31 C
Medan
Sunday, February 1, 2026
Home Blog Page 13861

Cap Go Meh di City Walk dan Yanglim

MEDAN-Kegiatan Mega Bazar memeriahkan Cap Go Meh berlangsung meriah di komplek City Walk Perumahan Royal Sumatera Medan, Sabtu (4/2) malam. Rencananya kegiatan ini akan berlangsung hingga Senin (6/2).

Kegiatan dimeriahkan pertunjukan barongsai, modern dance, magic show, lampion terbang dan aneka acara lain. Pengunjung juga bisa berbelanja sembari beramal pada puluhan stan penjualan.

Kemeriahan juga terjadi di Bazar Cap Go Meh di pelataran parkir Yanglim Plaza Jalan Emas Medan, Sabtu (4/2). Di sini juga dimeriahkan dengan berbagai acara termasuk lomba nyanyi lagu Mandarin dan pameran puluhan stan.

Direktur Utama Bank Sumut H Gus Irawan Pasaribu yang hadir dalam Mega  Bazar Cap Go Meh di City Walk mengungkapkan dukungan terhadap rencana membangun pusat kuliner terbesar di Medan di City Walk Royal Sumatera yang akan menjadi ikon pariwisata Sumatera Utara.
Menurut Gus Irawan, mega bazar yang dilaksanakan Lions Club Distrik 307 yang hasilnya digunakan untuk kegiatan bakti sosial sekaligus membantu masyarakat kurang mampu harus terus dikembangkan. ‘’Lions Club banyak melaksanakan kegiatan sosial termasuk memberi beasiswa bagi lebih seribu anak kurang mampu, operasi katarak gratis dan kepedulian sosial lain,’’ katanya.

Ia mengatakan, anggota Lions Club akan menjadi penghuni surga berkat bakti sosial yang dilaksanakan dalam membantu masyarakat. Untuk itu, Gus mengatakan, keberadaan Lions Club menjadi contoh teladan bagi organisasi bersifat sosial karena memberi manfaat bagi masyarakat Sumut.
Direktur Utama Bank Sumut ini juga mengatakan, momentum Imlek dan Cap Go Meh pada Tahun Naga Air akan semakin meningkatkan rezeki bagai air yang terus mengalir.

Secara terpisah Anggota DPD RI yang juga Ketua Perhimpunan Pendonor Darah Indonesia (PPDI) Sumut Parlindungan Purba SH MM bersama Wali Kota Medan diwakili Kadis Pariwisata Busral Manan juga memberi apresiasi pada Bazar Cap Go Meh di Yanglim Plaza Medan.

‘’Ini hal yang bagus dan menggembirakan yang dilaksanakan Lions Club Medan Mulia yang juga Ketua PPDI Kota Medan. Ini menunjukkan kepedulian karena hasilnya dipakai untuk amal. Hal semacam ini harus terus ditanamkan terutama pada para generasi muda,’’ imbuhnya.
Kadis Pariwisata Medan Busral Manan menambahkan even ini dapat terus dikembangkan di masa mendatang. Apalagi, menurut dia, saat ini pemerintah dan bersama pihak terkait sedang melaksanakan program Medan Visit Year 2012. (dmp)

Warga Sari Rejo Tunggu Janji Wali Kota

Warga Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia masih menunggu janji  Wali Kota Medan, Drs H Rahudman Harahap untuk menyelesaikan tanah di Sari Rejo. Apa kata warga ? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos Adlansyah Nasution bersaman Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas), Riwayat Pakpahan.

Bagaimana perjuangan warga terhadap tanah Sari Rejo?

Kami hanya meminta agar segera menuntaskan persoalan status tanah seluas 260 hektare di Kelurahan Sari Rejo. Kami tahu, Wali Kota Medan sudah memperjuangkan hak warga Sari Rejo sejak dirinya menjabat Pj Wali Kota Medan. Dengan melakukan pembuktian seperti merealisasikan janjinya kepada warga Kelurahan Sari Rejo, diketahui saat melakukan kunjungan ke Mabes TNI di Jakarta Utara pada 2010 lalu.
Selanjutnya menyerahkan berkas terkait persoalan tanah Kelurahan Sari Rejo seluas 260 hektar.

Hal lainnya, Rahudman juga menggelar pembahasan mengenai persoalan tanah di Kelurahan Sari Rejo dengan sejumlah petinggi TNI AU di Medan. Dalam pembicaraan itu ada keputusan Pemko Medan menyurati Mabes TNI, Menteri Petahanan dan Departemen Keuangan. Sekarang, Wali Kota kemmbali menunjukkan buktinya tetap memperjuangkan tanah di Kelurahan Sari Rejo dengan menyurati Mabes TNI, Menteri Petahanan dan Departemen Keuangan agar masalah tanah Sari Rejo diserahkan kepadanya.

Selanjutnya apa yang dilakukan warga?

