Home Blog Page 13726

Investor Asing Datang 22.198 Rumah di Belawan Bakal Digusur

BELAWAN-Keberadaan lahan pinggiran pantai Sei Nonang di Belawan Lama mulai dilirik dua investor asing yang merasa tertarik dan akan menggarap kawasan itu sebagai dermaga pelabuhan. Akibatnya, sekitar 2.198 rumah warga di daerah itu rencananya akan digusur dan dipindahkan ke kawasan Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang.

“Kita masih melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan ada sekitar 2.198 pemukiman warga berikut rumah ibadah di Belawan I akan digusur untuk kemudian dipindahkan,” kata, M Hamidi Jamhur Lubis, Lurah Belawan I Kecamatan Medan kota Belawan, Rabu (21/3) siang.

Dia mengatakan, kedua investor asing yang melirik kawasan pinggiran pantai itu berencana akan membangun dermaga pelabuhan untuk fasilitas bongkar muat barang kargo dan aktivitas kepelabuhanan lainnya.”Investor asal Brunei dan Hongkong yang akan menjajaki dalam bentuk sewa lahan untuk kemudian dibangun dermaga pelabuhan berkelas internasional,” ungkapnya.

Saat ini, sebut Jamhur, rencana pembangunan kawasan pelabuhan di lahan padat penduduk itu masih soal izin. “Masalahnyakan masih baru tahap proses lingkungan, kalau izin sudah keluar dari Bapedalda, dan telah disetujui Pemko Medan, maka proses selanjutnya baru ke PTPelindo I,” bebernya.

Namun semuanya itu lanjutnya, tergantung masyarakat setempat agar bisa memberikan dukungan untuk membangun pelabuhan ini. Karena tanpa adanya dukungan warga terhadap pembangunan dimaksud maka hal ini tidak akan terlaksana.

“Rencananya semalam (Selasa, 20/3) akan dilakukan pertemuan lebih lanjut antara masyarakat dengan investor di kantor lurah, tapi karena dari pihak investornya berhalangan datang terpaksa pertemuan itu ditunda. Jadi ini bisa terlaksana apabila ada dukungan dari masyarakat,” ujarnya.

Informasi diperoleh Sumut Pos di Belawan menyebutkan, warga yang akan digusur akan mendapat kompensasi ganti rugi berupa pembangunan perumahan di dua titik di kawasan Pasar X Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deliserdang dan Batang Kilat Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan.

Beberapa warga ketika ditemui mengakui tentang adanya rencana penggusuran terhadap pemukiman mereka.”Memang sebelumnya sudah ada pendataan dari Kepling terhadap rumah kami. Kabarnya daerah ini akan dibangun dermaga pelabuhan,” ucap, Daud (33) warga Lorong Sedar Kelurahan Belawan I, Belawan.

Namun demikian, Daud menilai pendataan yang dilakukan Kepling nantinya justru akan menimbulkan kericuhan. Pasalnya, warga merasa kecewa karena ada dua unit rumah namun dihitung atau didata menjadi satu unit rumah. “Karena rumahnya bersebelahan tapi satu dinding, malah dihitung satu rumah. Padahal itu sudah lain rumah dan KK (kartu keluarganya) pun sudah berbeda,” sebutnya.

Sementara, Humas PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan, Nova Indrawan ketika dihubungi Sumut Pos terkait dua investor asing yang akan membangun dermaga pelabuhan di kawasan itu sedikit terkejut begitu mendengar kabar dimaksud.”Itu tidak benar, soalnya direksi belum ada menerima laporan soal itu. Karena kalau memang benar seharusnya LPS nya sudah sampai sama kita,” kata Nova.

Menurut dia, saat ini program pengembangan pelabuhan di Belawan masih pada pelaksanaan pembangunan pemindahan terminal penumpang di Pelabuhan Belawan Lama dan BICT (Belawan Internasional Container Terminal).
“Pengembangan pelabuhan saat ini masih dalam proses pemindahan terminal pelabuhan penumpang dari Ujung Baru Belawan ke Pelabuhan Belawan Lama dan perluasan di BICT. Tapi kalau untuk rencana proyek pembangunan dermaga seperti yang disebutkan itu belum ada,” terangnya.(mag-17)

PKS Resmi Usung Gatot

Cari Wakil dari Koalisi

JAKARTA-Di saat sejumlah partai masih dalam tahap melakukan survei untuk mengukur tingkat popularitas sejumlah kandidat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah berani menetapkan nama cagub yang akan diusung di pilgub Sumut 2013. PKS secara resmi sudah menetapkan calon incumbent Gatot Pujo Nugroho. Tidak ada nama lain hingga pendaftaran balon gubsu di KPU Sumut, 2013 mendatang.

Kepastian ini disampaikan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq kepada wartawan koran ini di Jakarta, kemarin (21/3). “Gatot sudah oke. Dia sudah kita tetapkan untuk maju, tinggal mencari pasangannya,” ujar Luthfi Hasan, dengan nada meyakinkan.

Saat diwawancarai kemarin, tercatat tiga kali dia menyampaikan kalimat kepastian Gatot yang akan diajukan sebagai cagub dari PKS. “Sudah kita putuskan. Sumut sudah pasti, tinggal mitra koalisinya, mencari pasangannya,” imbuhnya.

