25 C
Medan
Thursday, January 29, 2026
Home Blog Page 13917

Prediksi Sosok untuk Wagubsu pada Pilgubsu 2013

 RE Nainggolan Paling Pas

MEDAN-Sudah cukup banyak nama yang diprediksi menjadi orang satu di Sumatera Utara pada Pilgubsu 2013. Namun, siapakah yang pas untuk orang nomor dua alias wakil gubernur? Suara yang berkembang di masyarakat mengarah ke satu nama: RE Nainggolan.

Setidaknya hal ini diungkapkan Pengamat politik, Drs Nuzirwan Lubis MSP. Menurutnya, sosok RE Nainggolan sudah sangat dikenal di kalangan Birokrat karena mengawali karir dari jajaran terendah hingga tingkat tertinggi di Sumut. Bahkan dari sisi kemampuan mampu mentralisir suhu kekuatan. Hal ini terbukti saat masa kepemimpinan Rudolf M Pardede diterpa isu besar, begitu juga hingga ke periode berikutnya pasangan Syampurno. “Hanya saja untuk maju Sumut satu agak susah, namun bila Sumut dua bisa jadi banyak partai yang akan mengusung RE Nainggolan,” ucapnya, Kamis (26/1). “Bahkan, siapapun yang dipasangkan dengan RE Nainggolan, bisa menonjol dan mendulang suara besar,” tambahnya.

Hanya saja, dia memaparkan, kondisi yang sama bisa menurunkan sedikit posisi perolehan suara jika ada saingan pasangan calon dari latar belakang etnis dan agama yang sama. Meski begitu, bila dibandingkan RE Nainggolan dengan Parlindungan Purba, justru jumlah suaranya jauh lebih banyak RE Nainggolan. “RE Nainggolan memiliki nilai jual sangat tinggi, dibandingkan dengan Parlindungan Purba,” ujarnya.

Bupati Nias Selatan Mau Jadi Gubernur

Terlepas dari itu, ada kabar menarik soal jelang Pilgubsu. Masih setahun lagi penyelenggaraanya, ternyata sudah ada sosok yang berani buka-bukaan untuk ikut maju. Ya, sosok Bupati Nias Selatan (Nisel), Idealisman Dachi menjadi satu-satunya tokoh yang berani secara terang-terangan, menyatakan dirinya akan maju pada Pilgubsu 2013 mendatang.”Iya, saya akan maju pada Pilgubsu nanti,” akunya, kemarin.

Menurutnya, keinginanya maju berdasarkan hitung-hitungan matematis dari jumlah etnis Nias baik di Pulau Nias maupun yang tersebar di berbagai daerah di Sumut. “Hitung-hitungannya, suku Nias ada di berbagai daerah selain di Nias sendiri relatif memiliki kontribusi,” jelasnya.

Idealisman Dachi menegaskan, sejauh ini seusai dirinya memastikan akan maju pada Pilgubsu 2013 mendatang, kemudian akan melanjutkan pada proses lobi-lobi ke partai-partai politik. Lobi-lobi yang dilakukan secara menyeluruh, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan perahu partai-partai kecil, terlebih untuk partai-partai besar. “Bukan masalah utama, partai apa nantinya. Sebisanya, maju melalui kendaraan partai. Lobi-lobi terus dilakukan. Politik ini kan terus berubah-ubah. Nanti di akhir-akhir baru akan diketahui. Kalau seandainya nanti tidak ada kesepakatan dengan partai politik kita akan maju dari calon perseorangan,” tegasnya.

Pernyataan ini langsung direspon Nuzirwan Lubis. Menurutnya, apa yang diungkapkan Dachi tak lebih sekadar mencari perhatian. Pasalnya, ajang Pilgubsu bukan kegiatan yang mengada-ngada. Menurut dia, apapun yang dilakukannya saat ini oleh sejumlah tokoh menjadi perhatian masyarakat, terlebih-lebih menjadi masuk di media massa cetak.

“Jadi jangan mengada-ngada untuk maju, bila ada keinginan lebih baik lihat dulu tingkat populeritasnya karena ajang Pilgubsu bukan ajang yang mengada-ngada,” tegasnya.

Dia mengaku mendengar Idealisman Dachi akan maju sebagai calon Gubsu periode mendatang. Baginya, hal tersebut merupakan tindakan yang ngawur. “Untuk mendulang suara di Pulau Nias saja belum secara keseluruhan, konon lagi untuk mendapatkan suara di Pantai Timur atau Pantai Barat secara keseluruhan,” sebutnya.

Nuzirwan menambahkan, sosok Idealisman Dachi masih kalah bila dibandingkan dengan popularitas mantan Bupati Nias, Binahati Benedictus Baeha. Sehingga mustahil bila Idealisman maju sebagai Cagubsu. “Jadi ada hal yang sia-sia nantinya,” sebutnya.

Sementara itu, Turunan B Gulo, salah seorang Komisioner KPU Sumut menjelaskan kalau pihaknya sudah menetapkan tahapan-tahapan Pilgubsu 2013 mendatang. Dan, hal itu telah diserahkan ke Plt Gubsu, pimpinan dewan serta pimpinan partai politik, kemarin.

Itu dilakukan, agar semua pihak yang terlibat tersebut, segera mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan pada prosesi menjelang agar sudah selesai pada waktunya.