Kami hanya bisa menunggu janji Wali Kota Medan selama dua minggu sejak kemarin silatuhrahmi Wali Kota Medan bersama warga Kelurahan Sari Rejo, Kamis (2/2) lalu. Ke depan, janji untuk menyelesaikan tanah masyarakat. Diharapkan dalam waktu tersebut sudah rampung. Kami meminta kepada Wali Kota Medan agar jangan hanya berjanji saja, tanpa ada titik terangnya. Warga sudah jenuh dengan janji-janjinya. Kita kan tahu, saat Rahudman Harahap menjadi Penjabat Wali Kota Medan telah berjanji untuk menyelesaikan persoalan tanah Sari Rejo, namun sampai saat ini tidak ada terealisasi. Untuk itu, diminta kepada Pemko Medan jangan terus menerus mengumbar janji kepada masyarakat. Kita sangat mengharapkan janji Wali Kota Medan menyelesaikannya. Kita yakin kalau pak wali benar-benar ingin memperjuangkan nasib warga Sari Rejo, maka pasti akan terealisasi.

Sudah sampai sejauh mana penyelesaian status tanah ini?

Formas sudah menyampaikan permasalahan ini ke Presiden, Kemenham, Kemenkeu, BPN Pusat, DPR, DPD,Gubernur Sumut,wali kota, Kakanwil BPN Sumut,BPN Medan, DPRD Sumut dan DPRD Medan,tapi tidak ada juga titik terang. Masyarakat sudah tidak tahu lagi mau mengadu kemana.
Hanya dengan memanjatkan doa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, semoga membuka pintu hati para pengambil keputusan dalam penyelesaian tanah di Kelurahan Sari Rejo dengan seadil-adilnya.

Kesepakatan antara Pemko Medan dan TNI AU harus memberikan hak masyarakat sepenuhnya dengan eksistensi yang diklaim bersertifikat.Karena kalau ditinjau dari beberapa aspek, seperti aspek historis, tanah Kelurahan Sari Rejo telah dikuasai dan ditempati masyarakat sejak 1948. Sedangkan aspek yuridis, masyarakat telah memperoleh putusan MA pada tahun 1995, dan aspek sosialnya masyarakat berbagai etnis hidup harmonis dengan rasa persaudaraan dan saling hormat menghormati.

Bagaimana insfratruktur di Kelurahan Sari Rejo?

Fasilitas dari Pemko Medan berupa infrastruktur, mulai dari jalan dan gang yang sudah di aspal, ditambah lagi fasilitas lain, seperti listrik, jaringan PDAM, dan telepon yang menjadikan kawasan hunian mandiri kompak dan lengkap. Bukan itu saja, bila disebutkan tanah tersebut terdaftar di Departemen Pertahanan (Dephan), selama ini warga sudah membayar Pajak Bumi Bangunan (PBB). Artinya, tanah Sari Rejo sudah bagian dari masyarakat. Persoalan tanah Sari Rejo bukan hanya persoalan legalitas , melainkan kemauan kuat dari pengambil kebijakan.Buktinya bila ada kebijakan, berdiri sejumlah bangunan besar di satu kesatuan tanah Sari Rejo. Jadi perlakukan juga 30-an ribu penduduk di Sari Rejo dengan seadil-adilnya.

Kami hanya meminta agar penyelesaian tanah Kelurahan Sari Rejo sebaiknya bisa lebih diseriusi. Bukan hanya menjadi  wacana dan janji. Masyarakat sudah iri dengan adanya sertifikat yang dimiliki oleh para pengembang di sekitar Kelurahan Sari Rejo.Pak Wali mempunyai kewenangan yang besar. Kami harapkan Wali Kota segera memukulkan tongkatnya, agar tanah di Kelurahan Sari Rejo jadi milik masyarakat. Yang dikhawatirkan muncul gejolak yang besar, karena masalah tanah merupakan hal yang sangat rentan,(*)

Pasangan Nikah Diwajibkan Tanam Dua Pohon, ICMI Mengecam

PEMERINTAH Kota Medan bersama Kementerian Agama (Kemeneg) Kota Medan mewacanakan bagi pasangan calon pengantin muda diwajibkan menanam pohon minimal dua pohon.

Namun Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Syaiful Bahri menganggap wacana itu perlu dilakukan rapat kerja lagi agar sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat dapat diterima.

“Itu kan wacana yang baru diusulkan dalam program Kemenag Kota Medan. Untuk itu, Pemko Medan akan mensosialisasikannya lagi. Jadi untuk teknisnya akan dilakukan rapat kerja kembali Maret nanti. Di situ baru dibahas apa yang menjadi program Kemenag,” kata Syaiful kepada Sumut Pos, Minggu (5/2) .

Dijelaskannya, pelaksanakan rapat kerja dimulai pada tanggal 22-25 Maret 2012. Dalam rapat itu akan dihadiri pejabat di lingkungan Kemenag Kota Medan, Kepala KUA se-Kota Medan, Kepala Madrasah MIN, MTsN dan MAN se-Kota Medan, penyuluh agama Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu.
“Dalam pelaksanaan rapat kerja itu akan dilaksanakan berbagai program. Salah satunya berupa penandatanganan MoU dengan Dinas Pertamanan Kota Medan, tentang gerakan penanaman satu miliar pohon bagi calon pengantin di Kota Medan. Artinya, setiap pengantin yang akan melangsungkan pernikahan diwajibkan menanam dua pohon. Langkah ini dilakukan Kemenag dalam upaya mendukung program wali kota untuk menjadikan Kota Medan hijau,” ujar Syaiful.

Masyarakat Kota Medan, Andre Imanuel yang tinggal di Jalan Sakti Lubis sangat mendukung program tersebut. Namun, dirinya berharap kepada Pemko Medan untuk lebih jelas mengartikan penanaman pohon dalam mendukung Kota Medan hijau.