Apa tidak ada kemungkinan di last minute tiba-tiba nama Gatot diganti, seperti kasus pilgub DKI, dimana nama Triwisaksana digeser Hidayat Nur Wahid? Luthfi menjamin, Gatot tidak bakal bernasib seperti Triwisaksana. “Itu hanya kusus DKI karena DKI special, maka treatment-nya juga special. Kalau Sumut sudah pasti,” tegasnya.

Bagaimana prosesnya hingga ditetapkan nama Gatot? Dijelaskan, penetapan sudah berdasarkan survei internal, juga mendengarkan suara kader PKS di Sumut. “Di internal PKS, kita sepakati Gatot yang maju. Itu juga berdasarkan survei. Jadi, luar dalam Gatot oke,” terangnya.

Dijelaskan lagi, bahwa PKS punya mekanisme penetapan calon, yang mengutamakan suara kader dari bawah. Cara ini dianggap mumpuni, karena kader pula yang nantinya akan bekerja menggerakkan mesin partai untuk memenangkan calon yang dikehendaki. “Dan kader kami di wilayah Sumut semakin hari semakin solid,” ucapnya.
Apakah kader PKS di Sumut sudah diinstruksikan untuk mulai menggerakan mesin partai? Menurt Luthfi, tanpa diperintah pun, kader sudah bekerja. “Karena Gatot pilihan mereka juga. Pasti sudah bekerja.”

Mengenai partai yang akan diajak koalisi, Luthfi mengatakan, PKS tidak memagari diri dengan partai apa berkaolisi. Artinya, tidak harus dengan partai yang berbasis ideologi Islam.
“Di sejumlah daerah kita berkoalisi dengan beragam partai, ada juga yang dengan PDIP,” ujarnya, tanpa menyebut di daerah mana PKS berkoalisi dengan PDIP.

Dijelaskan, PKS juga tidak takut jika ada black campaign yang menyebut berbahaya jika Sumut dipimpin orang PKS, karena Sumut heterogen masyarakatnya. Bahkan, lanjutnya, PKS juga sudah bisa masuk ke semua kelompok, termasuk di kawasan Tapanuli sekali pun.
“PKS tidak ada hambatan komunikasi dengan siapa pun,” jawabnya saat ditanya bagaimana strategi PKS mendulang suara untuk Gatot di daerah Tapanuli nantinya.

PKS, lanjutnya, membawa agenda nasional yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendongkrak pertumbuhan ekonomi, dan menegakkan keadilan. “Yang disesuaikan dengan realita hetergonitas,” terangnya.
Agenda itu pula yang diusung PKS dengan mengusung cagub DKI, Hidayat Nur Wahid. “Di DKI, dukungan kita bukan hanya dari muslim, tapi juga non muslim,” imbuhnya.

Masyarakat di Sumut, lanjutnya, bisa melihat bagaimana kepemimpinan kader PKS di sejumlah daerah, antara lain Nur Mahmudi Ismail yang memimpin Kota Depok, Ahmad Heryawan yang menjadi gubernur Jabar, ataupun Irwan Prayitno yang memimpin Sumbar. Termasuk Gatot selama menjadi wagub dan Plt gubernur Sumut. “Semua berjuang untuk agenda nasional. Kebhinekaan adalah fakta yang kita perjuangkan. Tak ada hambatan etnis,” pungkasnya, layaknya kampanye.

Golkar Masih Memproses
Gatot Pujo Nugroho juga menjadi salah satu tokoh dari beberapa tokoh yang masuk dalam pembahasan internal Partai Golkar Sumut, dalam rangka usung-mengusung Calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) 2013-2018 mendatang.

“Secara internal partai, ada beberapa nama yang sudah dibahas. Namun ini masih informal nanti baru akan diumumkan ke publik setelah melalui proses dan mekanisme yang ada. Karena Golkar memiliki prosedur ketat dalam suksesi Pilgubsu 2013 mendatang. Untuk penjaringan atau survei saja, Golkar melakukannya dalam dua tahap. Dan semua mekanismenya tertuang dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) No 14/2012,” ungkap Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumut, Muhammad Hanafi kepada Sumut Pos, Rabu (21/3).

Dikemukakannya, beberapa nama yang masuk dalam pembahasan internal Partai Golkar Sumut selain Gatot, yakni Chairuman Harahap, Gus Irawan Pasaribu, Bupati Deliserdang Amri Tambunan, Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, Sekretaris DPD Golkar Sumut dan juga Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumut Hardy Mulyono. Bahkan, sambung Hanafi, Wali Kota Medan Rahudman Harahap juga menjadi salah seorang sosok yang dibahas di internal Partai Golkar Sumut.

Jadi bagaimana dengan isu yang santer terdengar, bila Gus Irawan adalah calon kuat dari Golkar?
Mengenai isu itu, Hanafi menjawab, sejauh ini belum ada kepastian siapa yang akan diusung termasuk sosok Gus Irawan. Dalam artikata, nama yang akan diusung baru akan ketahuan setelah semua mekanismenya berjalan.

“Sejauh ini kita masih dalam tahap pembentukan tim pemenangan Pilgubsu 2013 mendatang. Prosesnya ketat dan tidak semudah itu. Secara prosedur kami belum ada resmi membahas penentuan siapa calonnya. Hanya sebatas pembahasan internal. Kriteria calon juga belum secara resmi. Golkar selalu berprinsip akan mengusung calon yang berpeluang besar untuk menang. Makanya itu, Golkar ketat dalam suksesi Pilgubsu itu,” urainya.

