam kamarnya. Membuatku semakin penasaran tentang kebenaran cerita-cerita tentang Pulau Larangan. Apalagi kini diam-diam ada seorang pemuda yang terus membujukku berlayar bersama ke sana.*****

HKBP Binjai Baru, Terlantar 5 Tahun

Pemko Binjai Diminta Keluarkan Izin Pembangunan

Lima tahun sudah pembangunan gereja HKBP Binjai Baru, Sumut terlantar. Gereja yang pernah mengalami kekerasan tahun 2007 silam kini dihiasi ilalang. Tragis memang kejadian itu karena sekelompok orang pernah pula mencoba memaksa menghentikan pembangunan gereja yang telah berdiri megah di tengah persawahan Jalan Wahidin, Binjai Baru itu. Kala itu kelompok masyarakat yang terdiri dari pemerhati rumah ibadah, pimpinan gereja, tokoh gereja dan umat kristiani di Sumut mengadakan perlawanan dalam mempertahankan agar pembangunan rumah ibadah tidak dihentikan. Tapi sampai kini pembangunan gereja tersebut masih terlantar.

Merasa kurang nyaman karena selama 5 tahun terus menumpang beribadah di gereja sahabat, kini ratusan jemaat gereja HKBP Binjai Baru mendesak kelanjutan pembangunan gereja tersebut. Desakan ini disampaikan pada Praeses HKBP Distrik XXIII Binjai-Langkat, Pdt SL Simanjuntak yang disampaikan di ruang kerjanya di Jalan Cuk Nyak Dien, Binjai yang didampingi oleh Ketua Panitia Pembangunan HKBP Binjai Baru Pdt Sirait, belum lama ini.

Menurut Praeses, hendaknya semua pihak mendukung keinginan jemaat untuk melanjutkan pembangunan HKBP Binjai Baru. Selain itu Pemko Binjai hendaknya memberikan solusi pada pembangunan HKBP Binjai Baru bukan malah menelantarkannya, tegasnya.

Anggota DPRD Binjai, Peterus, menyesalkan ketidaktegasan Pemko Binjai dalam menyingkapi pembangunan HKBP Binjai Baru dengan alasan demi kekondusifan kota Binjai yang menyebabkan gereja tersebut terlantar 5 tahun. Ratusan jemaat merasa kurang nyaman dalam beribadah karena menumpang terus di gereja sahabat merupakan tindakan yang sulit diterima.

“Oleh sebab itu, Pemko Binjai dan Muspida Plus harus segera memberikan izin untuk melanjutkan pembangunan rumah ibadah itu,” ujar Ketua Sumatera Berdoa, JA Ferdinandus.

Selain itu jemaat diimbau tenang dan dalam waktu dekat akan digelar rapat internal bersama majelis dalam menjaga kekompakan untuk menyingkapi pembangunan gereja HKBP Binjai Baru tersebut, tegas mantan Ketua PGI Sumut ini.

Sementara itu salah seorang pimpinan gereja aliran kharismatik, Bishop Gereja Kristen Pentakosta (GKP) Pusat di Medan, Pdt Eliver Jony Hutahaean SH MMin menyarankan jemaat HKBP Binjai Baru untuk mengadukan persoalan pembangunan gereja yang sudah terlantar selama 5 tahun tersebut pada Mahkamah Konstitusi. “Salah satu solusi persoalan ini hendaknya dilaporkan pada Mahkamah Konstitusi, biar pihak MK yang memberikan solusi terbaik,” ujar gembala gereja kharismatik itu. (rs/*)

Watimpres Usul Bangun Mesjid di Samping GKI Yasmin

Kisruh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin akan kembali memasuki babak baru. Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) akan turun langsung untuk mempertemukan GKI Yasmin dan Walikota Bogor minggu depan.

“Kami mengundang GKI yasmin dan Walikota Bogor minggu depan datang ke kantor ini untuk membicarakan hal-hal yang bisa menyelesaikan masalah. Maksud dan penyelesaiannya antara lain membicarakan konsep jalan tengahnya,” kata anggota Wantimpres bidang hukum dan hak asasi manusia Albert Hasibuan, Rabu (11/4).

Salah satu usulan yang mengejutkan adalah rencana pembangunan Masjid tepat disebelah GKI Yasmin. “Wantannas meminta agar keputusan MA (Mahkamah Agung) ditaati oleh Walikota Bogor sehingga gereja tetap berdiri disitu dan GKI yasmin tetap beribadat. Tapi disamping gereja dibangun mesjid, dengan begitu ada semacam simbol kerukunan beragama dan toleransi beragama,” terang Albert.