Diuraikannya, beberapa tahapan Pilgubsu 2013 mendatang antara lain, menetapkan pada tanggal 7 Maret 2013 untuk pemilihan putaran pertama dan tanggal 1 Mei 2013 untuk pemilihan putaran kedua (lainnya lihat grafis). “Kenapa dipersiapkan pemilihan untuk dua putaran. Karena KPU mengantisipasi calon yang akan maju pada Pilgubsu 2013 ini, lebih banyak dari 2008 lalu yang berjumlah lima pasangan. Selain itu, antisipasi bila terjadinya gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Hitungannya, bila gugatan ke MK untuk satu gugatan itu memakan waktu 21 hari. Jika terjadi dua gugatan, maka membutuhkan waktu selama 42 hari. Kemudian, untuk Pilgubsu 2013 ini berbeda dengan Pilgubsu yang lalu, dimana untuk penetapan jumlah suara bagi pasangan yang menang sebesar 30 persen suara. Kalau tahun 2008 lalu, hanya 25 persen suara,” paparnya. (ari/ril)

Buntut Pemecatan Dua Komisaris Bank Sumut

John Tafbu: Kuncinya di Gatot

MEDAN-Pemecatan dua komisaris independen PT Bank Sumut, M Lian Dalimunthe dan Irwan Djanahar, menuai reaksi. Beberapa pihak kembali mengatakan kalau hal itu sarat dengan muatan politis. Dan, sosok yang tertuduh adalah Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho.
”Gatot itu menzalimi dua komisaris PT Bank Sumut. RUPS-LB (Rapat Umum Pemegang Saham-Luar Biasa, Red) PT Bank Sumut itu sarat kepentingan politik. Kita mempertanyakan kapasitas Gatot yang menyelenggarakan RUPS-LB tersebut,” tegas Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat, Ficky Padli Pardede kepada Sumut Pos, Kamis (26/1).

Ficky mengecam, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho karena persoalan ada sinyalemen belum disetorkannya modal ke Bank Sumutn
Menurutnya, hal itu sangat mengganggu perekonomian di Sumut.

“Apa yang dilanggar dalam AD/ART itu, sehingga Gatot melaksanakan RUPS-LB itu. Ini jadi satu kebijakan kontroverial lainnya lagi yang dikeluarkan Gatot,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU) menilai, bila pada dasarnya pengambilan kebijakan dan keputusan, dengan menggelar RUPS-LB dan memberhentikan dua komisaris independen tersebut hanya didasari masalah politis adalah hal yang sangat disayangkan. Karena, pada prinsipnya Gatot adalah sebagai owner selaku pemegang saham tertinggi PT Bank Sumut. “Ini masalah perbankan yang harusnya dijalankan dengan hukum perbankan, bukan hukum privat. Saat ini, Gatot itu is the golden hand. Kuncinya ada di tangan Gatot. Jadi, kalau memang atas dasar kepentingan politis, maka sangat disayangkan,” tegas John Tafbu.

Diterangkannya, pengangkatan dua komisaris independen tersebut pada masa Gubsu Nonaktif Syamsul Arifin. Kemudian, mendapat persetujuan Rektor USU dan Dekan Fakultas Ekonomi USU, dengan dasar pengabdian kepada rakyat dan pemerintah.

“Kasarnya, bila untuk mencari makan saja kedua komisaris independen itu punya sertifikat akuntan publik internasional. Jadi, mereka bisa membuka kantor di semua negara. Mereka juga adalah akuntan pendidik. Dengan diberhentikan, bukan berarti mereka tidak punya pekerjaan. Mereka memegang sertifikasi akuntan publik internasional Certificate in Public Accounting (CPA),” terangnya.

John Tafbu berceritaa, sebelum RUPS PT Bank Sumut yang sempat deadlock pada November 2011 lalu, kedua komisaris independen PT Bank Sumut tersebut sempat bercerita kepadanya. Saat itu, ada beberapa nama sebagai pengganti komisaris independen. Ketiga nama tersebut yakni Dzulkarnaen Rangkuti dan Edy Azmar yang merupakan orang dalam PT Bank Sumut.

Kemudian, pihak Komisaris Utama mengajukan nama Rudi Dogar. Komisi independen lebih memilih orang-orang dari dalam, namun pihak komisaris utama bersikukuh memilih Rudi Dogar. Pihak Komisaris Utama yang dijabat Assisten II Pemprovsu, Djaili Azwar tidak menerima keputusan dari komisi independen yang lebih memilih dua calon dari dalam PT Bank Sumut. Dalam arti kata, komisaris independen tetap dengan keputusannya.
“Mereka tetap dengan keputusannya dan mengaku siap untuk menerima bila akhirnya diberhentikan. Dan mereka tidak membela diri dengan cara apa pun,” urainya lagi. (ari)

Soal Penetapan Basyrah Lubis Menjadi Tersangka, Pemkab Palas Belum Ambil Sikap

PALAS-Tidak banyak komentar yang keluar dari jajaran Pemerintah Kabupaten Padang Lawas (Palas) setelah bupatinya ditetap tersangka oleh Poldasu. Beberapa pejabat di bawah komando Bupati Basyrah Lubis yang coba dikonfirmasi cenderung bungkam.

Sebut saja Kabag Hukum Pemkab Palas, Ellin Haposan Rangkuti. Saat dikonfirmasi terkait ditetapkannya Basyrah Lubis sebagai tersangka oleh tim penyidik tipikor Poldasu terkesan tidak berani memberikan komentar. “Saya masih di jalan ini di Paringgonan menuju kantor, kita bisa ketemu nanti,” ucapnya kepada Metro Tabagsel (grup Sumut Pos) Kamis (26/1)sekira pukul 15.00 WIB siang.

Ditanya,apa sikap dan langkah yang akan ditempuh Pemkab Palas terkait hal ini, termasuk apakah pengacara sudah disiapkan, Kabag Hukum juga tak menjawab tegas, hanya suara bising yang terdengar dari ponselnya.

Sedangkan Kasubbag Humas dan Protokoler Pemkab Palas Ali Anda Lubis mengatakan yang membidangi masalah itun
adalah Kabag Hukum dan menyarankan menanyakan langsung ke Kabag Hukum.