“Bibit apa yang akan ditanam? dan siapa yang menanggung setip bibit pohon itu? Kita masyarakat sangat mendukung program pemerintah untuk Kota Medan, sudah jelas setiap program yang dibuat pasti ada alasannya. Tetapi kami hanya meminta agar bibit untuk ditanam jangan dibebankan kepada masyarakat lagi, karena untuk membuat Kota Medan hijau sudah ada anggaran yang disediakan Pemko Medan,” jelas Andre yang mengaku belum menikah.

Sedangkan, Rosmawati warga Jalan multatuli, Kecamatan Medan Kota memberikan aspresiasi yang baik kepada Pemko Medan. Dengan penanaman dua pohon setiap calon pengantin membuktikan tanam pohon untuk awal hidup baru. “Kalau itu sangat bagus, jadi bisa membuktikan setiap calon pengantin dibarengi dengan menanam dua pohon membuktikan kalau menikah sama artinya dengan memulai hidup baru,” cetusnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Derah (DPRD) Kota Medan, Juliandi meminta kepada Pemko Medan untuk mensosialisasikan program Kemenag Medan tersebut kepada masyarakat.

“Bukan masalah dukung atau tak mendukung. Tetapi nggak mesti sekali, calon pengantin wajib menanam pohon. Siapa saja pun boleh menanam pohon kalau memang itu untuk mendukung program Kota Medan hijau,” kata politisi Fraksi PKS ini.

Menurutnya, dalam persyaratan rukun nikah tidak ada mengatur untuk mewajibkan menanam pohon. Dengan begitu, Kemenag Medan harus tetap berpegangan pada ketentuan yang berlaku sesuai dengan rukun nikah. “Syarat nikah kan sesuai dengan rukun nikah. Itu yang terpenting, jadi kalau memang itu untuk mensukseskan program Kota Medan wajar saja, yang terpenting harus disosialisasikan dahulu,” jelasnya mengakhiri.

Sementara itu, kewajiban menanam dua pohon bagi calon pengantin yang akan menikah di Medan mendapat reaksi dari Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Medan. Kebijakan semacam ini akan disomasi ICMI Kota Medan baik kepada Kepala Kemenag Medan dan Wali Kota Medan karena melanggar syariat agama.

‘’Tidak ada kewajiban menanam pohon bagi calon pengantin yang akan menikah. Kita menolak MoU  Kemenag Medan dengan Wali Kota Medan karena akan menambah beban bagi calon pengantin. Selama ini dalam mengurus suatu pernikahan, calon pengantin dan keluarga sudah disibukan dengan berbagai kelengkapan administrasi pernikahan,’’ kata Ketua ICMI Kota Medan Indra Sakti Harahap ST MSi di Medan, Minggu (5/2).

Selain itu, lanjut Indra yang juga mahasiswa Strata-3 USU, calon pengantin dan keluarga juga dibuat pusing dengan biaya nikah dan keperluan lain. ‘’Tidak ada hukumnya dalam agama Islam. Dalam rukun nikah yang diwajibkan adalah adanya pengantin lelaki, pengantin perempuan, wali pengantin perempuan, dua orang saksi serta ijab dan qabul,’’ sebut Indra.

Ia berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang memiliki dasar hukum sehingga tidak membingungkan dan menyusahkan masyarakat.
‘’Jangan jadi pelawak dan Wali Kota Medan jangan terjebak dalam membuat kebijakan yang tidak memiliki dasar hukum apalagi memberatkan masyarakat,’’ tegasnya.

Ketua ICMI Kota Medan menegaskan, pihaknya segera melayangkan somasi apabila kebijakan penanaman pohon bagi calon pengantin dijadikan kewajiban. ‘’Kita segera ajukan somasi terhadap pemerintah yang mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai dengan aturan syariat. Pemerintah harusnya memberi kemudahan bagi calon pengantin dalam mengurus surat nikah, biaya dan hal lain,’’ kata Indra. (*)

Motor Paman pun Diembat

Iqbal (26) memang benar-benar gelap mata. Sudah tinggal menumpang di rumah pamannya, Surya (34) di Jalan Bangau Perumnas Mandala, malah nekad
membawa kabur sepeda motor milik pamannya. Bahkan sepeda motor Honda Beat BK 6001 AJ yang dibawa kabur itu dijual dengan harga Rp1,5 juta.
Sebenarnya Iqbal sudah mendapat kepercayaan dari Surya untuk menggunakan sepeda motor itu. Buktinya sepeda motor itu sering dipinjam Iqbal dari Surya untuk jalan-jalan.

Tetapi entah mengapa Selasa (24/1) lalu itu, Iqbal gelap mata. Hari itu ia kembali meminjam sepeda motor Surya dengan alasan hendak membeli nasi. Karena biasa, Surya memberikan motor Beat nya kepada keponakannya itu.

Kecemasan Surya muncul, saat mengetahui Iqbal belum juga pulang padahal ia sudah seharian menggunakan motornya. Hingga esok hari ditunggu, Iqbal tak kunjung pulang.

Melihat sepeda motor milik tak kunjung dikembali oleh Iqbal, kesalan pun timbul dalam jiwa Surya. Kemudian mencoba mencari Iqbal ke tempat kawan-kawanya, namun tak ketemu juga.

