30 C
Medan
Wednesday, February 4, 2026
Home Blog Page 13811

Rapat Kerja BMT se-Sumut Tahun 2012

PINBUK Sumut Gelar Workshop

KARO-Menyikapi tantangan kerja di bidang jasa pelayanan keuangan yang akan hadir dalam kurun waktu 15 tahun ke depan, 200-an lembaga keuangan non bank berbasis syariah yang tergabung dalam Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, akan menggelar Workshop dan Rapat Kerja BMT se Sumut di Asrama Haji Pangkalan Mashyur Medan.

Direncananakan, kegiatan ini berlangsung selama dua hari yakni 1-2 Maret 2012. Acara ini dibuka secara langsung oleh Plt Gubernur Sumatera Utara H Gatot Pujo Nugroho, ST.

Menurut Ketua Pusat Inkubasi Usaha Kecil (PINBUK) Sumut, Hoironi Hasibuan didampingi Sekretaris Azra’i Harahap, bidang pembinaan, Safrizal dan Humas M Nur Syam Asmarqandi, event akbar ini untuk menyatukan persepsi dan komitmen para pelaku BMT dalam meneguhkan kembali semangat pelayanan ekonomi berlatar syariah yang menjadi spirit dari lembaga keuangan non bank ini.

“Kita harus percaya akan tiadanya kesempatan untuk berkembang bila tidak ada komitmen yang dapat terbangun, lembaga ini membutuhkan itu, sebuah kesatuan gerak dan langkah dalam mendirikan bangunan ekonomi syariah yang terarah,” kata Hoironi.

Komitmen yang nantinya diharapkan muncul dalam pelaksanaan Workshop dan Rapat Kerja BMT se-Sumut tahun 2012 ini, sambung Hoironi, akan ditindaklanjuti dengan penerapan standart kemampuan management BMT dalam mengelola usahanya.

Hal ini dipandang cukup penting agar nantinya tidak ada ketimpangan yang muncul saat semua pihak masuk ke dalam system yang akan dijalankan.
Pada kesempatan penyelenggaraan event nanti, PINBUK Sumut akan menghadirkan para pembicara dari berbagai stakeholder seperti BMT Centre Pusat, PINBUK Pusat, Dinas Koperasi Sumatera Utara, Bank Indonesia dan pemegang kebijakan asal beberapa bank syariah yang secara rutin telah melakukan praktek kerjasama dengan hampir seluruh BMT yang ada di Sumut.

Pilihan mendatangkan para pihak itu pun dilaksanakan demi menjawab besarnya tantangan BMT dalam menghadapi persaingan ke depan yang secara internal maupun eksternal telah jadi batu sandungan di banyak BMT.  Masalah permodalan yang pada akhirnya berhubungan dengan bagaimana membangun pola kemitraan dengan beberapa bank syariah serta nasabah misalnya sebut Hoironi harus digagas lebih jelas lagi bangunan kerjasamanya.
“Begitupun, ke depan, PINBUK akan mulai memikirkan bagaimana usaha memperoleh sumber permodalan yang berasal dari diri sendiri dengan membentuk unit usaha yang dapat menjadi pendanaan bagi BMT di Sumatera Utara. Agenda agenda ini tentu akan dibicarakan dalam tingkat yang lebih serius nantinya di  Workshop dan Rapat Kerja BMT se Sumut tahun 2012,” tuturnya.

Di luar isu utama permodalan, sumber daya lain yang akan memberi ruang bagi BMT lebih luas lagi berkembang tentu akan menjadi topic hangat workshop.

Penerapan standarisasi jaringan dan IT dilihat harus menjadi menu utama yang dimainkan pelaku usaha BMT untuk masa depan, agar cita cita memiliki BMT yang dapat secara online berlangsung mampu terwujud. Bila ini bisa dilakukan, lagi lagi masyarakat strata ekonomi menengah dan bawah yang dimanjakan oleh pelayanan lembaga keuangan non bank berbasis syariah. (*/wan)

118 Perusahaan tak Punya IPAL

Terbanyak di Medan Utara

MEDAN-Sebanyak 118 perusahaan yang bergerak di bidang industri, rumah sakit dan perhotelan di Kota Medan tidak memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Hal ini dapat mengakibatkan Kota Medan menghadapi pencemaran limbah berat.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Penegakan Hukum, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemko Medan, Adnan Syam Zega saat dimintai keterangannya oleh Komisi B terkait IPAL di Kota Medan.

