Home Blog Page 13953

Gelar Ritual Penyucian Kuil dan Sambangi Situs Sejarah

Ribuan Umat Hindu se-Asia Kunjungi Kota Medan

Ribuan umat Hindu dari negara Asia seperti India, Malaysia, Thailand dan Singapura mengunjungi Kota Medan, dalam rangka mengikuti acara penyucian Kuil Maha Samprokshana (Maha Kumbabisheka), yang merupakan kuil terbesar di Asia.

Kegiatan ritual umat Hindu ini akan dipusatkan di Shri Balaji Venkateshwara Koil Jalan Bunga Wijaya Kusuma, Kecamatan Medan Selayang.   “Bertepatan Visit Medan Years 2012 ini, kita akan menggelar Maha Samprokshana atau Maha Kumbabisheka berupa acara penyucian kuil terbesar di Asia dengan wisatawan yang hadir dari seluruh negara Asia seperti India, Malaysia, Thailand, Singapura dan lainnya, jumlahnya berkisar 3000 orang. Mereka datang secara bertahap melalui kedatangan internasional Bandara Polonia,” papar Wakil Ketua Panitia Acara Gopala Khrisna Naidu SH kepada wartawan, Kamis (2/2), di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Polonia Medan.

Gopala yang membawa rombongan ratusan orang dari Malaysia dan India ini ditemani langsung oleh Kadisbudpar Kota Medan Busral Manan dan Kabid Promosi Disbudpar Medan Agus. Gopala menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan berupa peletakan arca Dewa Wisnu.

“Kegiatan yang akan dilakukan dengan ritual kesucian, peletakan batu arca yang puncaknya pada, Jumat (3/2). Akan dilakukan percikan air suci dari atas kuil. Jadi, kalau kena air itu kita akan mendapat berkah. Kita targetkan kalau dari wisatawan religi dari Malaysia, Singapura, India sekitar 1000 orang. Ditambah wisatawan dari daerah lain, lokal maupun nasional dengan target ribuan orang mencapai 3000 orang lebih yang mengikuti acara penyucian kuil ini,” ujarnya.

Dijelaskannya, wisatawan yang usai mengikuti ibadah penyucian kuil. Selanjutnya, para wisatawan akan dibawa keliling Kota Medan sebagai salah satu dukungan Visit Medan Years 2012 dengan mengunjungi pusat-pusat sejarah Kota Medan seperti Rumah Tjong A Fie, Istana Maimun, Masjid Raya dan situs sejarah di Kota Medan lainnya.

“Ini Visit Medan Years, maka mereka akan tour. Mereka akan mengetahui tentang kota Medan. Pensucian kuil ini sendiri akan dilakukan selama enam hari sejak tanggal 29 Januari di Shri Balaji Venkateshawara Koil di Jalan Bunga Wijaya Kusuma Medan Selayang. Jadi, sesudah itu, mereka akan tour dan mencicipi seluruh kuliner Kota Medan. Acara ini juga sudah masuk dalam pemberitaan di koran-koran Malaysia,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Medan, Busral Manan menuturkan, acara religi keagamaan yang diperkirakan akan diikuti ratusan umat Hindu ini, ternyata melebihi target. Angka awal perkiraan berjumlah 700-an, ternyata mencapai ribuan orang. Ini belum termasuk wisatawan yang datang menyaksikan acara ritual umat Hindu ini, berkisar berjumlah 2 ribu hingga 3 ribu wisatawan, termasuk yang bergabung dalam kegiatan agama tersebut.

“Ini salah satu upaya kita untuk menyukseskan Visit Medan Years 2012. Kalau untuk acara keagamaannya sendiri diikuti, 700 orang, namun wisatawan mancanegara asia dan lokal akan datang menyaksikan acara keagamaan dengan kuil umat Hindu terbesar di Asia ini ribuan orang sekitar 2 ribu lebih. Jadi, kita yakini acara ini akan dikunjungi wisatawan mencapai 3 ribu orang lebih ditambah umat lokal,” terangnya.

Busral menegaskan pihaknya hanya menkoordinir acara hingga sukses dilaksanakan dengan berkoordinasi dengan Camat Medan Selayang, pihak kepolisian dan pengaturan lalu lintas di kawasan itu termasuk membawa wisatawan keliling tour wisata Kota Medan. “Mereka nantinya akan kita bawa ke Danau Siombak dan tempat wisata lain di Kota Medan termasuk kuliner di Medan. Kita akan mengkordinir mereka sampai acara sukses digelar,” tegasnya.(*/adl)

Enam Warga Ditembak, Empat Brimob Dibacok

Batas Sumut-Riau Berdarah

PADANGLAWAS-Pertumpahan darah terjadi di daerah perbatasan Riau-Sumut, Kamis (2/2), pukul 10.00 WIB. Bentrok terjadi antara masyarakat Desa Batang Kumu Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu (Riau) de ngan PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) yang berada di Dusun Kuta Parit Desa Sei Korang Kecamatan Huta Raja Kabupaten Padanglawas (Sumut). Akibatnya enam warga jadi korban tembak dan empat Brimob menjadi korban bacok.
Bentrok ini didasari oleh konflik sengketa lahan yang belum tuntas, akibat belum adanya kesepakatan tapal batas Riau-Sumut yang masih berada di kawasan hutan lindung. Kenyataan memicu enam warga Desa Batang Kumu Kecamatan Tambusai menjadi korban penembakan, yang diduga ditembak oleh oknum BKO Brimob Polda Sumut yang ditugaskan di PT MAI dengan berpakaian lengkap menggunakan senjata laras panjang.

Sementara lima warga Batang Kumu lainnya termasuk salah seorangnya kaum ibu yang belum ditemukan pihak keluarganya, dituding oleh korban ditahan oleh Oknum BKO Brimob PT MAI.

Pantauan Riau Pos (grup Sumut Pos) di Rumah Sakit Umum Daerah Pasirpengaraian, enam warga Batang Kumu Kecamatan Tambusai yang mengalami luka tembak tersebut, sebelum dilarikan ke RSUD Pasirpengaraian, sempat dibawa ke Puskesmas Tambusai. Lima dari enam warga Batang Kumu tersebut, dirujuk ke RSUD Pasirpengaraian untuk mendapatkan perawatan intensif. Korban bernama Rantau Sirait (27), Johanes Sitorus (35), Nomus Sihombing (34), Frangky Dolok Saribu (30), dan Osmar Sihombing (30).