Bagaimana pula dengan isu Chairuman Harahap yang akan maju ke Pilgubsu 2013 mendatang, dengan menggandeng partai lain yakni, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)?

Menyikapi hal itu, Hanafi menyatakan, hal-hal seperti itu adalah hal yang wajar. “Bisa saja seperti itu, dan hanya sebatas silaturahmi saja. Dan itu biasa, bila kader Golkar melakukan silaturahmi ke partai lain. Jadi tidak bisa secepat itu mengatakan, kader Golkar maju dari partai lain,” bebernya.

Bila benar, Chairuman Harahap nantinya maju ke putaran Pilgubsu 2013 melalui PDI-P, apakah ada sanksi yang akan diberikan oleh pihak partai dan apakah benar memang dikarenakan Chairuman Harahap tidak mendapat dukungan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ataupun DPD Partai Golkar Sumut?

Terkait hal itu, Hanafi menyatakan, tidak semudah itu menyimpulkan seseorang kader partai maju pada pencalonan kepala daerah dari partai lain serta tidak semudah itu juga berbicara mengenai sanksi yang akan diberikan.
“Nggak semudah itu. Kader Golkar yang memiliki kemampuan dan kapabel untuk maju banyak. Untuk sanksi, juga tidak semudah itu,” terangnya.

Chairuman Harahap mengaku sudah menjalin komunikasi politik dengan PDI-P dan PPP.
“Sebagai politisi dan fungsionaris Partai Golkar, saya sah saja menjalin komunikasi politik untuk Sumut yang lebih baik pada masa yang akan datang,” katanya saat dihubungi Sumut Pos, Rabu (21/3).

Dia memaparkan, kehadirannya ke DPP PDI-P hanya sebatas silaturahmi dan melakukan komunikasi politik. Apalagi, seorang fungsionaris DPP PDI-P itu merupakan warga Sumut yang duduk di DPR RI bersamanya.

Chairuman berpendapat, untuk memajukan Sumut perlu jalinan komunikasi politik dengan lintas partai, apalagi semua partai itu memiliki tujuan yang sama yakni membangun Sumut yang lebih baik.
“Kader Partai Golkar juga harus membangun komunikasi politik untuk bisa mewujudkan cita-cita membangun Sumut, sebagai kader saya tetap berada di Partai Golkar,” ujarnya.

Chairuman menyatakan, untuk menjadi Gubernur itu butuh proses dan mekanisme yang berlaku di setiap partai. Untuk menyatukannya, maka diperlukan kebersamaan untuk menyamakan visi dan misi bersama partai lain.
Mengapa merapat ke PDI-P? Chairuman menegaskan, dirinya sama sekali bukan untuk mencari perbedaan, melainkan untuk kebersamaan demi mengusung cita-cita membangun Sumut yang lebih baik.

Secara terpisah, DPD PDI-P Sumut melalui Sekretaris DPD PDI-P Sumut, HM Affan tidak membantah dan tidak pula membenarkan isu tersebut, saat dikonfirmasi Sumut Pos.

“Bisa saja memang sudah melakukan itu. Dan secara political will ada yang mulai melakukan pendekatan, itu wajar dan sah-sah saja. Hanya saja, PDI P punya mekanismenya sendiri. Dan PDI P sudah punya SK yang diterima dari DPP yang berisi Juklak dan mekanisme lainnya,” jawabnya. (sam/ari/ril)

Menggeser Jam Matahari (1)

Oleh: Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Dahulu saat belum ada pembagian waktu bumi di bujur 0 derajat Greenwich (GMT= Greenwich Mean Time), orang Mesir menandai waktu dengan Obelisk (batu panjang lonjong seperti monumen) yang dibangun pada awal 3500 SM. Bayangannya ketika diterpa sinar matahari dijadikan patokan seperti jarum jam sebagai penanda waktu. Dengan Obelisk, orang Mesir juga bisa tahu kapan tahun terpanjang dan terpendek.

Selain bangsa Mesir, bangsa-bangsa yang tersebar di seluruh dunia memiliki sistem pengaturan waktu sendiri. Orang Batak kuno menyebut waktu sesuai pergerakan matahari. Pukul 4 pagi disebut Buha-buha ijuk (remang pagi), pukul 5 pagi Torang ari (hari mulai terang), pukul 6 Bincar mataniari (matahari terbit), pukul 7 Manogot (pagi), dst…. Kemudian pukul 12 siang disebut Hos (panas terik), pukul 6 sore Bot, bonom mataniari (matahari terbenam), pukul 10 malam Sampe modom (waktunya tidur), pukul 12 Tonga borngin (tengah malam), pukul 1 pagi disebut haroro ni panangko (kedatangan pencuri), pukul 2 pagi martahuak mirik (berkokok kecil), satu jam berikutnya Martahuak manuk pasadaon (kokok ayam pertama), dan seterusnya…

Selain Batak kuno, masing-masing bangsa membuat pengaturan waktunya sendiri sesuai kebutuhan daerah masing-masing. Tidak ada pengaturan standar waktu dunia yang disepakati bersama.

Adalah Sandford Fleming, Insinyur Kanada, orang pertama yang terpikir untuk membuat pengaturan waktu bersama antar negara. Pemikiran itu berawal tahun 1876, saat dirinya melakukan perjalanan naik kereta api dari Irlandia, pukul 5.35 malam waktu setempat. Tapi saat dirinya tiba di stasiun, ternyata KA telah berangkat 12 jam sebelumnya, pada pukul 5.35 pagi. Fleming pun bingung. Kisah itu diungkap dalam buku Time Lord: Sir Sandford Fleming and the Creation of Standard Time.

