30 C
Medan
Thursday, January 29, 2026
Home Blog Page 13909

Artis Suka Diselingkuhi Pejabat

Dua fakta mengejutkan, pedangdut Melinda menjadi istri simpanan Bupati Cirebon Dedi Supardi, bahkan pekan lalu Shinta Bachir juga secara terangterangan mengaku memiliki hubungan mesra dengan eks Kapolda Metro Jaya. Fakta tersebut, bukan satu dua kasus saja. Bahkan, sang artis bisa memasang tarif sebesar Rp500 juta untuk ngobrol bersama dengan pejabat, pengusaha atau pria bule, ada pula yang hingga berhubungan asmara. Akibatnya profesi artis cendrung dijadikan untuk mendulang rupiah dari hubungan asmara.

Anne J Cotto: Rusak Citra Korps

Melinda

KASUS Melinda dan Shinta Bachir dirasa tambah mencoreng citra artis. Meskipun posisi keduanya jadi korban, perselingkuhan apalagi dengan pejabat beristri jelas salah. Anne J Cotto tak mau hal ini diulangi rekan-rekannya sesama “Kasus kayak gini, bikin nama artis rusak.

Padahal artis ini juga pekerjaan yang baik-baik loh. Kita pun sebagai perempuan tak ingin diremehkan,” ucapnya.

Diakuinya, banyak artis yang kesengsem digebet kalangan berduit. Bisa pejabat, pengusaha atau bule. Bahkan ada yang terang-terangan pasang tarif.

“Siapa sih perempuan yang nggak suka duit. Aku nggak usah sebut nama, ada yang dipanjar Rp500 juta, itu cuma untuk teman ngobrol. Lain lagi sama pria asing, bisa dibayangkan duitnya kan,” bebernya.

Namun bintang sinetron laga Dendam Nyi Pelet ini tak seluruhnya menyalahkan si artis. Sang pejabat pun punya andil dengan banyak rayuan dan uang ‘pelicin’. Singkatnya, artis dan pejabat samasama membutuhkan.

“Begitu murah kah wanita Indonesia. Ini fakta di sekitar kita. Kalau sudah ada kesepakatan, pasti sama-sama enak,” ujarnya.

Gimana sih menebak artis yang jadi simpanan pejabat? Gampang saja kata pemain film Gairah Perawan ini. “Keliatan banget kalau lagi nonton bioskop atau jalan di mall. Sebenarnya banyak yang tahu, ngeliat langsung tapi males dan bingung laporinnya kemana,” sebutnya.

Saking seriusnya, istri pengusaha asal AS Mark Hanus ini bahkan mengimbau pemerintah untuk bikin peraturan tentang artis trafficking.

“Kalau ada Undang-undang seperti itu, berarti negara dan pemerintah melindungi artis dari keburukan. Syukur-syukur jauhin artis dari perdagangan manusia,” katanya. (ins/jpnn)

Purie Mahadewi: Senyum Genit Tanda Lampu Hijau

MENJADI artis itu harus siap mental. Tergoda sedikit taruhannya karier dan nama baik. Itu makanya personil duo Mahadewi ini selalu menjaga sikap.

“Godaan di dunia (hiburan) ini sangat besar. Kalau dari awal sikapnya salah, kesananya susah dibenerin,” kata Purie.

Ia mengaku kerap dirayu oknum pejabat saat manggung ke daerah. Usahanya macam-macam.

Mulai dari ajakan ketemu pribadi yang disampaikan via ajudan si pejabat sampai meminta langsung.

Tapi itu semua ditolak mentah-mentah.

“Orang kan tahu mana senyum kita untuk menghibur, mana senyum yang genit. Jadi bersikap saja. Orang nggak bakalan kurang ajar kalau kita bersikap. Kalu kita senyumnya genit orang juga mikirnya sebagai lampu hijau,” tuturnya.

Diakui oleh perempuan bernama lengkap Purie Andriani ini, pergaulan di dunia hiburan sangat kompleks. Seakan ada tuntutan agar artis siap melakukan apa saja demi eksistensi.

“Misalnya selingkuh itu masalah, ya jangan didekati. Kalau tetap juga ya pasti dapat masalah,” ujarnya.

Adanya ancaman dari pejabat ke artis simpanannya menurut Purie adalah wajar. Tapi kalau sudah menjurus fisik apalagi sampai ancam mati, itu berlebihan dan patut diproses secara hukum.

“Rumit memang. Tapi kita tak akan memanen apa yang tidak kita tanam. Jadi, dia menuai apa yang ditanam,” celotehnya.(bcg/jpnn)

Olivia Jensen: Banyak Teman Diajak Om-om

Olyvia Jensen

TAK mau bernasib sama seperti Shinta Bachir, Olivia Jensen perketat pergaulan. Ia tak mau nama baik diri dan keluarganya tercoreng oleh berita perselingkuhan.

“Aku keras apalagi kalau soal harga diri. Makanya aku selalu utamakan cara berpakaian hingga memilih teman,” ujarnya.

Gadis kelahiran Denmark ini mengaku berhubungan dengan banyak pejabat atau orang penting. Tapi semua statusnya cuma kenalan biasa. Untungnya lagi, di usianya yang belia, Olivia selalu dibimbing oleh orang tua.

Tak cuma artis, teman-teman seumuran Olivia ada yang jadi cewek simpanan. Rata-rata kisahnya sama, mulai iseng sampai keenakan.

“Banyak lah, mereka mudah diajak om-om,” tukas teman dekat penyanyi Afgan Syah Reza ini.

Seolah membudaya, perselingkuhan karena faktor materi mulai dikritisi oleh siswi Bandung International School ini. (ins/jpnn)

Rita Dinah Kandi Makin Seksi Rentan Digoyang

BERITA perselingkuhan pedangdut Melinda dan Shinta Bachir dengan eks Kapolda Metro Jaya bikin hati penyanyi senior, Rita Dinah Kandi sedih.

“Tadinya aku selalu positive thinking sama isu kayak gitu. Tapi kok makin menjadi dan kayaknya benar. Padahal profesi ini (artis) bagiku mulia. Ya jadinya rusak karena artis ngerusak dirinya sendiri,” tuturnya.

Diakuinya, bahwa pekerjaan artis rentan godaan. Apalagi kecantikan dan gaya seksi sering disalahartikan pria hidung belang.

“Dunia artis itu glamour, gampang digoyang uang, harta, kedudukan. Semakin seksi dan cantik, artis makin digoda orang berduit,” ujarnya.

Tingginya tuntutan karier, juga memaksa artis menghalalkan segala cara meraup popularitas.

