Home Blog Page 13983

Kalah Kasar dari Tamu

PSMS vs Sriwijaya FC

MEDAN-Menghadapi PSMS di Stadion Teladan, Senin (20/2) sore, ternyata skuad Sriwijaya FC lebih kasar. Terbukti pada pertandingan tersebut Laskar Wong Kito bermain cukup kasar.

Pada laga yang berakhir dengan skor 0-0 itu, pelanggaran yang dilakukan Ponaryo Astaman dkk berbanding 27 : 17 terhadap Markus Haris Maulana dkk. Tidak itu saja, untuk kartu kuning, tim dari Sumatera Selatan tersebut malah jauh unggul. Kartu kuning yang dibukukan wasit Aeng Suarlan, ada empat untuk Sriwijaya FC (Mahyadi 43′, Supardi 48′, Firman Utina 74′, Bahtiar 78′) dan hanya satu untuk PSMS (Zulkarnain 30′).

Kenyataan ini seperti sudah digemborkan oleh asisten pelatih Sriwijaya, Indrayadi, sebelum laga. Katanya, Sriwijaya akan mengantisipasi rap-rap (gaya khas PSMS) dengan gaya permainan yang sama karena mereka memiliki dua pemain eks PSMS. Sayangnya, rap-rap yang dimaksud kubu Sriwijaya malah salah kaprah. Mereka tidak sekadar main keras, tapi malah main kasar. Buktinya, dua pemain yang diandalkan untuk rap-rap, Mahyadi dan Supardi, malah diganjar kartu kuning.

“Kompetisi ini (ISL, Red) sedang disorot dan memiliki konflik dengan kompetisi tandingannya (IPL, Red). Jadi ISL ini masih membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia. Harusnya wasit bertindak lebih fair play,” elak sang pelatih Sriwijaya, Kas Hartadi.

Kalimat Kas Hartadi ini memang mengarah pada kepemimpinan wasit yang dianggapnya tidak fair. Ada beberapa pelanggaran yang sejatinya menguntungkan Firman Utina dkk, tapi malah dibiarkan. “Dengan melakukan evaluasi, harusnya wasit yang seperti itu tak lagi dipakai di kompetisi ini,” tegas Kas Hartadi.

Namun, menurut Kas Hartadi, hasil tanpa gol di Stadion Teladan ini merupakan hasil yang memuaskan. “Begitulah sepak bola. Ada peluang belum tentu bisa menghasilkan gol. Dan kami memang kurang beruntung, walau anak-anak sudah bermain baik hari ini (kemarin, Red)” tuturnya.

Senada, pelatih PSMS Suharto AD juga menyesalkan keputusan wasit. Pasalnya, juga ada pelanggaran pemain Sriwijaya FC di kotak penalti terhadap striker PSMS Dong Soo yang tak diberikan hadiah tendangan penalti. “Wasit kurang jeli hari ini (kemarin, Red). Banyak keputusan yang ditentukannya berdasar keraguan. Harusnya pelanggaran yang dilakukan kepada Dong Soo itu dihadiahi penalti,” ujar pelatih berkepala plontos itu.

Masih berkomentar sama dengan Kas Hartadi, menurut Suharto wasit yang tak berkompeten harusnya tak dipakai lagi. “Kalau perlu diistirahatkan saja wasit yang seperti itu. Wasit masa ragu memberikan keputusan?!” tegasnya.

Dari pengamatan wartawan, sesekali keputusan wasit memang berdasarkan tekanan dari pemain. Saat ada pemain yang jatuh, kapten langsung mendatangi wasit dan membentak-bentak. Lantas wasit baru mengeluarkan kartu kuning. (saz)

Lintas Sumatera Lewat Tol

Tiga Jam, Menteri BUMN Rapat dengan Gubernur Se-Sumatera

PALEMBANG–Menteri BUMN, Dahlan Iskan bersama Gubernur Sumsel H Alex Noerdin SH memimpin rapat percepatan pembangunan jalan tol Sumatera. Hanya tiga jam, pertemuan antara BUMN Jasa Marga dengan Gubernur se-Sumatera di Griya Agung Palembang itu menghasilkan beberapa kesimpulan penting.

Selain Gubernur Sumsel, rapat Senin (20/2) di Griya Agung Palembang dihadiri Gubernur Jambi Drs H Hasan Basri Agus, Gubernur Riau HM Rusli Zainal, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, dan Wagub Kepulauan Babel H Syamsuddin Basari. Dari Bengkulu dan NAD dihadiri Asisten II, sedangkan Kepri dan Lampung diwakili Kepala Bappeda.

Kesimpulan penting pertama dan paling utama yakni, pembangunan jalan tol Sumatera mutlak harus dipercepat pelaksanaannya. “Dari pembahasan tadi, secara finansial mungkin belum layak. Tapi secara ekonomis ini (tol Sumatera) sudah sangat layak,”kata Dahlan.

Dengan mengetahui kondisi di lapangan, maka yang akan mendapatkan manfaat terbesar dari pembangunan jalan tol adalah kawasan yang dilalui, bukan perusahaan jalan tolnya. Dalam pertemuan itu disepakati untuk membentuk konsorsium antara PT Jasa Marga dengan masing-masing pemerintah provinsi/kabupaten/kota.

“Konsorsium ini terbuka untuk perusahaan /BUMN/BUMD lainnya dan pihak swasta yang memang benar-benar punya modal,”ucapnya. Dalam mewujudkan percepatan pembangunan tol Sumatera, pemerintah daerah dituntut peranan aktifnya. Mulai perizinan hingga masalah Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), pencadangan kawasan  ekonomi, pembebasan lahan hingga setoran penyertaan saham dalam konsorsium.
“Saya sangat menghargai semangat dari bapak-bapak gubernur ini. Saya yakin, ini bisa segera kita wujudkan. Dan kalau ini jadi, maka Jawa akan kalah,” tegas Dahlan memberikan motivasi. Dahlan tentu tidak asal bicara. Begitu besar potensi kekayaan alam dan masih sangat banyak tanah yang bisa dimanfaatkan untuk jalan tol di Pulau Sumatera, sehingga pada akhirnya nanti akan memacu pembangunan ekonomi di kawasan ini.