Pengalaman buruk itu lalu membuat Fleming berpikir: bumi satu, mestinya pembagian waktu bisa diatur bersama. Sejarah mencatat, berdasarkan usul dari Fleming, penanggalan dan standar waktu secara umum ditentukan dalam Konferensi Meridian Internasional tahun 1884.

Berdasarkan usulan Fleming, waktu dibagi berdasarkan rotasi bumi 24 jam. Bumi bulat dihitung 360 derajat, dan lalu dibagi dalam 24 zona waktu. Kala itu disetujui, pembagian waktu bumi diawali tengah malam di bujur 0 derajat Greenwich (GMT). Setiap 15 derajat ke arah kanan atau kiri berarti selisih satu jam (+1 GMT atau -1 GMT). Begitu terus hingga berputar dan kembali ke GMT. Begitulah, hingga ada 24 daerah waktu di dunia – berdasarkan perhitungan kecepatan rotasi bumi, lingkaran bola bumi, dan lama rotasi bumi.

Wilayah Indonesia, yang dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan terpisah, tak serta merta mengikuti pengaturan zona waktu GMT itu. Masing-masing daerah memiliki sistem penyebutan waktu. Suku-suku memiliki penanda waktu sendiri-sendiri. Seperti Batak kuno yang disebutkan di atas misalnya.

Barulah pada 6 Januari 1908, seperti ditulis oleh historia.com, Belanda mulai mengatur zona waktu. Saat itu, diputuskan zona waktu Jawa Tengah dan Batavia dengan perbedaan waktu 12 menit, berlaku untuk Jawa dan Madura. Pengaturan ini sesuai waktu Amsterdam. Di luar wilayah itu, Belanda sama sekali tak mengaturnya.

Berikutnya, pengaturan zona waktu berkembang untuk wilayah di luar Jawa seperti Sumatera Barat dan Timur serta Balikpapan. Memasuki 1930-an, penerbangan internasional dari Hindia Belanda ke Singapura dan Australia dibuka. Hindia Belanda, untuk pertama kalinya, membagi enam zona waktu sejak 11 November 1932. Ada selisih waktu, tiap zona 30 menit.

Pengaturan ini berubah saat Jepang berkuasa di nusantara pada 1942. Saat itu, Jepang menyatukan standar waktu Indonesia mengikuti Tokyo yaitu GMT+9. Alasannya sederhana. Jepang ingin membuat efektif operasi militer mereka.
Namun setelah Jepang kalah di Perang Dunia Kedua, dan Belanda menduduki kembali sebagian daerah di Indonesia pada 1947, sistem waktu di Indonesia diringkas menjadi tiga zona. Tiap zona berselisih GMT +6, +7, dan +8, kecuali Papua yang berselisih GMT + 9.

Namun, pembagian ini tak berlangsung lama. Pada 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, dan Indonesia kembali ke pembagian enam zona waktu dengan selisih 30 menit tiap zona. Hanya Irian yang masih menggunakan peraturan Belanda tahun 1947 karena masih diduduki Belanda. Aturan itu bertahan selama 13 tahun.

Tahun 1963, Indonesia mengubah kembali zona waktu menjadi tiga zona waktu: barat, tengah, dan timur. Irian Jaya yang telah kembali ke wilayah Indonesia masuk zona timur bersama daerah tingkat I Maluku, karena terletak pada 135 derajat bujur timur. Selisih waktunya dengan GMT adalah + 9. Pembagian itu resmi dimulai sejak 1 Januari 1964.
Begitulah keputusan pemerintah, dan rakyat Indonesia pun menyusun irama hidupnya setiap hari berdasarkan zona waktu itu.

Peraturan itu bertahan sampai 1987, ketika pemerintah membuat kebijakan memutuskan Bali masuk ke zona tengah karena pertimbangan pariwisata, sedangkan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik ke zona barat dari zona tengah. Indonesia tetap dengan zona tiga waktu sampai hari ini. (bersambung)

Deli Plaza, tak Bertahan walau Dibantu Sinar dan Menara Plaza

Pusat Perbelanjaan Era 1980-an di Medan, Apa Kabar? (4)

Dia dikenal sebagai plaza kelas atas. Bagaimana tidak, berdiri sejak 1985, dia adalah gudangnya butik. Ketika warga Medan menyebut kata ‘butik’, yang terbersit di benak langsung namanya. Ya, dia adalah Deli Plaza.

Deli Plaza, yang terletak di Jalan Putri Hijau Medan ini, terkenal dengan fasilitas yang diberikannya. Sebut saja bioskop dengan sound system kelas A, butik-butik mewah yang menjual produk impor, tempat makan yang lengkap, hingga tempat permainan yang menggoda. Bahkan, di plaza inilah mainan ala “roller coaster” tersedia.
Tidak itu saja, bagi penggila musik, di plasa inilah sekolah musik Medan Musik berdiri; tepatnya di lantai satu. Maka, tidak berlebihan ketika Deli Plaza kemudian dikembangkann

Di samping bangunan induk, Sinar Plaza pun dibangun pada tahun 1991. Hasilnya, saudara Sinar Plaza ini pun mengikuti jejak Deli Plaza. “Pilihan masyarakat terus ke Sinar, selain harganya yang cukup terjangkau,” ujar Devi, salah satu pegawai operasional Deli Plaza.