Dan itu, modalnya tidak sedikit. “Makanya rela jadi simpanan. Bukan cuma pejabat, tapi pengusaha, aparat, kalangan profesional, politisi bahkan mahasiswa,” bebernya. (ins/jpnn)

“666”, Temukan dan Hitung Bilangan Angkanya

Firman Tuhan mengatakan… Wahyu 13 : 17 ~ dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu binatang itu atau bilangan namanya.

Wahyu 13 : 18 ~ Yang penting di sini ialah hikmat:barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

Perhatikan huruf yang bertulis tebal! 1. “…tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual…” Banyak orang yang akan bingung dengan kebutuhan sehari-harinya, mereka harus memakai tanda itu (666) untuk membeli dan menjual segala sesuatu. Khususnya mereka umat Kristen yang mengetahui ini semua, mereka sangat bingung untuk mengambil keputusan. Apa yang terjadi ketika pada masa itu datang ? Akankah kita bisa menahan diri untuk menolak ? Tidak taukah kalian barang-barang yang ada di supermarket itu sudah menjadi kebutuhan pokok kita, bahkan shampo untuk rambut kita pun tidak mau kita ganti dengan merk lain.

So, what the next to do ? … 2. “…binatang itu atau bilangan namanya.” Berarti “BINATANG = BILANGAN” binatang itu sudah menjelma sebagai bilangan yang sudah menyebar kemana- mana yaitu angka 666. Kalian tau contoh apa saja yang sudah masuk 666 ? baca sampai akhir ulasan seputar Alkitab ini.

3. “Yang penting di sini adalah hikmat….” “…bijaksana…” Solusi untuk pertahanan kita terhadap bilangan 666 itu adalah kita harus memiliki hikmat dan menjadi bijaksana. Lalu hikmat itu untuk apa ?…. next no. 4 4. “…baiklah ia menghitung bilangan binatang itu…” Hikmat kita dipergunakan untuk MENCARI DAN MENCOBA UNTUK SELALU BERHITUNG-HITUNG SEGALA SESUATU YANG BISA MENJADI BILANGAN 666 ATAU ANGKA 666.

5. “…enam ratus enam puluh enam…” Firman Tuhan sudah jelas untuk menyatakan bilangan 666 yang akan menjadi penguasa di dunia ketika hari kiamat. Be Careful ! Contoh (perlu hikmat dan bijaksana untuk menjugde ini) : ***belum tentu juga 1. DJI SAM SOE 234 Coba hitung angka 234 dengan “234 di balik” menjadi 432 234 + 432 = 666 ini contoh fotonya http://www.facebook.com/badi0002#!/photo.php?fbid=189264381116378&set=t.100000716804162&theater 2. Barcode 666 Hampir semua orang pasti tahu setiap barcode yang ada di produkproduk yang dijual di supermarket.

Disitu ada 3 GARIS YANG LEBIH PANJANG DI ANTARA LAINNYA.

Banyak yang membicarakan bila itu di scan ada angka di balik barcode itu yang sengaja tidak ditulis dibawah garis. Tertulis angka 666 dari 3 Garis itu.

Lihat Gambar http://www.facebook.com/photo.php?fbid=189097664466383&set=at.116770215032462.7403.100000984510435.100000716804162&theater

3. Peristiwa baru-baru ini yaitu 60+ Earth Hour Mematikan lampu sejak pukul 20.30 sampai 21.30. Muncul Angka 666 dibalik sebuah kegiatan.

Lihat Gambar http://www.facebook.com/?ref=home#!/photo.php?fbid=1647374060140&set=p.1647374060140&theater

Lihat Gambar http://www.facebook.com/?ref=home#!/photo.php?fbid=189091281133688&set= at.116770215032462.7403.100000984-510435.100000716804162&theater

4. Munculnya Chip RFID (666) Chip yang di tanamkan ke tangan kanan atau dahi. Seukuran ruas jari telunjuk lebih kecil malah. Yang berfungsi untuk menampilkan data profile seseorang dan melacak keberadaan seseorang melalui satelit yang terpancar lewat Chip RFID tersebut.(*/artikelkristen)

Tekad Curi Angka

PERSIBO vs PSMS

MEDAN-Tak hanya tuan rumah Persibo Bojonegoro yang bertekad meraih poin penuh di laga lanjutan kompetisi IPL kontra PSMS di Stadion Jendral Sudirman, Minggu (29/1). PSMS juga bertekad mencuri angka sebelum pulang ke Medan.

Di atas kertas, laga tersebut ibarat pertarungan David versus Goliath, karena saat ini tim besutan Paolo Camargo tersebut berada di posisi kedua klasemen sementara IPL membayang-bayangi Semen Padang di puncak. Sedangkan PSMS yang takluk 4-1 di pertandingan sebelumnya menghadapi Persema Malang Senin (23/1) lalu hanya berada satu tingkat di atas juru kunci Persijap Jepara.

Pelatih PSMS Fabio Lopez menuturkan, skuad besutannya kini lebih siap.

Ia juga bertekad tidak ingin mengulang kejadian di pertandingan sebelumnya.

Tim berjuluk Ayam Kinantan ini sudah menyiapkan antisipasi jelang laga kenam tersebut. “Saya masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi di pertandingan sebelumnya. Tapi yang jelas, seperti juga dengan tim tuan rumah, kami juga bertekad meraih angka,” ungkapnya, Sabtu (28/1).

Tak seperti laga sebelumnya yang tanpa adaptasi main malam hari, kemarin sore, Vagner Luis dkk juga telah mencoba stadion di jam yang sama seperti waktu pertandingan yang dijadwalkan.

Tentu saja kondisi tersebut menjadi satu nilai tambah, selain antisipasi terhadap kekuatan musuh.

Tapi untuk antisipasi, tampaknya pelatih berkebangsaan Brazil itu tak terlalu memedulikan kekuatan lawan. Tak ada persiapan luar biasa jelang pertandingan tersebut. “Semua pertandingan kita persiapkan biasa saja, tidak ada yang luar biasa,” tutur Fabio.

Kendati tetap optimis, persiapan PSMS tidaklah seperti tim berjuluk Laskar Angling Dharmo itu. Berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain, PSMS juga tidak menemukan lapangan yang tepat untuk menggelar persiapan. Tentu saja hal tersebut mempengaruhi persiapan tim.