Seminggu ditunggu-tunggu Iqbal tak juga pulang. Akhirnya, Surya memutuskan melaporkan Iqbal ke Polsek Percut Seituan. Surya yang ditemani abang kandungnya Rahmat melakukan pencarian terhadap Iqbal kembali.

Saat melintas di jalan Lau Dendang, Percut Seituan, Jumat (3/2) mereka melihat Iqbal.

Rahmat yang tak mau kehilangan buruannya langsung menangkap Iqbal dan selanjutnya menyerahkannya ke Mapolsek Percut Seituan.
Di Mapolsek Percut Seituan Iqbal mengaku nekat menjual sepeda motor milik pamannya itu, lantaran tidak memiliki uang dan pekerjaan.
“Saya menjual kereta itu karena tak punya uang pak, kereta itu dijual kepada temannya saya, Hendro warga Lau Dendang seharga Rp.1,5 juta,” akunya saat diperiksa Juru Periksa (Juper) Mapolsek Percut Seituan, Sabtu (4/2).

Kapolsek Percut Seituan Kompol Maringan Simanjuntak menjelaskan, tersangka kini ditahan dalam kasus penggelapan. Kini pihaknya akan melakukan pengembangan untuk menangkap penadahnya.

“ Kita masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka, kita akan melakukan pengembangan untuk menangkap penadahnya,” katanya singkat.(gus)

Ada Pria Bakar Rumah Kami…

Kebakaran di Pasar III Tanjung Sari

MEDAN-Rumah kontrakan ditempati Hera di Jalan Bunga Cempaka, Pasar III belakang Musala Nurul Huda musnah terbakar, Minggu (5/2) siang. Kejadian
itu mengundang banyak warga melihat kebakaran rumah di kawasan padat pemukiman tersebut.

Suara hinggar bingar juga terjadi karena saksi mata dari keluarga pemilik rumah kontrakan itu berteriak histris.

‘’Kenapa rumah kami yang dibakar. Tadi kami sempat lihat ada pria yang menyusup ke rumah kontrakan yang kebetulan lagi kosong,’’ teriak perempuan warga turunan India itu histeris.

Keluarga pemilik rumah berteriak-teriak bahwa pria itu menyusup dan membakar rumah. Namun sayangnya pembakar rumah tadi sudah menghilang sehingga tak berhasil ditemukan.

Saksi mata di lokasi kebakaran menyebut rumah kontrakan yang ditempati Hera yang juga pedagang makanan. ‘’Kebakaran terjadi begitu cepat hingga
menghanguskan rumah beserta isinya. Di dalam juga terdapat tiga tabung gas,’’ kata warga.

Amatan di lapangan, api cepat melalap api karena lima unit pemadam kebakaran telat tiba di lokasi kebakaran. Kemudian pemadam kesulitan menjangkau lokasi kebakaran karena sempitnya gang kebakaran di daerah tersebut.

Kebakaran ini juga menyebabkan kemacetan di ruas Jalan Cempaka dan Setia Budi Medan karena banyak masyarakat yang ingin melihat kejadian tersebut. (dmp/wan)

Jika Terbukti Korupsi Wisma Atlet Anas Janji Tinggalkan Politik

JOGJAKARTA- Di Jakarta, posisi Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat tengah digoyang menyusul dugaan keterlibatannya dalam kasus wisma atlet. Di Jogjakarta, dia menanggapi perkembangan tersebut dengan berjanji meninggalkan politik kalau terbukti korupsi.

“Nuwun sewu (mohon maaf, Red), kalau korupsi, saya akan berhenti dari politik,” ujar Anas saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebangsaan Merawat NKRI yang diselenggarakan Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Jogjakarta Besar di Hotel Jogjakarta Plaza kemarin (5/2).

Anas mengungkapkan tekad itu saat menjawab seorang peserta yang menanyakan kebenaran Anas korupsi atau tidak. Mantan ketua umum PB HMI tersebut tidak bersedia memberikan jawaban yang panjang. Anas hanya menegaskan, bila kasus wisma atlet menyeret namanya atau menjadi tersangka kasus korupsi, dirinya akan pensiun dari dunia politik.
Setelah acara, Anas juga sempat menyinggung perkara yang mendera sejawatnya, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Angelina Sondakh yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi wisma atlet oleh KPK. Menurut Anas, partainya siap memberikan pembelaan hukum bila memang janda Adjie Massaid tersebut meminta.

Sementara, untuk menjernihkan persoalan partainya, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar temu pers di rumahnya, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (5/2).

Salah satu penegasan SBY, bisa membuat Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum lega. Pasalnya, SBY memastikan Anas tidak akan dinonaktifkan sebelum ada keputusan KPK yang menetapkannya sebagai tersangka.
‘’Saya katakan tidak ada penonaktifan saudara Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat. Mengapa? Proses hukum di KPK masih berlangsung. Kita pegang asas praduga tak bersalah,’’ kata SBY.

Sementara menanggapi menurunnya tingkat elektabilitas Partai Demokrat yang dirilis lembaga survei baru-baru ini. SBY tidak menyanggahnya. Dia memaklumi kalau penurunan itu mungkin terjadi akibat serangan politik, situasi menjelang Pemilu 2014, dan pemberitaan media. Terutama dengan terbawanya nama Anas Urbaningrum dalam kasus suap wisma atlet.