“Itu yang membidanginya Kabag Hukum, langsung saja ditanyakan kepada yang bersangkutan karena  Kabag yang membidanginya,” ucapnya.
Ditanya apakah Pemkab Palas memiliki pengacara, Ali Anda Lubis menjawab kalau Pemkab memang memiliki pengacara. Namun, kalau untuk persoalan bupati, dia belum tahu apakah pengacara itu yang akan disiapkan. “Saya tidak tahu, yang jelas itu ranahnya Kabag Hukum,” katanya lagi.

Sementara itu, mantan Kadis PUD Palas, Ir Chairul Windu Harahap ketika di konfirmasi tak menampik kalau dirinya juga ditetapkan sebagai tersangka. Namun, dia belum menentukan langkah berikutnya. “Saya masih konsultasikan dulu nanti kepada Pak Bupati,namun untuk persiapan pengacara sudah ada direncanakan,” ucapnya.

Ditanya mengenai penetapannya sebagai tersangka oleh Poldasu apakah menurutnya terlalu terburu-buru atau prematur serta apa ada upaya memprapradilkan Kapoldasu dalam penetapan tersangka tersebut, Windu tidak mau mengomentarinya. “Oh..kalau itu saya tidak bisa memberikan komentar, saya sekarang konsultasi dulu kepada Pak Bupati,” tukasnya.

Ditanya kasus apa sebenarnya yang menjerat dirinya hingga ditetapkan sebagai tersangka Basyrah Lubis oleh tim penyidik Tipikor Direktorat Reserse Poldasu, Windu menyebutkan pembangunan sarana-prasarana pemerintahan system multy years sekiar Rp6,7 miliar. “Multy years, itu saja,” ucap Windu.

Windu pun menerangkan kalau proyek itu sejatinya sudah benar. “Tapi mungkin Poldasu melihat ada sisi lain,” pungkasnya. (amr/neo/smg/mag-5)

Wujudkan Wisata Mangrove di Belawan

Wali Kota Tinjau Persiapan Lokasi Penanaman Hutan Bakau

Mewujudkan kawasan hutan mangrove di Belawan, Wali Kota Medan Drs Rahudman Harahap MM menargetkan wilayah yang belum dijamah akan dijadikan kawasan hutan mangrove dan menjadi lokasi wisata.

Demikian disampaikan Rahudman Harahap didampingi Sekda Kota Medan, Ir Syaiful Bahri Lubis, Kepala Dinas Bina Marga Kota Medan, Gunawar Surya Lubis ST serta sejumlah kepala dinas saat meninjau lokasi persiapan penanaman bibit mangrove bersama Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan.
Dalam kunjungan ke lokasi tersebut, Kamis (26/1), Rahudman membeberkan, kawasan Kelurahan Sicanang masih ada 2.500 meter lagi kawasan yang belum pernah dijamah, untuk itu kawasan tersebut akan ditanami dan dijadikan kawasan mangrove.

Rahudman menyatakan, Pemko Medan berharap dengan kunjungan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan ke lokasi kawasan mangrove Belawan, Jumat (27/1) akan dapat memberikan motivasi. Sedangkan Pemko Medan akan memberikan infra struktur, agar kawasan tersebut dijadikan kawasan rekreasi mangrove.

“Saya sudah perintahkan Kepala Dinas Bina Marga Kota Medan, Gunawan Surya Lubis agar membangun jalan sampai ke pantai,” ujarnya.
Selanjutnya, paparnya pihaknya akan membangun pasar ikan serta kulinernya, sehingga masyarakat Kota Medan yang hendak membeli ikan segar, yang sudah tersedia di pasar tersebut.

Dia menerangkan, kalau hanya kelompok untuk membangun lokasi kawasan mangrove di kawasan Belawan sangat tidak mungkin. Pemko Medan harus ikut berperan aktif untuk mendorongnya.

“Masyarakat di Belawan ini mengharapkan dukungan pemerintah untuk membudidayakan mangrove dan menjadi lahan kehidupan bagi masyarakat, alasan inilah Pemko Medan mendukungnya,”cetusnya.

Menurut dia, Pemko terus melakukan dengan membuat kesan bagaimana Sicanang menjadi kesan wisata. Apalagi, Kota Medan pada tahun 2012 menjadi kota visit year 2012, tentunya Pemko Medan harus berlomba atas tuntutan pembangunan dan tuntutan masyarakat atas perubahan.
“Saya mengimbau kepada masyarakat yang melaksanakan kegiatan di kawasaan Sicanang dapat menjaga kelestarian mangrove yang sudah ada, kita akan dukung berbagai pembangunan di kawasan ini, sehingga perubahan ini dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat kita.
Khususnya kepada  kelompok -kelompok LSM yang ada di sini sebagai pemerhati lingkungan, agar betul-betul menjaga wilayah menjadi kawasan mangrove,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga, Gunawan Surya Lubis menegaskan, pihaknya sudah menyusun program pembangunannya.
Kemungkinan, pada tahun ini juga bisa terwujud pembangunannya infastrukturnya. Wujud itu juga akan tercipta kawasan wisata mangrove dan menjadi magnet bagi setiap orang untuk mengunjunginya.

Kemudian, paparnya pelaksanaan pembangunan tentunya dibutuhkan persiapan yang mata dan dukungan sejumlah pihak, khususnya masyarakat sekitar lokasi. Karena setiap pelaksanaan pembangunan akan muncul dampak, guna meminimalisirnya masyarakat diharapkan toleransinya untuk sama-sama menjaga kelestariannya.