Menurutnya, pembangunan itu merupakan solusi jalan tengah untuk keadilan bagi semua pihak. Setahun sudah kisruh GKI Yasmin berlangsung tanpa adanya penanganan yang memadai. Jelas kita sedih ketika saudara seiman kita dilanggar hak-nya. Lebih daripada itu, hanya kasih dan pemahaman tulus yang harus terus kita tunjukan.

Pihak GKI Yasmin menerima usulan yang diajukan Watimpres Juru Bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging menyebutkan bahwa upaya ini memang sesuai dengan amanah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengedepankan solusi non hukum.

Selain itu, Bona juga menyatakan “Kita tidak berkeberatan dengan usulan itu. Karena usulan tersebut tidak bertentangan dengan keputusan Mahkamah Agung dan Ombudsman yang menyatakan bahwa pembangunan tempat ibadah GKI Yasmin tidak melanggar hukum,” ungkap Bona.

“Usulan tersebut merupakan solusi non hukum yang tidak melanggar hukum. Kami tidak berkeberatan, karena hanya orang-orang yang tidak siap hidup dalam keberagaman yang menolak usulan tersebut,” tandasnya.

Usulan pembangunan tempat ibadah, seperti mesjid, dianggap sebagai tanda bahwa umat-umat beragama dapat bersatu padu dan rukun bertetangga. Indonesia dengan berbagai umat percaya yang berbeda agama maupun aliran kepercayaan dapat hidup rukun dan GKI Yasmin telah menjawab dan membuktikannya. (mi/*)

Lupakan Sakit di Kantin Rumah Sakit

Ramadhan Batubara

Sabtu siang di Rumah Sakit Haji, Medan. Ada tatapan syahdu. Ada gerak yang kaku. Ada rintihan. Ada tangis. Saya malah duduk di kantin sambil berbincang dan asyik tertawa.

Bukan maksud untuk mengejek mereka yang sakit. Perbincangan kami memang asyik. Apalagi, suasana di kantin ini sama sekali tak mencerminkan rumah sakit. Ada keriuhan. Ada celoteh panjang. Dan, ada tawa yang tak harus ditahan.

Selain itu, di beberapa meja dari kami ada beberapa dokter koas yang asyik merokok. Mereka sibuk menggosip. Entahlah, tak begitu terdengar kalimat mereka. Sesekali tawa mereka membahana. Itu saja. Namun, dari bahasa tubuh mereka tampak kalau perbincangan tidak jauh dari urusan wanita. Setidaknya, pandangan empat lelaki itu sesekali melirik kumpulan wanita di meja yang lain.

Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya muncul. Dia tidak sendiri, dia mendorong lelaki lebih tua di kursi roda, mungkin bapaknya. Mereka memilih meja yang berada tepat di samping gerombolan dokter koas tadi. Kehadiran mereka di posisi itu jelas saja menghalangi pandangan saya pada dokter-dokter koas tadi.

Lalu, sang bapak sudah berada di depan meja. Kursi yang sebelumnya telah ada di sana dipinggirkan. Sang lelaki setengah baya belum duduk juga. Dia berbalik dan menjumpai salah satu penjual; di kantin ini memang cukup banyak penjual; beraneka makanan hingga jajanan ditawarkan; ada juga yang jual majalah dan koran. Dia memesan sesuatu, jelas tidak bisa saya dengar pesanannya itu.
Tak lama kemudian, setelah lelaki itu duduk, datang pelayan. Dia membawa segelas teh manis panas dan sebuah piring yang terbuat dari anyaman rotan. Dia meletakan pesanan itu begitu saja di meja. Lelaki separuh baya tadi memindahkan gelas teh manis ke depan si bapak. Lelaki itu meletakkan piring anyaman rotan tadi di depannya. Terlihat ada daun pisang di permukaan piring itu. Lalu, setumpuk nasi dan ayam goreng tergeletak di sana. Tentu, sambal dan lalapan tidak ketinggalan: pecel ayam. Lelaki tiu pun mulai menyobek ayam tadi; makan.