“Kita 12 hari di luar kota berpindahpindah, tentu jadi awal yang kurang baik. Mudah-mudahan tim tidak bermain di bawah performa besok (Hari ini, Red),” kata mantan pemandu bakat tim Liga Serie A Italia Atalanta dan Fiorentina FC tersebut. (saz)

PSMS Mulai Incar Kemenangan

MEDAN-Pada laga lanjutan kompetisi ISL 2 Februari mendatang, PSMS akan menjamu tim yang berada satu tingkat di atasnya pada klasemen sementara. Persegres Gresik yang sudah bertanding sembilan kali baru berhasil meraih masing-masing dua kali kemenangan dan seri, serta menelan lima kali kekalahan.

Sementara, PSMS baru memperoleh tujuh poin dari tujuh laga yang dilakoni. Pada tujuh laga, tim berjuluk Ayak Kinantan ini meraih satu kemenangan, empat seri dan dua kali kalah. Di atas kertas, PSMS memiliki rekor kalah lebih sedikit, baik partai kandang mau pun tandang. Karena itu, sudah satu keharusan PSMS bisa meraih poin penuh di Stadion Teladan meladeni tim berjuluk Laskar Jaka Samudera itu.

Pelatih PSMS Raja Isa juga menaruh tingkat optimistis tinggi kemenangan tim besutannya pada laga kali ini. Meski di lapangan, Persegres memiliki pemain kunci Agus Indra yang memainkan peran play maker dengan cukup apik.

Ditambah dua pemain veteran Uston Nawawi dan Anang Ma’ruf yang memiliki segudang pengalaman.

Dilengkapi tiga pemain asing yang memiliki skill individual yang mumpuni, Gustavo Chena, James Koko Lomell dan eks striker PSMS Gaton Castano.

“Mereka (Persegres) di tangan Freddy Mulli secara taktis sangat bergantung pada play-makernya Agus Indra. Memanfaatkan skill dan pengalaman skuad yang dimilikinya, Freddy dengan tangan dinginnya akan meracik taktik dan strategi dangan cukup baik,” kata Raja Isa, Sabtu (28/1).

Menurut Raja Isa, Persegres juga sangat ahli dalam memanfaatkan bola-bola mati. Karena itu, ia sudah menerapkan taktik dan strategi untuk membendung serangan-serangan dan merusak pertahanan tim besutan Freddy itu. “Sejak pulang dari Surabaya, saya sudah menerapkan latihan kepada tim, dengan mempelajari permainan- permainan Persegres dan dipraktikkan di lapangan,” ujarnya.

“Kita harus bisa menguasai ball position serta tak terpancing emosi agar bisa bermain baik dan tenang,” tambahnya.

Menurut pelatih berkebangsaan Malaysia ini, menutup ruang gerak pemain lawan sangat mutlak adanya. “Mengingat skill individu pemain Persegres yang merata, sangat dimungkinkan pergerakan pemain cukup aktif nanti. Karena itu, menutup gerak mereka adalah keharusan,” kata Raja Isa. (saz)

Takut Imbang Lagi, PSMS Target 12 Angka

MEDAN-Dari tujuh laga terakhir yang dilakoni skuad PSMS, tim berjuluk Ayam Kinantan ini baru mengoleksi satu kali kemenangan, dua kekalahan dan empat seri. Dari 18 tim yang meramaikan kompetisi ISL, tercatat PSMS merupakan satu tim dengan mengoleksi hasil seri terbanyak. Saat ini, predikat ‘Raja’ draw masih melekat di PSMS, hingga skuad asuhan Raja Isa mampu memaksimalkan penampilan di empat partai kandang yang bakal dilakoni sepanjang Februari 2012 ini.

Menanggapi hal tersebut, Raja Isa menuturkan, hasil empat kali seri yang diraih PSMS merupakan hal yang memuaskan. Pasalnya, menurut pelatih berkebangsaan Malaysia ini, empat laga seri itu semuanya meladeni tim-tim papan atas ISL, yang notabene dijuluki Raja Isa sebagai tim-tim ‘Timnas Kedua.’ “Pada laga-laga itu, kita tetap berusaha untuk menang. Anakanak sudah melakukan yang terbaik, namun tetap tuhan yang menentukan. Artinya, di sepak bola semua bisa terjadi,” ungkap Raja Isa.

Eks pelatih Persipura Jayapura ini juga mengatakan, masyarakat Kota Medan harus bisa memandang laga-laga yang berakhir imbang itu secara realistic, mengingat yang dilawan merupakan tim-tim berlabel Timnas.

Untuk itu, Raja Isa ngotot, pada empat laga kandang yang bakal dilakoni PSMS kontra Persegres Gresik (2 Februari), Persiba Balikpapan (6 Februari), Persiram Raja Ampat (16 Februari) dan Sriwijaya FC (20 Februari), tim asuhannya menargetkan minimal meraih 10 poin. “Maksimalnya kita harapkan bisa meraih 12 poin,” tuturnya.

Dengan raihan poin tersebut, paling tidak PSMS akan meluncur ke posisi 7 dan 8 klasemen sementara panggung ISL, yang saat ini PSMS masih menduduki posisi 15 dengan mengoleksi tujuh poin.

Karena itu, ia berharap semua pemain bisa bermain baik dalam tiap pertandingan.

“Yang terpenting adalah, pemain tetap fokus dan konsentrasi. Karena kompstisi ISL merupakan kompetisi yang sangat ketat,” ujar eks pelatih Persiram itu.

Ia mencontohkan, dalam beberapa pertandingan yang dihelat di kompetisi ISL, banyak terjadi golgol akibat kesalahan pemain belakang yang tak mengantisipasi pergerakan pemain lawan atau pun bola. Sehingga blunder hingga gol bunuh diri kerap terjadi. “Ini dikarenakan faktor pemain yang kurang tenang menyikapi laga. Dan kita berharap, pada empat laga kandang ini, pemain bisa benar-benar fokus,” tandasnya. (saz)

Kejar Eropa

MALAGA vs SEVILLA

MALAGA-Bagi tuan rumah Malaga, laga dini hari yang berlangsung di Stadion La Rosaleda akan sangat penting untuk dimenangi. Pasalnya, jika tim yang kini dibesut Manuel Pellegrini itu mampu mencuri hasil maksimal, maka mereka akan berada di zona Eropa.

Saat ini Malaga menempati peringkat kesepuluh dengan poin 25 atau tertinggal satu angka dari Sevilla yang menempati peringkat kesembilan.

Artinya, jika dini hari nanti meraih kemenangan, maka Ruud van Nisttelrooy dkk yang memiliki poin 28 akan naik ke peringkat keenam menggeser posisi Osasuna yang memiliki poin 27. Jadi, Malaga yang diawal musim banyak mempergunakan pemain bintang akan berada di zona Eropa.