Sedangkan korban Joni Sihotang (28) yang mengalami luka tembak di bahu kiri, kini dirawat di Puskesmas Tambusai Dalu-dalu.

Salah seorang korban bernama Frangky Dolok Saribu, menyebutkan, tujuan warga ke lahan konflik sengketa lahan seluas 5.800 hektar untuk melakukan perdamaian kesepakatan di lahan tersebut. Sekitar 150 masyarakat Batang Kumu Kecamatan Tambusai berkumpul di salah satu bukit, begitu juga karyawan, security PT MAI, termasuk BKO Brimob dan massa yang digerakkan perusahaan berada di bukit yang berbeda.

Dalam mediasi di lahan konflik itu, pihak perusahaan memasukkan satu unit alat buldozer untuk menumbangkan pohon sawit dan sawah masyarakat yang sudah ditanam.Aksi perusahaan itu, lanjutnya masyarakat tetap bersabar. Kemudian, jelang beberapa menit, pihak perusahaan kembali memasukan satu unit lagi alat berat Buldozer untuk merusak tanaman masyarakat. Tak pelak, masyarakat Batang Kumu habis kesabarannya. Lalu masyarakat beramai-ramai menghalau dan menyerang kernet buldozer, termasuk masyarakat yang diberdayakan PT MAI untuk melakukan perlawanan.

Kondisi memanas, baku hantyam tak terelakan. Bahkan, oknum BKO Brimob Polda Sumut di bawah komando Polres Tapanuli Selatan, sempat melepaskan tembakan ke udara, bahkan mengejar dan menembak warga hingga mengejar ke perkampungan dan lahan perkebunan.

‘’Saya terkejut, melihat darah dan rasa sakit yang kuat di bagian paha bagian kiri. Saya tak bisa berlari dan terjatuh hingga berusaha kabur dari lokasi. Ada sekitar 10 oknum BKO Brimob berpakaian lengkap dengan menggunakan laras panjang,’’ ujar korban luka tembak di belakang paha bernama Osmar Sihombing.

Ditambahkan Frangky Dolok Saribu (30), suasana memanas di daerah perbatasan sudah berlangsung 4 hari. Namun, baru kemarin terjadi bentrok karena perusahaan tidak memenuhi sepakatan yang telah dibuat sebelumnya.

Kapolda Riau, Brigjen Pol Drs Suedi Husein SH MH mengatakan bahwa dia sudah menugaskan Kapolres setempat untuk memeriksa kebenaran adanya penembakan tersebut. Sementara Kabid Humas Polda Riau, AKBP Syarif Pandiangan SH menegaskan bahwa Polda Riau sudah mengirimkan tim intelijen untuk melakukan investigasi terkait permasalahan perselisihan tersebut. ‘’TKPnya di wilayah orang, bukan wilayah Polda Riau, memang korbannya warga Rohul, jadi saya tidak bisa memberikan statemen,’’ kata Pandiangan.

Ditanya bagaimana penjelasan Polda Riau untuk mengatasi konflik perbatasan yang menjadi permasalahan berlarut-larut dari beberapa tahun lalu, Pandiangan mengatakan belum bisa memberikan pernyataan.

‘’Yang saja jawab, Sekarang intel sudah kita kerahkan, jadi kita tunggu laporan, soal konflik saya tidak bisa statemen,’’ kata Pandiangan.

Sedangkan Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Drs H Wisjnu Amat Sastro mengaku mengetahui kejadian tersebut melalui Polsek setempat. Menurut Wisjnu, laporan yang ia terima sampai tadi malam, korban jiwa akibat bentrok tersebut berjumlah 8 orang, 4 dari masyarakat 4 dari anggota Brimob. Bentrok berawal saat PT MAI mengerjakan lahan, tiba-tiba masyarakat yang mengklaim tanah yang dikelola PT MAI datang dan melarang. Melihat kejadian itu, petugas Brimob yang melakukan pengamanan. Akibatnya empat petugas Brimob mengalami luka bacok di kepala dan di tangan. Kini keempat anggota brimob tersebut dirawat di klinik rumah sakit PT MAI.

Sementara itu, karena mengalami luka-luka, anggota Brimob yang melakukan pengamanan melepaskan tembakan dan mengenai 4 warga. “Rencananya saya besok (hari ini, Red) usai melantik Wakapolda yang baru akan langsung berangkat melalui Pekanbaru untuk melihat korban di Rumah Sakit Pasirpengaraian,” ujar Wisjnu.

Wisjnu meminta dalam masalah tanah perlu perhatian semua pihak, Pemda, DPR, Kehutanan, pengusaha duduk bersama membahas masalah tanah. “Semua harus perhatian dalam mengatasi masalah tanah, bukan hanya polisi saja,” kata Wisjnu.

Lebih lanjut Wisjnu mengatakan sampai malam ini situasi sudah terkendali. Masyarakat meminta sebelum masalah tanah ini selesai pihak PT MAI tidak boleh mengerjakan lahan. Atas permintaan tersebut Wisjnu mengaku telah menyuruh pihak PT MAI tidak mengerjakan lahan.
“Sudah terkendali, masyarakat minta pihak PT MAI tidak melakukan pengerjaan lahan sebelum masalah sengketa tanah ini diselesaikan. Kita sudah minta pihak PT MAI untuk tidak mengerjakan lahan,” pungkas Wisjnu. (epp/rul/rpg/mag-5/jpnn)

Kerusuhan Sepak Bola di Mesir, 74 Orang Tewas dan 1.000 Luka

KAIRO-Sembari membopong dua fans klub tamu, Al-Ahly, yang sudah tewas, Mamdouh Eid setengah berlari dengan sisa tenaga menuju pintu keluar Stadion Port Said, Port Said, Mesir, dini hari kemarin WIB. Suasana di stadion berkapasitas 18 ribu orang itu sudah mendidih: fans klub tuan rumah, Al-Masry, memburu dan menghajar pendukung serta pemain Al-Ahly dengan batu, botol, tongkat, bahkan senjata tajam.