Sebelumnya, riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA kali terakhir mengungkapkan, untuk kali pertama sejak 2009, Demokrat terpuruk di peringkat ketiga. Posisi pertama dan kedua diambil alih Partai Golkar dan PDIP. Tingkat dukungan masing-masing 18,9 persen dan 14,2 persen, sedangkan Demokrat hanya 13,7 persen. (pri/bay/kuh/dyn/kus/ c10/c11/ttg/jpnn)

Bisakah Merpati Hidup Lagi?

Manufacturing Hope 6

Oleh: Dahlan Iskan
Menteri BUMN

KADANG libur itu penting. Pada hari tanpa kesibukan itulah persoalan yang rumit bisa dibicarakan secara mendasar, detail, dan habis-habisan. Misalnya, pada hari libur Sabtu lalu. Enam jam penuh bisa membicarakan rumitnya persoalan Merpati Nusantara Airline.

Tidak hanya direksi dan komisaris yang hadir, tapi juga seluruh manajer senior. Ruang rapat sampai tidak cukup sehingga pindah ke ruang tamu yang secara kilat dijadikan arena perdebatan.
Meski saya yang memimpin rapat, tidak ada hierarki di situ. Segala macam jabatan dan predikat saya minta ditanggalkan. Tidak ada menteri, tidak ada dirut, tidak ada komisaris, dan tidak ada bawahan. Semua sejajar sebagai orang bebas. Duduknya pun tidak diatur dan tidak teratur.

Operator laptop dan proyektornya sampai duduk di lantai. Kebetulan saya juga hanya memakai kaus dan celana olahraga. Belum mandi pula. Baru selesai berolahraga bersama 30.000 karyawan dan keluarga Bank Rakyat Indonesia se-Jakarta memperingati Ultah ke-116 mereka yang gegap gempita.

Pindah dari acara BRI ke acara Merpati pagi itu rasanya seperti pindah dari surga ke Marunda. Dari perusahaan yang labanya Rp14 triliun ke perusahaan yang ruginya tidak habis-habisnya. Dari jalannya operasional saja Merpati sudah rugi besar.

Apalagi, kalau ditambah beban-beban utangnya. Tiap bulan pendapatannya hanya Rp133 miliar. Pengeluarannya Rp178 miliar. Pesawatnya tua-tua. Sekali dapat yang baru MA 60 pula.
Suasana kerja di Merpati pun sudah seperti perusahaan yang no hope! Maka, jelaslah bahwa persoalan Merpati tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.

Restrukturisasi perusahaan dengan cara modern sudah dicoba sejak dua tahun lalu. Belum ada hasilnya “bahkan tanda-tandanya sekali pun. Upaya restrukturisasi ini telah menghabiskan energi luar biasa. Lebih-lebih menghabiskan waktu dan kesempatan.

Panjangnya proses pengadaan pesawat Tiongkok MA 60 membuat peluang lama hilang begitu saja. Rute-rute kosong yang semula akan diisi MA 60 telanjur dimasuki Wing dan Susi Air yang lebih kompetitif. MA 60 yang menurut para pilot merupakan pesawat yang bagus, lebih berat lagi bebannya setelah teerjadi kecelakaan di Kaimana.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kualitas pesawat itu ikut membuat Merpati ibarat petinju yang sudah sempoyongan tiba-tiba terkena pukulan berat.
Merpati memang sering kehilangan momentum. Bahkan, seperti sudah kehilangan momentum sejak dari lahirnya. Ketika kali pertama dipisahkan dari Garuda, pesawat-pesawatnya diambil, tapi utangnya ditinggalkan. Beban-beban lain juga menumpuk.

Semua itu enak sekali dijadikan kambing hitam oleh manajemen. Setiap manajemen yang gagal punya alasan pembenarannya. Kadang manajemen lebih sibuk mengumpulkan kambing hitam daripada bekerja keras dan melakukan efisiensi.
Benarkah tidak ada hope lagi di Merpati?

Itulah yang melalui forum pada hari libur Sabtu lalu ingin saya ketahui. Terutama sebelum saya membuat keputusan yang tragis: ditutup! Segala macam usaha sudah dilakukan.
Dua bulan lalu sebenarnya saya sudah menyederhanakan manajemen Merpati. Jabatan wakil Dirut saya hapus. Jumlah direktur saya kurangi. Ini agar manajemen lebih lincah. Juga terbebas dari beban psikologis karena wakil Dirutnya lebih senior dari sang Dirut.

Rupanya itu belum cukup. Saya harus masuk lebih ke dalam. Tiba-tiba saya ingin berdialog langsung. Dialog yang intensif dan tanpa batas dengan jajaran yang lebih bawah.  Di masa lalu saya sering mendapat pengalaman ini: banyak ide bagus justru datang dari orang bawah yang langsung bekerja di lapangan. Bukan dari konseptor yang bekerja di belakang meja.