“Itu target realistis yang diusung tim. Saya yakin jika kami akan meraih kemenangan pada laga nanti,” bilang Sergio Sanchez, bek Malaga yang pernah memperkuat Sevilla.

Selanjutnya Sanchez mengatakan bahwa laga nanti akan sangat berarti bagi dirinya, karena Sanchez ingin membuktikan kepada manajemen Sevilla jika mereka telah melakukan kesalahan saat mendepaknya.

“Semua orang yang ada di sini (Malaga, Red) mengetahui jika saya pernah memperkuat Sevilla. Tapi mereka percaya jika saya akan tampil fight jika diturunkan pelatih,” bilang Sanchez.

Sanchez boleh saja optimis, namun dirinya juga harus menyadari jika Malaga sudah lebih dari enam tahun tak mampu meraih kemenangan di hadapan pendukungnya sendiri.

Parahnya, ketika hasrat untuk meraih kemenangan semakin membuncah, di saat itu pula Manuel Pellegrini, entrenador Malaga harus menghadapi kenyataan bahwa winger andalannya Joaquin Sanchez tak dapat dimainkan karena cedera hamstring.

“Kami sangat membutuhkannya, namun tak ada yang bisa mencegah cedera itu. Saya yakin, bukan hanya kami saja yang menyesal dengan cedera itu, dia (Joaquin, Red) pun pasti menyesalinya juga,” tandas Pellegrini.

Sementara di tempat terpisah Marcelino, entrenador Sevilla mengatakan bahwa saat ini posisi timnya sedang di atas angin karena buruknya rekor kandang Malaga jika berhadapan dengan Sevilla.

“Semoga itu (rekor pertemuan) membuat mereka gugup dan bersikap tak tenang dalam melakoni pertandingan yang ada di depan mata,” harap Marcelino.

“Kondisi akan semakin parah jika mereka terlalu bernafsu melakukan serangan. Kami siap dengan counter attack yang mematikan untuk meraih kemenangan,” tuntas Marceliono. (jun)

Suarez Kursus Bahasa Inggris

TERSANDUNG kasus rasisme ternyata memberi imbas positif bagi Luis Suarez. Striker Liverpool asal Uruguay itu kini dikabarkan mengambil kursus bahasa Inggris tambahan.

Tentu saja, Suarez berharap kursus ekstra itu tidak hanya membuat dirinya fasih berbahasa Inggris.

Namun, juga berguna untuk meminimalisasi kesalahpahaman seperti saat dirinya dipersalahkan gara-gara mengucapkan kata-kata rasial kepada bek kiri Manchester United Patrice Evra dalam laga Premier League di Anfield pada 15 Oktober 2011.

Dalam sebuah insiden, Suarez menggunakan menggunakan kata ‘negrito’ (negro) kepada Evra.

Dalam bahasa Inggris, negro terkait dengan diskriminasi warna kulit.

Sedangkan versi Suarez, negrito di Uruguay memiliki banyak arti. Bisa warna kulit maupun warna rambut.

Suarez sejatinya sudah mengambil kursus bahasa Inggris selama beberapa bulan di awal bergabung dengan Liverpool tepat setahun lalu. Tapi, hasilnya kurang maksimal.

Itulah sebabnya, atas saran beberapa temannya, Suarez yang sudah memulai karir di Eropa sejak enam tahun lalu bersama FC Groningen itu setuju untuk menjalani kursus lagi.

“Itu (kursus bahasa Inggris tambahan) menunjukkan besarnya komitmen Luis kepada Liverpool. Dia juga tetap rajin berlatih sekalipun menjalani skors,” kata Sebastian Coates, defender Liverpool yang juga kompatriot Suarez, seperti dilansir El Pais.

Dibandingkan Suarez, Coates yang baru awal musim ini didatangkan Liverpool dari klub Uruguay Nacional tersebut lumayan fasih berbahasa Inggris. Itu mengingat Coates memiliki ayah berkebangsaan Skotlandia. “Saya dan Luis cukup beruntung memperkuat sebuah klub multinasional seperti Liverpool karena perbedaan bahasa tidak menjadi masalah serius,” jelas Coates yang meraih predikat pemain muda terbaik Copa America 2011 itu.

Suarez baru boleh merumput ketika menghadapi United di Old Trafford bulan depan (11/2).(dns/jpnn)

Rahasia di Balik Keberhasilan Ricardo Kaka

I Belong to Jesus

LAHIR di Brasilia tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaka lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong.

Kaka punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.

Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang terkenal di daerahnya dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub Sao Paulo.

Di usia 18 tahun sebuah bencana terjadi, ia mengalami cidera punggung serius saat berenang.

Dokter mengatakan ia kemungkinan besar akan lumpuh. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.

Hidup Kaka hancur berantakan saat itu. Kecintaannya pada sepakbola demikian besar, harus berakhir dengan kelumpuhannya.

Namun Kaka tahu kemana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaka bergumul dengan Tuhan, berdoa memohon kesembuhannya. Ia bernazar pada Tuhan, bila sembuh dan dapat bermain sepakbola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya Tuhan Yesus.

Dan keajaibanpun terjadi, setahun setelah kecelakaan 2000 itu, Tuhan memberi kesembuhan total . Ia dapat merumput bermain bola lagi.

Tuhan juga memberikan bonus, ia berkesempatan bermain di klub-klub besar dunia.

Tuhan membuat permainan Kaka menjadi begitu hebat sehingga manager tim nasional Brazil terpikat dan memanggil Kaka ke timnas untuk bertarung di piala dunia 2002. Bagi Kaka itu adalah keajaiban dan anugerah yang besar.

Meski hanya sebagai pemain cadangan, Kaka tidak menyadari Tuhan sedang menyediakan keajaiban lainnya bagi dia. Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brazil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cidera. Datanglah kesempatan bagi Kaka untuk turun membela timnya. Di bawah pembelaannya Brazil pun menang. Kaka mengangkat seragamnya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan, kaos putih itu bertuliskan “I Love Jesus”.

Itu terus dilakukannya setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akhirnya Brazil memenangkan Piala Dunia 2002, setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan di negaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan ‘I love Jesus’ itu tidak pernah dilepas. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brazil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.

Saat diwawancara stasiun TV, ia berkata, “Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka.” Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia.

Kaka pun bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga yang penuh bintang. Dalam musim pertamanya di Seri A, ia langsung menyumbangkan gelar juara bagi AC Milan.

Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan fans wanita. Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brazil. Ia tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia seperti yang dilakukan para pemain bola di liga-liga besar, sebelum pernikahan.

Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sederhana.

Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

“Itulah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya.