Tapi, saya lihat, dari balik mereka, asap yang dihasilkan para dokter koas tadi juga belum hilang. Susana riuh pun masih meraja. Sementara, sang bapak di kursi roda sibuk tersenyum. Melihat kiri-kanan, mungkin dia rindu sehat. Mungkin karena itulah, dia memaksa untuk ke kantin. Mungkin, kantin dianggapnya bisa menjadi penyemangat; sesuatu yang hidup memang bisa menjadi sugesti bukan?

Sayangnya, cuaca saya rasa cukup panas. Seandainya saat ini hujan rintik, mungkin akan tambah menyenangkan. Ya, di kantin ini, suasana rumah sakit memang tak ada. Kalaupun ada, hanya terletak pada pakaian dokter koas atau perawat saja. Beruntung jika mendapat beberapa pasien yang lewat. Suasana mirip kantin di Kampus Sastra Universitas Sumatera Utara.

Tapi sudahlah, soal kantin, saya juga teringat dengan kantin di rumah sakit, saya ingat sekita tiga tahun lalu. Ya, saya menikmati kopi di kantin Rumah Sakit dr Pirngadi. Tiga tahun lalu, kantin di rumah sakit itu berada di lantai tiga. Tempatnya tertutup dan tenang. Setengah dindingnya dilapisi kaca, jadi mereka yang berada di dalam kantin bak ada dalam akuarium.

Lain lagi Rumah Sakit Adam Malik Medan. Di rumah sakit itu, kantin cenderung terbuka: beratap langit. Kantin itu hanya dilindungi beberapa pohon rindang. Suasana malah mirip kafe. Bangkunya melingkari meja. Jarak satu meja denga meja pun cukup jauh.

Intinya, ketiga kantin di atas sama sekali tak mencerminkan rumah sakit yang ‘seram’ dan bau obat. Terus terang, saya menikmati hal itu. Saya merasa lenyap sesaat dari saya sedih karena saudara yang dirawat. Ya, persis jam istirahat dalam pertandingan bola.

Mungkin, karena itulah, para dokter koas tadi asyik berbincang sambil merokok dan beberapa kali terbahak. Meski belum menjadi dokter penuh, beban mereka kan berat juga. Setidaknyan kostum yang mereka gunakan sudah mirip dokter.

Sayangnya, ketika saya melihat bapak yang mengenakan kursi roda itu, saya miris lagi. Pasalnya, beberapa kali dia mengibaskan tangannya. Asap rokok dokter koas itu mengganggu hidungnya. Nah, kemirisan saya malah terletak pada ketidakpekaan para dokter koas. Mereka terus saja merokok. Ah, bukankah harusnya mereka mematikan rokok itu? Dan, bukankah mereka adalah bagian dari kaum yang terus melakukan kampanye keburukan dari akibat merokok. Bahkan, mereka bangga mengatakan kalau perokok pasiflah yang paling berbahaya. Lalu, bapak berkursi itu bagaimana?

Tapi sudahlah, seorang penegak hukum juga belum tentu sadar hukum bukan? Seorang pegawai pajak pun bisa mengemplang pajak. Jadi, hal semacam itu sudah biasa di negeri ini.

Pun, soal sakit. Ada kalanya, dokter menyerah. Persis yang dialami saudara saya. Bayangkan saja, dokter yang merawatnya malah membiarkan dia berobat secara alternatif. Saya terkejut. Tapi, kata keluarganya saudara saya, pilihan memakai jasa ‘orang pintar’ sudah diketahui dan disetujui dokter. Bah, jika begitu, kenapa harus ke rumah sakit. Kenapa harus dirawat di ruang Jabal Rahmah. Praktis, rumah sakit hanya menyediakan tempat menginap saja kan? Ya, paling ditambah makanan dan obat kan? Apalagi, sewa kamar per malamnya mencapai Rp300 ribu. Bah, angka itu sudah sama dengan kamar standar hotel berkelas di kota ini kan?

Tapi, sekali lagi, sudahlah. Setidaknya saat ini saya berada di kantin. Dan, saat duduk di sini, tak elok rasanya memikirkan penyakit. Bukankah kantin di rumah sakit diciptakan untuk itu? Ah, entahlah. (*)

Paskah Oikumene Pakpak Bharat Berjalan Hikmad

Perayaan Paskah Oikumene Kabupaten Pakpak Bharat yang digelar di Gedung Serbaguna, Salak, Rabu (11/4) berjalan dengan hikmad. Ratusan masyarakat dan hampir seluruh PNS yang bertugas di lingkungan Pemkab setempat turut hadir mengikuti acara yang dimaksud.