Berkembangnya Deli dan Sinar Plaza, membuat pemilik gedung menambah gedung sebagai pusat pembelanjaan lagi. Menara Plaza pun berdiri tepat di samping Sinar Plaza pada tahun 1999. Tetapi, sebagai anak bungsu, perkembangan Menara Plaza tidak terlalu menarik perhatian. Pasalnya, pada tahun tersebut, sudah mulai bermunculan plaza dengan fasilitas yang lebih menarik.

Kemunculan Sinar dan Menara Plaza ternyata tidak mendukung pertumbuhan saudara tertua, Deli Plaza. Dalam jangka waktu 10 tahun, atau tepatnya sejak awal millennium, ‘sang Deli’ pun mulai meredup. Salah satu indikasinya, dapat dilihat dari mulai bertutup atau pindahnya butik-butik yang menjadi ikon Deli Plaza. “Banyak yang tutup butiknya. Padahal, kalau sudah mendengar kata butik, maka yang terlintas di kepala kita adalah Deli Plaza,” ujar Ucok, yang bekerja sebagai salah satu pegawai.

Sebagai salah satu plaza modern yang berdiri pada tahun 1985, perjalanan Deli Plaza cukup menarik. Salah satunya, banyak rumah makan yang terkenal karena buka di arena pusat pembelanjaan ini. Sebut saja, Ayam Kalasan dan Apollo. “Ayam Kalasan di sini sangat dinikmati masyarakat, mungkin di sini juga masyarakat mengenal apa itu Ayam Kalasan,” tambah Ucok.

Menjelang tutup, (kabarnya akan direnovasi), si Deli Plaza yang memiliki 5 lantai ini masih mampu bernafas karena Theatre President yang legendaris. Bioskop ini merupakan bioskop mewah untuk warga Medan, selain tempat duduk yang nyaman, sound system kabarnya merupakan produk impor dan kelas 1 pula. Bahkan, suara yang dikeluarkan dari theater yang hanya memiliki 3 studio ini tetap beroperasi ketika hampir 80 persen gedung Deli Plaza sudah tidak beroperasi lagi. Inilah keunikannya, saat plaza lain menjelang tutup didahului oleh bioskop, Deli Plaza malah ditolong bioskop.

Menurut beberapa kalangan, kemunduran Deli Plaza dan dua saudaranya itu terletak pada konsep yang tak jelas. Saat mulai transaksi mengisi kios, manajemen Deli Plaza menetapkan sistem sewa jangka panjang sekitar 25 tahun. Dengan sistem ini, manajemen tidak dapat mengatur produk apa yang harus dijual dan lainnya. “Awal 2000-an, entah apa saja yang dijual mulai dari pakaian, HP dan sebagainya. Padahal Deli Plaza ini dikenal sebagai plaza fashion,” tambah Ucok.

Mulai saat itu, reduplah ‘sang Deli’ dan saudara-saudaranya. Walaupun kabarnya akan diubah dan berganti nama menjadi Grand Deli City, tetapi kenyataanya peruntuhan bangunan belum bisa dilakukan. “Karena belum ada kesepakatan terkait harga, jadi ditunda. Tapi tidak tahulah apa penyebab sebenarnya,” tambah Ucok. (*)

Sumatera Bike Week Targetkan 10 Ribu Bikers

Luar biasa gebrakan yang dilakukan oleh Pengprov Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumut. Setelah sukses mewacanakan gelaran reli bertaraf nasional, ke depan IMI Sumut juga mendukung gelaran Sumatera Bike Week yang berlangsung 26-30 September mendatang.

Kegiatan Sumatera Bike Week 2012, hajatan empat Pengda Harley Davidson Club Indonesia HDCI di Sumatera yang digelar di empat lokasi di Medan seperti Lapangan Benteng, Istana Maimun, Lanud dan PRSU itu menargetkan 10 ribu pengendara (rider) sepeda motor. Jika jumlah peserta tercapai, hal ini menjadi rekor baru di tanah air.

Konsultan event  Wulung ‘Ungki’ Darmantoto mengatakan Rabu (21/3), pihaknya optimis jumlah peserta bisa tercapai.
“Namun, target peserta bukanlah tujuan semata kegiatan, karena yang juga tak kalah penting dari digelarnya event  ini adalah, kita bisa memperkenalkan budaya yang dimiliki lewat rangkaian acara yang diusung,” sebutnya.

“Sumatera Bike Week bakal beda dengan bike week lain, karena di sini juga diselenggarakan banyak mata acara, seperti event festival budaya, kuliner, workshop, seminar serta kontes modifikasi,” ucap Ungki, didampingi Ketua Panpel Faisal Nasution serta ambassador dan juru bicara Sumatera Bike Week 2012, Marissa Nasution kemarin, usai rangkaian acara promosi di Medan.

Adapun lokasi Sumatera Bike Week 2012, nantinya dipusatkan di tiga lokasi, masing-masing Lapangan Benteng, Lanud Polonia, serta arena PRSU Medan.

Ketua Panpel Faisal Nasution menambahkan, kegiatan Sumatera Bike Week 2012 diusung oleh HDCI Sumut, Riau, Sumbar dan Lampung. Namun, pesertanya terbuka untuk semua kalangan komunitas roda dua. Diharapkan, pesertanya tidak hanya datang dari Sumatera atau P. Jawa, tetapi juga dari belahan negara Asia lain, seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan negara lain.