Memang ada rencana pemerintah dan DPR untuk membantu keuangan Merpati Rp561 miliar. Tapi, akankah uang itu bermanfaat? Atau hanya akan terbang terhambur begitu saja ke udara? Seperti ratusan miliar uang-uang negara sebelumnya?
Tentu saya tidak ingin seperti itu. Harus ada jaminan ini: dengan suntikan tersebut Merpati bisa hidup dan berkembang. Tidak seperti suntikan-suntikan uang ratusan miliar rupiah di masa lalu. Ini juga harus menjadi uang terakhir dari negara untuk Merpati. Sudah terlalu besar negara terus menyuntik Merpati, dengan hasil yang masih begitu-begitu saja.

Karena itu, saya kemukakan terus terang di forum: daripada uang Rp561 miliar tersebut terhambur ke udara begitu saja dan karyawan pada akhirnya kehilangan pekerjaan juga, lebih baik Merpati ditutup sekarang juga. Uang itu bisa dibelikan kebun kelapa sawit. Tiap karyawan mendapat pesangon 2 ha kebun sawit.

Orang Riau punya dalil: satu keluarga yang punya 2 ha kebun sawit, sudah bisa hidup sampai menyekolahkan anak ke ITB! Memiliki 2 ha kebun sawit lebih memberikan masa depan daripada terus menjadi karyawan Merpati.
Tentu ide ini membuat pertemuan heboh. Sekaligus peserta pertemuan tertantang untuk menolaknya. Mereka tidak rela kalau Merpati harus mati. Kebun sawit bukan bandingan untuk masa depan. Oke. Saya setuju. So what? Kalau dari operasionalnya saja sudah rugi, masih adakah alasan untuk mempertahankannya?

Maka, saya ajukan ide untuk melakukan pembahasan topik per topik. Ini untuk mengecek apakah benar masih ada harapan?

Topik pertama: bagaimana membuat pendapatan Merpati lebih besar dari pengeluarannya. Kalau tidak ada jalan yang konkret di topik ini, putusannya jelas: Merpati harus ditutup.
Asumsinya: bagaimana bisa memikul beban lain kalau dari operasionalnya sudah rugi besar. Berapa pun modal digerojokkan tidak akan ada artinya. Lebih baik untuk beli kebun sawit!
Meski logika sawit begitu jelas dan rasional, rupanya masih banyak yang takut mengubah jalan hidup. Ketika hal itu saya kemukakan, seseorang nyeletuk dari arah belakang. “Salah Pak Dahlan! Bukan kami takut menjadi petani sawit, tapi Merpati ini masih punya peluang besar,” katanya. “Asal semua orang di Merpati punya etos kerja yang hebat,” tambahnya.

Etos kerja ini begitu sering dia sebut sebagai penyebab utama kesulitan Merpati sekarang ini. Dia sangat percaya etos itulah kuncinya, sehingga sepanjang enam jam rapat itu dia selalu dipanggil dengan nama Pak Etos.
Pak Etos mungkin benar. Tapi, itu masih kurang konkret. Yang diperlukan adalah usul konkret dan realistis. Yang bisa membuat pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Yang bisa dilaksanakan dalam keadaan Merpati as is.
Pagi itu begitu sulit mencari ide yang membumi. Saya pun lantas teringat pada gurauan pedagang-pedagang sukses seperti ini: “Tuhan itu baik. Tapi, uanglah yang bisa membuat orang mengatakan Tuhan itu baik”.

Rupanya perlu rangsangan material untuk melahirkan ide-ide kreatif. Rupanya perlu dana untuk mendatangkan Tuhan. Maka, saya tawarkan di forum itu: peserta rapat yang mengusulkan ide terbaik akan saya beri hadiah satu mobil baru, Avanza, dari kantong saya pribadi.

Rapat pun menjadi heboh. Gelak tawa memenuhi ruangan. Ide belum muncul, tapi warna mobil sudah harus dibicarakan. Setuju: warna krem! Neraka sawit ternyata tidak menarik. Surga Avanzalah yang menggiurkan. Pantaslah kalau Jakarta macet!

Tuhan rupanya benar-benar datang. Inspirasi bermunculan. Hampir semua peserta rapat mengangkat tangan. Mereka berebut mendaftarkan ide. Angkat tangan lagi untuk ide kedua. Ide ketiga. Bahkan, ada yang sampai mendaftarkan lima ide.
Setelah terkumpul 53 ide, barulah diperdebatkan. Mana yang konkret dan mana yang terlalu umum. Mana yang menghasilkan rupiah, mana yang menghasilkan semangat. Mana yang membuat pendapatan lebih besar, mana yang membuat pengeluaran lebih kecil.

Ide-ide itu kemudian di-ranking. Dari yang terbaik sampai yang terkurang. Dari yang terbanyak menghasilkan rupiah sampai yang menghasilkan etos. Perdebatan amat seru karena masing-masing mempertahankan idenya. Terjadi diskusi yang luar biasa intensif, mengalahkan rapat kerja bagian pemasaran.

Dari ranking yang dibuat, memang sudah bisa diketahui siapa yang bakal dapat mobil. Tapi, ada yang protes. “Sebaiknya hadiah baru diberikan setelah ide itu jadi kenyataan,” teriaknya.