“Alam untuk dijaga dan dilestarikan, dan untuk mewujudkannya harus dilakukan secara bersama-sama,” katanya. (adl)

Efektifkan Melindungi Ekosistem

Pengamat lingkungan, Jaya Arjuna mengapresiasi positif langkah yang dilakukan Wali Kota Medan Rahudman Harahap menjadikan Sicanang menjadi wisata mangrove.

Dia memaparkan, kawasan wisata mangrove sangat efektif melindungi ekosistem laut. Tapi diharapkan, untuk penanaman bibit bakaunya diserahkan ke masyarakat sekaligus dengan bibit udang dan kepiting, agar warga merasa memiliki dengan membina dan merawat hutan mangrove tersebut. “Biar pemko dan masyarakat saling menguntungkan,” katanya.

Jaya mengakui, lokasi hutan mangrove yang rencananya akan dijadikan tempat wisata mempunyai nilai sejarah tinggi bagi Kota Medan. Bahkan, pada abad ke 13, kawasan itu menjadi kawasan nasional karena daerah itu merupakan perkampungan warga etnis Tionghoa.
Dia menambahkan, dalam melakukan pembenahan di kawasan tersebut, Pemko Medan harus berhati-hati agar tidak merusak nilai sejarah yang tinggi di kawasan tersebut.

“Selain wilayah hutan, Pemko Medan jangan melupakan nilai sejarahnya, harus diselamatkan dahulu juga, karena nilai sejarah di kawasan tersebut sangat tinggi,” ujarnya.

Jaya mengingatkan Pemko Medan sebaiknya mengajak masyarakat dan menciptakan kawasan tersebut menguntungkan bagi masyarakat, sehingga tercipta saling menjaga. (adl)

Tindak Tegas yang Merusak

Kepala Divisi (Kadiv) Sumber Daya Alam (SDA) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Irfan Fadila Mawi SH berharap pihak kepolisian menindak tegas para pelaku perusakan hutan mangrove terhadap lahan terbuka hijau daerah pesisir pantai Sicanang dan Labuhan.

“Perubahan lahan hutan mangrove yang diduga dijualbelikan oknum dalam pembebasan lahan segera dilakukan pemeriksaan dan tindakan tegas agar meningkatkan supremasi hukum di kalangan masyarakat khususnya perusak hutan mangrove,” pintanya.

Dia menyebutkan, selama ini perubahan fungsi hutan mangraove telah terjadi perusakan lingkungan hidup disebabkan ada hubungan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia dan atau hayati lingkungan hidup yang meliputi kriteria baku perusakan lingkungan hidup.

Irfan menyatakan, apabila terjadi perubahan fisik dari pada lingkungan hidup berarti orang atau badan usaha telah melakukan perusakan lingkungan hidup. “Perubahan fungsi hutan mangrove menjadi tambak dan pabrik di pesisir pantai juga telah menyengsarakan nelayan tidak bisa mencari nafkah dikarenakan hutan mangrove adalah tempat berkembang biaknya habitat laut,” cetusnya. (adl)

Lurah dan Camat Harus Jadi Pengawas

Kalangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Medan mendukung rencana Wali Kota Medan, Rahudman Harahap menjadikan kawasan Sicanang menjadi wisata mangrove.

Seperti diutarakan anggota DPRD Medan, M Yusuf,  bahwa apa yang dilakukan Wali Kota Medan merupakan terbosan baru untuk membantu masyarakat di kawasan Medan bagian Utara.

Anggota DPRD Dapil V dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengaku atas rencana tersebut baik, mengingat hutan mangrove di Sicanang sudah gundul. Munculnya, niat Pemko Medan pada prinsipnya harus didukung apalagi 2012 Pemko Medan memprioritaskan peningkatan pembangunan di kawasan Medan bagian utara.

“Kita dukung penuh niatan itu, untuk itu kami minta Pemko Medan bersikap tegas terhadap  pihak-pihak yang memanfaatkan kawasan mangrove sebagai objek pribadi,” tandasnya.

Selain membangun kawasan wisata, Anggota Komisi B DPRD Medan ini mengungkapkan, Pemko Medan harus memperhatikan lingkungan hidup dengan menindak tegas oknum yang hanya ingin mementingkan diri pribadi maupun kelompoknya. “Stop semua bentuk perizinan pembangunan di kawasan itu,”’imbuhnya.

Ketika ditanyai mengenai pengawasan oleh pejabat setempat, dia menjawab pengawasannya masih lemah.
“Pengawasan camat dan lurah masih lemah. Padahal, selain urusan pemerintahan, pengawasan terhadap hutan mangrove merupakan satu dari tugas mereka,” ujarnya.

Kendati ada instansi yang berwenang yang mengawasinya, seperti Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan, Yusuf menegaskan, peran pemerintah setempat dibutuhkan dalam rangka memberi kenyamanan dan keamanan terhadap hutan.

“Camat dan jajarannya harus pro-aktif mengawasi hutan mangrove di Belawan. Pengawasannya bukan hanya memantau, tapi mengajak masyarakat merawat dan melestarikan agar mangrove tetap tumbuh subur,” pintanya. (adl)

Insentif dari Pemprov Belum Dicairkan

085261144xxx

Kepada Yth Pejabat di Dinas Pendidikan Deli Serdang, kapan dicairkan insentif dari Pemprov tahun 2011. Guru honorer sudah, kenapa PNS belum?

Dalam Tahap Pencairan

Dari penjelasan Kadisdikpora Deli Serdang Sa’adah Lubis, tunjangan guru yang bersumber dari APBN dan APBD Provinsi Sumatera Utara sudah dalam tahap pencairan. Adapun keterlambatan disebabkan pemberkasan dari Kementerian Pendidikan. Terima kasih.