Perayaan Paskah tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, karena perayaan tahun ini  diwarnai dengan pragmen yang menceritakan wafatnya Yesus Kristus di Kayu Salib untuk menebus dosa manusia. Pragmen Viadolorosa tersebut disambut hangat dan mendapat aplus dari para hadirin.

Bupati Remigo Yolando Berutu pada sambutannya mengatakan, kehidupan masyarakat Pakpak Bharat dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini tentunya telah semakin dinamis seiring meningkatnya aktivitas sosial, ekonomi dan pemerintahan di daerah ini. Beberapa kemajuan yang kita capai patut kita syukuri walaupun dalam kenyataannya seiring dinamika yang ada belum sepenuhnya.

Lebih jauh Remigo menyatakan, bahwau untuk mewujudkan kesejahteraan maayarakat, dalam kaitan itu, pola pikir tradisional, yang saat ini masih mendominasi ethos kerja kita dalam membangun Kabupaten Pakpak Bharat perlu kita ubah sedemikian rupa agar selaras dengan visi pembangunan itu sendiri, mari kita berpikir lebih rasional, bekerja keras, ikhlas dan berprestasi untuk mengelola peluang-peluang yang sudah ada dihadapan kita supaya Kebangkitan Kristus Membawa Kehidupan Baru, seperti tertulis dalam Surat Rasul Paulus yang kedua kepada Jemaat di Korintus 5 : 17 : “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, Ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Juga sesuai dengan thema Paskah Oikumene Kabupaten Pakpak Bharat pada tahun ini, yakni “Kasih Paling Besar Adalah Pengorbanan Yesus Kristus” perlu kita jadikan sebagai tuntunan untuk mewujudkan motivasi dan komitmen yang lebih baik lagi dalam melayani masyarakat Pakpak Bharat. (tamba)

Paskah Moment Berbagi untuk Anak Yatim

Panti Asuhan Yayasan Pelita Kasih (Yapeka) di Kota Medan ikut merayakan paskah. Pengorbanan Tuhan Yesus bagi umat manusia dirayakan penuh kidmat di Panti asuhan yang dibangun sederhana bersebelahan dengan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Jemaat Rekhab yang berada di Jalan Sempurna Ujung No 50 Cinta Damai, Kampung Lalang, Medan pada hari Jumat (6/4).

Acara ini diwarnai Jalan Salib anak Yapeka beserta koor anak dan jemat GBIS Rekhab Medan. Acara ini dihadiri puluhan anak Yapeka ditambah sejumlah jemaat GBIS Rekhab beserta rombongan dari Love Carity-Desi dan kawan-kawan beserta Edi yang merupakan pimpinan salah satu Surat Kabar terbitan Medan.

Dalam firmannya Pdt Raju, STh menyampaikan makna paskah dan pengorbanan Tuhan Yesus pada umatnya. Alumni STT William Carey Medan ini menjelaskan Amsal 14 : 21, katanya berbahagialah orang yang menabur belas kasihan kepada orang yang menderita. Sekaligus mengajak yang hadir untuk membagikan kasih pada orang-orang yang kurang mampu dan anak terlantar.

Kata sambutan disampaikan oleh Pimpinan Yapeka Medan, Pdt Ruben Esron Purba MTh didampingi oleh Pdt Lastiur boru Pasaribu STh. Pdt Purba mengucap syukur atas kasih dan pengorbanan Yesus pada umatnya juga pada anak-anak yang diasuhnya kini di Panti Yapeka.

“Awalnya tidak ada niat untuk mengasuh anak-anak terlantar di Yapeka Medan, tapi karena kasihnya rupanya Tuhan percayakan saya untuk mengasuh anak-anak itu sekarang. Tapi tinggal di panti sederhana dengan makan ala kadarnya dan tidur beralaskan tikar kurang nyaman bagi mereka. Untuk itu dalam waktu dekat ada rencana melanjutkan pembangunan di panti sederhana ini untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak ini. Untuk itu kita doakan supaya rencana itu segera terealisasi,” ujar Pdt Ruben.

Untuk itu bagi pihak-pihak yang memiliki kepedulian pada anak-anak tersebut dapat memberikan saran dan informasi untuk mendukung pelayanan Panti Asuhan Yapeka, Medan dapat menghubungi Pdt Ruben Esron Purba MTh dan Pdt Lastiur boru Pasaribu di nomor 081361149205. (rs/*)