Dahlan datang ke pertemuan itu tidak sendiri. Ia membawa Deputi Kementerian BUMN bidang Infrastruktur Sumaryanto, Dirut Jasa Marga Adityawarman, dan Direktur Pengembangan Usaha Jasa Marga Abdul Hadi. Dahlan menegaskan bahwa dirinya bukan berarti ingin mencaplok kerja Menteri Pekerjaan Umum. Hanya, karena rencana pembangunan jalan tol ini akan dilakukan bersama PT Jasa Marga yang kebetulan berada di bawah kekuasaan Menteri BUMN.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk mendukung percepatan pembangunan jalan tol di Sumatera ini. “Yakni soal perizinan, pembebasan lahan dan penyertaan modal,”ucapnya.
Untuk Sumsel, sudah dilakukan MoU dengan Jasa Marga. Saat ini, tanah untuk tol di Sumsel sudah ada, tapi belum dibebaskan. “Berapa kebutuhan dananya sedang dihitung. Barangkali bisa dimulai dengan APBD perubahan tahun ini. Atau dijanjikan dulu kepada masyarakat, lalu dilunasi 2013,” ungkap Alex.

Sumsel juga akan bergerilya mengusahakan kucuran dana APBN seperti yang dilakukan Riau. Namun tetap mencadangkan APBD. Sehingga jika APBN tidak turun, pembebasan tanah tersebut gunakan dana APBD.

Sumut Siapkan Jalur Medan-Kisaran

Usai pertemuan itu, langsung dilakukan penandatanganan MoU antara tiga provinsi dengan Jasa Marga. Yakni Pemprov Sumsel, Pemprov Sumbar, dan Pemprov Riau. Lalu, bagaimana dengan Pemrovsu?

“Kalau soal siap, kita paling siap dibanding provinsi lain,” kata Kepala Bappeda Sumut, Riadil Akhir Lubis kepada Sumut Pos, kemarin.
“Buktinya, kita sudah punya Tol Balmerah (Belawan-Medan-Tanjungmorawa, Red), sementara provinsi lain belum ada,” sambungnya.

Riadil pun menyebutkan, sekarang ini sedang berjalan pembebasan lahan untuk tol Medan-Kualanamu-Tebingtinggi. Bahkan, saat ini sudah ada detail enginering desaign (DED) jalur tol Tebingtinggi-Kisaran.  “Dengan adanya pertemuan di Palembang, akan menambah dorongan provinsi se-Sumatera mempercepat high grade highway (HGH) dan semoga terwujud pada 2018 mendatang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementrian Pekerjaan Umum (PU) mengatakan, untuk jalan tol Sumatera, disiapkan dua konsep khusus, di mana akan berlaku dua HGH baik yang berbentuk freeway dan yang dikenai bea masuk seperti jalan tol.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian PU, Djoko Murjanto,mengatakan pihaknya kini sedang dalam proses pengkajian. “Kita rencanakan HGH bakal ditopang oleh kontruksi yang bagus dengan kualitas yang baik,” katanya sembari mengatkan proyek ini direncanakan segera dibangun 2012 ini dan akan rampung 2018 mendatang.

Rencananya, HGH bakal dibangun dari Bakaheuni Lampung hingga Banda Aceh Nanggro Aceh Darussalam (NAD). Pembangunan akan dilakukan di sepanjang lintas Timur Sumatera dengan panjang total 2,085 kilometer.

Kemungkinan besar, kementrian PU juga bakal menyiapkan jalan penghubung (feeder) sepanjang 720 km. HGH dipastikan akan menjadi penghubung bagi enam bandar udara dan tujuh pelabuhan laut. “Nanti, HGH juga akan terkoneksi dengan Jembatan Selat Sunda dan jalan tol Trans Jawa,” jelasnya. Meski demikian, kemungkinan besar jalur ini bakal menjadi jalan dengan akses terbatas, di mana hanya sejumlah kendaraan tertentu saja yang bisa melewati lalu lintas ini. (tha/jpnn/net/jpnn)

Borkat Ditentang Keluarga Cut Dian

Di Balik Dugaan Perselingkuhan Kader Demokrat Sumut

MEDAN-Kasus dugaan perselingkuhan yang dilakoni Kader Partai Demokrat Sumut, Borkat Hasibuan, dengan Anggota DPRD Sumut Fraksi Demokrat, Megalia Agustina, menyisakan kesedihan yang mendalam bagi Cut Dian Satriani. Bagaimana tidak, demi Borkat, Cut Dian sempat menentang orangtuanya.
Begitulah, di awal hubungan mereka, Borkat memang menjadi sosok yang tidak disukai oleh orangtua Cut Diann

Hubungan cinta itu tidak mendapat restu dari orangtua Cut Dian. Namun, demi cinta, Cut Dian terus berjuang hingga kedua orangtuanya menerima hubungan tersebut.

Setidaknya hal ini diungkapkan Teuku Yambly (70), yang mengaku sebagai ayah Cut Dian. “Saya harap, masalah diselesaikan dengan dewasa sajalah. Saya juga tak mau ambil pusing. Karena berita ini juga saya yakin ada unsur politiknya,” buka Teuku Yambly, saat ditemui di kediaman Cut Dian di salah satu komplek perumahan mewah di kawasan di Jl Damar III Medan.

Di rumah itu tidak terlihat Cut Dian. Dari keterangan sang ayah, Cut Dian rupanya sudah keluar rumah ke kantor dan sekaligus mengecek kandungannya yang sudah menjelang 9 bulan ke rumah sakit.

Pria berambut putih itu kemudian menceritakan kalau dia sebenarnya tidak tahu-menahu tentang prahara di keluarga anaknya tersebut. Dia mengaku baru mengetahui dua pekan lalu setelah Borkat tak kunjung pulang ke kediamannya.