“Kita optimis Sumatera Bike Week bakal sukses, tentunya atas dukungan Pemprov dan Pemko Medan,” tuturnya.

Dikatakan, dalam rangkaian promosi dan menggalang dukungan, kemarin Panpel telah melakukan audiensi dengan Plt Gubsu H. Gatot Pudjo Nugroho, ST di ruang kerjanya, setelah pagi hari juga bertemu Wali Kota Medan Drs. H. Rahudman Harahap, MM. Selain itu Panpel bersama Ketua Pengprov IMI Sumut dan juga Ketua HDCI Sumut Ijeck serta Marissa Nasution mengikuti road show di salah satu radio swasta di Medan.

“Dalam audiensi dengan Gubsu dan Wali Kota, keduanya menyatakan mendukung penuh, agar kegiatan Sumatera Bike Week 2012 bisa terselenggara dengan sukses,” tandas Faisal. (*)

Menghilangkan Bopeng Bekas Jerawat

Treatment Vs Mesoroller

Jerawat masih menjadi momok menakutkan, terutama bagi mereka yang memiliki kulit berminyak.  Dokter dan konsultan di Klinik Perawatan Wajah VZ Skin Care Jalan Dr. Mansyur Medan, dr Dara Caprina mengatakan jerawat muncul ditandai dengan adanya komedo dan bintil-bintil peradangan. Perubahan keseimbangan hormonal sangat berperan dalam pembentukan jerawat.

Perubahan hormonal ini juga terjadi pada peri-menstruasi dan saat kehamilan. Faktor kebersihan wajah, kelenjar minyak yang berlebih serta faktor keturunan juga mempengaruhi timbulnya jerawat.
“Kelenjar minyak yang terlalu aktif membuat pori-pori wajah membesar, serta kulit terlihat mengkilap dan tebal.

Ini memicu timbulnya jerawat. Namun kebanyakan jerawat dipencet dengan teknik yang tidak tepat. Padahal ini membuat bopeng di wajah dan lubang-lubang akibat bekas jerawat akan sulit dihilangkan. Perlu perawatan khusus untuk menghilangkannya,” kata Dara.

Perempuan berdarah Jawa lulusan Fakultas Kedokteran UISU tersebut menjelaskan, dengan Treatment Vz Mesoroller akan  memperbaiki pori-pori yang besar untuk Acne Scar/bopeng atau lubang-lubang akibat bekas-bekas jerawat yang sulit hilang. Dengan diperbaikinya jaringan collagen dan elastin dikulit, maka flek kerutan juga akan hilang dan wajah menjadi cerah. Perawatan dengan teknik roller ini dapat dilakukan hingga 5 kali agar hasilnya memuaskan.

“Sebelum perawatan, konsultasi juga harus harus dilakukan secara rutin. Alat roller yang dikenakan ke wajah awalnya membentuk luka, setelah itu dioleskan serum dan vitamin untuk memperbaiki jaringan dan pertumbuhan kolagen. Lalu dilanjutkan dengan perawatan lain pada wajah, totalnya membutuhkan waktu 3 jam agar hasilnya lebih maksimal. Sekitar 80 persennya teknik ini sangat efektif menghilangkan bopeng dan lubang-lubang akibat bekas-bekas jerawat tadi,” ujarnya.

Namun, tambahnya, perawatan pada wajah juga harus didukung dengan pola perilaku. “Pengaruh obat-obatan (steroid), stres psikis, dan kurang istirahat, penggunaan kosmetik berat yang menutup pori-pori, dan makanan yang mengandung banyak lemak harus menjadi perhatian. Makanan seperti kacang-kacangan, cokelat, gorengan, dan makanan yang pedas biasanya merangsang pembentukan jerawat,” urainya. VZ Skin Care, katanya, merupakan tempat perawatan kulit untuk para wanita yang membantu mengatasi permasalahan kulit dengan peralatan lengkap dan menggunakan bahan natural. (mag-11)

DPD RI Uji Sahih RUU Hak Atas Tanah

Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) bekerjasama dengan Pusat Studi dan Penelitian Hak Asasi Manusia (PUSLITHAM) USU menyelenggarakan kegiatan Uji Sahih Rancangan Undang-undang (RUU) Hak Atas Tanah di Ruang Senat Akademik, lantai 3 Biro Rektor USU, Selasa (20/3). Acara pembukaan uji sahih ini dihadiri para Pembantu Rektor di lingkungan USU, staf Ahli Gubsu dan para peserta uji sahih.

Rektor USU Prof DR Dr Syahril Pasaribu dalam sambutan singkatnya saat membuka uji sahih menegaskan, kondisi paling penting yang harus dicapai dari RUU Hak Atas Tanah ini adalah tercapainya keadilan dan kepasatian hukum bagi rakyat. “Jangan sampai yang berlaku adalah hukum rimba, dimana yang kuat atau memiliki banyak uang berkuasa atas tanah, sementara rakyat terabaikan,” katanya.

Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Hak Atas Tanah DPD–RI DR H Rahmat Shah mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan munculnya konflik pertanahan di negeri ini, dan Sumut merupakan salah satu wilayah dengan jumlah konflik pertanahan tertinggi. Di antara penyebab itu adalah ketimpangan struktur kepemilikan tanah. Ada sekelompok kecil masyarakat yang menguasai tanah dalam jumlah sangat luas, sementara kelompok masyarakat yang lebih besar sama sekali tidak memiliki tanah.