Malam pertama kami ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami.” Isu pindah agama sempat menerpanya di akhir 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion, Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka merayakan golnya dengan membuka kaosnya dan menunjukan tulisan “I belong to Jesus” kemudian berlutut berdoa bersyukur di tengah lapangan. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.

Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mujizat. Kaka menjadi Top Scorer dalam Liga Champion dan dinobatkan sebagai raja oleh para media Italia, dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia. Klub-klub kaya seperti Real Madrid pun telah mengajukan penawaran sebesar 100 juta euro (1 trilyun rupiah lebih) jauh memecahkan rekor pemain termahal saat itu. Do you belong to Jesus??? (artikelkristen/ bbs)

Bangkit dari Dua Kali Kegagalan

Chairul Azmi Hutasuhut, Akademisi dan Praktisi Olahraga di Sumut

Nasihat orangtua itu doa dan bekal menuju keberhasilan. Demikian pemahaman Chairul Azmi Hutasuhut tentang kiat mengarungi hidup dan kehidupan.

Lahir sebagai bungsu dari tujuh bersaudara tak, membuat Chairul Azmi Hutasuhut menjadi anak manja. Semua dilalui dengan apa adanya. Masa kecil hingga dewasa pun dilalui dengan penuh warna. Beberapa pengalaman masa lalu terasa manis dikenang saat ini.

Ditemui di sebuah sudut di salah satu ruangan di Hotel Grand Angkasa Medan, Rabu (25/1) malam lalu, praktisi pendidikan ini mengurai pengalaman masa lalunya.

Dari cerita singkatnya di awal pertemuan, Chairul Azmi mengakui kalau dia bukanlah anak yang cerdas.

Tetapi ketika duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah di Jalan Pahlawan Medan, pernah diikutkan dalam ujian akhir untuk anak kelas 6 SD dan lulus. Di kemudian melanjutkan pendidikan ke SMPN 10 Medan. Di sekolah lanjutan pertama, Chairul Azmi mengaku tak kesulitan mengikuti pelajaran.

“Dapat ranking 30 dari sekitar 40 orang se lokal, ha ha ha…,” ujarnya tertawa.

Chairul Azmi Hutasuhut

Selepas SMP pada 1972, Chairul Azmi berniat melanjut ke sekolah Sekolah Menengah Analis Kimia di belakang TVRI Stasiun Medan. Dia ingin menjadi tenaga ahli yang bekerja di laboratorium. “Biar Mudah mencari kerja,” ujarnya menyebut motivasinya mengambil jurusan tersebut.

Niatnya mulia, agar cepat bisa mencari uang sendiri, tidak tergantung lagi pada orangtua. Tetapi kenyataan berkata lain. Chairul Azmi muda tidak diterima. ‘Kegagalan’ ini ternyata berdampak besar bagi kehidupannya.

Semangatnya untuk sekolah langsung drop. “Pernah masuk SMEA, tapi cuma bertahan tiga bulan,” ujarnya.

Tercatat, dua tahun ia meninggalkan bangku sekolah dan membantu ibunya, Siti Hawa Dalimunthe, berjualan di kantin sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di Jalan Pancing, yang sekarang berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Model di Jalan Willem Iskandar. Selama membantu ibunya berjualan, Bila tidak sedang membantu ibunya, Chairul Azmi bermain bersama rekan-rekannya sekampung. “Setiap sore saya sering bermain bola dengan teman-teman.

Dari kecil saya memang senang berolahraga,” ujarnya.

Sesekali, ia dan anak-anak lainnya mencari ikan laga di sekitar daerah tempat tinggal di Jalan Pukat 1 Kelurahan Bantan Timur, Kecamatan Medan Tembung.

Tak ingin anaknya terlena dengan pergaulan remaja saat itu tanpa memperoleh pendidikan yang layak, ibunya membujuk Chairul Azmi agar mau bersekolah lagi. “Tahu sendirilah bagaimana pergaulan di Jalan Mandailing, sekitar tempat tinggal kita itu,” sebutnya.

Untuk menarik perhatiannya, dia disarankan sekolah ke Jakarta, ikut bangnya. “Ibu yang mendorong saya sekolah ke Jakarta,” kenangnya lagi.

Saran ibunya ternyata menjadi titik balik kehidupan penggiat olahraga ini. Sepanjang 1975-1977, ia menimba ilmu di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) di Jakarta. Lumayan, di sekolah ini prestasi belajar Chairul Azmi terbilang mentereng. Di kehidupan kesehariannya, ia juga lebih mandiri. Berbagai pekerjaan rumahtangga dipercayakan sang abang kepadanya.

Di lain pihak, keluwesannay bergaul membuatnya memiliki banyak teman. “Di Jakarta saya tetap sering bermain bola bersama kawan-kawan,” ujarnya.

Selepas menyelesaikan pendidikan di SMOA pada 1977, Chairul Azmi malah mencoba masuk ke sekolah tinggi prmasyarakatan yang sekarang menjadi Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). Motivasinya, lagilagi tidak ingin menyusahkan abak yang mengasuhnya, maupun orangtuanya. “Sekolah di sana kan gak bayar, dapat uang saku dan lulus langsung kerja,” jelas Chairul Azmi.

Seleksi awal dilalui dengan baik. “Seorang teman saya waktu itu sudah kalah dari seleksi pertama.

BERSAMA TOKOH: Chairul Azmi (4 dari kanan) bersama atlet Wushu dan sejumlah tokoh nasional.

Sekarang dia sudah berpangkat Letkol di Angkatan Laut,” katanya bangga.

Hingga masuk tahap test psikilogi di Senayan, Chairul Azmi berhadapan dengan seorang penguji wanita.

Dia ditanya alasan mengikuti seleksi. “Ya, saya jawab saja dengan jujur, ibu itu malah tersenyum,” kenangnya lagi.

Entah bagaimana, ibu tersebut memintanya bernyanyi.

Berulang kali Chairul Azmi menolak dengan alasan tidak bisa bernyanyi, penguji tetap memintanya dengan setengah memaksa. “Karena saya bermarga, saya disuruh menyanyi. Katanya, ‘kan orang Batak pintar bernyanyi’. Jadilah saya nyanyi Garuda Pancasila,” ujarnya tersenyum.