“Ada 84 perusahaan yang bergerak di bidang industri26 di antaranya tidak memiliki IPAL. Kemudian 82 rumah sakit yang terdaftar di BLH, 46 lainnya tidak memiliki IPAL dan 71 hotel yang terdaftar diketahui 46 hotel tidak memiliki IPAL,” kata Adnan kepada wartawan di Gedung Dewan, Rabu (15/2) siang.

Dijelaskan Adnan, ratusan perusahaan yang tidak memiliki IPAL tersebut sebagaian merupakan perusahaan yang telah dipanggil sepanjang 2011, namun belum memenuhi ketentuan atas dokumen yang dimiliki. “Dalam 2011 kita secara maraton sudah memanggil mereka (perusahaan, Red) untuk segera memenuhi ketentuan. Begitu pun sejumlah perusahaan juga ada yang sudah melakukan proses pembangunan IPAL,” ucapnya.
Mengenai IPAL, pihaknya dalam bulan April mendatang juga akan segera melakukan kontrol kembali ke sejumlah perusahaan agar segera memenuhi ketentuan seperti permasalahan IPAL.

Dikatakannya, pada tahun 2012 ini BLH akan juga memfokuskan pengawasan terhadap sejumlah unit usaha seperti rumah makan (RM), salon dan bengkel. Alasan perusahaan belum membuat IPAL karena masalah klasik seperti soal besaran anggaran yang akan digunakan dalam pembuatan IPAL.
“Biasanya yang terjadi adalah masalah biaya, karena pembuatan IPAL ini bisanya menggunakan konsultan untuk membangunnya,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi terparah berada di Medan Utara. Dari data BLH  sejumlah perusahaan yang melanggar IPAL terbanyak di Medan Utara, dari 26 perusahaan yang bergerak di bidang industri 16 diantaranya berada di kawasan Medan Utara. Sementara  dari 46 rumah sakit yang tak memiliki  IPAL 5 diantaranya berada di kawasan Medan Utara, sementara  dari 46 hotel yang tidak memiliki IPAL 2 diantaranya berada di Medan Utara.

Anggota DPRD Medan, Muslim Maksum Yusuf menilai penyebab terjadinya masalah ini karena Pemko Medan sangat gampang memberikan izin  dalam mendirikan bangun tanpa adanya IPAL.

“Untuk itu Pemko Medan untuk segera melakukan langkah dan tindakan  agar masalah IPAL ini tidak menjadi permasalahan serius dikemudian hari. Terkait masalah ini harus ada langkah dari Pemko Medan untuk segara memperbaiki keadaan khusunya di Medan Utara sebelum masalah limbah ini menjadi permasalahan yang sangat  serius di Kota Medan,” ungkapnya.

Dalam kasus ini, tambah Muslim, juga menuding Pemko Medan lemah dalam melakukan kontrol terhadap keberadaan perusahaan-perusahaan di Kota Medan sehingga masalah IPAL ini tidak pernah terselesaikan. “Kita melihat masalah ini timbul akibat dari lemahnya Pemko Medan dalam melakukan kontrol terhadap perusahaan-perusahaan. Pemko Medan sebagai pengendali seharusnya mempunyai peran penuh tidak berfungsi,” bebernya.

Terhadap ratusan perusahaan yang tak memiliki IPAL ini, Muslim mendesak Pemko Medan segara mengkaji ulang dokumen dan perizinan perusahaan-perusahaan tersebut  sehingga tidak menimbulkan keparahan lingkungan di Kota Medan.

“Pemko Medan harus mengambil langkah dengan mengkaji ulang dokumen dan izin perusahaan tersebut. Kalau perlu Pemko Medan mencabut izin perusahaan yang melanggar tersebut,” terangnya.(adl)

Tak Miliki IPAL

  1. 26 perusahaan di bidang industri 16 diantaranya berada di kawasan Medan Utara
  2. 46 rumah sakit 5 diantaranya berada di kawasan Medan Utara
  3. 46 hotel 2 diantaranya berada di Medan Utara

Kalau Hakim tak Adil, Saya yang Mengadili

Sidang Pembunuhan Teller BRI

MEDAN-Sidangan lanjutan kasus pembunuhan teller BRI Syariah, Sri Wahyuni Simangungsong digelar di PN Medan, Rabu (15/2). Sidang mendengarkan keterangan saksi Indra dan Munawir (23), warga Sergai.

Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Agus Setiawan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pardomuan Siburian SH, serta tiga terdakwa, Suherman alias Embot, Eva Lestari Surbakti serta Ria Hutabarat.

“Sebelum menitipkan mobil, Lenny (terdakwa Ria Hutabarat memakai nama samaran) dan Andi (nama samaran terdakwa Briptu Erwin Panjaitan) mendatangi kami untuk menanyakan apakah ada tanah yang disewakan untuk dibuat peternakan ayam,” ujar saksi Indra (28), pekerja ternak ayam warga Serdang Bedagai, saat memberikan keterangan.

Menurutnya, keduanya kemudian menitipkan mobil.

“Saya pernah diperiksa polisi tentang penitipan mobil Kijang Innova di ternak ayam. Mobil itu dititipkan dua orang perempuan dan laki-laki yang mengaku Andi dan Lenny, pada kami dengan alasan kedua kaca spion  mobil itu pecah. Jadi mereka takut pulang ke Medan dengan alasan ada razia polisi. Mobil itu berada dipeternakan selama tiga hari,” ujar Indra.

Namun, sambungnya, setelah tiga hari ternyata mobil itu tidak juga diambil. Dia menghubungi Lenni (terdakwa Ria Hutabarat). Terdakwa mengaku lagi di jalan menuju tempat penyimpanan mobil.

“Saya curiga dan melaporkan pada kepala lorong dan diteruskan ke polisi. Setelah itu polisi melakukan pencopotan ban depan mobilnya dengan alasan apabila mereka datang mereka harus melapor ke polisi. Namun tidak juga datang selama tiga hari lagi. Paginya mobil itu dibawa ke Polresta. Dari hasil pemeriksaan saya tahu bahwa mobil itu hasil curian,” ucap pria kurus itu.

Saksi juga tidak mengetahui kalau mobil yang ditipkan kedua tersangka padanya adalah mobil hasil curian. Mobil itu di pinggir jalan besar.
“Kami tidak pernah menerima penitipan mobil. Saya juga tidak dikasi uang penitipan. Untuk menitipkan kendaraan roda empat itu mereka (kedua terdakwa, Red) mengendarai sepeda motor. Yang duluan mosil masuk. Sebelum kejadian mereka pernah mendatangi kami, dengan alasan mencari kontrakan tanah untuk pemiliharaan ayam,” ujar Andi, yang diakui terdakwa Ria Hutabarat.

Hal senada juga dikatakan saksi lainnya Munawir, bahwa peternakan dimana ia bekerja dipagar seng, pelaku masuk melalui pintu pagar seng untuk menitipkan mobil dengan alasan banyak razia.

“Kurang tahulah ngapain mereka di Medan. Aku nggak ngarang-ngarang, Pak. Ada kunci duplikatnya, polisi itu yang bawa. Mana tahu aku kunci itu darimana.

“Roda ban depan mobil diambil polisi, karena apabila yang mentipkan mobil itu datang, agar melapor ke polisi,” ujar Manawir ketika ditanya hakim.
Munawir juga mengatakan bahwa di dalam mobil juga ditemukan rambut dan kartu handphone ditunjukkan polisi dari dalam mobil.

Selain itu JPU masih menghadirkan Rosiana, adik korban almarhum Sri Wahyuni Simangungsong dan Hainidar, ibu korban. Setelah mendengarkan keterangan para saksi hakim menutup persidangan dengan agenda menghadirkan barang bukti mobil di persidangan untuk segera dipraktekkan.
Namun pada saat persidangan ditutup, terdakwa Erwin Panjaitan yang masih duduk di kursi pesakitan, tiba-tiba Hainidar ibu almarhumah Sri Wahyuni Simangungsong, yang duduk di bangku pengunjung langsung melemparkan botol air meneral yang mengenai kepala terdakwa Erwin Panjaitan.
Suasana pun menjadi gaduh karena Hainidar terus memaki-maki terdakwa dengan segala umpatan.

“Pembunuh, polisi pembunuh, kalau kau merampok ya merampok sajalah. Hukum mati dia Pak Hakim, kami minta keadilan,” teriak Hainidar.
Begitu juga dengan bapak korban juga turut berteriak-teriak di persidangan dengan mengumpat persidangan.