Tak hanya itu, Rahmat juga mengatakan, belum terakomodasinya hal ulayat yang dimiliki masyarakat hukum adat, pengaturan hak-hak atas tanah yang ada selama ini pada kenyataannya belum memberikan kepastian hukum dan keadilan kepada masyarakat, dan terjadinya degradasi lingkungan akibat pengelolaan dan pemanfaatan tanah selama ini.

Kelak, ungkap Rahmat Shah, dengan diberlakukannya UU Hak Atas Tanah ini, maka persoalan-persoalan seperti disebutkan itu tidak akan muncul lagi. “Misalnya tidak boleh ada lagi konsentrasi kepemilikan tanah dimana sejumlah kecil masyarakat menguasai tanah dalam jumlah sangat luas,” katanya.

Uji Sahih yang melibatkan pakar dari perguruan tinggi serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta pihak-pihak yang selama ini menantikan keadilan terhadap persoalan tanah yang mereka perjuangkan selama ini seperti dari Forum Rakyat Bersatu, Serikat Petani Indonesia, Forum Masyarakat Sari Rejo, dan lainnya.

Uji Sahih menghadirkan staf ahli DPD RI DR Kurnia Warman dan Idham, juga pakar pertanahan seperi Prof Syarifuddin Kallo,SH, DR H Hasim Purba dan dari LSM Bitra Swaldi. Sementara Anggota DPD RI yang hadir, Bachrum Manyak (NAD), Wahidin Ismail (Papua), Kamaruddin (Sulawesi Tenggara), Budi Doku (Gorontalo), Aida Ismeth (Kepri) dan Rahmat Shah (Sumut).

Usai mendapatkan berbagai masukan serta kritikan mengenai RUU Hak-hak Atas Tanah tersebut, Rahmat Shah menyampaikan terimakasihnya atas sumbangan pemikiran dan kritikan guna penyempurnaan RUU Hak-hak Atas Tanah yang sama-sama memperjuangkan. “Kami menyatakan, DPD RI tidak ada menerima titipan apapun atau dari pihak manapun dalam hal penyusunan RUU ini, sebagaimana yang disampaikan beberapa peserta tadi, seolah-olah kami menerima titipan dari kapitalis.

Kami tegaskan tidak ada hal semacam itu. Anggota DPD RI adalah figur-figur yang sudah mapan, baik dari sisi ekonomi, latar bekalang maupun intelektualitas, sehingga bisa dijamin bahwa perjuangan kami bersama rakyat dan atas  nama daerah, tidak bisa dibeli oleh pihak manapun,” tegasnya. (*)

Gus Irawan Dapat Bulang-bulang dari Warga Tobasa

BALIGE- Ribuan warga dari 16 kecamatan yang ada di Toba Samosir (Tobasa) menghadiri penyerahan bulang-bulang kepada Direktur Utama Bank Sumut Gus Irawan Pasaribu dan Murni Gus Irawan Pasaribu.

Selain itu, mereka juga mendukung Gus Irawan maju di horja bolon (pesta besar) pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun depan. Acara pemberian bulang-bulang kepada Gus Irawan Pasaribu dari Pomparan Guru Tatea Bulan, boru, bere, ibebere itu, digelar di Lapangan Sisingamangaraja XII Balige, Minggu (18/3).

Hadir di situ Bupati Toba Samosir Pandapotan Kasmin Simanjuntak dan wakilnya Liberty Pasaribu. Hadir juga di situ ketua DPRD Tobasa, wakil bupati Tapanuli Tengah Syukron Tanjung, Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu, serta tokoh masyarakat lain serta pengetua adat.

Dalam sejarahnya Tatea Bulan adalah salah satu Raja Batak yang punya lima anak. Yaitu Raja Sakti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Silau Raja. Gus Irawan mendapatkan bulang-bulang karena dia bermarga Pasaribu sebagai salah satu keturunan Tatea Bulan.

Dia juga dianggap keturunan Tatea Bulan sebagai anak yang cerdas, taat dan berhasil di perantauan.
Marga Pasaribu merupakan salah satu anak dari Saribu Raja (anak ketiga Raja Tatea Bulan). Selain marga Pasaribu, maka marga Tanjung. Lubis, Habeahan, Saruksuk, Sitakar dll, merupakan anak dari Saribu Raja.

Acara bulang-bulang untuk Gus Irawan itu dimulai siang. Ompu Kevin Pasaribu, Ketua Tatea Bulan mengatakan, marga Pasaribu merupakan salah satu marga yang masuk di jajaran Tatea Bulan. Dia juga menyebut beberapa marga Pasaribu lain yang sudah sukses di perantauan.

Menurut Kevin, dia mengenal betul sosok Gus Irawan Pasaribu dan keluarganya. “Kami menyerahkan bulang-bulang ini sekaligus meminta kesediaan Gus Irawan Pasaribu untuk tampil jadi Gubsu tahun depan,” jelasnya.
“Kami ingin Gus Irawan diberkati umur, diberkati kekuatan untuk mencapai tujuan yang mau ditempuh.

Diberi juga kepanjangan umur agar bisa memimpin di masa depan. Semoga ini didengar Tuhan,” sambung Kevin.
Dia juga mengharapkan Boru Regar (isteri Gus Irawan) mendampinginya dan seluruh jajaran Tatea Bulan akan mendukung ke depan. “Kalau musuh datang, kami siap mengalahkan yang coba-coba menghalangi Gus Irawan,” kata Kevin yang disambut aplaus.