Perlu diketahui, Borkat Hasibuan dan Cut Dian memang tinggal bersama kedua orangtua Cut Dian. “Mereka tinggal sama saya di sini, sejak tahun 2006. Hanya saja mereka resmi disini pada Januari 2011 setelah si Borkat pindah ke Medan. Sebelumnya dia di Labuhan Batu,” terang Teuku Yambly.
Ayah Cut mengaku, kalau dirinya sempat tak merestui hubungan putrinya itu. Namun karena sama-sama cinta, sebagai orangtua terpaksa harus merestui anaknya.

Sedangkan Hj Hadijah (67), ibu Cut Dian mengaku, mengenal sosok Borkat sewaktu pernah bersama-sama menjadi anggota KPU tahun 2004. “Saya jadi anggota KPU Sumut dan dia di KPU Labuhan Batu,” tutur ibu kandung Cut yang pernah menjabat sebagai Camat Medan Sunggal ini.

Ibunda Cut Dian sangat menyesalkan tindakan sang menantu yang tega mengkhianati anaknya yang tengah hamil tua. Ia juga yang menyemangati sang putri agar lebih bersabar dalam menghadapi permasalahan keluarga yang sedang dihadapinya. “Saya selalu bilang sama Adek (sapaan akrab Cut, Red) supaya dia itu sabar dan kuat. Karena semua ini cobaan, dan kita harus tahu jika permasalahan ini pasti dimanfaatkan kaum-kaum yang ingin berpolitik,” terang wanita lulusan IPDN tahun 1974 ini.

Tak berselang lama, Cut Dian datang. Dia pun langsung menceritakan keluh kesahnya. Termasuk, menyayangkan tindakan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mengaitkan kasus ini dengan unsur politik.

Hubungan asmara antara Cut Dian dan Borkat bersemi pada 1995 ketika petinggi Partai Demokrat itu masih menjadi mahasiswa di IAIN dan aktif di organisasi HMI. Hubungan tersebut berjalan lancar, namun sempat terputus karena Borkat memilih menikah dengan wanita lain. Namun, pada 2004 hubungan asmara mereka bersemi lagi setelah Borkat mengaku telah bercerai dengan istri pertamanya dan telah memiliki 2 anak.

Tak pelak, hubungan asmara itu sempat ditentang keras oleh kedua orangtua Cut Dian. Namun pada 2006, Borkat Hasibuan mempersunting Cut Dian sebagai istri karena mengaku telah bercerai dan menunjukkan bukti perceraian kepada Cut Dian. “Tahun 2004, dia itu cerai sama istri pertamanya. Saya tahu dari bukti berupa akta perceraian yang dia tunjukkan sama saya, tapi saya tak tahu siapa istrinya itu,” terang notaris yang berkantor di Jalan Williem Iskandar Pancing ini.

Gelagat Borkat menurut Cut Dian mulai berubah sekitar Mei 2011. Borkat mulai sering pulang larut malam dan sering secara sembunyi-sembunyai berkomunikasi melalui handphone dengan orang lain termasuk dengan wanita. Perubahan itu dirasakan Cut Dian yang mengatakan jika saat baru menikah, suaminya memiliki rasa cemburu yang berlebihan. Namun, setelah menjalin hubungan dengan Megalia Agustina, rasa perhatian sang suami mulai berkurang.

Megalia Bersumpah Tidak Selingkuh

Soal hubungan Borkat dengan Anggota DPRD Fraksi Demokrat Megalia Agustina memang menjadi buah bibir di Sumatera Utara. Karena itu, ibunda Megalia buka suara. Ya, meski dia tidak mau namanya dicantumkan di koran. Menurutnya, Megalia dan Borkat memang ada hubungan, namun bukan perselingkuhan seperti yang diberitakan. “Begitu baca di koran ada berita perselingkuhan dengan Borkat, saya menanyakan langsung pada Lia (nama kecil Megalia Agustina, Red), apakah benar tentang berita di koran itu. Sambil menangis dia mengaku tidak berselingkuh dengan Borkat, bahkan Lia bersumpah pada saya bahwa itu tidak benar,” kata sang ibu saat disambangi Metro Siantar (grup Sumut Pos) di kediamannya di Jalan Sisingamangaraja Nomor 101, Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Senin (20/2), sekira pukul 11.00 WIB.

Ibunda Megalia menduga kunjungan anaknya yang didampingi petinggi Partai Demokrat Sumatera Utara termasuk John Hugo Silalahi dan Borkat Hasibuan ke Tanah Jawa beberapa bulan itulah yang dimanfaatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memfitnah anaknya. Begitu pula tentang keberadaan foto Borkat di Tanah Jawa. “Foto itu ya, foto saat mereka kunjungan kerja ke Tanah Jawa. Foto itu persis di dalam rumah saya. Yang ambil ya orang-orang yang ikut dalam rombongan reses itu juga. Foto itulah yang kemudian disebarkan ke publik dan dijadikan barang bukti selingkuh,” sebut si ibu lagi.

Ibunda Megalia justru menduga bahwa istri Borkatlah yang pertama kali menyebarkan isu dugaan perselingkuhan anaknya. “Saya sangat menyesalkan tindakan istri Borkat yang sempat memberikan anggapan bahwa Lia telah berselingkuh dengan suaminya. Padahal, mereka berdua hanya sebatas rekan kerja,” keluhnya. (cr-1/mag-02/smg)

Hasilkan Novel dari Balik Jeruji

Erwin Arnada, Mantan Bos Playboy Indonesia yang Terus Berkarya

Kerasnya kehidupan di penjara tidak membuat mental Erwin Arnada jatuh. Dia malah makin produktif. Novel pertamanya, Rumah di Seribu Ombak, yang lahir dari balik jeruji besi, kini menjadi best seller dan difilmkan.

Tidak mudah membuat janji bertemu dengan Erwin Arnada. Belakangan, dia memang jarang berada di Jakarta.