“Hukum ini tidak jelas, keadilan tidak ada, persidangan ini tidak jelas, saya minta keadilan Pak Hakim. Kalau kami tidak dapat keadilan saya yang akan mengadili,” teriak pria yang sudah beruban itu. (rud)

Serikat Pekerja Dinsosnaker Medan Gelar Sosialisasi Pembinaan

MEDAN- Penyelesaian perselisihan antara perusahaan dan pekerja sebaiknya diselesaikan dengan cara mufakat. Hal itu bermanfaat untuk mencegah terjadinya aksi keributan antara pekerja dan pihak pengusaha.

Demikian terungkap dalam sosialisasi tentang pembinaan serikat pekerja yang digelar Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Medan, Jumat (10/2) di Hotel Delta Medan. Pada kesempatan itu, Direktorat Pencegahan dan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Sahat Sinurat hadir sebagai narasumber.

Sahat membeberkan, untuk menjaga suasan kondusif antara pekerja dan pengusaha dibutuhkan transparansi dalam mengelola usaha, baik itu mengenai keuangan perusahaan dan aturan yang ada. “Manfaat dari keterbukaan keuangan perusahaan untuk kalangan pekerja dalam hal mengetahui untung dan ruginya perusahaan,” ujarnya.

Dengan adanya sistem itu, dia menyebutkan pekerja bisa mengetahui posisinya, kemudian perusahaan bisa semakin baik dengan kekuatan kebersamaan dengan para pekerja. “Karena pengusaha tanpa pekerja akan mati, dan sebaliknya pekerja tanpa pengusaha tidak ada arti,” sebutnya.

Sahat menerangkan, persoalan yang muncul dari adanya gejolak anarkisme pekerja diakibatkan tidak dilaksanakannya hak pekerja, kesadaran pekerja akan perbaikan kesejahteraan dan kurangnya komunikasi antara pekerja dengan pengusaha.

“Kuncinya ditiga persoalaan itu, makanya dibutuhkan ekstra pembinaan oleh Pemerintah Daerah dan pengusaha juga harus mematuhinya,” ingatkannya.
Selanjutnya, paparnya persoalan lain terkait regulasi Pemerintah Daerah, khususnya dalam penetapan upah minimum kota (UMK). Kesesuain UMK sangat menentukan keberhasilan pengelolaan keamanan dari pekerja. “Saya lihat Kota Medan cukup baik dalam penetapan UMK, bahkan sudah ada UMSK-nya. Inilah kerja baik dari Dewan Pengupahan Kota Medan,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Pemutusan Hubungan Kerja, Dinsosnaker Kota Medan, Robert MP Tambunan mengatakan, pembinaan kepada pekerja dan pengusaha sangat sering dilakukan, bahkan pembinaan ini rutin dilaksanakan. Sehingga pengupahannya juga baik.”Kami juga aktif di Dewan Pengupahan, dan dalam penetapannya tetap melalui unsur musyawarah untuk mufakat,” katanya. (*/ril)

Citilink Raih Budgies and Travel Awards

JAKARTA: Citilink, Unit Usaha Strategis (SBU) dari PT Garuda Indonesia, Tbk, untuk jasa penerbangan berbiaya murah (LCC), berhasil memenangkan penghargaan untuk  kategori Best Overall Marketing Campaign di ajang The Budgies and Travel Awards.

The Budgies and Travel Awards adalah ajang penghargaan tahunan yang diberikan bagi para pemimpin, inovator, divisi kreatif dan para perintis dalam industri penerbangan Low Cost Carrier (LCC) yaitu, industri penerbangan berbiaya rendah di seluruh Asia Pasifik.

Penghargaan ini ditujukan sebagai bentuk apresiasi baik kepada perorangan, tim dan juga perusahaan maskapai penerbangan yang telah menunjukkan performa untuk mencapai kesuksesan dalam industri Low Cost Carrier (LCC) saat ini.

Sejak Agustus 2011, Citilink telah memulai strategi peremajaan merek dagang (brand rejuvenation) dengan tujuan meningkatkan citra dan pelayanan prima kelas dunia, sehingga Citilink  bisa menjadi salah satu maskapai penerbangan terkemuka di Indonesia.

Ternyata, kerja keras Citilink ini berbuah manis, terbukti dengan berbagai penghargaan yang diraihnya setelah melakukan peremajaan merek dagang itu. Salah satunya adalah pada 11 November 2011 lalu, Citilink mendapatkan award sebagai Indonesia Leading Low Cost Airlines 2011/2012 dari Indonesia Tour & Tourism Award (ITTA) yang dipilih oleh publik secara online.