Pada pengumuman hasil seleksi, ternyata ia dinyatakan tidak lulus. Chairul Azmi kesal, perjuangannya menjadi PNS di kandas di tahap akhir seleksi. Kekalahan ini mengingatkannya atas kegagalannya masuk Sekolah Menengah Analis Kimia di Medan. Kali ini dampaknya lebih besar lagi. Selama tiga tahun ia ‘luntang- lantung’ tanpa kegiatan. Hingga akhir 1980, Chairul Azmi kembali ke Medan. Dia lalu diajak paman (adik ibu, Red) menjadi pengawas di proyek perkebunan di Kota Pinang. Dari ibu kota, Chairul Azmi hidup ditengah-tengah prekebunan hingga terlibat membuka hutan untuk lahan kebun. Kembali, Chairul Azmi merenungkan kehidupannya. “Di sana saya berpikir, tidak ingin hidup seperti-seperti itu saja. Hingga tahun 1981 saya mencoba ujian seleksi Proyek Perintis 4 masuk IKIP Medan. Alhamdullilah, saya lulus di FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan.),” sebutnya mengucap syukur.

Singkat cerita, Chairul Azmi, menjalani perkuliahan dengan baik. Tak hanya di kampus, pria ini juga mencatatkan diri sebagai atlet bprestasi di tingkat nasionalmelalui cabang olahraga gulat.

Di akhir masa pendidikannya, suami dari Tengku Lafalinda ini dihadapkan pada pilihan mengikuti jalur skripsi atau jalur matakuliah.

Jalur skripsi adalah jalur penelitian untuk menyelesaikan perkuliahan.

Hanya mahasiswa yang memiliki nilai memadai dan dianggap mampu yang diperkenankan mengikuti jalur ini. Sedangkan jalur matakuliah, bisa diambil semua mahasiswa, baik yang berprestasi baik maupun yang biasa-biasa saja. “Saya mengambil jalur skripsi dengan pertimbangan bisa menjadi dosen dan menjadi pegawai negeri.” (tms/omi)

Makan Bersama Emak Usai Jumatan

Chairul Azmi Hutasuhut

SATU bekal sukses yang tak pernah dilupakan oleh seorang Chairul Azmi Hutasuhut berasal dari orangtua, terlebih sang bunda, Siti Hawa Dalimunthe. Beragam nasihat dan pesan sang bunda yang dipanggilnya emak tetap diingat sampai saat ini. “Emak selalu ingatkan agar hidup jujur dan taat perintah agama,” ujarnya. Bahkan hingga usianya mencapai paruh baya, sang emak tetap ‘menyaupinya’ dengan berbagai petuah. Kata-kata dan nasihat itu dianggapnya sebagai doa permohonan kepada Tuhan untuk kesuksesannya.

“Setiap kali bertemu, emak pasti nanya, apakah saya sudah salat atau belum. Kalau belum, emak pasti menyuruh saya salat dulu,” ucap pria yang tetap terlihat bugar ini.

Perjalanan pengalaman pula yang membuatnya memiliki kebiasaan unik. Kamis malam, Pembantu Rektor di UNIMED itu selalu berkomunikasi dengan ibunya melalui telepon. “Kalau tidak emak yang tanya saya pengen dimasakkan apa, saya yang tanya emak masak apa besoknya,” singkap Kepala Humas UNIMED ini.

Keesokan harinya, usai salat Jumat berjamaah, ia pasti menemui emak di rumah dan makan bersama. “Itu tetap saya lakukan kalau saya tidak ke luar kota,” katanya pasti.

Sesekali, dua anaknya diminta menjenguk Siti Hawa Dalimunthe.

“Kebetulan libur sekolah, tadi juga saya minta anak saya menemui neneknya.” Pengalaman hidup dan nasihat orangtuanya pula yang dijadikan landasan memberi pengarahan bagi anakanaknya.

“Saya tanamkan pada anak untuk selalu jujur, tidak sombong dan arogan,” ujarnya.

Di tengah kesibukannya di UNIMED dan di dunia olahraga, Chairul Azmi Hutasuhut tetap menjaga komunikasi yang baik dengan istri dan anak-anaknya. “Paling tidak, setiap pagi kami sarapan bersama. Waktu itulah saya dan istri banyak ngobrol dengan anak-anak dan menanamkan nilai-nilai hidup.” Kehangatan bersama keluarga juga dipupuk ketika waktu luang, dengan makan bersama di luar rumah. Saat liburan, kerap pula diisi dengan bepergian bersama keluarga.

“Bagi saya, kualitas pertemuan itu lebih penting,” paparnya.

Pria yang masih menjabat Sekeretris Umum KONI Sumut itu tak lupa membekali anak-anak dengan pengetahuan agama. “Kami memanggil guru agama ke rumah untuk belajar tentang agama ataupun mengaji Al-Quran bagi anakanak,” terangnya.

Sebagai orangtua, tak banyak yang dia tuntut dari anakanaknya selain menjadi anak saleh dan kelak bisa menghidupi diri dan keluarganya.

“Kita hanya bisa memantau dan memberikan dukungan terhadap masa depan anak . Bila profesi yang dipilih anakanak telah diperdalaminya, kiranya profesi tersebut dapat bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya. (tms/omi)

 

DATA DIRI

  • Kelahiran : Medan, 1 April 1958
  • Pekerjaan : PNS di Unimed
  • Anak : Bungsu dari 7 bersaudara
  • Nama Ayah : Musai Hutasuhut
  • Ibu : Siti Hawa Dalimunthe
  • Istri : Dra Tengku Lafalinda MPd
  • Kelahiran : Sibolga 4 Mei 1963
  • Anak : 1. Muhammad Iqbal Az’ari Hutasuhut (Medan, 6 April 1990)
  • 2. Farhan Arafah (Medan, 6 April 1998)

PENDIDIKAN

  • 1970 Lulus dari SD Muhammadiyah Jalan Pahlawan Medan
  • 1972 Lulus dari SMPN 10 Medan
  • 1975-1977 SMOA Jakarta
  • 1981-1987 S1 IKIP Medan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehtan (FPOK),

PRESTASI

  • 1975 Juara Gulat Se DKI Jakarta
  • 1989 Wasit Panahan di PON ke 12 di Jakarta
  • 1993 Wasit Panahan PON ke 13 di Jakarta
  • 1996 Wasit Panahan PON ke 14 di Jakarta
  • 2000 Wasit Panahan PON ke 15 di Surabaya
  • 1993 Meraih Sertifikat Wasit Panahan Internasional
  • 1995 Wasit Panahan di Kejuaraan Asia di Malaysia

PENGALAMAN ORGANISASI

  • 1988-1992 Wakil sekretaris PASI Sumut
  • 1992-1996 Sekretaris PASI Sumut
  • 2002-2006 Sekretaris PASI Sumut
  • 1998-2002 Wakil sekreatris umum KONI Sumut
  • 2003-2016 Sekum KONI Sumut mulai tahun
  • 2001-2009 Ketua I Pengprop Wushu Sumut tahun
  • 2005-2013 Ketua bidang organisasi PB Wushu
  • 2008-2012 Pengurus PB PASI tahun
  • 1996-2003 Sekretaris ISORI Sumut
  • 2003-2007 Pembatu Dekan III FIK Unimed
  • 2000-2011 Kepala Humas UNIMED
  • 2007-2015 Pembantu Rektor II Unimed

Senyum Niyala

Dua rumah dari rumahku, adalah rumah Niyala. Gadis yang beberapa hari ini kerap datang bermain ke rumahku sendirian. Kadangkala saat pekerjaan kantor menumpuk, Niyala datang dan mengajakku bermain.