Sial bagi Eid, sampai di depan pintu keluar, petugas tak mau membuka pintu. Manajer eksekutif Komite Suporter Al-Ahly itu pun akhirnya mengikuti langkah para pemain  Al-Ahly menuju ruang ganti dan meletakkan jenazah dua suporter tersebut di sana. “Polisi hanya diam dan ambulans datang sangat terlambat,” ujarnya geram kepada CNN yang menemuinya di Kairo.

Kesaksian serupa datang dari banyak fans Al-Ahly lainnya yang selamat dari kerusuhan yang menewaskan total 74 orang (ada yang menyebut 79 orang) serta melukai sekitar 1.000 orang lainnya itu. Salah satunya adalah Amr Khamis, anggota Ultras, suporter garis keras Al-Ahly. “Polisi membiarkan kerusuhan itu. Mereka menolak membuka pintu keluar. Padahal, kami dikejar ribuan suporter Al-Masry,” kata Khamis.
Sebuah tayangan video amatir memperlihatkan seorang petugas keamanan malah sibuk menelepon saat suporter saling beradu fisik. Jadilah, pasca kerusuhan terburuk terkait sepak bola sejak 80 orang tewas dalam laga kualifikasi Piala Dunia Zona CONCACAF antara Guatemala versus Kosta Rika di Guatemala City pada Oktober 1996 itu, berkembang kabar bahwa tragedi di Port Said tersebut sudah “diskenario”. Yakni, oleh militer yang bekerja sama dengan polisi.

Targetnya adalah Ultras Al-Ahly. Sebab, kelompok itulah yang berada di garis depan dalam “Revolusi Lapangan Tahrir” yang berbuntut pada lengsernya Presiden Hosni Mubarak pada Februari tahun lalu.

Dengan pengalamannya “bertempur” menghadapi suporter klub lain, Ultras memandu para demonstran menghadapi kebrutalan aparat serta para preman bayaran yang dikerahkan rezim Mubarak. Jadi, kerusuhan seusai laga Liga Mesir antara Al-Masry melawan Al-Ahly yang berakhir 3-1 untuk kemenangan tuan rumah itu dirancang sebagai balas dendam.

Kerusuhan tersebut terjadi setelah wasit meniup peluit akhir laga yang mempertemukan klub peringkat keempat (Al-Masry) dengan peringkat kedua (Al-Ahly) Liga Mesir itu. Suasana yang memanas sejak pertandingan dimulai tersebut langsung meledak begitu suporter kedua tim berhamburan masuk ke lapangan.

Suporter Al-Ahly yang hanya berjumlah 1.200 orang tak kuasa menghadapi suporter tuan rumah yang mencapai 13 ribu orang. Apalagi, banyak laporan menyebutkan, para suporter tuan rumah dibiarkan membawa berbagai macam “amunisi” ke dalam stadion. Tak sedikit pula suporter tim tamu yang terpojok di beberapa sudut stadion yang telah dibakar pendukung tuan rumah.

Para pemain dan pendukung Al-Ahly pun harus bersembunyi di ruang ganti, bercampur dengan jenazah para suporter klub tersukses di Mesir dan Afrika yang berbasis di Kairo tersebut. Tiga pemain Al Ahly dikabarkan terluka. Salah seorang di antaranya adalah kiper Sharif Ikrami.
Mohammed Abou Trika, striker Al-Ahly dan timnas Mesir, menyebut kejadian dalam stadion itu sebagai “perang”. Sementara itu, Sharif Ikrami menegaskan, dirinya dan rekan-rekan setimnya tak akan bermain sepak bola lagi. “Bagaimana kami bisa memikirkan sepak bola lagi setelah menyaksikan apa yang terjadi?” ungkapnya seperti dikutip Daily Mail.

Federasi Sepak Bola Mesir memang sudah mengumumkan bahwa Liga Mesir ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Afrika yang tengah menghelat Piala Afrika 2012 di Guinea Khatulistiwa dan Gabon mewajibkan pengheningan cipta di semua laga perempat final ajang dua tahunan tersebut yang dihelat mulai Sabtu besok.

Semula, kerusuhan itu diduga murni terjadi karena sengitnya rivalitas antara dua klub yang sejak dulu memang bermusuhan. Tapi, seiring dengan pengakuan para saksi dan tayangan video kejadian, dugaan yang menguat adalah adanya skenario oleh aparat tersebut. Apalagi, tragedi itu hanya berselang sehari setelah Kementerian Dalam Negeri gagal meyakinkan parlemen agar kembali memberlakukan undang-undang kondisi darurat yang akan memberikan wewenang lebih luas kepada polisi dan militer.

“Ini bukan lagi sepak bola. Ini plot untuk menghancurkan negara,” ujar Manajer Al-Masry Kamal Abu Ali yang langsung menyatakan mundur setelah kerusuhan.

Sejumlah suporter Al-Masry juga menegaskan bahwa yang pertama memicu kerusuhan bukan pihak mereka. “Ada sejumlah kelompok tak dikenal yang menyusup dan merekalah yang memicu kerusuhan. Mereka bukan dari Port Said. Mereka mirip para preman yang biasa disewa Partai Nasional Demokrat (partainya Mubarak) pada masa-masa pemilu dulu,” ujar Farouk Ibrahim, suporter Al-Masry yang hadir dalam laga tersebut.

Keyakinan akan adanya skenario itu juga disuarakan Partai Keadilan dan Kebebasan, sayap politik Ikhwanul Muslimin yang memenangi pemilu legislatif yang baru lalu. “Kerusuhan tersebut dimaksudkan untuk mengganjal proses transisi demokrasi yang damai yang dilakukan partai-partai yang terkait dengan rezim lama,” ujar Partai Keadilan dan Kebebasan dalam rilis resminya seperti dikutip Bloomberg.

Pemerintahan sementara Mesir di bawah kendali Dewan Agung Militer langsung membantah tudingan tersebut. “Ada kelompok-kelompok terorganisasi yang secara sengaja memprovokasi polisi sepanjang pertandingan dan mengeskalasikan kerusuhan dengan masuk ke lapangan seusai peluit terakhir wasit,” ujar Menteri Dalam Negeri Mesir Mohamed Ibrahim Youssef.

“Polisi sudah berusaha mencegah tanpa terlibat dalam kerusuhan,” lanjutnya.