Drs Umar Sitorus
Kabid Humas Dinas Infokom Deli Serdang

Tak Pernah Juara Kelas, Sibuk ke Perpustakaan

Gyta Adinda Nasution, Gadis Penemu Ramuan Penyembuh Diabetes

Menyadari sang ayah terserang diabetes dan asam urat, Gyta Adinda Nasution yang masih kecil tak mau berlepas tangan. Dia mencari pemecahan melalui literatur dari perpustakaan Kabupaten Madina. Hasilnya, dia pun menemukan ramuan mujarab saat umurnya baru 13 tahun.

Ridwan Lubis-Madina dan Amran Pohan-Sipirok

Bisman Nasution menceritakan, putrinya yang saat ini sekolah di SMAN 2 Plus Sipirok merupakan anak pendiam sejak masih SD. Meski begitu dia suka bergaul dan disukai teman-temannya. Gyta pun giat membaca.

Bahkan, tutur pensiunan PNS Pemkab Madina ini, setiap ada tugas sekolah teman-temannya selalu belajar di rumahnya. Di sekolah Gyta memang tidak dapat ranking, namun dia selalu masuk 5 besar. Putri ketiga dari empat bersaudara ini selalu disukai guru dan kawan sekelasnya. “Dia sering dikunjungi kawan-kawannya untuk menyelesaikan tugas sekolah dan sangat suka membaca buku,” kenang Bisman memulai cerita dengan Metro Tabagsel (grup Sumut Pos), Kamis (26/1).

Diceritakan Bisman, penemuan ramuan diabetes itu diawali dengan penyakit yang dideritanya. Bisman menderita diabetes dan asam urat. Tahun demi tahun sakitnya malah semakin parah. “Sejak penyakit saya tambah parah dia (Gyta) banyak menghabiskan waktu di luar jam sekolah di Perpustakaan Madina yang ada dekat kantor KPU Madina di Jayu Jati. Dari situ dia mencoba meramu obat-obatan secara herbal atau dari akar-akaran. Setiap hari itu sajalah kerjaannya,” tutur Bisman sembari mengatakan usaha Gyta itu dimulai ketika dia duduk kelas 1 SMPN 1 Panyabungan.

Setelah berulang kali mencoba hingga dua tahun lamanya, saat Gyta sudah duduk di kelas 1 SMA 2 Plus Sipirok, obat yang diramu Gyta mulai membuahkan hasil. Dasarnya, karena minum ramuan obat Gyta, penyakit Bisman menurun. Dan, sejak itu jugalah beberapa orang datang ke rumahnya meminta ramuan obat yang sama. “Ratusan orang sering datang ke rumah untuk meminta ramuan obat itu. Dan ramuannya kami jual Rp70 ribu per kilogram. Ibunyalah sekarang yang membuat obat itu setelah diajari oleh Gyta,” terang Bisman.

Kata Bisman, saat ini Gyta sedang mengikuti pelatihan di USU mengenai ramuan obat yang ditemukannya tersebut. Untuk belajar ini harus mengeluarkan biaya sampai Rp8 juta. “Dia masih mengikuti latihan di USU. Dan selama latihan itu, dia membutuhkan biaya sebesar Rp8 juta. Namun mengenai biaya itu, kepala sekolahnya (Kasek SMAN 2 Plus Sipirok) sudah membantu Rp2,5 juta,” terangnya.

Gyta yang ditemui pada Jumat 11 Nopember 2011 lalu, mengungkap kalau penemuannya tak lain karena sang ayah. “Semenjak ayah terserang diabetes, ketika itu saya masih duduk dibangku kelas 6 SD (SDN Inpres 1425594 Panyabungan). Saya prihatin melihat ayah yang harus makan kentang dan tak boleh makan nasi. Padahal dia begitu suka dengan nasi. Disamping itu, kondisi tubuhnya yang memang gemuk dan suka makan, tampak tak sehat, dan tak bersemangat. Sejak itu saya berniat mencari solusi dengan gemar membaca buku-buku yang berkaitan dengan  diabetes. Hampir setiap hari sepulang sekolah, saya selalu meluangkan waktunya untuk membaca di  perpustakaan daerah,” ungkap Gyta di kelas kelas XII IPA 1 di SMAN 2 Plus Sipirok.

Anak keempat dari pasangan Bisman Nasution SH dengan Dra Lismawati bercerita, saat di SMP kegiatan mencari dan mengumpulkan data tentang diabetes melalui buku dan internet terus dilakukan. Setelah merasa cukup membaca, mulailah Gyta memberanikan diri meramu obat melalui petunjuk buku yang dibaca di perpustakaan. Bercampur rasa sedih, cemas, kasihan melihat kondisi tubuh sang ayah. lantas gadis belia yang lahir di Medan, 2 Juli 1994 itu mulai meramu obat melalui petunjuk buku yang dibacanya. Padahal usianya ketika itu baru 13 tahun. “Saya mulai meramu obat dari buku Pengobatan Ala Hembing. Dengan bermodalkan keingintahuan dan kemauan yang kuat, saya mencoba melakukan beberapa penelitian dan eksperimen untuk mengatasi penyakit diabetes yang diderita ayah,” kata siswa yang bercita-cita menjadi guru dan dosen tersebut.