Cerpen: Miftah Fadhli

Ah…

SIAPA sangka kelucuan dan kecantikannya mampu menyihirku? Dengan segera kutinggalkan pekerjaan yang menumpuk, menuruti ajakan Niyala bermain kuda-kudaan atau rumah-rumahan.

Tiga bulan aku telah mendiami rumah ini. Belum sekalipun aku berkunjung ke rumah Niyala. Pertama kali aku pindah, justru Niyala yang bertandang ke rumahku membawakan sepiring kolak pisang untukku.

Seperti yang kukatakan tadi, ia datang (selalu) sendirian. Tanpa ibu atau ayah yang menemani. Ia selalu datang dengan boneka panda lusuh di tangan. Satu-satunya mainan yang ia miliki, katanya kepadaku.

Niyala, yang selalu memasang wajah ceria, bertanya padaku, “Om sudah punya isteri?” Tentu saja aku kaget dengan pertanyaan itu. Bagaimana bisa Niyala, gadis lima tahun yang berjalan sendirian dari rumahnya, bertanya hal yang demikian. Tidakkah itu terlalu dewasa. Ah.

Perlu kuceritakan, bahwa kepindahanku ke rumah ini semata-mata adalah sebuah pelarian. Pelarian dari rasa sakit hati yang terlanjur memuncak.

Hampir tidak terukur rasa sakit hati itu hingga aku memilih untuk benar-benar melepaskan segala cerita di balik rasa sakit hati itu. Jika kuceritakan ini pada Niyala, jelas ia tidak akan mengerti. Tapi ia terus saja mendesakku agar menjawab pertanyaannya.

Ah, Niyala.

Aku mengangkatnya ke pangkuanku. Saat itu hujan. Suara hujan terdengar bergemerontangan, mendarat pada permukaan seng rumahku.

Pekerjaan kantor masih bertumpuk- tumpuk dalam file di laptopku.

Niyala membangunkanku dari kesibukan kerja yang semakin hari semakin padat. Bisa kurasakan bulu-bulu tangan Niyala yang bergerak tegang akibat udara dingin yang diam di titik 27 derajat. Kuminumkan padanya segelas teh manis untuk menghangatkan tubuhnya.

“Isteri om ada di mana sekarang?” desak Niyala, menatap tajam ke arahku.

Ah. Kenapa aku gugup? Bagaimana bisa suasana dingin ini berubah menjadi rikuh? Wajah Niyala, yang menggetarkan. Wajah yang belakangan ini selalu hadir menepis kenangan terburuk dalam hidupku. Wajah yang belakangan menghilangkan segala risau dan penyesalanku. Wajah yang bisa tiba-tiba hadir seperti hujan tak terduga di siang hari. Ah, Niyala.

Tatapan matanya kepadaku.

Pipi tembamnya yang tersorong ke samping dan menciptakan dua ceruk kecil saat tersenyum. Siapa yang bisa mengatasi itu? “Isteri om ada di suatu tempat, jauh di sini……” ucapku sambil menunjuk dadaku, “……dan tidak akan kembali.” Niyala memiringkan kepala ke kanan.

Alisnya mengerucut ke bawah.

Keningnya menciut. Tatapan matanya sedikit longgar. Ia tampak sedang mencerna kata-kataku, yang tentunya, tidak dia mengerti. Dimain- mainkannya boneka panda yang sejak tadi ia dekap. Kadang ia pelintir telinganya. Kadang ia ciumi pipi berbulunya. Kadangpula ia sorong- sorongkan ke dadaku, seperti menyorongkan mobil mainan.

“Jadi om sendirian?” “Iya, Niyala.” Yang tidak aku mengerti adalah, kenapa orangtuanya tak pernah mengantar Niyala atau menjemput Niyala dari rumahku. Bahkan untuk sekedar berjumpa dan berkenalan denganku, tetangga barunya, tidak pernah.

Aku juga tidak pernah melihat kedua orangtua Niyala di luar rumah. Rumahnya terlihat kosong. Seperti tak ada yang menghuni.

Hanya kain-kain basah sehabis dicuci yang diselonjorkan di pagar tanaman rumahnya, yang menandakan rumah itu berpenghuni.

Kadang aku mendengar suara mengiris bagai tangis dari dalam rumah.

Kadang terdengar suara benda seperti diseret dan bantingan pintu.

Tanpa mau tahu suara apa itu, aku bergegas melintas di depan rumah itu. Tak pernah sekalipun aku mau berpikir tentang sesuatu di dalam rumah Niyala.

“Niyala, bibir kamu kenapa?” *** Sudah seminggu lebih tiga hari Niyala tidak berkunjung ke rumahku.

Ini tidak biasanya karena Niyala selalu berkunjung ke rumah setiap hari atau tiga hari sekali. Aku mulai cemas. Aku juga sering mendengar suara ribut entah dari mana. Aku pikir suara itu berasal dari rumah sebelah.

Namun pemilik rumah mengaku tidak melakukan suatu hal sehingga menimbulkan suara sedemikian ricuh. Mereka yang ternyata juga mendengar suara gaduh itu juga tidak tahu suara tersebut berasal dari mana.

Niyala? Suatu pagi aku mencoba iseng bertandang ke rumahnya. Tidak ada pakaian dijemur. Tidak ada suara apapun dari dalam. Tidak seperti biasanya rumah itu terlihat benar-benar kosong. Lampu teras masih menyala bahkan telah berkurang pencahayaannya karena tidak pernah dimatikan. Lantai teras terlihat sangat kotor. Ada genangan air berkumpul di sudut teras. Semut-semut berjejer rapi merayap di dinding membawa segala makanan dan telur di pundak mereka. Betapa sepi. Betapa asing.

Aku mengintip dari jendela hitam ke dalam rumah. Perabotan rumah masih ada di tempat. Lampu di ruang tengah juga masih menyala. Namun tak ada pergerakan sama sekali.