Hussein Tantawi, ketua Dewan Agung Militer, juga memastikan tak ada rekayasa dalam kerusuhan yang disebut Presiden FIFA Sepp Blatter sebagai “hari kelam bagi sepak bola” tersebut. “Insiden ini tak akan menghancurkan Mesir. Kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja. Kami tidak akan menindak semua yang terlibat,” tegasnya sebagaimana dikutip Associated Press.

Militer mengerahkan dua pesawat untuk menjemput para pemain Al-Ahly di Port Said dan menerbangkan mereka ke Kairo. Sampai tadi malam, aparat telah menangkap 47 orang yang diduga terlibat kerusuhan itu. Kepala Kepolisian Port Said Essam Samak juga telah dipecat.

Dewan Agung Militer pun telah mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Tapi, semua itu tetap sulit meredakan tingginya tensi. Negeri yang dialiri Sungai Nil tersebut berada di ambang revolusi kedua setelah yang pertama berhasil melengserkan Mubarak tahun lalu. Dewan Agung Militer bakal menghadapi tantangan sangat berat untuk mempertahankan kekuasaan.

Sebagaimana dilaporkan BBC, ketegangan kini merebak di berbagai penjuru Mesir. Di Suez, misalnya, 500 orang berdemonstrasi mengutuk polisi dan militer di depan kantor pusat kepolisian setempat. Ultras Al-Ahly juga sudah kembali ke Lapangan Tahrir, Kairo, dan merencanakan demonstrasi besar-besaran dini hari tadi.
“Orang-orang sangat marah kepada rezim yang berkuasa. Anda bisa melihat kemarahan itu di mata mereka,” ujar Mohammed Abdel Hamid, suporter Al-Ahly di Kairo. (c5/ttg/jp/jpnn)

A Hok Maju Pilgubsu

Golkar Berkoalisi dengan PDS

JAKARTA-Bidak catur perpolitikan di Sumut bergerak cepat. Sejumlah petinggi partai di Jakarta pun ambil peran jelang Pilgub Sumut 2013 ini. Anggota Komisi II DPR dari Partai Golkar, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil A Hok pun dikabarkan akan maju berpasangan dengan Chairuman Harahap.

A Hok memang belum bisa dimintai konfirmasi. Saat dihubungi, pria beragama Kristen Protestan yang memiliki nama Tionghoa, Zhong Wan Fu ini, tak mengangkat telepon.

A Hok merupakan warga etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Belitung Timur. Pada Pilgubsu 2008, dia juga sempat ancang-ancang ikut maju. Dia kelahiran Belitung Timur, namun istrinya, Veronica ST,  kelahiran Medan.

Kabar ini beredar setelah Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Akbar Tandjung, menggelar pertemuan dengan petinggi Partai Damai Sejahtera (PDS) Sahat Sinaga. Pertemuan digelar di Jakarta beberapa hari lalu, dihadiri juga Chairuman Harahap.

Dikonfirmasi kabar itu, Sekjen PDS Sahat Sinaga tidak membantah. Hanya saja dia menampik pertemuan itu disebut sebagai langkah partai. Menurutnya, pertemuan itu bersifat pertemuan pribadi. “Itu sifatnya pribadi,” ujar Sahat kepada Sumut Pos di Jakarta, Kamis (2/1). Dia enggan menjelaskan lebih jauh mengenai isi pertemuan itu.

Malahan, Sahat menceritakan, belum lama ini dia juga bertemu secara pribadi dengan A Hok. “Jadi pertemuan-pertemuan itu pribadi, saya juga baru saja bertemu dengan A Hok, mantan Bupati Belitung Timur itu,” ujar Sahat.

Entah bagian dari strategi politik atau bukan, Sahat tidak mau menjelaskan lebih lanjut. Bisa saja, Golkar sedang melakukan penjajakan koalisi dengan PDS. Barangkali, PDS mau diajak koalisi, syaratnya A Hok yang jadi pendamping Chairuman. Sahat tidak membantah soal pentingnya kombinasi pasangan berdasar aspek agama itu.

“PDS merupakan partai nasionalis-kristiani. Kita mencari calon yang memenuhi kriteria ideologis itu, yakni mengenai komitmen kebangsaannya dan bagaimana komitmennya membesarkan partai,” kata Sahat, yang juga pentolan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia itu.

Ketum PDS Denny Tewu juga merasa yakin bahwa sikap partainya akan sangat mewarnai peta pergulatan politik menjelang Pilgub Sumut ini. “Kami bukan penentu utama, tapi penentu yang menentukan,” ujarnya.

Diakui, saat ini partainya sudah melakukan pendekatan-pendekatan. “Karena, kalau tak kenal, maka tak sayang,” ucapnya.

Hanya saja, dia tidak menyebut nama-nama kandidat yang mulai mendekat. “Kita tunggu usulan resmi saja dari pengurus daerah. Kalau sudah masuk DPP, kita akan proses sesuai mekanisme yang ada di kita,” terang Denny.

Sama seperti disampaikan Sahat, Denny juga menegaskan bahwa PDS akan memperjuangkan agar kombinasi pasangan calon ‘berwarna’, yakni mewakili unsur muslim-kristen atau sebaliknya. “Kehadiran PDS akan memberikan warna, warna yang pelangi, indah,” kata Denny.

Sebelumnya, Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Didik Supriyanto mengatakan, komposisi pasangan yang pelangi akan sangat membantu kestabilan roda pemerintahan tatkala pasangan tersebut nantinya berkuasa. Jika tidak pelangi, maka kelompok masyarakat yang tidak terwakili dalam komposisi pasangan, bisa merecoki pemerintahan dibawah kendali pasangan itu.

“Pemilukada sebetulnya bisa menjadi sarana mengakomodir perbedaan-perbedaan. Pasangan harus merepresentasikan muslim-nonmuslim atau sebaliknya, sehingga nantinya tercipta keharmonisan,” ujar Didik saat diskusi di Jakarta, Rabu (1/2). (sam)

Latah

Oleh : Ramadhan Batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Beberapa kalangan sempat mengatakan kalau Medan tidak memiliki rencana besar dalam perkembangan kotanya. Pembangunan di Medan tak lain adalah copy paste dari Jakarta.

Karena itu, apa yang terjadi di Jakarta akan terjadi di Medan. Contohnya, soal banjir dan macet. Dua hal ini bukan lagi kejadian yang langka di Medan bukan?