Diceritakannya, telah banyak tumbuhan obat yang diteliti dan diraciknya, namun beberapa hasil eksperimen yang dilakukan masih sering kurang memuaskan. Misalnya, ramuan daun mahkota dewa yang dikeringkan lalu direbus dan airnya diminum. Lalu, diganti dengan ramuan buah mahkota dewa yang dikerangkan lalu dijadikan bubuk dan diseduh dan diminumkan. Dan hasilnya juga belum memuaskan. Begitu juga ramuan lainnya akar mahkota dewa, ceplukan (pultak-pultak), asupan jus dan ramuan lainnya, namun tetap saja belum mendapatkan hasil yang maksimal. “Awalnya rata-rata ramuan itu hanya bisa membuat ayah bersemangat saja, tetapi setelah diperiksakan kadar gulanya masih tetap tinggi. Dengan keadaan seperti itu saya terus berusaha menemukan obat yang belum pernah dikenal masyarakat, terus mencoba dan mencoba. Atas saran ibu akhirnya saya menemukan obat sederhana bernama kopi gula. Mula-mula kurang percaya dengan hipotesis itu dan karena penasaran akan khasiatnya, obat itu langsung saya minum rasanya pahit,” akunya sambil mengatakan bahan dasar obat hasil temuannya itu masih tetap tumbuhan yang hasilnya menjadi serbuk sehingga namanya diberikan kopi gula.

Selanjutnya, merasa yakin dengan temuannya, ramuan itu pun diminumkan pada sang ayah dan setelah  mengkonsumsi selama dua hari, sang ayah merasa cocok dengan kopi gula yang telah diracik itu. Dan muncul beberapa perubahan positif seperti pandangan mulai normal atau jelas, badan terasa ringan, kulit yang mulanya kendur menjadi kencang kembali, dan badan yang mulanya lemas menjadi berenergi, serta kadar glukosa  melalui pemeriksaan dapat menurun dan ternetralisir.

“Merasa bahagia karena itu suatu kejutan besar dan ayah sudah sejak 3 tahun terakhir kembali makan nasi, dan kadar glukosanya normal kembali,” kata Dinda panggilan panggilan akrabnya.

Setelah menemukan ramuan tersebut, beberapa anggota keluarga dan kerabat dekat serta sahabat keluarga telah ada selain ayahnya yang menderita, memiliki gejala diabetes telah mengonsumsi ramuan itu. Dan hasilnya kadar glukosa mereka dapat terhambat, ternetralisir dan memberikan peluang hidup lebih baik lagi. “Yang saya ketahui penyakit diabetes merupakan salah satu penyakit yang ganas setelah AIDS. Secara uji klinis temuan saya ini belum ada, namun harapan saya kiranya hasil temuan ini mendapatkan uji klinis dan hak paten agar penderita diabetes yang hidupnya selalu pasrah dapat kembali bersemangat dan terbantu. Saya berterima kasih pada bapak Herry Lontung Siregar, bapak guru di sekolah pemerintah daerah dan sahabat dan kaum famili semua yang memberikan atensi dan dorongan selama ini. Kiranya hasil temuan ini bermanfaat bagi kemaslahatan umum terutama penderita diabetes yang selalu kerab merasa asing dan hidup pasrah,” pungkas Dinda. (***)

Syahrini Ganti Jambul Dengan Gaun Berekor

Seolah tak ada habisnya, tiga public figure ini selalu saja menjadi bahan perbincangan. Siapa lagi kalau bukan Anang, Ashanty, dan Syahrini.
Dalam acara Dahsyatnya Awards 2012 pada Rabu malam (25/1) di Hall D PRJ Kemayoran, mereka kembali membuat malam itu menjadi “sesuatu”. Kalau yang sudah-sudah Syahrini selalu menyapa Anang-Ashanty di panggung tapi tak dibalas, semalam gantian Anang yang menyapa mantan duetnya tersebut.

Malam itu, mereka kembali didapuk menyanyi berurutan. Syahrini menyanyi lebih dulu, setelah itu baru Anang-Ashanty. Setelah Syahrini menyelesaikan lagunya, Anang dan pasangan duetnya pun berjalan menuju panggung. Mereka kembali berpapasan. Tak disangka, Anang menyapa. “Assalamualaikum, Syahrini,” sapa mantan suami Krisdayanti tersebut.
Tentu saja sapaan itu membuat penonton riuh.

Apalagi, konflik antara mereka berdua sudah menjadi rahasia umum. Syahrini sempat terdiam sesaat. Dia terkejut. Tapi, setelah sadar, dia bereaksi. “Waalaikum salam, Mas Anang. Apa kabar, Mas? Sesuatu ya,” ucapnya.

“Baik, alhamdulillah,” jawab Anang cepat. Syahrini pun lantas mencoba untuk ramah dengan Ashanty. Dia juga menyapanya. Tapi, tampaknya, Ashanty tak mendengar.

Malam itu, tiga orang tersebut juga berhasil membawa pulang penghargaan. Syahrini menang untuk kategori Lagu Terdahsyat, yaitu Kau yang Memilih Aku. Sementara itu, Anang-Ashanty dinobatkan sebagai Penyanyi Duo/Grup Terdahsyat.

Mengenai penampilan, bukan Syahrini namanya kalau tidak membawa sensasi. Dia menyanyi dengan mengenakan gaun pengantin berekor panjang, 30 meter. Tapi, ada satu yang berbeda, rambutnya tak berjambul malam itu.

Yang juga berbahagia malam itu tentu saja Ayu Dewi. Perempuan kocak tersebut berhasil memenangi Host Tamu Terdahsyat. Dia menggantikan posisi Olla Ramlan yang meraih penghargaan tersebut tahun lalu. Dia berhasil menyisihkan Jessica Iskandar, Ayu Ting Ting, Denny Cagur, Jono, Marcel Chandrawinata, serta Ade Namnung.

Saat berada di pressroom seusai menerima piala, Ayu pun tersenyum bahagia. Dia mengungkapkan bahwa dirinya tidak sempat memikirkan penghargaan. Dia justru sibuk dan senewen karena harus menyanyi malam itu. “Tiga hari tiga malam ngapalin lagunya. Tadi sampai sini lupa lagi. Sampai stres. Soalnya, kan baru kali pertama nyanyi. Deg-degannya itu justru karena mau nyanyi. Yah, minimal suaraku nggak fals lah ya,” ujarnya lantas menyengir.