Sebenarnya di ajang The Budgies and Travel Award 2012, CIitilink menjadi finalis untuk 3 kategori yaitu, Budgies and Travel Awards 2012 – Best Overall Marketing Campaign, Budgies and Travel Awards 2012 – Best Print Advertisement dan Budgies and Travel Awards 2012 – Best Social Media.

Pengumuman pemenang The Budgies and Travel Awards 2012 dilakukan 9 Februari 2012 lalu di Marina Bay Sand, Singapore yang diadakan bersamaan dengan Low Cost Airlines World Conference yang diadakan di tempat yang sama pada 8-10 Februari 2012.

Pemenang penghargaan The Budgies and Travel Awards 2012 dipilih melalui mekanisme polling di antara rekan-rekan industri penerbangan dan juga melalui penilaian komite penghargaan yang terdiri dari para pakar industri penerbangan.

Citilink memang telah menjalankan sejumlah kampanye yang sukses sejak peremajaan merek dagang ini diluncurkan. Salah satunya adalah kampanye pemasaran promo tarif murah Rp79.000 untuk semua tujuan.

Citilink berhasil menjual hampir 50.000 kursi dalam waktu kurang dari 6 hari, padahal kampanye pemasaran ini rencananya diadakan selama 14 hari. Ini dapat diakui sebagai prestasi luar biasa dalam peluncuran ulang brand identity  baru dengan dominasi warna hijau yang lebih segar dan mengusung tema go green.

Dua minggu lalu, sebagai bagian pemisahaan Citilink dari Garuda Indonesia, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil mengeluarkan izin operasi (SIUAU/NB) untuk PT Citilink Indonesia. Surat izin ini memungkinkan Citilink beroperasi secara terpisah dari Garuda Indonesia dan menjalankan perluasan usaha serta berpartisipasi secara aktif dalam pasar nasional sebagai Penerbangan Berbiaya Murah kelas dunia milik Grup Garuda Indonesia.(rel/sih)

Promo Album Baru, Big Bang Tour Dunia

Boyband pelantun ‘Love Song’ Big Bang kembali tahun ini dengan album kelima. Promo album kelima ‘Alive’ ditambah tur dunia, jadwal Big Bang pun telah full booked sampai akhir tahun ini.

Hal tersebut diungkapkan sang rapper TOP dalam sebuah interview dengan majalah High Cut. Ia menyatakan 2012 akan menjadi tahun yang sangat sibuk bagi Big Bang.

“Kami punya jadwal tur dunia dan seluruh jadwal sudah penuh sepanjang tahun ini. Kami akan sangat sibuk,” ujar TOP Rabu (15/2).
Selain album kelima dan tur dunia, TOP juga menyatakan Big Bang masih punya beberapa kejutan lain untuk tahun 2012 ini. Sayang, ia belum mau mengungkapkannya.

“Kami masih punya beberapa kejutan dan berita bahagia yang belum bisa diungkapkan saat ini,” ucapnya berahasia. (ast/mmu/dtc)

Pemko Siapkan Anggaran Hidran

Pemadam Kebakaran Suplai Air dari Kantor

MEDAN- Wali Kota Medan Rahudman Harahap siap menyediakan anggaran untuk hidran di Kota Medan, sebagai pendukung mengantisipasi peristiwa kebakaran yang belakangan ini sering terjadi.

“Kalau memang Pemko Medan yang harus menyediakan anggaran untuk itu, tidak ada masalah. Karena semua itu diperlukan untuk bisa bertindak cepat dalam mengantisipasi kebakaran,” kata Rahudman.

di sela-sela acara pameran otomotif, di Jalan Kapten Maulana Lubis, Rabu (15/2) siang.

Menurutnya, PDAM Tirtanadi punya kewajiban dengan Wali Kota Medan karena salah satu watertres di kawasan Belawan dikelola oleh PDAM Tirtanadi. Untuk itu, Rahudman meminta agar titik hydrant yang ada di Kota Medan harus dapat berfungsi dengan baik.

“Jangan ada titik hydrant yang tersumbat, semua harus berjalan dengan bagus. Memang selama ini masih banyak hydrant di Kota Medan yang rusak, namun kemarin PDAM Tirtanadi sudah memperbaikinya,” jelasnya.