Begitu juga soal gaya hidup. Medan sebagai metropolitan tentu tak berbeda dengan Jakarta. Kaum hedonis berbaris seimbang dengan kaum miskin kotanya.

Sekali lagi mirip Jakarta, Medan mulai didominasi pendatang. Tidak percaya? Coba cari tahu, pemilik usaha di Medan ini, adakah benar-benar orang Medan? Jika memang benar, tarik perbandingannya; mana lebih banyak pendatang dan asli Medan. Tidak itu saja, pejabat yang mengisi posisi penting di Medan, benarkah sosok asli Medan? Coba cari tahu, di mana dia tinggal sebenarnya.

Tapi sudahlah, jika memang terbaik untuk Medan, kenapa harus dipermasalahkan. Yang jadi masalah di sini bukanlah soal pendatang atau tidak, tapi bagaimana Medan bisa menjadi latah dengan apa yang dibuat oleh kota lain. Padahal, sudah jelas-jelas kalau Medan memiliki karakter yang berbeda dan tentu memiliki fungsi yang berbeda dengan kota lain.

Menurut literatur, ada beberapa teori penyebab latah. Pertama, teori pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih ke arah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.

Kedua, teori kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orangtua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.

Sedangkan yang terakhir, teori pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut ‘latah gaul’.

Nah, untuk Medan kira-kira masuk ke teori yang mana? Adakah Medan meniru Jakarta karena teori pemberontakan? Bisa saja, bukankah Medan sebagai kota terbesar di luar Pulau Jawa cenderung kurang mendapat peran dalam kancah nasional. Setidaknya, even-even seperti pertemuan bilateral atau multilateral yang digalang Indonesia belum pernah dilaksanakan di Medan?

Latah karena teori kecemasan bisa juga diidap Medan. Setidaknya, Jakarta memiliki kekuasaan penuh terhadap daerah. Nah, Medan sebagai kota yang di daerah pun kena imbasnya. Bisa juga Medan latah karena teori pengondisian. Nah, kalau ini lebih mengarah latah dengan sukarela. Ya, melihat segala keindahan dan kemudahan Kota Jakarta, Medan pun menjelma seperti Jakarta agar bernasib sama. Untuk teori terakhir ini, warga Medan pun ikut latah seperti warga Jakarta. Maka, kata ‘lah’ mulai berganti dengan ‘dong’;  ‘kereta’ menjadi ‘motor’, ‘kak’ menjadi ‘mbak’, ‘kau’ menjadi ‘loe’ dan sebagainya. Tidak itu saja, beberapa waktu ke depan, mungkin sosok Afriani sang supir ‘Xenia Maut’ pun akan ada di kota ini.

Pertanyaannya, apakah latah itu salah? Sayangnya, di sini tidak membahas benar atau salah. Yang dibahas, hanya latah dan bagaimana Medan akan menyikapinya. Itu saja. (*)

Sembilan Pelancong Hanyut Dihajar Air Bah

MEDAN-Bencana air bah terjadi di kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang kemarin petang. Bencana yang tepatnya terjadi di Sungai Lau Mentar, Desa Durian Sirugun menghanyutkan sembilan pengunjung objek wisata tersebut.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, kemarin siang kesembilan korban berangkat menuju lokasi Sungai Lau Mentar yang tidak jauh dari air terjun dua warna di kaki pegunungan Bukit Barisan itu.

Kesembilannya asyik bermain air sejak pukul 15.00. Mereka tidak juga berhenti ketika di kawasan itu turun hujan.

“Kondisi saat itu hujan biasa dan kesembilan orang itu sedang mandi-mandi. Tiba-tiba saja air bah datang,” kata Joni Superiadi selaku Kepala Operasi Basarnas Medan.

Meluapnya sungai secara mendadak itu menyapu rombongan korban dan terbawa arus sungai yang cukup deras. Dalam hitungan menit para korban hilang ditelan derasnya air sungai. Namun enam dari kesembilan korban yang hanyut berhasil diselamatkan. Mereka adalah Suyadi (28) warga Jl Keramat Indah Gang Harapan No 7 Medan Denai, Ardiansyah Arifin Sinaga (22) warga KL Yossudarso Lingkungan II Kelurahan Jati Utomo Binjai Timur, Barda (21) dan Mai (27) keduanya warga Jl Pelajar Ujung Medan, Ami (22) warga Tandem Binjai, dan Erik (25) warga Medan. Sedangkan tiga korban yang belum ditemukan masing-masing Hadi (25) warga Tanjung sari Medan, Samrati (30) warga Medan dan Gadis (26) yang alamatnya belum sempat diketahui. Korban ini sebagian besar pegawai Ace Hardware yang terletak di Jalan Juanda Medan.

Hilangnya para korban membuat pengunjung lainnya tersentak hingga akhirnya sampai ke warga yang tinggal di desa yang berdekatan dengan sungai tersebut. Warga pun segera berduyun-duyun menuju lokasi kejadian. Tak lama kemudian aparat Polsek Pancurbatu segera tiba di lokasi kejadian.
“Sekitar pukul 20.30 WIB kita mendapat informasi dari Syaiful, ranger di Sibolangit. Ada pengunjung hanyut diseret air bah saat mandi-mandi di Sungai Lau Mentar. Tim langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian,” jelas Joni.

Bersama tim gabungan dari Polsek Pancur Batu, ranger sibolangit, Medan Rescue, dan Basarnas Medan melakukan pencarian sampai ke Sungai Betinus. “Dengan mengerahkan alat-alat yang sudah dipersiapkan untuk melakukan evakuasi kepada korban seperti montenering, alat gulung untuk turun dari ketingian. DPS (mengetahui kordinat di lapangan), tandu, perlengkapan water rescue (light jacket/alat apung). Tim gabungan menemukan enam pemuda dalam kondisi mengalami luka ringan dengan lecet dibahagian tubuh akibat terkena benda disungai,” jelasnya.