Trofi itu adalah trofi pertama Ayu setelah terjun ke dunia hiburan. “Alhamdulillah, sekarang di rumahku ada tiga trofi. Yang satu trofi ngaji pas aku SD, terus trofi kecantikan, sama trofi ini,” imbuhnya.

Saat menjadi host dalam Dahsyat, Ayu kerap menjadi bahan ledekan Olga. Terutama tentang kisah percintaannya yang batal menikah dengan Zumi Zola. Meski begitu, dia tidak merasa sakit hati. “Namanya juga nasib. (Trofi) ini mungkin hasil ejekan temen-temen saya. Mereka kasihan sama saya terus SMS deh milih saya. Yah, namanya juga menghibur. Semoga sahabat Dahsyat terhibur. Untuk pria yang sudah meminang saya, insya Allah dimudahkan jalannya,” tuturnya.

Tampaknya, Ayu Dewi sudah bertunangan. Dia tidak mau menyebutkan sosok laki-laki yang berhasil merebut hatinya itu. “Pokoknya, inisialnya RD. Buat Bapak RD, terima kasih. Semoga kita dilancarkan jalannya. Saya nggak mau nengok-nengok ke belakang pokoknya. Prinsip saya kayak bajaj, maunya jalan ke depan aja, nggak mau mundur,” terangnya. (jan/c5/any/jpnn)

Listrik Belum Dipasang

Hallo SUMUT POS, saya mau nanya kepada pihak PLN, saya sudah mendaftar listrik pra bayar di Perum Griya Amal Madani No.12 Jalan Pusuk 1 Kecamatan Medan Sunggal 28-11-2011, tapi s/d sekarang listriknya belum juga terpasang. Sampe berapa bulan lagi saya harus menunggu listrik bisa dipasang di rumah saya itu? Tolong pertanggungjawabannya. Terima kasih SUMUT POS, semoga makin jaya.

Dilapor ke Unit Terkait

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas SMS yang Bapak/Ibu kirim.dan kami meminta maaf atas ketidaknyamanan Bapak/Ibu. Untuk laporan Saudara akan segera kami tindak lanjuti  dan mohon Bapak/Ibu dapat menyampaikan nomor agenda agar kami dapat melaporkan ke unit yang terkait.

Deputi Manager Hukum dan Komunikasi
PT PLN (Persero) Wilayah Sumut
Raidir Sigalingging.

Pedagang Ikan Menjamur di Tanjung Bunga

085276123xxx

Asalamulaikum, mohon pada Bapak Camat Medan Kota jangan buang badan tentang masalah yang terjadi di Lingkungan 1 Kelurahan Sudirejo 2. Kami sudah berapa kali menyampaikan keluhan pedagang ikan yang berjualan di Jalan Tanjung Bunga 1. Apa yang kurang kami buat? Surat keberatan sudah disampaikan kepada Lurah Sudirejo 2 dan katanya sudah ditangani Kecamatan. Apa Bapak mau sampai kami warga membuat aksi sweeping sampai timbul bentrok sama pedagang yang notabenya 95 persen orang luar Lingkungan 1? Saya menghimbau kepada Bapak Camat Medan Kota tanggap masalah ini. Kami tunggu dalam 1x 24 jam dari sini, kalau tidak ada tindakan dan timbul bentrok antara warga dan pedagang, itu tanggung jawab Bapak Camat Medan Kota dan unsur pengurus P3T. Karena Camat dan P3T adalah dalang terjadinya pedagang ikan bagaikan jamur di Jalan Tanjung Bunga.

Siapkan Penataan Bersama Muspika

Terima kasih untuk perhatiannya. Informasi yang kita peroleh dari Camat Medan Kota bila saat ini tengah mempersiapkan penataan bersama unsur Muspika yang rencananya dilaksanakan di Jalan Seksama. Dari situ kita harapkan didapat solusi yang terbaik untuk permasalahan di kawasan Jalan Tanjung Bunga 1 ini.

Budi Heriono
Kabag Humas Pemko Medan

Tunggu Kinerja PT Inatex

Justru kalau pedagang diusir dari PT Inatex, Komisi A DPRD SU mengkhawatirkan ekses yang lebih parah lagi. Tentu kita sangat memprihatinkan masalah itu. Sehingga ketika masyarakat datang mengadukan masalahnya, kita pun memediasi pertemuan dengan PT Inatex. Dua kali kita panggil. Yang pertama PT Inatex tidak hadir, baru yang kedua, itu pun diwakili kuasa hukum. Pada pertemuan itu pihak kuasa hukum berjanji akan memediasi pertemuan dengan Sutan Raja Nadeak, pemilik PT Inatex disaksikan komisi A DPRD SU. Kita harapkan ada kebijaksanaan PT Inatex agar kawasan Medan Amplas terutama kawasan Simpang Limun tetap kondusif.

Isma Padly A Pulungan
Ketua Komisi A DPRD Sumatera Utara

Selamat dari Kebakaran, Dikunjungi Banyak Pejabat

Eksistensi Masjid Amal Silaturahim di Lingkungan Tionghoa

Jumlah masjid di Kota Medan memang cukup banyak. Namun, tak sedikit pula yang luput dari perhatian pemerintah dalam pembangunannya. Tak pelak, rumah ibadah bagi umat Muslim ini hanya dibangun sekadarnya. Tapi, tetap saja masjid menjadi pilihan warga sekitar sebagai tempat teraman dari bahaya bencana alam. Subhanallah…!