Selain itu, Erwin sedang berhati-hati setelah namanya disorot gara-gara kicauan di Twitter soal ormas Front Pembela Islam (FPI).

Cobalah ketik kata kunci: “Erwin Arnada FPI” di mesin pencari Google. Sejurus kemudian bakal muncul lebih 43.000 hasil pencarian. Tapi, Erwin ogah bicara tentang masalah tersebut. “Kita bicara buku saja ya. Soal itu biar di Twitter saja,” ujar pemilik akun @erwinarnada itu saat ditemui di sebuah kafe bilangan Kemang, Jakarta Selatan, kemarin sore. Erwin didampingi istri tercintanya, Hevie Ursulla Arnada.

Erwin hanya beberapa hari di Jakarta. Besok malam dia harus terbang lagi ke rumahnya di Bali. “Aku ada rencana mengunjungi saudara-saudara di Cipinang,” katanya.

Yang dimaksud saudara adalah rekan-rekannya sesama napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur. Erwin pernah menjadi keluarga besar mereka saat di penjara gara-gara menerbitkan majalah Playboy.

Dia didakwa dengan pasal kesusilaan, namun dibebaskan dari dakwaan di tingkat pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Tapi, Mahkamah Agung pada 2010 mengabulkan kasasi jaksa yang membuat Erwin harus mendekam di Lapas Cipinang 8,5 bulan. Erwin akhirnya bebas pada Juni 2011 setelah MA mengabulkan permohonan kembali (PK) kasusnya.

Penjara, ternyata, tidak membuat Erwin berhenti berkarya. Justru dari dalam jeruji besi dia melahirkan novel Rumah di Seribu Ombak. Modalnya, kertas-kertas bekas fotokopi dan sebuah pulpen murah. “Kadang-kadang pinjam komputer butut di gereja dalam lapas. Tapi, itu juga harus izin sama penguasanya,” katanya.

Novel ini berkisah tentang persahabatan Samihi, seorang anak muslim yang tinggal di Desa Kalidukuh, Singaraja, Bali, dengan I Wayan Manik yang biasa dipanggil Yanik. Persahabatan keduanya dimulai ketika Yanik menolong Samihi dari keroyokan berandal Desa Temukus. Mereka mencoba mencuri sepeda Samihi. Sejak peristiwa itu, Samihi dan Yanik sering jalan bersama. Walaupun berbeda agama, mereka bersahabat dengan menghormati keyakinan masing-masing.

Yanik membantu Samihi dalam berlatih untuk mengikuti kejuaraan qiraah di desanya. Caranya unik. Yanik mengajak Samihi mendengarkan geguritan, cara berpantun orang Bali dengan nada yang dimainkan ritmenya.

Siapa sangka, Yanik ternyata punya cerita rahasia. Dia pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh warga negara asing. Dibantu Samihi, Yanik melawan dan mencuri bukti-bukti pelecehan di rumah turis itu.

“Itu semua dari kisah nyata. Saya bertemu dengan Wayan Manik pada 2008. Sejak itu saya riset,” kata Erwin. Dia datang ke Singaraja dan menemukan fakta adanya kasus pedofilia yang tak terekspose secara luas. “Ada panggilan kemanusiaan untuk mengangkat kasus ini. Anak-anak itu harus diselamatkan,” katanya.

Karena masuk penjara pada Oktober 2010, penelitian lapangan yang dilakukan Erwin terhambat. Tapi, prosesnya jalan terus. “Pelan-pelan saya susun di sela-sela waktu di penjara. Kadang setengah jam, satu jam, lama-lama selesai juga,” katanya. Naskah novel 387 halaman itu satu per satu dibawa sang istri ketika menjenguk Erwin.

Untuk meminjam fasilitas komputer di penjara, Erwin harus berurusan dengan tamping (tahanan pendamping) senior yang berasal dari aneka macam kasus kejahatan.

“Insya Allah saya bersahabat dengan mereka semua. Ada Bang Wiliardi (Wiliardi Wizar, mantan Kapolres Jaksel, terpidana kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen), Jaksa Urip (kasus suap Ayin), Pak Widjanarko (Puspoyo, terpidana kasus korupsi bulog), dan para napi teroris. Ada juga beberapa anak buah John Kei. Pokoknya macam-macam,” ujarnya.

Kreativitas Erwin terlihat saat dia memelopori kompetisi futsal dalam lapas. Dalam sebuah pertandingan, Erwin berhasil memasukkan dua gol ke gawang lawan. “Setelah pertandingan, saya diberi tahu untuk hati-hati. Sebab, belum pernah ada yang berani mencetak gol ke kiper lawan,” katanya.

Rupanya, sang kiper adalah jagoan yang terkenal kejam jika tersinggung. Pernah ada seorang napi yang berani mencetak gol, eh langsung dipukuli. “Untungnya saya tidak (dipukuli). Sampai sekarang malah jadi akrab. Saya main lepas saja, nggak tahu kalau kipernya pentolan lapas,” katanya lantas tertawa.

Dia juga sempat didorong dan diancam sepulang salat oleh napi kasus teroris. Erwin dianggap “musuh” karena kasus Playboy. “Saat saya lapor ke petugas, cuma dibilang hati-hati saja. Wah, ini taruhannya nyawa, kok responsnya cuma begitu,” ujarnya. Tapi, lama kelamaan hubungan Erwin dengan napi blok teroris cair dan baik.

Erwin yang hobi bulu tangkis itu juga punya pasangan tetap. “Saya main ganda dengan Pak Jaksa Urip. Kita juara terus. Pokoknya, Erwin-Urip itu pasangan bulu tangkis legendaris di Cipinang,” katanya.

Tiga hari setelah menghirup udara bebas, Erwin langsung action merancang filmnya. Untuk kali pertama Erwin terjun langsung sebagai sutradara. “Dulu saya tiap hari duduk bareng sutradara, sekarang mencoba sendiri. Alhamdulillah bisa juga dan selesai dalam 23 hari,” jelasnya.