Dijelaskan Joni, aliran sungai yang melewati lokasi pemandian alam Sembahe itu mempunyai kondisi sungai yang tidak rata dan berbatu. “Kalau kondisi sungai ada yang dalam, dangkal, dan berbatu. Untuk malam ini (tadi malam), pencarian menelusuri sungai kita hentikan dulu dan dilanjutkan esok (hari ini, Red) sekitar pukul 06.30 WIB. Tim gabungan tetap standby di lokasi dan paginya lagsung bergerak melakukan pencariuan kembali di mulai dari sungai Betinus,” bebernya. (adl/wan/btr/roy/nang/smg)

Air Bah Sibolangit

Lokasi: Sungai Lau Mentar, Desa Durian Sirugun, Kecamatan Sibolangit
Kondisi Sungai: Tidak rata dan berbatu
Hari: Kamis (2/2)

Kronologis
1.    Pukul 15.00

  • Sembilan korban tetap mandi-madi di Sungai Lau Mentar meski cuaca sedang hujan.
  • Kesembilannya tidak menyangka kalau di atas (gunung) sedang hujan deras.

2.    Pukul 17.00

  • Tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda, air bah turun dengan deras.
  • Korban sontak hanyut.

3.    Pukul 20.30

  • Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) Medan mendapat informasi
  • Tim gabungan dari Polsek Pancurbatu, ranger Sibolangit, Medan Rescue, dan Basarnas Medan melakukan pencarian hingga ke Sungai Betimus

4.

  • Enam korban ditemukan di tempat terpisah dengan masing-masing luka ringan.

Enam Korban yang Berhasil Diselamatkan

  1. Suyadi (28) warga Jl. Keramat Indah Gang Harapan No 7 Medan Denai,
  2. Ardiansyah Arifin Sinaga (22) warga KL Yossudarso Lingkungan II Kelurahan Jati Utomo Binjai Timur,
  3. Barda (21) warga Jl Pelajar Ujung Medan
  4. Mai (27) warga Jl Pelajar Ujung Medan
  5. Ami (22) warga Tandem Binjai dan
  6. Erik (25) warga Medan.

Tiga Korban Hilang

  1. Hadi (25) warga Tanjung sari Medan,
  2. Samrati (30) warga Medan
  3. Gadis (26) yang alamatnya belum sempat diketahui.

Catatan:

  • Sebagian besar korban adalah pegawai Ace Hardware yang terletak di Jalan Juanda Medan.
  • Pencarian korban dilanjutkan hari ini sekitar pukul 06.30 WIB

Kajatisu: Selesaikan Perkara hingga Peradilan

Dugaan Korupsi Dishub Medan Rp24 M

MEDAN-Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajatisu), AK Basyuni Masyarif, mengaku telah menerima laporan pengusutan dugaan korupsi retribusi parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Medan.

Dia mengaku telah meminta anak buahnya untuk segera menuntaskan kasus yang diduga merugikan negara Rp24 miliar tersebut. Hal itu disampaikannya kepada wartawan usai serah terima jabatan (sertijab) Asintel Kejatisu, Kamis (2/2).

Dia memastikan kasus yang saat ini masih dalam tahap penyelidikan itu, akan terus bergulir hingga ke pengadilan. “Saat ini anggota sedang melakukan penyelidikan, untuk mencari bukti awal yang cukup agar kasus itu bisa naik ke tahap yang berikutnya. Saya sudah perintahkan untuk menyelesaikan perkara itu hingga ke meja peradilan,” tegasnya.

Untuk mengetahui perkembangan kasus tersebut, Basyuni telah meminta laporan rutin kepada anak buahnya. “Saya sudah minta anggota untuk melaporkan hasil penyelidikan kasus retribusi parkir. Namun (perkembangan terbaru) saya belum terima, mungkin mereka lagi sibuk karena banyak kasus dugaan korupsi yang saat ini sedang ditangani,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Basyuni mengatakan sangat berkomitmen menyelesaikan kasus yang diduga melibatkan Kadihub Medan, Syarif Armansyah Lubis alias Bob itu hingga tuntas. “Kita komitmen untuk menuntaskan kasus itu. Kemarin kita kan sudah panggil beberapa pejabatnya. Tidak tertutup kemungkinan kita akan memanggil kembali, tergantung kepentingan penyidik,” terangnya.

Berita sebelumnya, Bob yang diminta tanggapannya atas dugaan kasus tersebut, menolak diwawancarai. Saat dihadang wartawan koran ini, dia langsung mengatakan, “No Comment.” Sebelumnya dia juga tidak mengakui telah diperiksa Kejatisu. Bob dengan lantang membantah keterangan Kasi Penyidikan Pidsus Kejatisu, Jufri Nasution, yang menyebut Bob telah diperiksa Kejatisu. (rud)

Kau Lihat Langsung ‘Kan? Ada Barang Tuh di Sini

Siang-siang di KTV Stroom, Selecta Building Medan (2)

Lima butir ekstasi yang diberikan si BD (bandar) kini telah berada di atas meja kaca. Tergeletak begitu saja. Belum ada di antara kami yang mengambilnya. Si BD telah balik kanan, meninggalkan ruang 6×8 meter yang mewah ini.

Tim, Medan

Tiba-tiba pintu masuk kembali terbuka. Pelayan membawa jus jeruk yang sebelumnya telah dipesan. Entahlah, rupanya di tempat ini memesan ekstasi jauh lebih cepat dibanding memesan segelas jus.

Sang kolega tersenyum pada pelayan itu. Butir-butir pil berwarna merah tetap tergeletak bebas di meja kaca. Setelah meletakkan gelas, pelayan langsung berbalik. Tak ada sedikitpun sudut matanya melirik pil-pil itu. Sepertinya, hal semacam ini sudah cukup biasa. Ya, sudah tidak istimewa lagi. Dan, bukan lagi sesuatu yang rahasia.

“Kau lihat sendiri kan… sudah biasa kekgini di sini,” kata sang kolega.
Penulis hanya tersenyum dan langsung meraih jus jeruk yang sudah tersedia.

“Jadi kau coba?” tambah sang kolega sambil menunjuk pil yang tergelatak di atas meja itu.

Penulis kembali tersenyum, kali ini malah sangat lebar. “Nanti aja, Bang, kan lagi tugas he he he….”