Rahmat Sazaly Munthe, Medan

Termasuk Masjid Amal Silaturrahim yang berada di Jalan Timah Putih No 2 Medan ini. Masjid yang telah berdiri sekitar 1950-an ini, hingga kini masih dalam renovasi dan belum rampung bagian bangunan pendukungnya.

Rencananya, masjid ini akan dibangun dua lantai untuk memberikan fasilitas kepada anak-anak sebagai tempat pengajian dan ruang serbaguna di lantai dasar.

Awal berdirinya, masjid yang memiliki luas bangunan 8 x 20 meter ini hanya dibangun dengan dinding papan dan atap rumbia. Kemudian dilakukan pemugaran jadi bangunan semi permanen berdinding setengah batu dan papan, serta tetap beratapkan daun rumbia.

Ada histori mencengangkan mengenai masjid yang kini berdiri di atas tanah seluas 1.000 meter ini. Pasalnya, pada 1979 lalu, daerah yang dulunya pemukiman warga dengan rumah-rumah kumuh itu terbakar hebat seluas 11 hektar. Tak pelak api membakar dan meluluh-lantakkan banyak rumah warga.  Namun, bangunan Masjid Amal Silaturrahim yang juga berada di lokasi tersebut, selamat dari amukan si jago merah.

“Hanya sedikit atap yang terbakar. Bangunan yang lain sama sekali tak terjamah api,” tutur Nazir Masjid Amal Silaturrahim H Darmansyah, Kamis (26/1).
Hingga 1987, bangunan masjid ini masih kokoh. Sampai kontraktor perumahan nasional yang dikomandoi pemerintah kota berniat membangun rumah susun di daerah tersebut. Saat itu, Darmansyah bersama warga meminta pemerintah untuk mengganti rugi bangunan masjid yang bakal digusur itu.
“Hingga rumah susun itu selesai dibangun pada 1989, masjid masih dipertahankan. Sekitar 1994 baru masjid ini direlokasi ke tempat sekarang ini (berjarak sekitar seratus meter dari tempat semula) oleh developer. Dengan ganti rugi Rp13 juta, dan bangunan masjid yang baru menghabiskan dana Rp51 juta. Dan pada 1995, baru diresmikan Wali Kota Medan saat itu Bachtiar Djafar,” tuturnya.

Pada 2004 lalu, saat bencana Tsunami Aceh, juga terjadi hal lucu menurut Darmansyah. Pasalnya, kejadian bencana alam yang fenomenal tersebut memang sangat terasa hingga ke Medan. “Pada saat itu gempa sangat terasa di sini. Dan lucunya, seluruh warga yang mayoritas Tinghoa berlarian ke masjid. Padahal sudah tentu bangunan rumah susun itu lebih kokoh dari bangunan masjid ini,” tuturnya.

Lantas ia menyeletuk kepada warga yang beramai-ramai datang ke masjid sambil ketakutan akan gempa tersebut dengan mengatakan, “Itulah, masuk Islam saja kalian,” ujarnya sambil tersenyum.

Karena kejadian tersebut pula, seluruh warga sekitar Masjid Amal Silaturrahim kini sangat menghormati keberadaan masjid berumur lebih setengah abad itu.

Saat ini, lokasi masjid dikelilingi rumah susun yang mayoritas diisi warga etnis Tionghoa. Menurut Darmansyah, tak sedikit juga warga Tionghoa yang tinggal di sekitar lokasi masjid menjadi mualaf.

“Alhamdulillah, mereka mendapatkan hidayah. Mereka memang perempuan dan terlihat turut hadir mengisi pengajian ibu-ibu yang dilaksanakan setiap Jumat siang di masjid ini,” paparnya.

Masjid yang kini memiliki luas bangunan 12×12 meter ini juga kerap menjadi tempat kunjungan para calon pemimpin daerah. “Tak dimungkiri, mereka memang datang untuk kampanye. Karena banyak warga etnis Tionghoa di sini. Namun sepertinya, ada sedikit keramat di masjid ini. Karena calon kepala daerah yang tak mau menginjakkan kaki ke masjid ini, rata-rata tak terpilih. Seperti Gatot Pudjo Nugroho, Rahudmnan Harahap dan Djulmi Eldin semua sempat mendatangi masjid ini. Gatot duduk di teras masjid, Eldin masuk ke dalam masjid, Rahudman di pelataran masjid,” tutur Darmansyah.
Namun, sesal Darmansyah, setelah mereka terpilih, mereka seperti melupakan janji-janji yang sempat mereka ucapkan untuk memperhatikan pembangunan Masjid Amal Silaturrahim ini.

“Hanya Abdillah yang sempat memberikan bantuan untuk pembangunan tempat pengajian anak-anak dan ruang serbaguna sebesar Rp50 juta. Namun, bangunan itu kini terkendala dan tak terselesaikan. Eldin juga sempat berinfak untuk pembangunan masjid ini,” ujar nya

Ia berharap ada donatur yang berbaik hati untuk merampungkan pembangunan bangunan pendukung masjid yang masih terkendala. “Jika ada donatur, kita sangat berharap bisa dibantu. Kalau harus memberikan proposal, saya ini sudah tua, dan pengalamannya dari 20 proposal yang disebar, ke-20-nya tak ada yang kembali,” kata pria berusia 61 tahun ini.

Selama ini pula, biaya operasional masjid berasal dari infaq-infaq salat Jumat. “Mudah-mudahan masih mencukupi. Sangat inginnya warga di sini agar bangunan tempat pengajian anak-anak dan ruang serbaguna itu dirampungkan adalah untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan spiritual umat. Jika yang tua-tua ini sudah nggak ada, kita bisa tenang karena sudah ada tempat mereka (anak-anak) benimba ilmu agama di sini,” tutur Darmansyah.(*)