Sebelumnya, film-film yang diproduseri Erwin, antara lain, Asmara Dua Diana (2009), Jelangkung 3 (2007), Jakarta Undercover (2006), Cinta Silver (2005), Catatan Akhir Sekolah (2005), 30 Hari Mencari Cinta (2004), dan Tusuk Jelangkung (2003). (*)

Megalia Segera Dipanggil Badan Kehormatan Dewan

Anggota DPRD Sumut, Megalia Agustina yang diduga memiliki hubungan gelap dengan Direktur Eksekutif Partai Demokrat Sumut, Borkat Hasibuan, akan segera dipanggil Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD Sumut. Sikap tersebut diambil BKD DPRD Sumut, bertujuan untuk bisa mengungkap kebenaran dari kasus tersebut.

“Makanya, kami harapkan yang bersangkutan juga bisa bicara terbuka pada BK nantinya. Tidak perlu ditutupi, sehingga kami pun bisa menanganinya dengan cepat untuk kebaikan bersama,” ungkap Ketua BK DPRD Sumut, Mulkan Ritonga, di DPRD Sumut, Senin (20/2).
Politisi dari Fraksi Golkar ini mengemukakan, sebelum melakukan pemanggilan terhadap Megalia, mereka akan terlebih dahulu mempelajari pengaduan yang disampaikan Cut Dian Satriani. “Setelah itu baru kami panggil. Sampai sekarang, kami masih tahu soal itu dari pemberitaan di media massa. Soal sanksi, tentu saja ada. Tapi masih sangat tergantung dari proses pemeriksaan,” terangnya.

Sayangnya, sejauh ini pihaknya belum mengambil sikap dan menindaklanjuti persoalan itu, dikarenakan BKD DPRD Sumut belum juga menerima pengaduan dari istri Borkat Hasibuan, Cut Dian Satriani. Dikatakannya, Ada kemungkinan, laporan tersebut masih berada di meja Ketua DPRD Sumut, Saleh Bangun. “Kemarin Cut Dian Satriani itu langsung mengadu ke Pak Saleh. Nanti kami akan jemput pengaduan itu, supaya bisa diproses,” terang Mulkan.

Sementara itu, Cut Dian Satriani kepada Sumut Pos mengungkapkan, dirinya saat ini telah masuk masa opname dalam rangka melahirkan di rumah sakit. Sehingga, rencana menyerahkan laporan ke BKD DPRD Sumut yang seharusnya dilakukan kemarin (20/2), menjadi ditunda. Namun, penyerahan laporan tersebut tetap akan dilakukan dan rencananya akan diserahkan hari ini (21/2). Dan yang menyerahkan, bukan dirinya melainkan pegawainya.

“Jadi, hanya surat resmi besok baru kami masukkan secara resmi sekaligus ke semua fraksi. Iya, yang masukkan pegawai saya yang ikut dengan saya kemarin. Masing-masing ke semua fraksi juga,” ungkapnya.

Andil John Hugo

Sementara itu, soal keberadaan Megalia sebagai anggota dewan juga sempat menjadi buah bibir mengingat usianya yang masih sangat muda. Setidaknya, Megalia dilahirkan pada 26 Juni 1986.

Setelah diusut, ternyata keberadaan Megalia di gedung dewan tak lepas dari peran serta John Hugo. Hal ini diungkapkan ibunda Megalia kepada Metro Siantar (grup Sumut Pos).

Diceritakan Ibunda Megalia, sebelum anaknya terjun ke dunia politik, Megalia dulunya sudah aktif di Organisasi Kemasyarakatan Islam, seperti Persatuan Perwiritan Tanah Jawa. Kemudian aktif di kegiatan olahraga, terutama dunia sepak bola.

Lalu pada tahun 2008, putri kedua dari empat anaknya itu mendapat tawaran untuk maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Sumatera Utara periode 2009-2014. Ibunda Megalia mengatakan, yang menawarkan agar mencalonkan (jadi caleg) itu adalah Jhon Hugo Silalahi, petinggi Partai Demokrat Kabupaten Simalungun dan juga mantan Bupati Simalungun. “Jhon Hugo kala itu berharap agar Demokrat memiliki calon legislatif perempuan untuk DPRD tingkat I. Itulah awalnya. Jadi yang ajak itu ya Pak John Hugo Silalahi,” katanya.

Begitu tawaran itu diterima kata wanita yang diperkirakan berumur 54 tahun itu, Megalia Agustina kemudian menduduki nomor urut 3. Muhammad Idris, abang kandung Megalia Agustina ikut dalam tim sukses dalam pemilihan legislatif (pileg) 2009 untuk PAC Tanah Jawa.

Muhammad Idris juga menambahkan, bahwa setahun sebelum pileg, John Hugo Silalahi sudah datang dan menawarkan agar Megalia mencalonkan diri menjadi DPRD Sumatera Utara. Sebab saat itu, calon legislatif wanita dari Partai Demokrat saat itu kosong.
Tapi kata Idris, semula ibunda Megalia yang juga mantan tim sukses Jhon Hugo Silalahi saat pencalonannya sebagai Bupati Simalungun periode 2005-2010, itu yang mau diusulkan. Cuma karena sudah kalah tua, makanya diusulkan Megalia. “Megalia ketika itu baru tamat dari Sarjana Diploma Tiga (D3), Ahli Bisnis Perbankan ini. Tapi dia cukup beruntung sebab perolehan suara Megalia cukup drastis pada pileg lalu,” kata Idris.

Menurut Idris, perolehan suara terbanyak Megalia kala itu berasal dari Perdagangan Kecamatan Bandar dan Kecamatan Siantar. Idris mengungkapkan, dari hasil perhitungan suara di KPUD kala itu, Megalia Agustina, caleg dari Dapem (daerah pemilihan) IX Siantar dan Simalungun, berhasil meraih suara terbanyak kedua setelah Jhon Hugo. Dikatakan Idris, suara Megalia mencapai sekitar 25 ribu suara. (ari/mag-02/smg )

PLN Berharap tak Byar Pet Lagi

Setelah Kantongi Izin Asahan III

JAKARTA – Keluarnya izin prinsip pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan III dari Plt Gubernur Sumut Pujo Gatot Nugroho kepada PT PLN, disambut gembira anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumut, Parlindungan Purba.
Dia berharap, setelah mengantongi izin ini, PLN agar ngebut proses pembangunan PLTA Asahan III.