Sang kolega tertawa. Si ‘David Beckham’ juga. “Terserahlah…, intinya aku hanya mau kasih tahu, di sini tak sulit mendapatkan barang seperti ini. Per butirnya Rp250 ribu rupiah, tapi bisa jugalah kurang. Semua tergantung siapa yang mesan. Ya, kalau sudah sangat dikenal, bisa turunlah harganya,” jelas sang kolega.
Lalu, sambil meminum air mineral yang memang banyak disediakan di tempat itu, sang kolega kembali bercerita. Katanya, tidak usah bicara soal alkohol maupun barang nikmat lainnya, untuk ekstasi saja tempat ini cukup banyak meraup untung. Memang, manajemen pasti membantah soal peredaran ekstasi di Karaoke Televisi (KTV) Stroom ini. “Tapi, kau lihat langsung kan? Ini, barang tuh masih ada di sini…” tegasnya.
“Jadi kita apakan ini?” timpal si ‘David Beckham’ pula.

“Ya, sudah, titip saja sama dia (BD, Red) dulu. Belum mau kawan kita ini,” balas sang kolega.

Si ‘David Beckham’ mengutipi lima butir itu dan langsung membungkusnya dengan sehelai tisu.
Dia pun kembali bergerak meninggalkan ruangan. “Lihat, bisa nitip dulu. He he he… nanti kalau kita udah mau, tinggal ambil saja,” kekeh sang kolega.
“Tapi, serius aku nih. Aku ajak kau kemari biar bisa kau lihat langsung apa yang terjadi. Jadi, aku nggak sembarang ngomong. Dan, aku gak punya kepentingan apa-apa. Jadi, jangan kau sebut namaku ya….” sambungnya.

“Santai, Bang,” jawab penulis.

“Nanti, kau tanya saja sama kawan yang kita tunggu. Dia paling paham dengan dunia semacam ini. Dia kaki tanganku sebenarnya he he he he,”  jelas sang kolega.

Si ‘David Beckham’ kembali masuk ke ruangan. Namun, belum sempat duduk dia langsung menuju pintu yang menghubungan tempat ini dengan parkiran. Dua lapis pintu dia buka. Ternyata ada seseorang di sana. Seorang lelaki berusia sekitar 35 tahunan. Posturnya tinggi, mungkin mencapai 175 centimeter.
Lelaki itu langsung masuk. Sudut matanya melirik penulis. Dia duduk di samping sang kolega. “Akhirnya datang juga…” sambut sang kolega.
“Ni…untuk yang kemarin,” sambungnya sambil menyodorkan amplop coklat yang memang sudah disediakan kepada lelaki itu.
Lelaki itu pun langsung sigap dan memasukan amplop itu ke balik jaketnya.

“Oya, kenali ini kawan kita…wartawan dia,” bilang sang kolega.

Lelaki itu memberikan salam. “Panggil saja aku Donny,” katanya.

Sang kolega tersenyum. Dia membakar rokoknya. Lalu, dia pun mengatakan pada si Donny tentang keberadaan penulis di situ. Si Donny mengerutkan dahi. Sang kolega melanjutkan kalau semua narasumber yang diwawancari akan disamarkan. Dan, sang kolega mengatakan kalau penulis adalah sosok yang jinak, jadi tak perlu ragu. Donny pun langsung tersenyum.

“Wah, bukan rahasia lagi, Bos,” kata Donny pada penulis. “Sudah basi cerita barang semacam itu di tempat seperti ini. Setiap yang pernah ke tempat seperti ini, pasti tahu,” tambahnya.

Penulis lagi-lagi tersenyum. Penulis memang menempatkan diri sebagai orang yang tak banyak bicara. Intinya, hanya mendengar dan merekamnya dalam otak saja. “Memang manajemen tidak akan mengaku ada bisnis seperti ini. Tapi, dengan peredaran yang begitu bebas di sini, misalnya, mana mungkin mereka tak tahu kan? Masak ada sesuatu di rumah kita, eh kita malah tak tahu,” jelasnya.

Donny menjelaskan, untuk KTV Stroom yang beroperasi dari pukul 14.00 WIB hingga 02.00 WIB untuk waktu normal, ekstasi yang beredar ratusan butir per harinya. “Anggaplah hanya ada 20 bilik di Stroom ini. Lalu, anggaplah satu bilik memesan 2 butir. Sudah berapa itu? Terus, tamu dibilik kan terus berganti. Anggaplah selama 12 jam ada tiga kali tamu yang berganti. Berarti sudah laku 120 butirkan? Kalikan dengan Rp250 ribu, sudah berapa itu? Ini bisnis yang menjanjikan, Bos!” terang Donny berapi-api.

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Donny itu, sang kolega tergelak. Bahkan, terpingkal-pingkal. Si ‘David Beckham’ tersenyum saja. “Tapi, biasanya manajemen lepas tangan dan memberikan kekuasaan penuh pada BD,” kata si ‘David Beckham’ pula.

“Memang, tapi tetap saja manajemen yang berperan, minimal bagi hasil. Inikan tempat dia,” balas si Donny.
“Sudahlah… intinya tempat seperti ini memang menyediakan barang tuh. Nanti kau tunjukan tempat yang lain ya Don sama kawan kita ini,” kata sang kolega.

Donny mengangguk pasti. “Siap, Bos!”

Penulis tertawa. Tergambar beberapa tempat lain di Kota Medan yang memang sudah penulis incar.
“Wak, ambil lagi barang tuh di BD. Jangan sampek siang yang indah ini hilang percuma. Sekalian panggil si Cindy tadi,” kata sang kolega pada si ‘David Beckham’. Yang disuruh pun langsung bergerak cepat.

Penulis tersenyum, terbayang dalam otak tentang siang yang indah di KTV Stroom, Selecta Building Medan. Ya, seperti cerita orang-orang. Ah, masihkah ada alasan untuk mengelak? (bersambung)

Berita sebelumnya:

Ketika Kenikmatan Tak Lagi Milik Malam

Shinta Bachir Balik Puji Eks Kapolda

Kian hari sikap Shinta Bachir membingungkan. Seperti antara takut dan plin-plan, Shinta yang dulu gencar ingin polisikan eks Kapolda Metro Jaya dengan tuduhan ancaman pembunuhan, kini malah melunak dan balik memuji sang jenderal. Keanehan yang berlanjut setelah bintang film dan penyanyi itu mengklaim telah berdamai dengan sang jenderal.

Shinta tak lagi menjelek-jelekan sang jenderal yang sempat dia sebut berbintang tiga. “Saya datang ke Jakarta kemudian ketemu dengan beliau (eks Kapolda Metro Jaya). Kalau saya bilang dia itu penyelamat buat saya,” ujarnya.