Dikatakannya, Pemko Medan sudah melalukan kordinasi dengan PDAM Tirtanadi untuk memperbaiki hydrant yang tidak berfungsi.
“Sekarang masih ada yang tidak berfungsi dengan baik, tapi sedang dikordinasikan dengan PDAM Tirtanadi agar semua  hydrant difugsikan kembali,” ucapnya.

Kepala Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (P2K), Marihot Tampubolon mengatakan hydrant yang ada di Medan ini masih sangat minim mengakibatkan petugas pemadam sulit untuk mendapatkan akses air, sehingga kalau terjadi kebakaran, petugas kebakaran terpaksa harus kembali ke kantor P2K untuk menyuplai air.

“Hydrant yang ada di Medan itu hanya 30 persen yang bagus. Kondisi ini jelas sangat menyulitkan bagi kita untuk mengantisipasi kebakaran. Kalau hydrant tidak tersedia dengan baik di daerah lokasi kebakaran, maka akses air terpaksa kita ambil kembali dari kantor dan itu memakan waktu, dan terkadang mengakibatkan api yang sudah mereda kembali membesar, inilah yang sering kami alami,” kata Marihot.

Marihot sangat mengharapkan agar PDAM Tirtanadi dapat melakukan perawatan hydrant secara berkala, dengan begitu maka akan sangat memudahkan petugas pemadam kebakaran dalam mengantisipasi kebakaran membesar.

Sebelumnya, Kepala Bidang Publikasi PDAM Tirtanadi Medan, Jumirin menjelaskan dari 150 jumlah hydrant di Medan yang berfungsi dengan baik hanya 91 unit.

“Hydrant kita memang hanya 150, yang aktif 91 unit. Kita berupaya untuk melakukan pengadaannya tapi terganjal kepada anggaran sebab untuk pengadaan hydrant ini membutuhkan biaya yang banyak,” kata Jumirin.Berdasarkan data dari PDAM Tirtanadi ketersediaan hydrant di Medan sebanyak 91 itu ada di Medan Denai 8 unit, di Medan Kota 25 unit, Delitua sebanyak 6 unit, Sei Agul sebanyak 4 unit, Belawan 1 unit. Amplas sebanyak 2 unit. Selain itu di kawasan Diski sebanyak 11 unit, Sunggal sebanyak 8 unit, Tuasan 5 unit, Cemara sebanyak 6 unit, HM Yamin sebanyak 5 unit, Padang Bulan 6 unit dan di kawasan Medan Labuhan sebanyak 4 unit.

Dijelaskan Jumirin, untuk melakukan pengadaan satu unit hydrant membutuhkan biaya hingga Rp43 juta. “Satu unit hydrant itu harganya Rp9,5 juta tapi untuk satu set yang lengkap bisa mencapai Rp43 juta. Selama ini kita juga terus melakukan perawatan setiap bulannya. Dan sering mengganti gate valve atau tutup yang biayanya juga tinggi sekitar Rp1 juta per satu gate valve,” terang Jumirin.

Jumirin mengatakan, kalau gate valve tidak diganti, maka akan terjadi kebocoran yang merugikan bagi PDAM. “Selama ini kita terus melakukan monitor terhadap hydrant yang ada di Medan, kalau gate valve nya rusak maka kita ganti, perawatan tetap kita lakukan,” kata Jumirin.
Disinggung soal minimnya hydrant yang tersedia hanya 150 dan bahkan yang aktif hanya 91 unit, Jumirin menyebutkan untuk pengadaan hydrant memang pihaknya masih terganjal kepada anggaran yang ada. (adl)

Denada Melepas Masa Lajang

Ingin Buru-buru Hamil

Pasangan Denada Tambunan (33) & Jerry Aurum telah resmi menikah di Bali, Rabu (15/2) pagi. Tiga adat yang berbeda yakni Jawa, Islam dan Cina memakai acara pernikahan tersebut.

“Kalau kemarin pakai adat Jawa, kalau tadi Islam, nah nanti pakai adat Cina,” ungkap Emilia Contesa, ibunda Denada.
Di acara itu, Denada juga akan mendapat angpao dari para keluarga. Namun, ternyata ada permintaan khusus dari pelantun ‘Kujelang Hari’ itu.
“Lucu banget, Dena maunya setiap orang yang ngasih angpao harus angka sembilan. Saya juga nggak tahu kenapa, padahal dulu Dena sukanya angka delapan,” ujarnya.