“Ini menyenangkan. Hal yang sangat bagus karena berarti sudah tidak ada polemik lagi. Tentunya kita berharap bisa cepat proses pembangunannya,” ujar Parlindungan Purba saat dihubungi koran ini, kemarin (20/2).

Beberapa waktu lalu, Parlindungan sempat mengabarkan bahwa sudah ada tanda-tanda kuat izin bakal diberikan Gatot ke PLN. Hanya saja, saat itu Parlindungan minta agar informasi itu jangan diberitakan dulu. Tanpa menyebut alasannya, namun diperkirakan agar tidak muncul polemik lagi yang bisa membatalkan rencana pemberian izin itu.

Buktinya, setelah sudah ada kepastian, Parlindungan mau memberikan komentar. PLN Pusat sendiri juga sudah memberikan kepastian soal keluarnya izin ini. “Sudah ada, tapi detilnya tanya ke PLN Sumut yang mengurusi proyek ini ya,” kata Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto kepada koran ini, singkat.

Parlindungan mengatakan, dengan telah dikeluarkannya izin ini ke PLN, membuktikan bahwa Gatot cukup bijaksana. “Gubernur dengan bijaksana telah memutuskan ini,” ujar Parlindungan, yang sejak awal konsen memperjuangan agar pembangunan PLTA Asahan III ini bisa cepat terlaksana.
Dijelaskan, wilayah Sumut masih sangat membutuhkan pasokan energi listrik. “Kemarin saya bakti sosial di Siantar, eh, listrik mati. Nah, kita berharap, persoalan ini bisa berakhir dengan pembangunan Asahan III,” imbuhnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), sudah memastikan bila Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjadi pihak yang akan mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan III.

Kepastian itu dinyatakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara (Provsu), Nurdin Lubis yang dikonfirmasi Sumut Pos melalui seluler.
“Sorry, saya lagi rapat di Jakarta. Benar, Pemprovsu sudah mengeluarkan izin lokasi Asahan III untuk PLN. Terima kasih,” jawab Nurdin Lubis melalui layanan pesan singkat kepada Sumut Pos, Senin (20/2).

Sebelumnya, kepastian pemberian izin PLTA Asahan III ke PLN oleh Pemprovsu juga telah terungkap, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi D DPRD Sumut dengan pihak PLN Sumut, di gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol No.5 Medan, Kamis (16/2).

Pada kesempatan itu,  memastikan akan melakukan Direktur Konstruksi PT PLN Nasri Sebayang, mengungkapkan, kepastian itu diperoleh setelah melakukan pembicaraan dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho beberapa waktu lalu.

“Sekitar sebulan lalu, kami sudah bertemu langsung dengan Pak Plt Gubsu (Gatot, red), dan beliau mengatakan, pihak swasta yang sebelumnya mendapatkan izin prinsip sudah mengundurkandiri. Karena itu, kami akan melanjutkan pembangunannya. Dalam proyek tersebut sebenarnya, kami sudah mulai membangun infrastruktur jalandengan melebarkan jalan-jalan masyarakat hingga ke lokasi proyek. Ini tentu untuk memudahkan pengangkutan material ke loksi proyek nantinya. Diharaplkan, akan selesai pembangunannnya pada tahun 2016,” ungkap Nasri Sebayang.
Diketahui, pembangunan PLTA Asahan sempat tertunda dikarenakan masalahan izin prinsip, yang tidak kunjung dikeluarkan Gatot.

Sebelumnya, pemegang izin prinsip untuk proyek tersebut adalah PT Badrajaya Swarna Utama. Perusahaan tersebut, diberikan kesempatan perpanjang sembari dilakukan evaluasi oleh Pemprovsu.

Kemudian, perusahaan swasta tersebut telah melayangkan surat pengunduran diri dari proyek tersebut.

Nasri pada kesempatan itu, juga mengakui, sampai saat ini pihaknya belum menerima secara resmi izin prinsip dari Plt Gubsu. Hanya saja, dari hasil pembicaraan dengan Plt Gubsu, dimana orang nomor satu di Sumut tersebut menyampaikan sudah tidak ada masalah mengenai kelengkapan berkas.
“Kemungkinan bulan depan izinnya sudah ada,” ujar Sebayang.

Anggota Komisi D DPRD Sumut Amsal Nasution mempertanyakan masalah fee 15 persen kepada pemda, jika PLTA Asahan III dikelola PLN. “Dalam pertemuan Komisi D dengan PLN di Jakarta beberapa waktu lalu, hal ini pernah disampaikan PLN, apakah itu masih berlaku?” ujarnya.
Seperti diketahui, PLTA Asahan III nantinya punya kapasitas terpasang 2 x 87 MW.(sam/ari)

Program ZIS Bank Sumut Solusi Mensejahterakan Rakyat

Dari Seminar dan Pelantikan Pengurus ICMI Labuhanbatu Utara

Direktur Utama PT. Bank Sumut Gus Irawan mengatakan, tingkat kemiskinan bisa diminimalisir jika konsep Zakat, Infaq dan Sadaqah (ZIS) disalurkan untuk kebutuhan yang bersifat produktif, bukan sebatas kebutuhan konsumtif.

Hal itu dikatakan Gus Irawan dalam Seminar bertajuk “Visi Pembangunan Kabupaten Labura 2020 dari Persepekktif Ekonomi dan Agama” yang digelar seusai pelantikan Pengurus ICMI Labuhanbatu Utara di Aek Kanopan (16/2).