Lucunya lagi, bintang Pulau Hantu 3 ini malah mengaku bersyukur bisa mengenal pria yang tadinya dia kecam karena pernah mengancamnya. “Bertemu dengan beliau, saya selalu dibimbing tentang agama dan kehidupan. Dia menunjukan jalan ke saya. Saya dituntun sampai seperti sekarang ini,” ujarnya.
Sebab itu, perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah ini mengaku sudah memaafkan sang jenderal. “Meminta maaf ke saya lewat telepon. Saya sudah memaafkan. Karena waktu itu beliau sudah ketemu pak Rifai (kuasa hukumnya),” ujar Shinta.

Saat Shinta terus berteka-teki soal identitas jelas sang jenderal, dirinya disomasi oleh Komjen Pol (Purn) Makbul Padmanegara. Salah satu eks Kapolda Metro Jaya itu merasa dirugikan dengan sebuah pemberitaan yang dinilai menyudutkan dia sebagai jenderal ya

g dimaksud Shinta. Tapi kembali, Shinta berkilah. Dia mengaku tidak pernah menyebut nama dan angkatan sang jenderal apalagi mengenal Makbul.
“Bukan beliau. Saya nggak kenal sama pak Makbul Padmanegara, saya nggak tahu angkatan-angkatan yang dimaksud,” ujar Shinta.

Seirama, pengacara Shinta, Ahmad Rifai tegas menyatakan kasus kliennya dan sang jenderal pengancam sudah selesai. “Jadi yang jelas kasus ini sudah selesai. Orang yang mengancam mbak Shinta sudah minta maaf, baik ke saya maupun pada Shinta, secara lisan dan tertulis,” tuturnya.
Beredar kabar, Shinta bersedia damai lantaran menerima sejumlah uang agar tidak memperpanjang masalah tersebut. Benarkah?
“Mbak Shinta pernah bilang sama saya, mau dikasih, tapi kita juga nggak tahu, itu udah lama,” aku Rifai.

Menurut Shinta, tanpa dibayar pun dirinya mau memaafkan sang jenderal. “Beliau pernah dekat dengan saya maupun sama keluarga saya. Manusia kan punya salah. Apa salahnya sih memaafkan,” ucapnya terkesan melunak. (bcg/rm/jpnn)

2013, SMA dan SMK Gratis

Pemerintah Talangi Biaya Operasional Rp17 Triliun

JAKARTA- Pemerintah terus mematangkan rencana penerapan wajib belajar (wajar) 12 tahun. Setelah menjalani masa rintisan pada tahun ini, ditargetkan tahun depan program wajar 12 benar-benar digulirkan. Anggaran Rp17 triliun siap digelontorkan khusus untuk membebaskan biaya 10 juta siswa SMA dan SMK.

Ditemui di kantornya kemarin (2/1), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengatakan, program wajar 12 tahun adalah konsekwensi dari tercapainya program Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 9 tahun. “Berkesinambungan itu harus. Tidak bisa dibiarkan hanya lulus SMP saja,” ujar menteri asal Surabaya itu.

Nuh menjelaskan, jika program Wajar Dikdas 9 tahun tidak dijalankan berkesinambungan dengan wajar 12 tahun, jumlah pekerja anak akan terus membengkak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 yang dikantongi Kemendikbud menunjukkan, saat ini 49,5 persen dari seluruh pekerja Indonesia tamatan SD. Selanjutnya 19,1 persen lulusan SMP, lalu 14,7 persen jebolan SMA, dan 8,2 persen alumni SMK.

“Lulus SMP bekerja itu sudah menyalahi aturan ketenagakerjaan. Apalagi lulusan SD,” ujar Nuh. Tingginya angka anak tamatan SD dan SMP yang bekerja menurutnya karena akses ke SMA dan setingkatnya belum terbuka.

Nuh mengatakan, Wajar 12 tahun harus digulirkan secara penuh pada 2013. Pemerintah sudah menghitung, untuk menutup biaya operasional 10 juta siswa SMA diperlukan anggaran Rp17 triliun. Anggaran ini meliputi biaya pengadaan ruang kelas baru sebesar Rp1 triliun, pembangunan unit sekolah baru Rp629 miliar, dan paling besar untuk bantuan operasional sekolah menengah (BOS-SM) Rp15,5 triliun.

Dengan kucuran dana ini, Nuh mengatakan, aturan pada BOS SD-SMP juga diterapkan untuk SMA dan SMK. Diantaranya siswa SMA dan SMK digratiskan dari berbagai pungutan. Sebab, pemerintah sudah menalangi biaya operasional yang diperkirakan Rp1.250.000 sampai Rp1,5 juta per siswa per tahun. Pada 2013 nanti, Nuh memperkirakan ada 10 juta siswa SMA dan SMK yang akan menerima kucuran BOS-SM.

Selain kucuran BOS-SM, Nuh mengatakan, banyak intervensi lain untuk menjalankan program wajar 12 tahun. Selain urusan gedung dan biaya operasional tadi, juga akan meningkatkan kualifikasi guru serta jumlahnya.

Melalui berbagai intervensi tadi, Nuh mengatakan bisa mengatasi perbedaan angka partisipasi kasar (APK) SMA/SMK yang jomplang antarsatu daerah dengan daerah lainnya. Dia mencohkan, di tingkat provinsi APK tertinggi direngkuh oleh DKI Jakarta yaitu 119 persen. Sedangkan provinsi dengan APK terendah diduduki oleh Lampung, dengan tingkat APK 58 persen.

Perbedaan juga terasa mencolok jika diambil di tingkat kabupaten atau provinsi. Misalnya di provinsi Jawa Timur, APK tertinggi dadapat oleh kota Blitar dengan raihan 109 persen. Sedangkan APK terendah dipegang oleh kabupaten Sampang dengan tingkat APK 28 persen. Artinya, di Sampang tiga dari sepuluh anak usia SMA dan sederajat yang sekolah. Sisanya putus sekolah.

Target APK SMA dan sederajat yang dipasang pemerintah saat ini adalah 97 persen. Posisi saat ini, APK SMA dan sederajat masih 70.5 persen. Tanpa ada intervensi Wajar 12 tahun ini, Nuh mengatakan target pencapaian APK SMA dan sederajat bisa terwujud pada 2038-2040 nanti.(wan/jpnn)