Rupanya, dia ingin membuktikan, meski idenya kalah ranking, dalam pelaksanaannya kelak akan mengalahkan juara ranking itu. Setuju. Kita lihat dulu kenyataan di lapangan. Peluang bagi ide yang ranking-nya di bawah pun masih terbuka.
Tentu ide-ide itu masih dirahasiakan. Ini terutama karena masih akan dirumuskan dalam bentuk program kerja nyata di lapangan. Tapi, semua ide memang sangat menarik. Dari sinilah bisa diketahui bahwa Merpati seharusnya tidak akan rugi secara operasional. Kalau ini terlaksana, pemilik dana tidak akan ragu membantu. Alhamdulillah. Tuhan memberkati.

Topik berikutnya adalah MA 60. Bagaimana kinerjanya selama ini? Apakah bisa menghasilkan uang dan terutama bagaimana mengembalikan citra yang rusak akibat kecelakaan Kaimana?
Banyak juga ide gila yang muncul. Termasuk ide bahwa khusus untuk MA 60 sebaiknya dicarikan pilot bule. Seperti pesawatnya Susi Air. Orang kita lebih percaya kepada bule daripada bangsa sendiri. Ketidakpercayaan orang terhadap MA 60 bisa ditutup dengan pilot orang bule. Huh!

Saya benci dengan ide ini. Tapi, demi Merpati saya menerimanya! Maka, setelah enam jam berdebat, tepat pukul 16.00, rapat pun diakhiri dengan lega. Saya bisa segera pulang untuk mandi pagi! (*)

Penulis adalah Menteri BUMN

Buntut Tapal Batas Sumut-Riau Berdarah, Mendagri Panggil Kedua Gubernur

PEKANBARU- Untuk menyelesaikan masalah tapal batas antara Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Utara, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Gamawan Fauzi memnggil kedua gubernur untuk melakukan pembahasan di Jakarta. Menurut Mendagri, masalah tapal batas tersebut harus secepatnya diselesaikan.

Saat ini, masalah tapal batas bagi Riau yang belum selesai memang hanya dengan Sumatera Utara. Demikian pernyataan tersebut diungkapkannya kepada wartawan di Hotel Pangeran Pekanbaru, Sabtu (4/11). “Iya, saya akan undang kedua Kepala Daerah ke Jakarta secepatnya, pekan depan sudah harus direalisasikan. Tugas saya adalah memastikan tapal batas ini agar tidak lagi menjadi sumber konflik antara kedua belah pihak. Saat ini ada 800 segmen batas wilayah yang harus diselesaikan oleh kementerian dalam negeri. Ini sangat prioritas, Gubernur sudah beberapa kali menyampaikan pada kami,’ kata Mendagri.

Dijelaskan juga oleh Mendagri bahwa tapal batas Riau dengan Jambi, Sumatera Barat dan Kepri sudah selesai, tinggal dengan Sumatera saja. Sementara, saat ini masalah keamanan dan penyelesaian masalah hukum pasca konflik yang terjadi di Batang Kumu, Kabupaten Rohul adalah wewenang kepolisian. “Penyelesaian hukumnya menjadi wewenang polisi dan silahkan secepatnya diselesaikan,’ kata Mendagri.

Sementara itu,  pihak Polda Sumut hingga kini terus menyelidiki aktor intelektual atas kerusuhan. Selain itu, personel Brimob yang berada di lokasi pun terus diperiksa Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Tapsel. “Apakah ada aktor intelektual ataupun provokator dibalik kerusuhan itu, kini masih kita selidiki. Begitu juga anggota Brimob yang di lokasi sedang diperiksa Propam,” ujar Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Raden Heru Prakso.
Sementara itu, saat disinggung tentang nasib dua warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu Riau, yakni Amunur Sitorus (48) dan Sukardi (57) yang sempat diamankan petugas Polres Tapsel saat terjadi aksi bentrok, Heru mengaku  belum mengetahui. “Saya belum ada monitor apakah mereka ditahan atau tidak,  yang jelas keduanya diamankan untuk dimintai keterangan terkait bentrok itu,” kata Heru. (rul/epp/jpnn/mag-5)

Dua Sejoli Terperangkap di Taman Bunga

Asyik memadu kasih, dua sejoli Rihat Saragih (19) warga Tanah Jawa dan Erika Siregar (17) warga Marihat, sempat terkurung di Taman Bunga, Kota Pematangsiantar, Sabtu (4/2) malam, hingga pukul 23.30 WIB. Bagaimana ceritanya?

Informasi dihimpun, kedua pasangan remaja yang sedang kasmaran ini sengaja memilih Taman Bunga, menghabiskan waktu berdua untuk menikmati malam minggu ke Taman Bunga. Rihat dan Erika berdua naik sepeda motor sekira pukul 22.00 WIB.

Kemudian keduanya mojok. Namun karena keasyikan bercerita, keduanya sampai lupa waktu hingga larut malam.

Mereka baru tersadar saat  hendak beranjak dari taman hijau yang diapit Jalan Merdeka dan WR Supratman itu, rupanya gerbang Taman Bunga sudah ditutup. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.
Kemudian keduanya berkeliling Taman Bunga untuk mencari gerbang yang masih terbuka. Rupanya, seluruh pintu keluar sudah digembok. Rihat dan Erika bingung, panik bercampur cemas. Keduanya pun terpaksa mengulang adegan-adegan yang mereka inginkan, agar tidak terasa waktu terbuang.

Salah seorang pengunjung menyebutkan, ketika itu suasana taman bunga sudah sepi, namun mereka terkejut atas kehadiran pasangan ini datang dari dalam dan mengatakan mereka terkurung di dalam taman bunga.
Selanjutnya mereka minta tolong supaya dibantu untuk mengangkat sepeda motor Honda metiknya lewat tembok besi.