Menurut Gus Irawan, ia sudah mendapatkan referensi dari sejumlah pakar ekonomi Islam yang membenarkan penerapan konsep zakat produktif sebagai solusi pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi umat. “Bank Sumut sudah mempraktikkannya dengan menyalurkann zakat produktif dari pemotongan 2,5% gaji karyawan muslim di Bank Sumut, yang kini sudah kami salurkan melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ) Bank Sumut kepada lebih 5 ribu mustahiq (orang yang berhak memenrima zakat) dalam bentuk modal usaha mikro. Itu baru dari zakat yang merupakan kewajiban,” jelas Gus Irawan yang juga Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumatera Utara.

Hadir pada acara ICMi tersebut antara lain Ketua Umum ICMI Sumatera Utara Prof Dr M Arif Nasution, Bupati Labura Khairuddinsyah Sitorus, unsur Muspida dan angota ICMI.

Dijelaskan Gus Irawan, secara pribadi dia juga membersihan hartanya dengan penyaluran zakat mal bersifat produktif yang disalurkan melalui Yayasan Murni Gus Irawan Foundation. Yayasan sosial yang dikelola oleh istrinya itu telah menyalurkan modal usaha mikro kepada lebih 1.500 mustahiq.
“Saya mendapat informasi bahwa dari hasil kajian yang dilakukan ADB (Asian Development Bank) dan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), potensi pengumpulan dana zakat Indonesia dapat mencapai Rp 217 Triliun., sementara yang baru bisa terhimpun baru sekitar Rp 1,5 triliun. Kalau setiap perusahaan menjalankan kebijakan pemotongan gaji karyawan muslim untuk zakat, tentunya potensi dana zakat yang terkumpul akan sangat dahsyat sekali untuk membantu mengentaskan kemiskinan,”ujar Gus Irawan.

Besarnya peluang pemberdayaan ekonomi rakyat tidak saja melalui zakat produktif, melainkan juga melalui sadaqah, infaq dan wakaf produktif.
Terkait dengan Visi Pembangunan Labuhan Batu Utara (Labura) 2012, Gus Irawan mengatakan, Kabupaten Labura. merupakan daerah perkebunan sawit sehingga pemberdayaan ekonomi rakyat juga bisa dikembangkan melalui penerapan zakat produktif yang bersumber dari penumpulan zakat terhadap pengusaha dan puluhan ribu karyawan perkebunan, negara dan swasta yang ada di Labura. “Untuk mengentaskan kemiskinann di Labura tidak selalu harus mengandalkan investor. Sebagai wilayah dengan penduduk yang mayoritas muuslim, penghimpunan dan pengelolaan ZIS produktif menjadi salah satu solusi cerdas,” ujarnya. Gagasan yang disampaikan Gus Irawan itu juga diaminkan oleh pengamat ekonomi Islam, Ustadz Achyar Zein MA. “Tidak hanya zakat, infaq dan sadaqah, wakaf pun bisa bersifat produktif. Kalau selama ini, contohnya, kita cenderung mewakafkan tanah untuk kuburan umum, mengapa di Labura yang merupakan daerah perkebunan tidak berpkir untuk mewakafkan tanah untuk perkebunan sawit bagi kesejahteraan umat,” tandasnya.(her)

13 Anak Punk Terjaring Razia

BINJAI- Dalam beberapa bulan terakhir, anak punk semakin menjamur di Kota Binjai. Untuk melakukan penertiban terhadap anak-anak punk itu, Pemerintah Kota (Pemko) Binjai, menggelar razia yang dilakukan langsung oleh Satuan Polsi Pamung Peraja (Sat Pol PP), Senin (20/2) pagi pukul 09.00 WIB.

Dalam razia yang dilakukan itu, petugas Sat Pol PP mengamankan 13 anak punk yang sedang mengamen di seputaran Lapangan Merdeka serta sejumlah jalan yang ada di Kota Rambutan tersebut. Bahkan, tak sedikit anak punk yang berhasil melarikan diri saat petugas Satpol PP itu melakukan razia.
Sementara, 13 orang anak punk yang berhasil diamankan langsung dibawa ke Kantor Satpol PP, Jalan Jambi, Kecamatan Binjai Selatan. Di sana, belasan anak pank tersebut diberi arahan agar tidak lagi melakukan aktivitas mengamen di seputaran Kota Binjai.

Bukan itu saja, agar belasan anak punk itu terlihat rapi, petugas Satpol PP memangkas rambut belasan anak punk tersebut hingga botak. Selanjutnya mereka dipulangkan ke rumannya masing-masing.

Eka Hidayat, anak punk warga Bandar Senembah, Kecamtan Binjai Barat, saat berada di Kantor Satpol PP mengakui, kalau mereka suka hidup bebas di jalanan tanpa ada pantauan orang tua. “Kami suka bebas seperti ini Bang. Ke mana-mana tidak ada yang melarang,” ujar Edi, serya mengatakan, rambutnya tidak bisa dipangkas. Sebab, kalau dipangkas ia bisa jatuh sakit. Sehingga, petugas tidak memangkas dirinya.(dan)

Tangani Penderita Autis Sejak Dini

FMPA Sumut Adakan Seminar dan Workshop

MEDAN- Jika ditangani dengan cepat, maka peluang anak-anak yang menderita autis untuk dapat hidup normal juga sangat tinggi. Bahkan penderita autis memiliki banyak potensi yang bisa digali dan diarahkan dalam kegiatan positif. Hal itu disampaikan para sosialita yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Autis (FMPA) Sumut, Sabtu (18/2) di Medan.

Sekretaris FMPA Sumut, Vita Lestari Nasution mengatakan saat ini ada sekitar 268 anak penderita autis di 14 sekolah yang bergerak di bidang penanganan penderita autis dan telah bergabung dengan FMPA Sumut. Namun, sering kali anak autis terabaikan dan tidak mendapat perawatan dengan baik sehingga mereka tumbuh tanpa memiliki keterampilan bahkan jauh dari pergaulan.