Huh. Kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan Niyala? Merindukan kehadiran senyumnya yang dapat menuntaskan kekesalanku pada perempuan yang telah mengkhianatiku beberapa bulan lalu. Setelah sekian lama hal itu terpendam karena Niyala selalu hadir dalam kehidupanku, kini perasaan itu muncul kembali seperti gabus yang ditenggelamkan ke dalam air. Sangat ringan. Begitu mudah muncul ke permukaan.

Setiap hari aku selalu memperlambat gerakanku saat melintas di depan rumah Niyala. Berharap ada tanda-tanda memuaskan dari Niyala.

Lebih dari itu, aku berharap saat aku melintas di depan rumahnya, Niyala membuka pintu rumahnya dan melonjak ke pelukanku saat kami bertemu dan bersitatap.

Hingga waktu berganti bulan untuk kedua kalinya, Niyala tidak pernah lagi berkunjung ke rumahku.

Hari-hariku diisi dengan kegiatan serupa, saat aku belum mengenal Niyala.

Bersiteru dengan file-file kantor yang mesti kuselesaikan. Bersiteru dengan perasaan kecewa atas pengkhianatan yang dilakukan isteriku.

Bersiteru dengan penyesalan yang sakitnya seperti dihantam gagang parang di pelipis. Dan ditambah lagi dengan persiteruan batinku yang terus saja menanyakan keberadaan Niyala.

Niyala yang wajah imutnya tibatiba hilang begitu saja tanpa memberi kabar. Ia hilang bersama senyum manisnya yang menciptakan dua ceruk dangkal di kedua pipi gembilnya. Mata coklatnya, alis tipisnya, hidung mancungnya, dan segala hal yang ia bawa serta ke kehidupanku tiba-tiba seperti memaksaku untuk mencaritahu keberadaannya.

Sungguh, ada yang tidak beres dengan degup jantungku.

Degup jantung yang tibatiba kencang setelah bulan ketiga Niyala tidak datang ke rumahku.

Niyala, apakah…….? *** Sore yang basah, tanpa sengaja aku melihat pintu rumah Niyala terbuka lebar. Lampu teras tidak menyala.

Entah karena dimatikan atau mati dengan sendirinya. Aku melihat seorang wanita hilir mudik, mengangkat barang-barangnya ke teras.

Dua buah koper besar telah ada di depan jendela rumah Niyala. Mungkin berisi pakaian, atau apa? Tapi aku tidak melihat Niyala sama sekali.

Aku mencoba mendatangi rumahnya dan bertemu dengan wanita itu.

Mungkinkah itu ibu Niyala? Ah, begitu muda wanita itu. Tapi, kenapa ia terlihat cemas? Tidak. Lebih dari itu, ia terlihat sedih. Matanya sembab.

Pipinya bengkak dan berwarna kebiruan.

Airmata terus saja mengalir dari mata sayunya yang telah berkantung itu.

Aku iseng berucap, “Selamat sore.

Perkenalkan, saya Fadil. Anda ibunya Niyala, bukan?”.

Wanita itu tersenyum, menjabat tanganku. Ah, ada yang tidak beres dengan senyumnya.

Tangannya dingin.

Pada jemarinya terdapat bekas goresan berwarna merah. Ia mengeluarkan dua kursi.

Satu untukku, satu lagi untuknya.

“Silahkan duduk. Sudah lama kita tidak bertemu, ya?” katanya.

Aku mendesah. Kita memang tidak pernah bertemu nona, gerutuku dalam hati. Kuperhatikan wajahnya. Ada kilat kesedihan yang melebihi kesedihanku. Aku tidak tenang.

Mataku terus melirik ke dalam rumah.

Mungkin saja Niyala ada di dalam. Bersembunyi. Aku enggan menanyakan keberadaan Niyala pada wanita ini. Tapi pikiranku terus saja mendesak agar pertanyaan itu kuucapkan. Sangat kuat. Ah, aku menyerah.

“Maaf, boleh saya bertemu dengan Niyala?” tanyaku, ragu-ragu.

*** Malam mengerucut tepat di angka dua belas. Mendung menghalangi bulan menggelantung di angkasa.

Aku termenung di teras rumah.

Memperhatikan satu atau dua bintang yang sesekali berkerlip redup.

Angin dingin menyambar tengkukku.

Membuatku sekali lagi menuangkan teh ke gelas. Menyeruputnya sampai habis. Berharap hawa dingin yang tadi menelusup ke dalam tubuhku menguap. Seperti asap yang mengepul dari permukaan teh. Seperti embun yang tadi pagi ada, dan kini tak ada. Seperti senyum Niyala yang dulu hadir dalam kehidupanku, dan kini hilang begitu saja.

Bibir Niyala yang beberapa bulan lalu mengeluarkan darah, adalah cerita lain dari senyum menggemaskannya.

Ia lari begitu saja saat kutanyakan soal bibirnya yang biru dan pecah. Aku tidak tahu ternyata ada luka yang lebih besar dalam dirinya yang membuatnya pupus dari kehidupanku kini. Ada luka yang tak terobati, tidak hanya pada diri Niyala, tapi dalam diri dan perasaan ibunya.

Aku juga tidak menyadari bahwa pertemuanku dengan Niyala saat itu adalah yang terakhir, sebelum ayah Niyala yang berengsek itu, dengan mudahnya melayangkan tamparan di pipi gembil Niyala. Pria pemabuk yang tiap hari menimbulkan suara gaduh itu adalah pembunuh yang sukses menebas kehidupanku yang perlahan mulai pulih. Dia adalah laki-laki yang sukses membuat luka besar dalam diri Niyala dan ibunya. Dan kini ia mendekam dalam penjara untuk beberapa tahun ke depan.

Rumahnya, kini benar-benar ditinggalkan.

Ibunya yang waktu itu berada di kampung halamannya, kembali ke rumah untuk mengemasi barangbarangnya.

Semua perabotan di rumah itu diangkat. Rumah itu dibiarkan kosong. Tak ada niat ibunya untuk kembali lagi ke rumah itu. Di kampung halamannyalah, ada Niyala dan segala kenangan menyedihkan yang terbaring begitu saja. Tampaknya ibunya ingin terus berada di dekat pusaranya yang beku. Tanpa memperdulikan perasaanku yang juga ingin berada di dekat Niyala.

Ah, Niyala. Saat kuperhatikan langit mendung, aku menyaksikan cahaya bulan perlahan muncul dari balik awan. Bulan sabit berwarna kekuningan itu mengingatkanku padamu. Pada senyummu.(*)