Pengunjung tersebut pun langsung memanggil petugas malam yang selalu berjaga dan menceritakan bahwa masih ada sepasang kekasih yang tertinggal di dalam taman bunga, membutuhkan pertolongan.
Dengan wajah ketakutan dan pucat, Rihat terpaku dan terduduk lesu memohon dan meminta maaf kepada petugas bahwa mereka tidak menyadari kalau gerbang sudah ditutup. Sedangkan Erika yang memakai  baju kaus oblong coklat, hanya tertunduk malu ketika beberapa orang disekitar memperhatikan sleting roknya yang masih belum terkancing.

Kepada METRO (grup Sumut Pos), keduanya mengaku tidak berbuat mesum. “Kami hanya bercerita tentang keseharian masing-masing seminggu terakhir. Kami tidak melakukan yang tidak-tidak (mesum, red),” ujar Rihat.
Ditanya kenapa tidak nongkrong di warung bakso atau kafe dan atau sejenisnya, remaja yang mengaku masih duduk di salah satu SMA di Kota Pematangsiantar ini mengaku, tidak punya uang.  Ketika hendak pulang, mereka takut dan gugup melihat gerbang sudah ditutup. Alhasil mereka meminta tolong kepada pengunjung yang berada di warung luar taman bunga. Setelah pengunjung memberitahu kepada petugas keamanan, mereka akhirnya keluar dari taman bunga setelah gerbang dibuka kembali.

Sebelum pulang, petugas taman bunga terlebih dahulu menasehati  pasangan remaja ini supaya tidak lagi datang pada malam hari.
Petugas keamanan mengaku, selalu menututp taman bunga pada pukul 23.00 WIB untuk malam minggu. Sedangkan untuk hari biasa pukul 22.00 WIB. (mag-1/smg)

Dijamu PSMS di Stadion Teladan, Persiba Nyerah Duluan

MEDAN-PSMS Medan tetap ditakuti meski masih berada di peringkat 15 atau peringkat tiga terbawah klasemen sementara Indonesia Super League (ISL). Buktinya, Persiba Balikpapan yang menghuni peringkat 7 malah ‘ketakutan’ bertandangn

ke Stadion Teladan, kandang PSMS malam ini. Sebelum laga yang digelar pukul 19.00 WIB nanti, Persiba malah sudah terkesan nyerah duluan.
“Kita ragu bisa mencuri poin,” tutur asisten pelatih Persiba Sukliwon Irianto.

Sukliwon menggarisbawahi, kekalahan PSMS atas Persegres atawa Gresik United beberapa hari lalu bukanlah keuntungan bagi Beruang Madu, julukan Persiba. “Masalah yang baru dihadapi PSMS. Pasalnya, tim ini pasti tidak mau melakukan kesalahan kedua dengan kalah di kandang lagi. Bisa jadi ini awal kebangkitan PSMS,” tutur asisten pelatih Persiba Sukliwon Irianto.

Apalagi, tim Kalimantan sedang pincang. Kondisi tim tamu sedang minus dua pemain inti. Tak pelak, melawan PSMS, sang arsitek Hariadi mengubah pola permainan dan formasi yang kerap dipakainya. “Formasi yang dipakai pelatih memang sering berubah. Tapi pelatih lebih cenderung menggunakan formasi 3-4-3 dengan tipikal menyerang. Namun, menghadapi PSMS kali ini, kemungkinan ia akan mengubahnya menjadi 5-3-2 yang cenderung bertahan,” papar Sukliwon.
Mengenai adaptasi pemain di Medan, Sukliwon mengaku cuaca di Medan lebih hangat. “Di sini lebih panas, matahari terik. Namun, ini tak menjadi kendala bagi skuad karena pertandingan akan berlangsung malam,” ujarnya.
Sementara, PSMS kini diarsiteki asisten pelatih Suharto AD yang didaulat menangani tim hingga paruh musim, karena pelatih PSMS Raja Isa didepak manajemen. Di tangan Suharto, tim berjuluk Ayam Kinantan ini punya bekal yang cukup. Suharto menerangkan, bukan hanya memanfaatkan semua pemain yang diyakini memiliki potensi, tapi juga pengalaman musim lalu saat menangani PSMS di Divisi Utama.

Dari data PSMS musim lalu, pelatih berkepala plontos ini memiliki track record yang fantastis. Di Stadion Teladan ia hanya mencatat dua kali kekalahan. Dari fakta itu, Suharto berharap hal terebut bisa terjadi lagi hari ini.
Dengan kondisi tim yang sama pada musim kompetisi Divisi Utama lalu, Suharto berhasil melejitkan prestasi PSMS dengan menempatkan PSMS di posisi ketiga klasemen akhir. “Saya harap prestasi lalu bisa terulang. Dan ini bukan hanya harapan saya, tapi masyarakat Medan pada umumnya,” kata Suharto.

Seperti diberitakan sebelumnya, Suharto tak akan meneruskan formasi yang digadang-gadang pelatih terdahulu Raja Isa. Menurutnya, dengan memanfaatkan materi pemain yang ada, PSMS lebih potensial menggunakan formasi 4-4-2. (saz)