Pernikahan keduanya memang tertutup bagi awak media. Bahkan, acara tersebut diketahui ketika Jerry memajang foto pernikahannya di Twitter.
“Ladies n gentlemen, may we present you.. Mr. & Mrs. Jerry Aurum ;)” tulis Jerry dalam akunnya.
Setelah menikah, pemilik nama asli Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan itu ingin buru-buru hamil dan menimang buah cintanya dengan sang suami, Jerry Aurum.

Tidak hanya Denada yang ingin segera punya anak. Sang ibunda Emilia Contessa juga sudah tidak sabar untuk menggendong cucu.
“Saya sudah bilang sama dia, bulan depan harus isi atau bulan depannya lagi, jangan ditunda-tunda. Dan dia juga bilang, iya, Ma sudah nggak sabar mau buru-buru hamil’,” ujar Emilia.

Tak tanggung-tanggung Denada siap punya anak banyak. Ia ingin memiliki keluarga yang ramai. “Maunya banyak, katanya biar ramai,” jelas Emilia bahagia. (yla/mmu/dtc)

Bekas Taman Ria Layak Jadi Gedung Baru DPRD

Polemik pemindahan gedung baru DPRD Medan belum juga tuntas. Kenapa? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Adlansyah Nasution dengan Sekretaris Fraksi Partai Damai Sejahtera (F-PDS) DPRD Medan, Budiman Panjaitan.

Dimana lokasi yang cocok untuk gedung baru?

Yang sangat cocok lahan eks Taman Ria yang merupakan milik Pemko Medan.

Apa pendapat Anda soal rehab?
Jika wacana itu terwujud maka hal tersebut dapat semakin mengefisiensikan penggunaan anggaran. Artinya, anggaran untuk pindah dan sewa kantor sementara DPRD Medan dapat tersimpan. Sebab, selama proses pembangunan gedung baru berlangsung di eks lahan Taman Ria aktifitas DPRD Medan masih bisa dilaksanakan di kantor yang sekarang. Jadi, efesiensi anggaran dan waktu pun dapat dilakukan.

Apa keuntungan bagi Pemko Medan?
Jika kantor baru DPRD Medan di lahan eks Taman Ria, maka hal ini tentu juga akan semakin menambah aset Pemko Medan. Dimana kantor lama DPRD Medan bisa dijadikan untuk kantor lain dan kantor baru DPRD Medan menjadi aset baru. Artinya, ada upaya penambahan aset. Bukan malah sebaliknya ada upaya untuk pelepasan atau menjual aset.

Apa yang Anda lakukan?
Anggota DPRD Medan akan berkordinasi dulu dengan pimpinan dewan dan pimpinan alat kelengkapan dewan serta pihak-pihak terkait. Secara pribadi, saya menilai sebuah wacana yang bagus.(*)

Kerasukan, Siswi PKL di PN Medan Pingsan

MEDAN-Ruang Bidang Perdata pengurusan akta kelahiran mendadak heboh. Pasalnya, seorang siswi SMK swasta APIPSU, Tika (17) yang sedang melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) tiba-tiba kerasukan Rabu (15/2).

Tika yang saat itu sedang melaksanakan PKL di ruangan perdata tiba-tiba saja jatuh dan tidak sadarkan diri dibarengi kerasukan.
Berdasarkan informasi yang didapat dari salah seorang staf di bidang Perdata PN Medan, sebelum kejadian Tika terlihat sibuk membantu pengurusan surat-surat akte kelahiran milik masyarakat. Namun tiba-tiba Tika  mendadak pingsan dan berteriak.

Kejadian itu membuat seluruh staf pegawai dan masyarakat di PN Medan menjadi kaget. Beberapa staf Pengadilan Negeri Medan langsung memberikan pertolongan pada Tika.

“Kami juga kurang tahu dia kenapa. Tiba-tiba dia jatuh pingsan. Terus dia teriak-teriak,” jelas rekan korban yang juga siswi PKL yang terlihat sibuk membantu rekannya yang kerasukan.

Berdasarkan keterangan, Tika melihat makhluk halus di ruang perdata PN Medan, sehingga tiba-tiba syok dan langsung jatuh pingsan.
“Tadi katanya dia melihat roh halus. Makanya dia langsung pingsan,” terang seorang staf pengadilan.
Setelah hampir satu jam mengalami kerasukan, akhirnya Tika berhasil sadar berkat bantuan dari beberapa staf yang melakukan pertolongan.(rud)