“Anak adalah anugerah dari Tuhan. Bagaimanapun kondisinya harus kita syukuri dengan memberikan kasih sayang dan kepedulian. Sangat disayangkan masih banyak orangtua yang malu mengakui kalau anaknya autis. Sehingga berusaha menutup-nutupi kekurangan anaknya sehingga mengakibatkan anak yang menjadi korban,” kata Vita.

Bukan itu saja, bahkan perhatian dari pemerintah terhadap anak-anak autis juga dinilai masih kurang. Padahal penanganan anak-anak penderita autis bukan hal mudah. Karena dibutuhkan waktu lama dan teknik tersendiri dalam menanganinya.

“FMPA Sumut pernah mengusulkan ke kementerian pendidikan untuk mendirikan sekolah autis di Sumut,’’ungkapnya.
Namun, karena persyaratan yang diajukan Kementerian Pendidikan berupa adanya pertapakan tanah tidak dapat dipenuhi Pemprov, akhirnya dana tersebut dialihkan ke Sumatera Barat. “Ini masalah yang serius, Pemprov terkesan tidak peduli dengan anak-anak autis yang harus mendapatkan penanganan khusus sehingga dana nya jatuh ke Sumatera Barat karena mereka lebih siap,” tegasnya.

Ketua Bidang Kesehatan FMPA Sumut, Natalie Hutabarat mengatakan autis adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada anak dan membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunia nya sendiri. “Gejala yang timbul biasanya sebelum anak berusia 3 tahun, tapi kadang gejala itu sudah ada sejak lahir. Jadi orangtua harus cermat, jika memang autis dapat segera ditangani,” jelasnya.

Pengarah FMPA, Damai Yona Nainggolan juga menyampaikan hal yang sama. Jika anak-anak menunjukkan gejala autis, maka diharapkan orangtua segera melakukan terapi terhadap anak nya. “Jangan malu jika anak menderita autis, jika masih ada yang belum terdata, kita harap orangtua segera membawa ke FMPA Sumut dan anak bisa diarahkan untuk lebih baik lagi,” ucap Damai Yona yang juga Ketua Kaukus Perempuan Parlemen Kota Medan itu.
Sementara, Pengarah FMPA Sumut, Saurma MGP Siahaan yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pemerhati & Penulis Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (Forum P5A) Sumut, menambahkan FMPA Sumut yang dibentuk pada Juni 2010 ini beranggotakan sekitar 20 orang dari berbagai praktisi dan pembina sekolah-sekolah autis dengan diketuai Hj. Fatimah Habibi Syamsul Arifin. Diharapkan keberadaannya dapat membawa perubahan khususnya terhadap anak-anak penderita autis agar mendapat penanganan lebih baik lagi.

Pimpinan Sakai Morison, Wiliana Lee, menambahkan, dalam waktu dekat, Sabtu 25 Februari mendatang, FMPA Sumut akan melaksanakan Seminar dan workshop Pengaruh Koordinasi Motorik terhadap Kemampuan Akademik Anak di Medan Club Jalan Kartini Medan. Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan dan mengikuti kegiatan tersebut demi perkembangan terbaik bagi kemampuan dan prestasi anak-anak kedepan.
“Perkembangan motorik adalah jantung kehidupan. 1 dari 20 anak usia sekolah diketahui mengalami masalah koordinasi motorik yang mengganggu prestasi akademik dan personal sosialnya,” bebernya. (mag-11)

Senyum Membuat Seseorang Lebih Terbuka

Senyuman tidak hanya menyenangkan bagi yang melakukan. Namun juga bagi orang lain yang diberi senyum. Orang yang selalu tersenyum juga akan dapat lebih mudah bergaul dan diterima dalam sebuah komunitas.

Demikian ungkap Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof.DR.Lydia Freyani Hawadi, kepada koran ini. Hal ini sendiri sangat dirasakan Lydia. “Saya mungkin bukan orang yang tampangnya selalu terlihat tersenyum. Tapi saya selalu mengkondisikan diri untuk tetap tersenyum. Struktur muka saya, kayaknya memang terlihat serius. Ini saya ketahui karena ada feedback dari orang lain. Akibatnya membuat orang lain kaku karena sepertinya ada jarak. Makanya dalam mengajar saya coba mengikuti irama para mahasiswa dan selalu tersenyum,” ujarnya.

Menurut Lydia sendiri, dengan senyuman yang tulus, seseorang akan lebih nyaman berhubungan dengan orang lain. Baik orangtua hingga anak kecil.
Untuk itulah wanita yang memimpin program studi timur tengah dan Islam pasca sarjana UI ini, mengajak para wanita maupun siapa saja untuk tidak ragu-ragu selalu berusaha tersenyum. “Dulu waktu muda, saya membayangkan nanti usia bertambah pasti lebih serius dan formal. Tapi ternyata nggak. Jadi dalam segala tahapan umur, kita perlu ngakak dan tertawa. Ini untuk menghilangkan stress. Tertawa itu lebih dari senyum, tapi paling nggak dengan tersenyum membuat hati lapang,” bilangnya.

Untuk selalu tersenyum sebenarnya tidak begitu sulit. Hanya tidak dipungkiri, senyuman seseorang biasanya dipengaruhi beban pikiran dan perasaan. “Kalau kita kesal, otomatis darah pada naik, jadi daerah bibir juga jadi kaku,” lanjutnya. Namun ibu 6 anak ini percaya, senyuman dapat dipelajari. “Kalau itu membuat kita lebih cantik dan menyenangkan, pasti kita akan belajar. Salah satu caranya dengan melihat foto kita sendiri. Kalau nggak senyum, sepertinya kurang enak dilihat. Jadi kita bisa belajar mencoba tersenyum di cermin. Jadi disini kita terlihat lebih cantik,”tambahnya lagi.
Cara lain, Lydia menyarankan lewat humor, bacaan, maupun ber-sms dengan teman. “Jadi kita bisa ketawa sendiri dan ini membantu otot-otot bisa merenggang,’’ujarnya.  (san)