Setelah itu dimintalah Gus Irawan agar maju di tengah lapangan bersama istri dan saudara-saudaranya seperti Panusunan Pasaribu, Syahrul M Pasaribu, Ibrahim Pasaribu, serta saudara perempuannya untuk diberikan bulang-bulang.

Usai pemberian, Gus Irawan pun bicara di atas panggung. Dia menyatakan maksud pemberian bulang-bulang sudah dijelaskan panitia. “Semoga kami diberkati Tuhan agar bisa menempuh jalan yang akan sangat panjang ini,” ucapnya.
Dia mengatakan, subtema acara tersebut adalah satahi saoloan (seperjuangan). “Jadi kami di sini mengharapkan bantuan doa dari seluruh kaum kerabat. Tapi bukan doa saja, namun juga perlu tenaga. “Artinya kalau sudah sepakat saya harus maju maka tetaplah bantu saya. Ini bukan lagi perjuangan sendiri. Tapi perjuangan kita,” katanya.

Gus Irawan juga mengutip dua ayat yang tertuang pada Yakobus dan Korintus di Perjanjian Baru. “Di situ tertulis jelas bahwa kita harus bersatu padu. Jangan bercerai berai,” jelasnya.

Kutipan Gus Irawan Pasaribu tentang dua ayat itu kembali mendapat aplaus dari ribuan yang hadir. “Menurut Yakobus ayat 26 kepada seluruh hamba Tuhan, iman tanpa perbuatan sesungguhnya adalah mati. Jadi saya minta dukungan kita semua dengan doa dan perbuatan,” pintanya.

Usai memberikan sambutan, Panusunan Pasaribu, abang Gus Irawan ikut menguatkan maksud mereka. Terutama dalam mengikuti pemilihan gubernur Sumut tahun depan. Sedangkan TB Silalahi, tokoh masyarakat batak, mengatakan, bulang-bulang itu punya nilai spiritual. (ila)

Fly Over Simpang Pos Proses Lelang

MEDAN-Satuan Kerja Metropolitan Balai Jalan dan Jembatan Kementrian PU Wilayah Sumut mendesak Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen Bina Marga, untuk menentukan tanggal peletakan batu pertama pembangunan jembatan layang (fly over) Simpang Pos.

“Kita inginnya besok (hari ini, Red) sudah bisa dimulai pembangunannya. Tapi masih dalam proses, mau gimana lagi. Semua kan ada prosedurnya,” kata Simlatua Sinaga, Kasatker Metropolitan Balai Jalan dan Jembatan Kementrian PU Wilayah Sumut, Rabu (21/3) siang.

Dikatakannya, sampai saat ini kementerian pekerjaan umum sedang melakukan proses lelang yang sedang berjalan.
“Sampai saat ini proses lelang sedang berjalan sejak bulan Desember 2011 lalu. Anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah pusat tinggal menunggu persetujuan saja, karena kontrak anggaran tersebut multiyears. Jadi anggaran itu bukan tahunan.

Sampai saat ini kita masih menunggu persetujuan dari pusat. Prosesnya panjang namanya juga proses,” jelasnya. Sekadar diketahui Pemko Medan sebagai penyedia lahan sudah melakukan pembebasan lahan sebanyak 130 persil. (adl)

Rumah Anggota DPRD Medan Terbakar

BELAWAN-Rumah anggota DPRD Kota Medan, Dianto MS di Jalan Sembilang Pajak Baru Kelurahan Belawan Bahagia, Medan Belawan terbakar, Rabu (21/3). Meski tak ada korban jiwa, namun kerugian yang dialami anggota dewan dari fraksi Partai Demokrat itu ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos di lokasi kejadian menyebutkan, peristiwa kebakaran di rumah wakil rakyat itu terjadi sekira pukul 15.00 WIB. Warga ketika itu sempat melihat kepulan asap yang keluar dari bagian dapur (belakang) rumah Dianto MS.

“Tadi sempat ada asap keluar dari dapur, lalu diberitahukan ke pembantunya. Nggak lama begitu dilihat api langsung membesar,” ujar, Khairuman Nasution (56), warga setempat. Mengetahui dapur rumah Dianto MS terbakar, sejumlah warga lainnya kemudian berupaya melakukan pemadaman secara manual dengan menggunakan ember berisi air serta peralatan seadanya.
“Dugaan api dari korsleting listrik di asbes bagian dapur rumah,” ucapnya.

Khawatir api menjalar ke rumah lainnya, oleh warga bagian atas bangunan rumah anggota dewan yang juga pengusaha bidang jasa pelayaran itu lalu dirusak, kemudian warga menghubungi petugas pemadam kebakaran.
“Dari pada menjalar ke rumah lainnya lebih bagus dirusak atap rumahnya. Karena kalau rumah warga yang terbakar, warga bisa pusing mikirkan untuk cari gantinya,” tuturnya.

Dua unit mobil dari Dinas Pencegahan dan Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan tiba di lokasi kejadian setelah 15 menit dihubungi. Dengan cepat petugas berseragam biru ini menarik selang dari mobil pemadam dan menyemprotkan air ke kediaman Dianto MS. Dalam hitungan menit api yang membakar berhasil dijinakkan.

Sementara, aparat Polsekta Belawan yang turun di TKP hingga sore kemarin masih melakukan penyelidikan penyebab pasti terbakarnya kediaman anggota dewan itu. (mag-17)